يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰ أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Wahai Nabi, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk berbaiat kepadamu, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka, tidak akan mendatangkan dusta yang mereka ada-adakan di antara tangan-tangan dan kaki-kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam kebaikan, maka terimalah baiat mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَyaa ayyuhaa n-nabiyyu idzaa jaa'aka l-mu'minaatu yubaayi'nakawahai Nabi, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk berbaiat kepadamu
  2. عَلَىٰ أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ'alaa an laa yusyrikna bi-llaahi syay'an wa-laa yasriqna wa-laa yazniina wa-laa yaqtulna awlaadahunnabahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka
  3. وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍwa-laa ya'tiina bi-buhtaanin yaftariinahu bayna aydiihinna wa-arjulihinna wa-laa ya'shiinaka fii ma'ruufindan tidak akan mendatangkan dusta yang mereka ada-adakan di antara tangan-tangan dan kaki-kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam kebaikan
  4. فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌfa-baayi'hunna wa-staghfir lahunna llaaha inna llaaha ghafuurun rahiimunmaka terimalah baiat mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah; sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih

Terjemahan per kata (39 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. النَّبِيُّn-nabiyyuNabi
  4. إِذَاidzaaapabila
  5. جَاءَكَjaa'akadatang kepadamu
  6. الْمُؤْمِنَاتُl-mu'minaatuperempuan-perempuan mukmin
  7. يُبَايِعْنَكَyubaayi'nakamereka berjanji setia kepadamu
  8. عَلَىٰ'alaaatas
  9. أَنْanbahwa
  10. لَاlaatidak
  11. يُشْرِكْنَyusyriknamereka mempersekutukan
  12. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  13. شَيْئًاsyay'ansedikit pun
  14. وَلَاwa-laadan tidak
  15. يَسْرِقْنَyasriqnamereka mencuri
  16. وَلَاwa-laadan tidak
  17. يَزْنِينَyazniinamereka berzina
  18. وَلَاwa-laadan tidak
  19. يَقْتُلْنَyaqtulnamereka membunuh
  20. أَوْلَادَهُنَّawlaadahunnaanak-anak mereka
  21. وَلَاwa-laadan tidak
  22. يَأْتِينَya'tiinamereka melakukan
  23. بِبُهْتَانٍbi-buhtaanindengan kebohongan
  24. يَفْتَرِينَهُyaftariinahumereka mengada-adakannya
  25. بَيْنَbaynadi antara
  26. أَيْدِيهِنَّaydiihinnatangan mereka
  27. وَأَرْجُلِهِنَّwa-arjulihinnadan kaki mereka
  28. وَلَاwa-laadan tidak
  29. يَعْصِينَكَya'shiinakamereka mendurhakaimu
  30. فِيfiidalam
  31. مَعْرُوفٍma'ruufinyang baik
  32. فَبَايِعْهُنَّfa-baayi'hunnamaka terimalah janji setia mereka
  33. وَاسْتَغْفِرْwa-staghfirdan mohonlah ampun
  34. لَهُنَّlahunnabagi mereka
  35. اللَّهَllaahaAllah
  36. إِنَّinnasesungguhnya
  37. اللَّهَllaahaAllah
  38. غَفُورٌghafuurunpengampun
  39. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Inti bacaan

Rincian konkret komitmen etis dalam baiat: 'tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta. tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik', daftar komitmen yang spesifik dan terukur, model bagi janji yang jelas dan dapat dievaluasi ketaatannya, bukan pernyataan abstrak tanpa tolok ukur.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(janji setia)' tidak dipakai: 'baiat' sudah kata baku bahasa Indonesia, tidak memerlukan glossing tambahan. Koreksi tunggal ke jamak: draf menulis 'anak-anaknya' (tunggal), padahal (أَوْلَادَهُنَّ, awlaadahunna) berakhiran jamak feminin, yaitu penanda orang ketiga jamak perempuan, dikoreksi menjadi 'anak-anak mereka'; demikian pula 'tangan dan kaki mereka' dikoreksi menjadi 'tangan-tangan dan kaki-kaki mereka' karena (أَيْدِيهِنَّ, aydiihinna) dan (أَرْجُلِهِنَّ, arjulihinna) keduanya bentuk jamak.

