عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً ۚ وَاللَّهُ قَدِيرٌ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Mudah-mudahan Allah menimbulkan rasa sayang di antara kalian dengan orang-orang yang pernah kalian musuhi di antara mereka. Allah berkuasa, dan Allah pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً'asaa llaahu an yaj'ala baynakum wa-bayna lladziina 'aadaytum minhum mawaddatanmudah-mudahan Allah menimbulkan rasa sayang di antara kalian dengan orang-orang yang pernah kalian musuhi di antara mereka
  2. وَاللَّهُ قَدِيرٌwa-llaahu qadiirunAllah berkuasa
  3. وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌwa-llaahu ghafuurun rahiimunAllah pengampun lagi pengasih

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. عَسَى'asaaboleh jadi
  2. اللَّهُllaahuAllah
  3. أَنْanbahwa
  4. يَجْعَلَyaj'alamenjadikan
  5. بَيْنَكُمْbaynakumdi antara kalian
  6. وَبَيْنَwa-baynadan antara
  7. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  8. عَادَيْتُمْ'aadaytumkalian musuhi
  9. مِنْهُمْminhumdari mereka
  10. مَوَدَّةًmawaddatankasih sayang
  11. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  12. قَدِيرٌqadiirunberkuasa
  13. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  14. غَفُورٌghafuurunpengampun
  15. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Inti bacaan

Harapan rekonsiliasi yang realistis: 'mudah-mudahan Allah menimbulkan rasa sayang di antara kalian dengan orang-orang yang pernah kalian musuhi', pengakuan bahwa permusuhan bukan kondisi permanen yang tak bisa berubah, pintu tetap terbuka bagi perubahan hubungan di masa depan meski situasi saat ini bermusuhan.

Penjelasan pilihan kata

'Qadiirun', 'ghafuurun', 'rahiimun' seluruhnya bentuk tak-bertakrif sesudah subjek 'Allah', tetap diterjemahkan huruf kecil tanpa gelar superlatif, sesuai disiplin baku.

Kata pembukanya, (عَسَى اللَّهُ, 'asa llaahu), muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:84, 4:99, 5:52, 9:102, 12:83, dan 60:7. Kata (عَسَى, 'asaa) di dalam bahasa Arab menyatakan harapan atau kemungkinan yang dekat. Ketika kata itu dipakai untuk Allah, yang dinyatakan bukan ketidakpastian di pihak-Nya, melainkan pintu yang sengaja dibiarkan terbuka tanpa dijanjikan waktunya. Terjemahan 'mudah-mudahan' menahan nada terbuka itu tanpa mengubahnya menjadi janji.

Kata kerja (عَادَيْتُمْ, 'aadaytum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 60:7. Bentuknya menyatakan kesalingan, jadi yang digambarkan permusuhan dua arah, bukan satu pihak yang memusuhi pihak lain. Dan pelakunya disebut dengan kata ganti orang kedua: 'yang pernah kalian musuhi'. Ayat-ayat sebelumnya berbicara tentang permusuhan mereka; kalimat ini justru menyebut permusuhan dari sisi yang disapa.

Kata (مَوَدَّةً, mawaddatan) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:82, 30:21, dan 60:7. Akarnya sama dengan kata yang dipakai di 60:1 untuk kasih sayang yang di sana justru dilarang disampaikan. Jadi satu kata yang sama dilarang di ayat pertama surah ini dan diharapkan di ayat ketujuhnya. Yang berbeda bukan kata dan bukan pula perasaannya, melainkan siapa yang menimbulkannya: di ayat pertama manusia yang mengirimnya, di sini Allah yang menjadikannya ada.

Keterangan (مِنْهُمْ, minhum), 'di antara mereka', membatasi cakupannya. Bukan seluruh pihak yang dimusuhi, melainkan sebagian dari mereka. Kata sekecil itu menahan ayat ini dari terbaca sebagai janji perdamaian menyeluruh, dan sekaligus menahan ayat-ayat sebelumnya dari terbaca sebagai penutupan pintu yang permanen.

Penutupnya menyebut tiga sifat berturut-turut dengan susunan yang berarti. Yang pertama, (قَدِيرٌ, qadiirun), tentang kesanggupan; dua berikutnya, (غَفُورٌ رَحِيمٌ, ghafuurun rahiimun), tentang mengampuni dan mengasihi. Kesanggupan disebut lebih dahulu karena yang baru saja dinyatakan memang perkara yang di mata manusia mustahil: mengubah permusuhan menjadi kasih sayang.

Dua sifat berikutnya menerangkan caranya. Permusuhan yang sudah berlangsung meninggalkan utang di kedua pihak, dan utang itu tidak bisa dihapus oleh kuasa semata tanpa ada yang mengampuni. Urutan tiga sifat itu karena itu membaca seperti keterangan tentang jalannya: sanggup, lalu mengampuni, lalu mengasihi.

Tafsiran

Ayat ini membuka harapan rekonsiliasi: permusuhan hari ini bukan keadaan yang harus kekal, karena Allah mampu mengubah hati dan senantiasa mengampuni.

Letaknya membuat ayat ini terasa seperti jeda di tengah rentetan yang keras. Enam ayat sebelumnya menutup pintu, menggambarkan niat pihak seberang, dan menegakkan contoh berlepas diri. Lalu tanpa satu kata sambung yang menyiapkan telinga, muncul kemungkinan bahwa jurang itu akan ditimbun kembali. Ketegasan yang tak pernah diberi jeda gampang mengeras menjadi dendam, dan kalimat ini datang tepat sebelum pengerasan itu sempat berlangsung.

