رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang-orang kafir. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُواrabbanaa laa taj'alnaa fitnatan li-lladziina kafaruuya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang-orang kafir
- وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَاwa-ghfir lanaa rabbanaaampunilah kami, ya Tuhan kami
- إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُinnaka anta l-'aziizu l-hakiimusesungguhnya Engkau, Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah
Terjemahan per kata (13 kata)
- رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
- لَاlaajanganlah
- تَجْعَلْنَاtaj'alnaaEngkau menjadikan kami
- فِتْنَةًfitnatanujian
- لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- وَاغْفِرْwa-ghfirdan ampunilah
- لَنَاlanaabagi kami
- رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
- إِنَّكَinnakasesungguhnya Engkau
- أَنْتَantaEngkau
- الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
- الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah
Inti bacaan
Doa perlindungan dari ejekan: 'janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Ampunilah kami', permohonan yang menggabungkan perlindungan eksternal (dari fitnah) dan pembersihan internal (ampunan), pengakuan bahwa keduanya diperlukan bersamaan untuk ketahanan spiritual yang utuh.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini lanjutan langsung doa 'Rabbanaa' yang dibuka di akhir 60:4: kutip yang terbawa (carry) ditutup di akhir ayat ini. 'Al-aziizu l-hakiimu' sesudah 'innaka anta' (kata ganti penegas/fasl) adalah bentuk takrif tetap sebagai gelar, diterjemahkan 'Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah' sesuai kaidah baku.
Permintaan pertamanya, (لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً, laa taj'alnaa fitnatan), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 10:85 dan 60:5. Di 10:85 kalimat itu diucapkan kaum Musa. Jadi doa yang sama persis dipanjatkan oleh dua rombongan yang terpisah jauh, dan keduanya sedang berada dalam keadaan yang serupa: sedikit jumlahnya, berhadapan dengan pihak yang berkuasa.
Rangkaian (فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا, fitnatan li-lladziina kafaruu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 60:5 dan 74:31. Kata (فِتْنَةً, fitnatan) berakar pada memurnikan logam dengan api, lalu meluas menjadi ujian, lalu menjadi sesuatu yang menyeret orang ke dalam kekacauan. Terjemahan 'sasaran fitnah' menahan kedua sisi itu: yang diminta bukan sekadar agar tidak disiksa, melainkan agar keadaan mereka tidak menjadi bahan yang dipakai pihak lain untuk memperkuat penolakannya.
Permintaan itu karena itu tidak berpusat pada diri sendiri. Yang dimintakan bukan keselamatan semata, melainkan agar kekalahan mereka tidak dijadikan bukti oleh yang menolak. Orang yang berdoa begini sedang memikirkan akibat keadaannya terhadap pandangan orang lain tentang kebenaran yang ia bawa.
Permintaan keduanya pendek dan berbalik arah: 'ampunilah kami'. Yang pertama menghadap ke luar, kepada bahaya yang datang dari pihak lain; yang kedua menghadap ke dalam, kepada kekurangan sendiri. Dua-duanya diucapkan dalam satu tarikan tanpa kata penghubung yang memisahkan mana yang lebih mendesak.
Panggilan (رَبَّنَا, rabbanaa) muncul dua kali di dalam ayat sependek ini, sekali di awal dan sekali lagi di tengah, sesudah permintaan kedua. Pengulangan itu tidak menambah isi permintaannya. Yang ditambahkannya nada: kalimat yang memanggil dua kali terdengar seperti orang yang sedang benar-benar meminta, bukan seperti orang yang sedang menyusun kalimat rapi.
Penutupnya, (إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, innaka anta l-'aziizu l-hakiimu), muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:129, 5:118, 40:8, dan 60:5. Yang menarik, 2:129 juga merupakan doa Ibrahim. Dua doanya yang terpisah letak ditutup dengan rangkaian gelar yang persis sama, dan susunannya memakai kata ganti penegas di tengah, sehingga terjemahannya menahan penegasan itu dengan mengulang 'Engkau'.
Tafsiran
Doa Ibrahim dan pengikutnya berlanjut: memohon agar tidak dijadikan sasaran fitnah bagi orang-orang kafir dan memohon ampunan, sebagai penutup teladan sikap tawakal total kepada Allah.
Yang diminta lebih dahulu bukan kemenangan dan bukan pula keselamatan. Yang diminta adalah agar keadaan mereka tidak dijadikan bahan oleh pihak yang menolak. Permintaan seperti ini memindahkan perhatian dari nasib sendiri ke akibat nasib itu terhadap kebenaran yang dibawa. Orang yang berdoa begini sedang memikirkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya, dan memikirkannya justru pada saat dirinya sedang terdesak.
