لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tidak melarang kalian, tentang orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam pertanggungjawaban dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian, untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْlaa yanhaakumu llaahu 'ani lladziina lam yuqaatiluukum fii d-diini wa-lam yukhrijuukum min diyaarikumAllah tidak melarang kalian tentang orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam pertanggungjawaban dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian
- أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْan tabarruuhum wa-tuqsithuu ilayhimuntuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka
- إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَinna llaaha yuhibbu l-muqsithiinasesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil
Terjemahan per kata (21 kata)
- لَاlaatidak
- يَنْهَاكُمُyanhaakumumelarang kalian
- اللَّهُllaahuAllah
- عَنِ'aniterhadap
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- لَمْlamtidak
- يُقَاتِلُوكُمْyuqaatiluukummereka memerangi kalian
- فِيfiidalam
- الدِّينِd-diiniPertanggungjawaban
- وَلَمْwa-lamdan tidak
- يُخْرِجُوكُمْyukhrijuukummereka mengusir kalian
- مِنْmindari
- دِيَارِكُمْdiyaarikumkampung halaman kalian
- أَنْanuntuk
- تَبَرُّوهُمْtabarruuhumkalian berbuat baik kepada mereka
- وَتُقْسِطُواwa-tuqsithuudan kalian berlaku adil
- إِلَيْهِمْilayhimkepada mereka
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- يُحِبُّyuhibbumencintai
- الْمُقْسِطِينَl-muqsithiinaorang-orang yang berlaku adil
Inti bacaan
Prinsip keadilan yang tidak dibatasi permusuhan: 'Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian. Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil', pembedaan penting antara konflik aktif dan hubungan netral, keadilan tetap berlaku universal terlepas dari perbedaan keyakinan selama tidak ada permusuhan aktif.
Penjelasan pilihan kata
'Fii d-diini' diterjemahkan 'dalam pertanggungjawaban' sesuai kaidah baku proyek (diin→pertanggungjawaban), bukan 'urusan pertanggungjawaban' seperti draf awal, dan bukan pula istilah populer terlarang untuk konteks ini.
Ayat ini dan ayat sesudahnya memakai kata kerja yang sama, (يَنْهَاكُمُ, yanhaakumu) 'melarang kalian', dengan dua pembuka yang berlawanan. Di sini ia didahului huruf negasi: 'Allah tidak melarang kalian'. Di 60:9 ia didahului kata pembatas: 'Allah hanya melarang kalian'. Dua ayat berurutan itu karena itu bukan dua aturan yang berbeda, melainkan satu aturan yang disebut dari dua sisi. Yang satu menyebut apa yang berada di luar larangan, yang lain menyebut apa yang berada di dalamnya.
Kata kerja (تَبَرُّوهُمْ, tabarruuhum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 60:8. Akarnya menurunkan kata yang dipakai untuk kebaikan kepada orang tua dan untuk kebajikan yang luas. Jadi yang dinyatakan tidak dilarang bukan sekadar bersikap sopan, melainkan berbuat baik dalam arti yang penuh.
Kata kerja (تُقْسِطُوا, tuqsithuu) berasal dari akar yang berarti membagi dengan seimbang. Ia berpasangan dengan penutup ayatnya, (يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ, yuhibbu l-muqsithiina), yang muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:42, 49:9, dan 60:8. Di dua tempat lainnya rangkaian itu juga menutup ayat tentang berlaku adil kepada pihak yang tidak sepihak dengan yang disapa.
Syaratnya disebut dalam dua kalimat negatif yang bisa diperiksa: (لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ, lam yuqaatiluukum) 'tidak memerangi kalian' dan (وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ, wa-lam yukhrijuukum) 'dan tidak mengusir kalian'. Frasa (مِنْ دِيَارِكُمْ, min diyaarikum) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:84, 4:66, 60:8, dan 60:9. Dua dari empat kemunculannya berada di dua ayat berurutan ini, sekali dalam bentuk negatif dan sekali dalam bentuk positif.
Yang perlu diperhatikan, kedua syarat itu seluruhnya berupa perbuatan, bukan keyakinan. Ayat ini tidak menyebut apa yang mereka percayai sama sekali. Yang menentukan cara memperlakukan seseorang adalah apa yang ia kerjakan terhadap yang disapa, dan itu sesuatu yang bisa dilihat serta diperiksa oleh siapa pun.
Bentuk kalimatnya sendiri patut dicatat. Ayat ini tidak berbunyi 'berbuat baiklah kepada mereka', melainkan 'Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik'. Yang dinyatakan adalah ketiadaan larangan. Susunan seperti itu menjawab dugaan yang sudah terlanjur ada, bukan memulai perintah yang baru, dan penutupnya kemudian menaikkannya lagi: yang tidak dilarang itu ternyata dicintai.
Tafsiran
Ayat ini membedakan dengan tegas antara pihak yang aktif memusuhi dan pihak yang tidak: kepada pihak yang tidak memerangi dan tidak mengusir, kebaikan dan keadilan tetap diperintahkan.
