لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Sungguh, pada mereka benar-benar terdapat suri teladan yang baik bagi kalian, bagi orang yang mengharap Allah dan hari Kemudian. Siapa yang berpaling, sesungguhnya Allah, Dialah Sang Berkecukupan lagi Sang Terpuji.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَla-qad kaana lakum fiihim uswatun hasanatun li-man kaana yarjuu llaaha wa-l-yawma l-aakhirasungguh, pada mereka benar-benar terdapat suri teladan yang baik bagi kalian, bagi orang yang mengharap Allah dan hari Kemudian
- وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُwa-man yatawalla fa-inna llaaha huwa l-ghaniyyu l-hamiidusiapa yang berpaling, sesungguhnya Allah, Dialah Sang Berkecukupan lagi Sang Terpuji
Terjemahan per kata (19 kata)
- لَقَدْla-qadsungguh
- كَانَkaanaada
- لَكُمْlakumbagi kalian
- فِيهِمْfiihimpada mereka
- أُسْوَةٌuswatunteladan
- حَسَنَةٌhasanatunkebaikan
- لِمَنْli-manbagi orang yang
- كَانَkaanaadalah
- يَرْجُوyarjuumengharapkan
- اللَّهَllaahaAllah
- وَالْيَوْمَwa-l-yawmadan hari
- الْآخِرَl-aakhirayang akhir
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- يَتَوَلَّyatawallaberpaling
- فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- هُوَhuwaDialah
- الْغَنِيُّl-ghaniyyuMahakaya
- الْحَمِيدُl-hamiiduMaha Terpuji
Inti bacaan
Perluasan makna teladan dengan syarat: 'sungguh pada mereka itu benar-benar terdapat suri teladan yang baik bagi kalian, bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan hari Kemudian', kualifikasi bahwa teladan ini relevan khususnya bagi yang berorientasi akhirat, bukan tuntutan universal tanpa konteks motivasi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung dihapus: '(Ibrahim dan umatnya)', '(yaitu)', '(pahala)' sebelum Allah, dan '(keselamatan pada)' sebelum hari Kemudian; semuanya interpretasi tambahan tanpa padanan kata Arab. 'Huwa l-ghaniyyu l-hamiidu' rangkaian gelar takrif sesudah 'huwa', diterjemahkan 'Sang Berkecukupan lagi Sang Terpuji' sesuai kaidah baku.
Rangkaian (أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ, uswatun hasanatun) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 33:21, 60:4, dan 60:6. Dua dari tiga kemunculannya berada di surah ini, dan yang kedua ini mengulang yang pertama cuma dua ayat sesudahnya. Pengulangan sedekat itu jarang terjadi tanpa maksud. Yang pertama menegakkan teladannya, yang kedua menyebut siapa yang sanggup memakainya.
Rangkaian (يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ, yarjuu llaaha wa-l-yawma l-aakhira) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 33:21 dan 60:6. Menariknya, 33:21 adalah tempat ketiga rangkaian 'teladan yang baik' itu muncul. Jadi dua rangkaian di ayat ini bertemu semuanya di satu ayat yang sama di tempat lain. Kedua ayat itu memasangkan hal yang serupa: ada teladan, dan ada syarat penglihatan untuk melihatnya sebagai teladan.
Kata kerja (يَرْجُو, yarjuu) berarti mengharap, dan objeknya di sini bukan pahala melainkan Allah sendiri, lalu hari Kemudian. Draf yang menyisipkan '(pahala)' sebelum Allah sebenarnya sedang memperhalus sesuatu yang memang tidak diperhalus oleh teks Arabnya. Yang diharap disebut langsung, tanpa perantara benda.
Kalimat keduanya membuka dengan (وَمَنْ يَتَوَلَّ, wa-man yatawalla), 'siapa yang berpaling', tanpa menyebut ke mana ia berpaling. Kata kerjanya dibiarkan tanpa objek, sehingga yang ditinggalkan tidak dinamai. Susunan seperti itu membuat berpalingnya sendiri yang menjadi pokok, bukan tujuan barunya.
Penutupnya, (الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ, al-ghaniyyu l-hamiidu), muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:64, 31:26, 35:15, 57:24, dan 60:6. Gelar pertamanya berasal dari akar yang berarti cukup dan tidak berhajat, sehingga terjemahan 'Sang Berkecukupan' dipilih, bukan 'Sang Kaya' yang menggeser maknanya ke arah harta.
Letak dua gelar itu tepat sesudah penyebutan orang yang berpaling bukan kebetulan. Yang pertama menjawab dugaan bahwa berpalingnya seseorang mengurangi sesuatu di pihak-Nya; yang kedua menambahkan bahwa pujian kepada-Nya tidak bergantung pada ada tidaknya yang memuji. Dua gelar itu bekerja berpasangan: yang tidak membutuhkan apa pun ternyata tetap layak dipuji.
Kalimat pertamanya dibuka dua penegas sekaligus, (لَقَدْ, laqad), yang menggabungkan huruf sumpah dengan huruf kepastian. Terjemahan menahan keduanya dengan 'Sungguh' di depan dan 'benar-benar' di tengah. Penegasan sekuat itu dipasang pada sebuah pernyataan yang isinya bukan ancaman dan bukan pula janji, melainkan keberadaan sebuah contoh. Yang ditegaskan adalah bahwa contohnya memang ada dan memang tersedia, bukan bahwa pembacanya wajib menirunya. Perbedaan itu terjaga di seluruh ayat: tak satu pun kata di dalamnya berbentuk perintah.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan ulang bahwa teladan Ibrahim dan pengikutnya berlaku khusus bagi siapa yang benar-benar mengharap Allah dan hari Kemudian; siapa yang berpaling tidak mengurangi apa pun dari Allah, karena Dia tidak butuh siapa pun.
