يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian berteman akrab dengan kaum yang dimurkai Allah. Sungguh, mereka telah putus asa dari akhirat sebagaimana orang-orang kufar putus asa dari penghuni kubur.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْyaa ayyuhaa lladziina aamanuu laa tatawallaw qawman ghadhiba llaahu 'alayhimwahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian berteman akrab dengan kaum yang dimurkai Allah
- قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِqad ya'isuu mina l-aakhirati ka-maa ya'isa l-kuffaaru min ashaabi l-qubuurisungguh, mereka telah putus asa dari akhirat sebagaimana orang-orang kufar putus asa dari penghuni kubur
Terjemahan per kata (20 kata)
- يَاyaawahai
- أَيُّهَاayyuhaasekalian
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- لَاlaajanganlah
- تَتَوَلَّوْاtatawallawkalian berpaling
- قَوْمًاqawmankaum
- غَضِبَghadhibamurka
- اللَّهُllaahuAllah
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- قَدْqadsungguh
- يَئِسُواya'isuumereka berputus asa
- مِنَminadari
- الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
- كَمَاka-maasebagaimana
- يَئِسَya'isaberputus asa
- الْكُفَّارُl-kuffaaruorang-orang kufar
- مِنْmindari
- أَصْحَابِashaabipenghuni
- الْقُبُورِl-qubuurikubur
Inti bacaan
Peringatan tentang keputusasaan sebagai indikator: 'janganlah kalian menjadikan wali kaum yang dimurkai Allah; mereka telah putus asa terhadap akhirat', pengenalan bahwa keputusasaan terhadap makna dan konsekuensi akhirat bisa menjadi tanda peringatan tentang arah hidup seseorang, kewaspadaan terhadap pengaruh dari yang telah kehilangan harapan spiritual.
Penjelasan pilihan kata
'Laa tatawallaw' diterjemahkan 'janganlah kalian berteman akrab', diselaraskan dengan pola terjemahan akar tawallaa yang sama dipakai konsisten di 60:9 dalam surah ini, bukan koreksi kesalahan draf, melainkan harmonisasi gaya kata untuk akar Arab yang identik dalam satu surah.
Surah ini dibuka dan ditutup dengan bentuk kalimat yang sama. Ayat 60:1 berbunyi 'wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan', dan ayat ini berbunyi 'wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian berteman akrab'. Dua larangan itu memakai sapaan yang sama dan berdiri di dua ujung surah. Larangan (لَا تَتَوَلَّوْا, laa tatawallaw) sendiri muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 11:52 dan 60:13.
Kata kerjanya seakar dengan yang dipakai di 60:9, sehingga terjemahannya diselaraskan. Akar itu berarti mendekat lalu berpihak. Yang dilarang di kedua tempat karena itu sama: bukan bergaul, bukan berbuat baik, melainkan berpihak. Dan 60:8 sudah menegaskan bahwa berbuat baik justru tidak dilarang.
Rangkaian (غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ, ghadhiba llaahu 'alayhim) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 48:6, 58:14, dan 60:13. Kata kerjanya berbentuk lampau, jadi yang dinyatakan bukan kemungkinan melainkan sesuatu yang sudah terjadi. Kaum itu dikenali lewat keadaan yang sudah berlangsung, bukan lewat ramalan tentang nasib mereka.
Alasan yang menyusul bukan perbuatan mereka, melainkan keadaan batin mereka. Kata kerja (يَئِسُوا, ya'isuu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 29:23 dan 60:13. Menariknya, 29:23 juga berbicara tentang orang yang berputus asa dari rahmat Allah, sehingga dua kemunculannya sama-sama melekat pada keputusasaan terhadap sesuatu yang berada di seberang kematian.
Perbandingan di ujung ayat memakai rangkaian (أَصْحَابِ الْقُبُورِ, ash-haabi l-qubuuri) yang muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 60:13. Susunannya harfiah berarti 'para penghuni kubur', dan terjemahan mempertahankannya apa adanya tanpa menambahkan keterangan tentang kebangkitan ke dalam kalimatnya.
