إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ

Jika mereka menangkap kalian, niscaya mereka menjadi musuh bagi kalian, dan mereka mengulurkan tangan-tangan dan lidah-lidah mereka kepada kalian dengan kejahatan, dan mereka ingin agar kalian kafir.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءًin yatsqafuukum yakuunuu lakum a'daa'anjika mereka menangkap kalian, niscaya mereka menjadi musuh bagi kalian
  2. وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِwa-yabsuthuu ilaykum aydiyahum wa-alsinatahum bi-s-suu'idan mereka mengulurkan tangan-tangan dan lidah-lidah mereka kepada kalian dengan kejahatan
  3. وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَwa-wadduu law takfuruunadan mereka ingin agar kalian kafir

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. إِنْinjika
  2. يَثْقَفُوكُمْyatsqafuukummereka menangkap kalian
  3. يَكُونُواyakuunuumereka adalah
  4. لَكُمْlakumkepada kalian
  5. أَعْدَاءًa'daa'anmusuh-musuh
  6. وَيَبْسُطُواwa-yabsuthuudan mereka menjulurkan
  7. إِلَيْكُمْilaykumkepada kalian
  8. أَيْدِيَهُمْaydiyahumtangan mereka
  9. وَأَلْسِنَتَهُمْwa-alsinatahumdan lidah mereka
  10. بِالسُّوءِbi-s-suu'ipada keburukan
  11. وَوَدُّواwa-wadduudan mereka menginginkan
  12. لَوْlawsekiranya
  13. تَكْفُرُونَtakfuruunakalian kufur

Inti bacaan

Realitas pahit yang perlu diakui: 'jika mereka menangkap kalian, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi kalian. mereka ingin agar kalian (kembali) kafir', pengakuan jujur tentang niat sesungguhnya pihak yang memusuhi, dasar bagi kewaspadaan yang realistis alih-alih optimisme naif tentang hubungan yang secara fundamental bermusuhan.

Penjelasan pilihan kata

Koreksi tunggal ke jamak: draf awal menulis 'tangannya' dan 'lidahnya' (tunggal), padahal akhiran Arab 'aydiyahum'/'alsinatahum' berakhiran jamak '-hum' (mereka), dikoreksi menjadi 'tangan-tangan dan lidah-lidah mereka'. Tambahan kurung '(suatu saat)' dan '(kembali)' pada draf dihapus, tidak tertulis di teks Arab.

Kata kerja (يَثْقَفُوكُمْ, yatsqafuukum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 60:2. Akarnya berputar pada menemukan lalu menguasai, bukan sekadar berpapasan. Karena itu terjemahan 'menangkap' dipilih: yang digambarkan bukan pertemuan biasa, melainkan keadaan ketika keunggulan berpindah ke tangan mereka.

Rangkaian (أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ, aydiyahum wa-alsinatahum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 60:2. Dua alat itu dipasang berdampingan sebagai satu pasangan, dan keduanya bergantung pada satu kata kerja yang sama, 'mengulurkan'. Bahasa Arab memakai kata mengulurkan untuk tangan dengan wajar; memakainya juga untuk lidah menaruh lidah pada kedudukan yang setara dengan tangan. Yang biasanya dianggap lebih ringan menjadi sama beratnya.

Keterangan yang menyertai keduanya adalah (بِالسُّوءِ, bi-s-suu'i), 'dengan kejahatan'. Kata itu berdiri di ujung sesudah kedua alat disebut, sehingga menerangkan keduanya sekaligus. Bukan tangan dengan kejahatan lalu lidah dengan hal lain; kejahatannya satu, dan salurannya dua.

Penutupnya, (وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ, wadduu law takfuruuna), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:89 dan 60:2. Ayat 4:89 juga memuat larangan mengambil teman setia dengan kata kerja yang sama seperti di 60:1, sehingga dua ayat berurutan di surah ini bersandar pada satu ayat yang sama di tempat lain. Kesamaan sebanyak itu memperlihatkan bahwa keduanya sedang membicarakan perkara yang sama.

Kata kerja yang dipakai untuk keinginan mereka berasal dari akar yang juga menurunkan kata untuk kasih sayang di ayat sebelumnya. Jadi dua ayat yang bersambungan ini memakai satu akar untuk dua arah yang berlawanan: kasih sayang yang dikirim dari sini, dan keinginan yang dipelihara di sana. Yang satu ingin mendekat, yang lain ingin mengubah.

Kalimatnya dibuka dengan (إِنْ, in), huruf syarat untuk sesuatu yang belum tentu terjadi, bukan (إِذَا, idzaa) yang dipakai untuk sesuatu yang pasti datang. Yang digambarkan karena itu masih berupa kemungkinan. Peringatan yang datang sebelum kejadiannya memberi ruang yang tidak pernah tersedia lagi sesudahnya.

Susunan kalimatnya menaik dari yang paling kelihatan ke yang paling dalam. Mula-mula mereka disebut menjadi musuh, lalu tangan dan lidah terulur dengan kejahatan, lalu yang terakhir keinginan agar yang beriman kembali kufur. Yang paling ringan disebut lebih dahulu, yang paling menentukan ditaruh di ujung. Pembaca sampai ke bagian terakhir sesudah menempuh dua langkah, dan bagian terakhir itulah yang sebenarnya menjelaskan seluruh larangan di ayat sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan watak asli permusuhan pihak yang disebut di ayat sebelumnya: seandainya mereka berkuasa atas orang-orang beriman, mereka akan menampakkan permusuhan terbuka dan berharap orang-orang beriman kembali kafir.