Bentuk kalimatnya perlu diperhatikan lebih dulu. Yang dinyatakan bukan sebuah perintah baru, melainkan ketiadaan larangan. Susunan seperti itu muncul ketika ada dugaan yang sudah terlanjur berdiri dan perlu dibongkar. Tujuh ayat sebelumnya memang berisi larangan dan gambaran permusuhan, dan pembacanya bisa saja menyimpulkan sendiri bahwa pintunya tertutup untuk semua orang. Ayat ini datang tepat untuk membatalkan kesimpulan itu.
Syaratnya dua, dan dua-duanya bisa diperiksa siapa pun. Tidak memerangi, dan tidak mengusir. Tak satu pun menyangkut apa yang dipercayai pihak seberang. Ukuran yang dipakai adalah perbuatan mereka terhadap yang disapa, dan ukuran seperti itu punya kelebihan yang jarang disadari: ia tidak menuntut siapa pun menebak isi hati orang lain, sesuatu yang memang tak sanggup dikerjakan manusia.
Yang dinyatakan tidak dilarang pun bukan hal yang kecil. Kata kerjanya berasal dari akar yang menurunkan kata untuk kebaikan kepada orang tua, jadi yang dimaksud kebaikan yang penuh, bukan sekadar sikap sopan yang menjaga jarak. Ditambah lagi satu kata kerja kedua yang berarti membagi dengan seimbang, yaitu berlaku adil. Dua-duanya menuntut lebih banyak daripada sekadar tidak mengganggu.
Penutupnya menaikkan seluruh perkara satu tingkat lagi. Kalimatnya tidak berhenti pada 'boleh', melainkan menyebut bahwa Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Berbuat adil kepada pihak yang berbeda ternyata bukan kelonggaran yang ditoleransi dengan berat hati, melainkan sesuatu yang dicintai. Perpindahan dari 'tidak dilarang' menjadi 'dicintai' terjadi di dalam satu ayat yang sama, dan perpindahan itulah isi sebenarnya dari ayat ini.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyatakan Dia tidak melarang berbuat baik kepada mereka. Bentuknya penegasan atas yang tidak dilarang. Sebagian kekeliruan lahir bukan dari larangan, melainkan dari menyangka ada larangan. Susunan seperti ini muncul ketika ada dugaan yang sudah terlanjur berdiri dan perlu dibongkar, dan tujuh ayat sebelumnya memang gampang menerbitkan dugaan semacam itu. Ayat ini datang tepat pada waktunya untuk membatalkan kesimpulan yang belum sempat diucapkan. Larangan yang disangka ada sering lebih membatasi daripada larangan yang sungguh diucapkan.
- Syaratnya dua dan bisa diperiksa: tidak memerangi, dan tidak mengusir. Bukan soal keyakinan mereka. Yang menentukan perlakuan adalah perbuatan mereka terhadap kalian, bukan apa yang mereka percayai. Ukuran seperti itu punya kelebihan yang jarang disadari: ia tak menuntut siapa pun menebak isi hati orang lain, sesuatu yang memang tak sanggup dikerjakan manusia. Yang dipakai Allah sebagai batas justru hal yang paling bisa dilihat mata.
- Allah menutup dengan menyebut Dia mencintai orang-orang yang berlaku adil. Bukan sekadar membolehkan. Berbuat baik kepada pihak yang berbeda ternyata bukan kelonggaran yang ditoleransi, melainkan sesuatu yang dicintai. Perpindahan dari 'tidak dilarang' menjadi 'dicintai' terjadi di dalam satu ayat yang sama, dan perpindahan itulah isi sebenarnya dari ayat ini. Yang semula terasa seperti izin berat hati berakhir sebagai sesuatu yang dikejar. Yang semula terasa seperti izin berat hati berakhir sebagai sesuatu yang layak dikejar.
- Kata kerjanya berasal dari akar yang menurunkan kata untuk kebaikan kepada orang tua. Yang dinyatakan tidak dilarang karena itu bukan sekadar bersikap sopan sambil menjaga jarak, melainkan berbuat baik dalam arti yang penuh. Ditambah lagi kata kerja kedua yang berarti membagi dengan seimbang. Dua-duanya menuntut lebih banyak daripada sekadar tidak mengganggu, dan keduanya disebut untuk pihak yang berada di seberang keyakinan. Dua kata kerja itu menuntut jauh lebih banyak daripada sekadar tidak mengganggu.
- Ayat ini dan ayat sesudahnya memakai kata kerja yang sama dengan dua pembuka yang berlawanan: di sini didahului negasi, di sana didahului kata pembatas. Jadi keduanya bukan dua aturan berbeda, melainkan satu aturan yang disebut dari dua sisi. Yang satu menyebut apa yang berada di luar larangan, yang lain menyebut apa yang di dalamnya. Aturan yang disebut dari dua arah jauh lebih sulit dipelintir daripada aturan yang cuma disebut sekali.
- Bukankah lebih mudah kalau batasnya ditarik berdasarkan siapa mereka, bukan apa yang mereka kerjakan? Mudah, tetapi batas semacam itu tak pernah bisa diperiksa dengan jujur, sebab ia bergantung pada tuduhan. Allah memilih ukuran yang setiap orang bisa memeriksanya sendiri: sudahkah mereka memerangi, sudahkah mereka mengusir. Dua pertanyaan itu punya jawaban yang tidak bergantung pada suasana hati yang menjawabnya.