Kalimat yang sama persis tercatat juga sebagai doa satu rombongan lain yang keadaannya serupa: sedikit jumlahnya, berhadapan dengan pihak yang berkuasa. Kesamaan itu memperlihatkan bahwa kekhawatiran yang melahirkan doa ini bukan kekhawatiran satu orang di satu zaman. Ia kekhawatiran yang muncul berulang setiap kali yang benar berada pada posisi yang lemah.
Permintaan keduanya berbalik arah dan jauh lebih pendek: ampunilah kami. Yang pertama menghadap ke luar, yang kedua ke dalam. Meletakkan keduanya berdampingan tanpa kata penghubung yang memisahkan berarti mengakui bahwa ancaman datang dari dua arah sekaligus. Orang yang cuma menjaga diri dari luar sedang membiarkan pintu yang satu lagi terbuka.
Penutupnya menyebut dua gelar bersama-sama. Kekuatan dan pertimbangan. Meminta kepada yang kuat saja bisa menakutkan, sebab kekuatan tanpa pertimbangan tidak bisa diramalkan. Sebutan yang kedua itulah yang membuat permintaan ini tenang. Dan rangkaian gelar yang sama menutup pula sebuah doa lain dari orang yang sama di tempat lain, seakan itu memang caranya menutup setiap permintaan.
Renungan dan Hikmah
- Doa itu meminta dua hal sekaligus: jangan dijadikan sasaran fitnah, dan ampunilah kami. Satu menghadap ke luar, satu ke dalam. Orang yang meminta perlindungan sambil meminta ampunan sedang mengakui bahwa ancaman tidak selalu datang dari satu arah. Keduanya diucapkan dalam satu tarikan tanpa kata penghubung yang menandai mana yang lebih mendesak. Yang cuma menjaga diri dari luar sedang membiarkan pintu yang satu lagi terbuka lebar. Menjaga satu sisi saja berarti membiarkan sisi yang lain terbuka lebar.
- Panggilan Tuhan kami muncul dua kali dalam doa sependek ini. Pengulangan itu tidak menambah isi. Yang ditambahkannya nada orang yang sedang benar-benar meminta, bukan sedang menyusun kalimat. Doa yang rapi susunannya kadang justru terdengar seperti bacaan; doa yang memanggil dua kali terdengar seperti seseorang yang sungguh-sungguh sedang berbicara kepada Allah, dan perbedaan itu tersimpan seluruhnya di dalam satu kata yang diulang. Bedanya doa dan bacaan kadang tersimpan seluruhnya di satu kata yang diulang.
- Doa itu ditutup dengan menyebut Allah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah. Kekuatan dan pertimbangan disebut bersama. Meminta kepada yang kuat saja bisa menakutkan; yang membuat permintaan itu tenang justru sebutan yang kedua. Rangkaian gelar yang sama menutup pula sebuah doa lain dari orang yang sama di tempat lain, seakan begitulah caranya menutup setiap permintaan, dan kebiasaan itu sendiri sudah menjadi keterangan tentang bagaimana ia memandang yang dimintainya. Kebiasaan menutup dengan dua gelar itu sendiri sudah menjadi keterangan tentang cara memandang yang dimintai.
- Yang diminta lebih dahulu bukan kemenangan dan bukan keselamatan, melainkan agar keadaan mereka tidak dijadikan bahan oleh pihak yang menolak. Bukankah itu memindahkan perhatian dari nasib sendiri ke akibatnya bagi kebenaran yang dibawa? Orang yang sedang terdesak biasanya cuma sanggup memikirkan dirinya. Doa ini memikirkan yang lebih besar justru pada saat yang paling sempit, dan di situlah letak keteladanannya.
- Kalimat permintaan pertamanya tercatat persis sama sebagai doa satu rombongan lain yang keadaannya serupa: sedikit jumlahnya, berhadapan dengan pihak yang berkuasa. Kesamaan itu memperlihatkan bahwa kekhawatiran yang melahirkannya bukan milik satu orang di satu zaman. Ia muncul berulang setiap kali yang benar berada pada posisi yang lemah, dan Allah merekam kalimatnya dua kali seakan menyediakannya untuk dipakai lagi.
- Kata yang dipakai berakar pada memurnikan logam dengan api, lalu meluas menjadi ujian, lalu menjadi sesuatu yang menyeret orang ke dalam kekacauan. Ketiga lapis makna itu terbawa sekaligus. Yang dimintakan karena itu bukan sekadar bebas dari siksa, melainkan agar apa yang menimpa mereka tidak berubah menjadi bahan bakar bagi penolakan pihak lain. Satu kata menampung kekhawatiran yang sebenarnya bertingkat-tingkat.