Sapaan (يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ, yaa ayyuha n-nabiyyu) muncul 13 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 8:64, 9:73, 33:1, 33:45, dan 60:12. Sapaan itu berbeda dari sapaan yang dipakai di ayat pertama dan ayat terakhir surah ini, yang ditujukan kepada orang-orang beriman. Di tengah surah yang seluruhnya berbicara kepada jamaah, satu ayat berpaling kepada satu orang.

Kata kerja (يُبَايِعْنَكَ, yubaayi'naka) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 60:12. Bentuknya menyatakan kesalingan, dari akar yang juga menurunkan kata untuk jual beli. Jadi baiat digambarkan sebagai transaksi dua arah: ada yang menyerahkan, dan ada yang menerima. Perintah di ujung ayat, 'terimalah baiat mereka', melengkapi sisi yang satunya.

Enam butir yang disebut disusun dengan satu pola yang konsisten. Lima yang pertama berbentuk larangan: tidak mempersekutukan, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, dan tidak mendatangkan dusta. Yang keenam juga berbentuk larangan, tetapi dibatasi: tidak mendurhakai (فِي مَعْرُوفٍ, fii ma'ruufin), 'dalam kebaikan'. Rangkaian itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 60:12.

Batas itu dipasang di dalam kalimat janjinya sendiri, bukan ditambahkan belakangan sebagai pengecualian. Kata (مَعْرُوفٍ, ma'ruufin) berasal dari akar yang berarti dikenali, sehingga yang dimaksud adalah kebaikan yang dikenali sebagai kebaikan, bukan apa saja yang diperintahkan. Ketaatan yang dijanjikan karena itu punya ukuran di luar diri yang ditaati.

Butir kelima memakai rangkaian (بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ, bi-buhtaanin yaftariinahu) yang muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 60:12. Kata pertamanya berarti dusta yang membuat pendengarnya tercengang, dan kata kerja yang menyertainya berarti mengarang. Keterangan 'di antara tangan-tangan dan kaki-kaki mereka' mengikuti teks Arab apa adanya tanpa penambahan tafsiran ke dalam terjemahan.

Perintah di ujungnya ada dua dan keduanya ditujukan kepada yang disapa: terimalah baiat mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka. Yang kedua tidak diminta oleh siapa pun di dalam ayat ini. Ia diperintahkan, dan letaknya sesudah daftar janji yang seluruhnya berupa larangan, bukan sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini menetapkan enam syarat baiat perempuan mukmin kepada Nabi: dasar penerimaan mereka ke dalam komunitas beriman meski datang dari latar kekafiran, mencakup larangan syirik, pencurian, perzinaan, pembunuhan anak, fitnah, dan durhaka dalam kebaikan.

Yang pertama menarik perhatian adalah pergantian sapaan. Surah ini dibuka dan ditutup dengan sapaan kepada orang-orang beriman, dan di ayat kesepuluh sapaan itu dipakai lagi. Di sini, satu ayat menjelang penutup, kalimatnya berpaling kepada satu orang. Perkara yang diatur memang perkara yang dijalankan seorang penerima, bukan perkara yang dikerjakan jamaah bersama-sama.

Isi janjinya hampir seluruhnya berupa larangan. Yang diminta lebih dulu bukan menambah amal, melainkan berhenti dari sesuatu. Susunan seperti itu masuk akal bagi orang yang baru masuk: ruang untuk yang baru memang tidak terbentuk sebelum ada yang dikosongkan lebih dahulu. Dan setiap butirnya bisa diperiksa, bukan pernyataan yang tak punya tolok ukur.

Butir terakhirnya yang paling perlu dicatat. Ia tidak berbunyi taat tanpa syarat, melainkan tidak mendurhakai dalam kebaikan. Batasnya dipasang di kalimat yang sama dengan janjinya, bukan ditambahkan belakangan sebagai pengecualian yang harus dicari-cari. Dan kata yang dipakai untuk kebaikan berasal dari akar yang berarti dikenali, sehingga ukurannya berada di luar diri orang yang ditaati.