Yang menarik adalah cara ayat ini mempersempit. Kalimatnya dibuka dengan menyebut teladan itu ada 'bagi kalian', luas dan terbuka, lalu di tengah jalan disambung 'bagi orang yang mengharap Allah dan hari Kemudian'. Penyempitan itu tidak mencabut apa yang baru diberikan; ia menerangkan syarat pemakaiannya. Teladannya tetap sama bagi siapa pun, tetapi tidak semua orang berdiri pada jarak yang membuatnya terlihat sebagai teladan.
Syarat yang disebut pun bukan syarat perbuatan, melainkan syarat pengharapan. Yang membedakan bukan seberapa banyak seseorang sudah mengerjakan, melainkan ke mana matanya sedang menghadap. Orang yang tidak sedang mengharap apa-apa dari arah itu akan membaca kisah Ibrahim sebagai cerita lama tentang orang lain, dan pembacaan itu tidak salah kata per kata, cuma tidak sampai ke mana-mana.
Bagian keduanya menutup celah yang biasanya muncul sesudah syarat disebutkan: bagaimana kalau ada yang menolak. Jawabannya diberikan lewat dua gelar, bukan lewat ancaman. Yang berpaling disebut, lalu segera disusul keterangan bahwa Allah Sang Berkecukupan. Tidak ada kerugian yang perlu dihitung di pihak-Nya, dan tidak ada nada terluka di dalam kalimatnya.
Gelar kedua menambahkan sesuatu yang lebih halus lagi. Yang tidak membutuhkan apa pun tetap disebut Sang Terpuji. Pujian yang diberikan kepada yang tak memerlukannya bukan pemberian dan bukan pula sumbangan; ia sekadar keterangan tentang keadaan yang memang begitu. Dengan begitu, orang yang memuji tidak sedang menambah apa-apa, dan orang yang berpaling tidak sedang mengurangi apa-apa.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut teladan itu ada bagi kalian, lalu mempersempitnya: bagi orang yang mengharap Allah dan hari Kemudian. Teladannya sama; yang berbeda siapa yang bisa melihatnya. Sebuah contoh baru terbaca sebagai contoh oleh orang yang sedang mencari jalan. Syarat yang disebut pun bukan syarat perbuatan melainkan syarat pengharapan, jadi yang membedakan bukan seberapa banyak yang sudah dikerjakan, melainkan ke arah mana mata seseorang sedang menghadap. Contoh yang sama bisa lewat begitu saja di depan mata yang belum mencari apa pun.
- Sesudah menyebut orang yang berpaling, Allah menyebut diri-Nya Sang Berkecukupan. Tidak ada kerugian yang perlu dihitung di pihak-Nya. Yang berpaling hanya membawa pergi bagiannya sendiri, dan itu satu-satunya yang berkurang. Tak ada nada terluka di dalam kalimat itu, tak ada ancaman yang menyusul, cuma sebuah keterangan tentang keadaan. Penolakan ternyata tidak selalu perlu dijawab dengan kemarahan untuk menjadi jelas kedudukannya. Penolakan tak selalu perlu dijawab dengan kemarahan untuk menjadi jelas kedudukannya.
- Dua sebutan digandeng di penutup: Berkecukupan dan Terpuji. Yang tidak membutuhkan apa pun tetap disebut layak dipuji. Pujian yang diberikan kepada yang tak memerlukannya bukan pemberian; ia keterangan tentang keadaan yang memang begitu. Maka orang yang memuji tidak sedang menambah apa-apa kepada Allah, sebagaimana orang yang berpaling tidak sedang mengurangi apa-apa. Dua gelar itu menutup pintu bagi siapa pun yang mengira kesetiaannya adalah jasa.
- Kalimatnya menyebut siapa yang berpaling, tetapi tidak menyebut ke mana ia berpaling. Kata kerjanya dibiarkan tanpa tujuan. Susunan seperti itu membuat berpalingnya sendiri yang menjadi pokok, bukan tempat barunya. Orang biasanya membela diri dengan menyebut ke mana ia pindah dan mengapa tempat itu lebih masuk akal. Ayat ini tidak menyediakan ruang untuk pembelaan semacam itu, sebab yang dicatat cuma perbuatan meninggalkannya.
- Dua rangkaian di ayat ini, 'teladan yang baik' dan 'mengharap Allah dan hari Kemudian', bertemu semuanya di satu ayat yang sama di tempat lain. Dan ayat itu pun memasangkan hal yang serupa: ada teladan, ada syarat penglihatan untuk melihatnya sebagai teladan. Lalu apa yang hendak diperlihatkan oleh pasangan yang berulang seperti ini? Bahwa teladan tak pernah bekerja sendirian; ia selalu menunggu mata yang sudah menghadap ke arah yang tepat.
- Rangkaian 'teladan yang baik' baru saja dipakai dua ayat sebelumnya, dan di sini ia diulang. Pengulangan sedekat itu jarang terjadi tanpa maksud. Yang pertama menegakkan teladannya beserta pengecualiannya, yang kedua menyebut siapa yang sanggup memakainya. Allah tidak mengulang untuk menegaskan dengan suara lebih keras, melainkan untuk menambahkan lapisan yang belum ada, dan lapisan kedua itu justru tentang pembacanya, bukan tentang yang diteladani.