بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman setia; kalian sampaikan kepada mereka kasih sayang, padahal mereka telah kufur terhadap kebenaran yang telah datang kepada kalian. Mereka mengusir Rasul dan kalian karena kalian beriman kepada Allah, Tuhan kalian. Jika kalian keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku, kalian merahasiakan kepada mereka kasih sayang, padahal Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Siapa di antara kalian yang melakukannya, sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَyaa ayyuhaa lladziina aamanuu laa tattakhidzuu 'aduwwii wa-'aduwwakum awliyaa'awahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman setia
  2. تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّtulquuna ilayhim bi-l-mawaddati wa-qad kafaruu bi-maa jaa'akum mina l-haqqikalian sampaikan kepada mereka kasih sayang, padahal mereka telah kufur terhadap kebenaran yang telah datang kepada kalian
  3. يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْyukhrijuuna r-rasuula wa-iyyaakum an tu'minuu bi-llaahi rabbikummereka mengusir Rasul dan kalian karena kalian beriman kepada Allah, Tuhan kalian
  4. إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِin kuntum kharajtum jihaadan fii sabiilii wa-btighaa'a mardhaatii tusirruuna ilayhim bi-l-mawaddatijika kalian keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku, kalian merahasiakan kepada mereka kasih sayang
  5. وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِwa-anaa a'lamu bi-maa akhfaytum wa-maa a'lantum wa-man yaf'alhu minkum fa-qad dhalla sawaa'a s-sabiilipadahal Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan; siapa di antara kalian yang melakukannya, sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus

Terjemahan per kata (49 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. لَاlaajanganlah
  6. تَتَّخِذُواtattakhidzuukalian mengambil
  7. عَدُوِّي'aduwwiimusuh-Ku
  8. وَعَدُوَّكُمْwa-'aduwwakumdan musuh kalian
  9. أَوْلِيَاءَawliyaa'apara pelindung
  10. تُلْقُونَtulquunakalian sampaikan
  11. إِلَيْهِمْilayhimkepada mereka
  12. بِالْمَوَدَّةِbi-l-mawaddatidengan kasih sayang
  13. وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
  14. كَفَرُواkafaruukufur
  15. بِمَاbi-maapada apa yang
  16. جَاءَكُمْjaa'akumdatang kepada kalian
  17. مِنَminadari
  18. الْحَقِّl-haqqihak
  19. يُخْرِجُونَyukhrijuunamereka mengeluarkan
  20. الرَّسُولَr-rasuulaRasul
  21. وَإِيَّاكُمْwa-iyyaakumdan kalian
  22. أَنْankarena
  23. تُؤْمِنُواtu'minuukalian beriman
  24. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  25. رَبِّكُمْrabbikumTuhan kalian
  26. إِنْinjika
  27. كُنْتُمْkuntumkalian
  28. خَرَجْتُمْkharajtumkalian keluar
  29. جِهَادًاjihaadanjihad
  30. فِيfiidi
  31. سَبِيلِيsabiiliijalanku
  32. وَابْتِغَاءَwa-btighaa'adan mencari
  33. مَرْضَاتِيmardhaatiikeridaan-Ku
  34. تُسِرُّونَtusirruunakalian sembunyikan
  35. إِلَيْهِمْilayhimkepada mereka
  36. بِالْمَوَدَّةِbi-l-mawaddatidengan kasih sayang
  37. وَأَنَاwa-anaadan Aku
  38. أَعْلَمُa'lamulebih mengetahui
  39. بِمَاbi-maapada apa yang
  40. أَخْفَيْتُمْakhfaytumkalian sembunyikan
  41. وَمَاwa-maadan apa yang
  42. أَعْلَنْتُمْa'lantumkalian nyatakan
  43. وَمَنْwa-mandan orang yang
  44. يَفْعَلْهُyaf'alhumelakukannya
  45. مِنْكُمْminkumdari kalian
  46. فَقَدْfa-qadmaka sungguh
  47. ضَلَّdhallasesat
  48. سَوَاءَsawaa'asama
  49. السَّبِيلِs-sabiilijalan

Inti bacaan

Batas kesetiaan dalam situasi konflik: 'janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman setia. kalian sampaikan kepada mereka (hal-hal yang seharusnya dirahasiakan) karena rasa sayang', peringatan bahwa kasih sayang personal tidak boleh mengorbankan keamanan kolektif, terutama ketika menyangkut informasi sensitif dalam situasi yang berisiko tinggi.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama surah ini mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Sejumlah tambahan kurung interpretatif tidak dipakai: '(hal-hal yang seharusnya dirahasiakan)' dua kali, '(kalian kepada mereka)', '(dari Makkah)' sebagai penambahan nama tempat tidak tertulis di teks Arab, dan '(janganlah kalian berbuat demikian)' yang merupakan bagian tambahan penuh tanpa padanan kata di Arab, tidak satu pun tertulis eksplisit.