Penutupnya menambahkan sesuatu yang tidak diminta siapa pun. Sesudah baiat diterima, yang menerima diperintahkan memohonkan ampunan bagi mereka. Bukan mengumumkan, bukan mencatat, bukan menguji sekali lagi. Memohonkan ampunan. Perintah itu datang tepat sesudah daftar yang seluruhnya berupa larangan, seakan mengakui bahwa orang yang baru berjanji berhenti tetap membawa serta apa yang sudah lewat, dan itu bukan sesuatu yang bisa dibereskan oleh janji.

Renungan dan Hikmah

  • Butir terakhir baiat itu tidak berbunyi taat tanpa syarat, melainkan tidak mendurhakai 'dalam urusan yang baik'. Batasnya dipasang di kalimat yang sama dengan janjinya, bukan ditambahkan belakangan sebagai pengecualian. Janji setia yang tak menyebutkan batasnya sejak awal hampir selalu dipakai melampaui maksudnya. Kata yang dipakai pun berakar pada 'dikenali', jadi ukurannya berada di luar diri orang yang ditaati, bukan ditentukan olehnya. Batas yang disebut sejak awal jauh lebih kuat daripada keberatan yang diajukan belakangan.
  • Perempuan-perempuan itu datang sendiri dan berbaiat sendiri, atas nama mereka sendiri. Tak ada perantara yang mewakili di ayat ini. Tanggung jawab yang dijanjikan Allah hitungkan kelak adalah tanggung jawab yang dipikul langsung, dan karena itu janjinya pun diucapkan langsung. Kata kerjanya bahkan berbentuk saling, dari akar yang menurunkan kata untuk jual beli, sehingga yang digambarkan transaksi dua arah antara dua pihak yang sama-sama hadir. Yang hadir sendiri di depan penerimanya tak bisa berkilah bahwa ia cuma diwakilkan.
  • Hampir seluruh butir yang Allah sebutkan berbentuk larangan: tidak mempersekutukan, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh, tidak berdusta. Yang diminta lebih dulu bukan menambah, melainkan berhenti. Ruang untuk sesuatu yang baru memang tidak muncul sebelum ada yang dikosongkan. Dan tiap butirnya bisa diperiksa satu per satu, bukan pernyataan besar yang tak punya tolok ukur dan karena itu tak pernah bisa ditagih. Berhenti selalu lebih sukar diukur dari luar, dan justru itu yang diminta lebih dahulu.
  • Sesudah baiat diterima, yang menerima diperintahkan memohonkan ampunan bagi mereka. Bukan mengumumkan, bukan mencatat, bukan menguji sekali lagi. Tak seorang pun di dalam ayat ini meminta hal itu. Perintahnya datang tepat sesudah daftar yang seluruhnya berupa larangan, seakan mengakui bahwa orang yang baru berjanji berhenti tetap membawa serta apa yang sudah lewat, dan itu bukan sesuatu yang bisa dibereskan oleh janji. Masa lampau seseorang tak selesai hanya karena ia berjanji, dan perintah di ujung itu mengakuinya.
  • Surah ini dibuka dan ditutup dengan sapaan kepada orang-orang beriman, dan dipakai lagi tiga ayat sebelumnya. Di sini, satu ayat menjelang penutup, kalimatnya berpaling kepada satu orang. Lalu mengapa perkara ini tidak disampaikan kepada jamaah seperti yang lain? Karena yang diatur memang dijalankan seorang penerima: dialah yang menghadapi orang yang datang, dan dialah yang harus memutuskan menerima atau tidak.
  • Kata kerjanya berbentuk saling, dan perintah di ujung ayat melengkapi sisi satunya: terimalah baiat mereka. Jadi ada yang menyerahkan dan ada yang menerima, dan kedua sisi itu disebut. Allah tidak menggambarkan penyerahan diri yang jatuh ke ruang kosong. Ada pihak yang wajib menerimanya, dan kewajiban itu diucapkan sebagai perintah, bukan sebagai kemurahan yang boleh diberikan atau ditahan sesuka hati.