Pelakunya bukan pihak yang bertikai. Kalimatnya tak menyuruh siapa pun mengulurkan tangan lebih dahulu, dan tak menuntut pihak seberang menyesal terlebih dulu. Subjeknya Allah. Susunan itu membebaskan kedua belah dari keharusan mengalah di depan umum, sekaligus mencabut hak keduanya mengaku sebagai penyebab andaikan keadaan benar-benar berubah.

Sasarannya ditunjuk dengan tepat: pihak yang selama ini berhadapan, bukan pihak yang berdiri di luar pertikaian. Bentuk kata kerjanya bertimbal balik, jadi pertikaian itu diakui berjalan dari kedua arah. Tidak ada gambaran satu kubu yang bersih sedang menanti kubu lain memperbaiki diri. Lalu satu kata kecil membatasi jangkauannya menjadi sebagian saja, bukan seluruhnya.

Kata yang dipakai untuk rasa yang diharapkan itu berasal dari akar yang sama dengan kata di ayat pertama surah ini, yang di sana justru dilarang disampaikan. Perbedaannya bukan pada kata dan bukan pada rasanya, melainkan pada siapa yang menimbulkannya dan kapan. Yang dilarang adalah mengirimkannya sendiri kepada pihak yang sedang memusuhi; yang diharapkan adalah keadaan baru yang dijadikan oleh Allah. Penutupnya menyebut kesanggupan lebih dahulu, baru pengampunan dan kasih, sebab perkara yang baru saja disebut memang terdengar mustahil, dan permusuhan lama selalu meninggalkan utang yang perlu diampuni sebelum kasih bisa tumbuh.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut mudah-mudahan Dia menimbulkan rasa sayang di antara kalian dengan yang pernah kalian musuhi. Harapan itu dari-Nya. Yang menawarkan perdamaian bukan salah satu pihak. Dengan begitu tak ada yang harus kalah gengsi lebih dahulu, dan tak ada pula yang bisa mengaku berjasa kalau perdamaian itu benar-benar datang. Susunan seperti itu menyelamatkan sebuah pendamaian dari menjadi kemenangan baru bagi pihak yang memulainya. Pendamaian yang dimulai dari atas tak meninggalkan pihak yang harus mengaku kalah lebih dulu.
  • Yang disebut orang-orang yang pernah kalian musuhi. Bukan yang netral. Perubahan yang dijanjikan menyangkut pihak yang paling jauh. Bentuk kata kerjanya pun menyatakan kesalingan, jadi perseteruan itu diakui berjalan dua arah, bukan satu pihak bersih yang sedang menunggu pihak lain berbalik. Dan kata 'di antara mereka' membatasi cakupannya: bukan semuanya, melainkan sebagian, sehingga harapan ini tidak berbalik menjadi ramalan yang menyeluruh. Jarak yang paling jauh justru yang disebut, bukan yang paling gampang dijembatani.
  • Allah menutup dengan tiga sebutan: berkuasa, pengampun, pengasih. Kuasa lebih dahulu. Yang sanggup mengubah hati disebut juga Yang mengampuni, dan urutan itu menerangkan caranya. Kesanggupan disebut lebih dulu karena yang baru saja dinyatakan memang terdengar mustahil. Lalu dua sifat berikutnya menjelaskan jalannya: perseteruan lama meninggalkan utang di kedua pihak, dan utang itu tak bisa dihapus oleh kuasa saja tanpa ada yang mengampuni. Kuasa saja tak cukup selama masih ada utang lama yang belum diampuni siapa pun.
  • Kata untuk rasa yang diharapkan di sini berasal dari akar yang sama dengan kata di ayat pertama surah ini, yang di sana justru dilarang disampaikan. Bukankah itu bertentangan? Tidak, sebab yang berbeda bukan katanya dan bukan rasanya, melainkan siapa yang menimbulkannya. Yang dilarang adalah mengirimkannya sendiri kepada pihak yang sedang memusuhi; yang diharapkan adalah keadaan baru yang dijadikan Allah, dan dua hal itu tak pernah berada di tangan yang sama.
  • Kata pembukanya menyatakan harapan yang dekat, bukan janji yang bertanggal. Ketika kata itu dipakai untuk Allah, yang dinyatakan bukan ketidakpastian di pihak-Nya, melainkan jalan yang sengaja dibiarkan belum ditutup tanpa disebut kapan. Terjemahannya menahan nada itu tanpa mengubahnya menjadi kepastian. Bagi yang sedang berseteru, jalan yang belum ditutup tanpa jadwal justru lebih menolong daripada jalan yang dinyatakan tertutup selamanya.
  • Enam ayat sebelumnya berisi larangan, gambaran perseteruan, dan teladan berlepas diri. Lalu tiba-tiba Allah menyebut kemungkinan bahwa yang terpisah akan disatukan kembali, tanpa satu kata penghubung yang menyiapkan pembacanya. Pergantiannya mendadak, dan justru karena mendadak ia terasa seperti kelegaan. Ketegasan yang tak pernah diberi napas seperti ini gampang berbalik menjadi kebencian yang dipelihara, dan ayat ini datang tepat sebelum itu terjadi.