Yang paling menandai ayat ini adalah rapatnya kata ganti orang pertama. Dalam satu ayat berturut-turut muncul (عَدُوِّي, 'aduwwii) 'musuh-Ku', (سَبِيلِي, sabiilii) 'jalan-Ku', (مَرْضَاتِي, mardhaatii) 'keridaan-Ku', lalu (وَأَنَا أَعْلَمُ, wa-anaa a'lamu) 'padahal Aku lebih mengetahui'. Larangan itu tidak disampaikan lewat perantara dan tidak dibingkai sebagai aturan umum. Yang berbicara menyebut dirinya sendiri empat kali, dan permusuhan yang dilarang itu disebut sebagai permusuhan terhadap-Nya lebih dahulu, baru sesudah itu terhadap yang disapa.

Kata (مَرْضَاتِي, mardhaatii) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 60:1. Kata (جِهَادًا, jihaadan) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 25:52 dan 60:1. Di 25:52 kata itu melekat pada perjuangan dengan Al-Qur'an, di sini pada keluarnya orang dari tempatnya. Dua pemakaian itu memperlihatkan bahwa katanya sendiri tidak terikat pada satu bentuk perjuangan.

Larangan pembukanya, (لَا تَتَّخِذُوا, laa tattakhidzuu), muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:231, 3:118, 4:89, 4:144, dan 60:1. Kata kerjanya berarti mengambil sesuatu untuk dijadikan sesuatu yang lain, jadi bukan sekadar bergaul melainkan menetapkan kedudukan. Yang dilarang bukan berjumpa dan bukan berbaik-baik, melainkan memasang seseorang pada kedudukan teman setia yang kepadanya kesetiaan diserahkan.

Frasa (بِالْمَوَدَّةِ, bi-l-mawaddati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 60:1. Di dalam ayat itu ia dipakai dua kali, dan dua kata kerja yang menggandengnya berlawanan arah. Yang pertama 'kalian sampaikan', yang kedua 'kalian rahasiakan'. Jadi jalur terbuka dan jalur tersembunyi disebut dua-duanya, dengan barang bawaan yang sama persis. Tak ada celah yang ditinggalkan bagi yang ingin mengerjakannya diam-diam.

Susunan itu disempurnakan penutupnya: 'Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan'. Pasangan sembunyi dan nyata di kalimat itu menjawab persis pasangan rahasia dan terang di kalimat sebelumnya. Dua jalur yang tadi disebut, dua-duanya dinyatakan sudah diketahui.

Rangkaian (سَوَاءَ السَّبِيلِ, sawaa'a s-sabiili) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:108, 5:12, 5:60, 5:77, 28:22, dan 60:1. Kata pertamanya berarti tengah atau rata, sehingga gambarannya jalan yang datar dan lurus di tengah, bukan jalan yang benar sebagai lawan jalan yang salah. Terjemahan 'jalan yang lurus' menahan gambaran itu, dan kata kerjanya, 'tersesat', menyiratkan orang yang keluar dari jalan datar itu lalu kehilangan arah.

Tafsiran

Ayat ini melarang keras orang-orang beriman menjadikan musuh Allah dan musuh mereka sendiri sebagai teman setia, sekalipun dengan dalih kasih sayang pribadi, karena pihak itu telah nyata kufur terhadap kebenaran dan bahkan mengusir Rasul serta orang-orang beriman semata karena keimanan mereka kepada Allah.

Yang dilarang perlu dibaca dengan teliti, sebab kata kerjanya bukan kata untuk bergaul. Kata yang dipakai berarti mengambil sesuatu untuk dijadikan sesuatu yang lain, yaitu memasang seseorang pada sebuah kedudukan. Jadi yang dilarang bukan berjumpa, bukan berbuat baik, dan bukan pula menaruh rasa. Yang dilarang adalah menyerahkan kesetiaan kepada pihak yang kesetiaannya sendiri sudah jelas berada di seberang.

Alasannya disebut di dalam ayat, bukan diserahkan kepada dugaan. Kalimatnya menyebut tiga hal berturut-turut: mereka kufur terhadap kebenaran yang datang, mereka mengusir Rasul dan yang beriman, dan pengusiran itu terjadi semata karena keimanan. Yang terakhir ini yang paling menentukan. Permusuhan mereka bukan perkara pribadi yang bisa didamaikan dengan kebaikan pribadi, sebab yang mereka tolak justru hal yang paling tak mungkin ditinggalkan.