Ayat sebelumnya melarang; ayat ini menerangkan sebabnya lewat gambaran, bukan lewat perintah lagi. Cara ini menaruh pembaca pada kedudukan yang berbeda: ia tidak sedang disuruh menurut, melainkan diajak membayangkan keadaan yang belum terjadi. Dan yang dibayangkan bukan kemungkinan yang jauh, melainkan pembalikan keadaan yang mungkin sekali datang.

Susunannya menaik. Mula-mula mereka disebut menjadi musuh, lalu tangan dan lidah terulur dengan kejahatan, lalu yang terakhir keinginan agar yang beriman kembali kufur. Yang paling ringan disebut lebih dulu, yang paling dalam ditaruh di ujung. Dengan susunan seperti itu, pembaca sampai pada bagian terakhir sesudah dua langkah, dan bagian terakhir itulah yang sebenarnya paling menentukan.

Menyandingkan tangan dengan lidah bukan hiasan bahasa. Keduanya digantungkan pada satu kata kerja yang sama, dan keterangan 'dengan kejahatan' berdiri di ujung untuk keduanya. Lidah karena itu tidak dijadikan pelengkap yang lebih ringan. Ia disebut sebagai alat yang setara, dan bagi orang yang sedang menimbang siapa yang bisa dipercaya, keterangan itu penting: bahaya tidak selalu datang dalam bentuk yang kelihatan.

Yang paling perlu diperhatikan tetap bagian akhirnya. Menyakiti bukan tujuan mereka, melainkan jalannya. Yang mereka inginkan adalah perubahan di dalam diri orang yang mereka hadapi. Permusuhan yang hendak melukai bisa dihindari dengan menjauh; permusuhan yang hendak mengubah tidak bisa diselesaikan dengan jarak, sebab ia bekerja justru lewat kedekatan yang di ayat sebelumnya dilarang.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut dua alat berdampingan: tangan dan lidah. Kekerasan dan perkataan diletakkan setara. Yang kedua biasanya dianggap lebih ringan, padahal di sini keduanya disebut dalam satu tarikan kalimat. Keduanya bahkan digantungkan pada satu kata kerja yang sama, yaitu mengulurkan, dan keterangan 'dengan kejahatan' berdiri di ujung untuk keduanya sekaligus. Bagi orang yang sedang menimbang siapa yang bisa dipercaya, keterangan itu penting: bahaya tak selalu datang dalam bentuk yang kelihatan. Yang paling sering dianggap sepele justru dipasang setara dengan yang paling ditakuti.
  • Yang disebut Allah paling akhir keinginan mereka agar kalian kufur. Menyakiti bukan tujuannya, melainkan jalannya. Permusuhan yang paling perlu diwaspadai bukan yang hendak melukai, melainkan yang hendak mengubah. Yang hendak melukai bisa dihindari dengan menjauh; yang hendak mengubah tak selesai oleh jarak, sebab ia justru bekerja lewat kedekatan yang di ayat sebelumnya dilarang. Susunannya pun menaik: yang paling dalam ditaruh di ujung. Sasaran yang sebenarnya selalu disebut paling akhir, dan di situlah tekanan kalimatnya jatuh.
  • Kalimatnya dibuka dengan jika, bukan dengan ketika. Yang digambarkan belum terjadi. Sebuah peringatan yang datang sebelum kejadiannya memberi ruang yang tidak pernah tersedia lagi sesudahnya. Huruf syarat yang dipilih memang dipakai untuk sesuatu yang belum tentu datang, bukan untuk sesuatu yang pasti. Allah menaruh gambarannya di wilayah kemungkinan, dan justru di wilayah itulah orang masih sanggup menimbang tanpa didesak keadaan. Lalu kapan lagi ruang untuk menimbang itu tersedia kalau bukan sekarang, sebelum keadaannya berbalik?
  • Kata kerja untuk keinginan mereka di ayat ini berasal dari akar yang sama dengan kata untuk kasih sayang di ayat sebelumnya. Dua ayat yang bersambungan memakai satu akar untuk dua arah yang berlawanan: rasa yang dikirim dari sini, dan keinginan yang dipelihara di sana. Yang satu ingin mendekat, yang lain ingin mengubah. Bahasa Arab menaruh keduanya dalam satu keluarga kata, dan kesamaan bunyi itu membuat ketimpangannya justru terasa lebih tajam. Kesamaan bunyi di antara dua kata itu membuat ketimpangan arahnya terdengar lebih tajam.
  • Ayat sebelumnya melarang; ayat ini menerangkan sebabnya lewat gambaran. Pembaca tidak lagi disuruh menurut, melainkan diajak membayangkan keadaan yang belum terjadi. Allah menjelaskan larangan-Nya alih-alih mengulanginya dengan suara yang lebih keras. Cara itu memperlakukan yang dilarang sebagai orang yang sanggup menimbang, dan larangan yang dipahami sebabnya bertahan jauh lebih lama daripada larangan yang cuma dihafal.
  • Kata kerja pembukanya berakar pada menemukan lalu menguasai, bukan sekadar berpapasan. Yang digambarkan keadaan ketika keunggulan berpindah ke tangan mereka. Selama keadaan belum berbalik, permusuhan itu bisa saja tak kelihatan sama sekali, bahkan tertutup keramahan. Ayat ini memberi tahu apa yang akan tampak seandainya keadaan berubah, dan pengetahuan itu dimaksudkan untuk dipakai sekarang, bukan nanti ketika sudah terlambat.