Ayat ini menutup semua jalan keluar dengan menyebut dua-duanya. Kasih sayang yang disampaikan terang-terangan disebut, dan kasih sayang yang dirahasiakan juga disebut, dengan kata yang sama untuk barang yang dibawa. Lalu penutupnya menyandingkan apa yang disembunyikan dengan apa yang dinyatakan. Susunan itu menghabisi kemungkinan yang paling sering ditempuh orang, yaitu menuruti larangan di permukaan sambil melanggarnya diam-diam.

Yang berbicara pun tidak bersembunyi di balik aturan. Empat kali dalam satu ayat Dia menyebut diri-Nya: musuh-Ku, jalan-Ku, keridaan-Ku, dan Aku lebih mengetahui. Permusuhan yang dipersoalkan disebut sebagai permusuhan terhadap-Nya lebih dahulu, baru sesudah itu terhadap yang disapa. Urutan itu memindahkan perkaranya dari sengketa antarmanusia ke tempat yang lain sama sekali.

Renungan dan Hikmah

  • Kasih sayang pribadi tidak boleh mengalahkan kesetiaan kepada kebenaran ketika pihak yang dikasihi nyata-nyata memusuhi kebenaran itu sendiri. Yang dilarang bukan rasanya, melainkan kedudukan yang diberikan kepadanya. Kata kerja yang dipakai berarti memasang seseorang pada sebuah tempat, bukan sekadar bergaul dengannya. Seseorang boleh saja tetap menaruh kasih, tetapi tidak boleh menyerahkan kesetiaannya kepada pihak yang kesetiaannya sendiri sudah berdiri di seberang. Rasa boleh tinggal; kedudukan yang tidak boleh diserahkan.
  • Kasih sayang yang disampaikan terang-terangan disebut, dan yang dirahasiakan juga disebut, dengan kata yang sama untuk barang yang dibawa. Lalu penutupnya menyandingkan apa yang disembunyikan dengan apa yang dinyatakan. Allah menutup jalan keluar yang paling sering ditempuh orang: menuruti larangan di permukaan sambil melanggarnya diam-diam. Tidak ada celah yang ditinggalkan, sebab kedua jalurnya disebut satu per satu di dalam kalimat yang sama. Larangan yang menyebut jalan belakangnya sendiri jauh lebih sulit disiasati daripada larangan yang cuma menyebut jalan depan.
  • Dalam satu ayat Allah menyebut diri-Nya empat kali berturut-turut: musuh-Ku, jalan-Ku, keridaan-Ku, dan Aku lebih mengetahui. Larangan itu tidak disampaikan sebagai aturan umum yang berdiri sendiri. Permusuhan yang dipersoalkan disebut sebagai permusuhan terhadap-Nya lebih dahulu, baru sesudah itu terhadap yang disapa. Urutan sekecil itu memindahkan perkaranya dari sengketa antarmanusia ke tempat yang sama sekali lain. Yang berbicara tak bersembunyi di balik aturan, dan itu mengubah bobot setiap kata di dalamnya.
  • Ayat ini tidak melarang lalu berhenti. Ia menyebutkan tiga alasannya berturut-turut: mereka kufur terhadap kebenaran yang datang, mereka mengusir Rasul dan yang beriman, dan pengusiran itu semata karena keimanan. Larangan yang menyertakan sebabnya memperlakukan yang dilarang sebagai orang yang bisa menimbang, bukan sekadar menurut. Dan sebab yang terakhir itulah yang menutup kemungkinan perdamaian yang bersifat pribadi. Larangan yang dipahami sebabnya bertahan lebih lama daripada larangan yang cuma dihafal.
  • Sebab pengusirannya disebut terang-terangan: karena kalian beriman kepada Allah. Bukan karena harta, bukan karena tanah, bukan karena perselisihan yang bisa dirundingkan. Bukankah itu berarti perdamaian yang ditawarkan selalu punya harga yang sama? Yang diminta selalu satu hal yang justru tak mungkin diserahkan. Menyadari itu mengubah cara orang membaca setiap uluran tangan yang datang dari arah tersebut.
  • Penutupnya memakai gambaran jalan yang rata di tengah, bukan sekadar jalan yang benar sebagai lawan jalan yang salah. Yang melakukannya disebut tersesat dari jalan itu. Gambarannya bukan orang yang memilih jalan lain dengan sadar, melainkan orang yang keluar dari jalan datar lalu kehilangan arah tanpa merasa. Kesalahan seperti ini jarang diambil sekaligus; ia dimulai dari satu langkah kecil ke samping yang terasa masuk akal saat dikerjakan.