Perbandingan itu bekerja dengan menaruh dua keputusasaan berdampingan. Yang pertama tentang hari akhir, yang kedua tentang orang yang sudah dikubur. Yang kedua menerangkan yang pertama tanpa satu kata penjelas pun: bagi mereka, hari itu punya kedudukan yang sama dengan orang mati yang tak seorang pun menunggunya pulang.
Surah ini ditutup dengan larangan, bukan dengan janji dan bukan pula dengan pujian. Yang tertinggal di tangan pembaca sebuah batas. Susunan itu masuk akal bagi surah yang seluruh isinya menimbang siapa kawan dan siapa lawan: nasihat yang paling berguna disampaikan justru di akhir, ketika seluruh alasannya sudah terhampar lebih dahulu.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menyimpulkan tema utamanya (larangan berteman akrab dengan kaum yang telah dimurkai Allah), dengan menyejajarkan keputusasaan mereka akan akhirat dengan keputusasaan orang kafir terhadap kebangkitan orang-orang yang telah mati.
Letaknya sebagai penutup membuat ayat ini terbaca sebagai kesimpulan, dan bentuknya memang mengulang bentuk ayat pembuka surah. Keduanya memakai sapaan yang sama kepada orang-orang beriman, dan keduanya berupa larangan berpihak. Surah ini karena itu berdiri di antara dua larangan yang bersaudara, dan segala yang di tengahnya adalah keterangan tentang mengapa dan sampai di mana.
Yang disebut sebagai alasan bukan perbuatan mereka. Ini bagian yang paling perlu diperhatikan, sebab ayat-ayat di tengah surah justru bersikeras memakai perbuatan sebagai ukuran. Di sini yang disebut keadaan batin: mereka telah putus asa dari akhirat. Perbedaan itu tidak membatalkan ukuran sebelumnya; ia menambahkan alasan mengapa berpihak kepada mereka berbahaya, dan alasannya bukan tentang bahaya fisik.
Sesuatu yang menular dari pergaulan memang jarang berupa perbuatan. Yang paling mudah berpindah adalah cara memandang. Orang yang setiap hari berdekatan dengan pihak yang tidak menunggu apa-apa dari hari esok akan mendapati dirinya perlahan berhenti menunggu juga, tanpa pernah memutuskannya secara sadar. Ayat ini menyebut keadaan batin justru karena keadaan batinlah yang berpindah.
Perbandingan di ujungnya bekerja tanpa satu kata penjelas pun. Dua keputusasaan ditaruh berdampingan: putus asa dari akhirat, dan putus asa dari orang yang sudah dikubur. Yang kedua menerangkan yang pertama. Bagi mereka, hari itu sama kedudukannya dengan orang mati yang tidak seorang pun menunggunya pulang. Dan surah ini ditutup di situ, dengan sebuah batas, bukan dengan janji.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyejajarkan dua keputusasaan dalam satu kalimat: putus asa dari akhirat, dan putus asa dari yang sudah dikubur. Yang kedua menerangkan yang pertama. Bagi mereka, hari itu punya kedudukan yang sama dengan orang mati yang tak seorang pun menunggunya pulang. Perbandingan itu bekerja tanpa satu kata penjelas pun ditambahkan, dan justru karena tak dijelaskan ia menancap lebih dalam daripada uraian panjang mana pun. Perbandingan yang tak dijelaskan sering menancap lebih dalam daripada uraian sepanjang apa pun.
- Yang disebut Allah sebagai alasan bukan perbuatan mereka, melainkan keadaan batin mereka. Bukan apa yang mereka kerjakan. Sesuatu yang menular dari pergaulan memang jarang berupa perbuatan; yang paling mudah berpindah cara memandang. Orang yang tiap hari berdekatan dengan pihak yang tak menunggu apa-apa dari hari esok akan mendapati dirinya perlahan berhenti menunggu juga, tanpa pernah memutuskannya secara sadar. Cara memandang berpindah tanpa pernah diputuskan, dan itu yang membuatnya berbahaya.
- Surah ini ditutup dengan sebuah larangan, bukan dengan janji. Yang terakhir tertinggal sebuah batas. Ada nasihat yang paling berguna disampaikan justru di akhir, ketika seluruh alasannya sudah terhampar lebih dahulu. Bagi surah yang seluruh isinya menimbang siapa kawan dan siapa lawan, penutup seperti itu masuk akal: pembacanya dilepas bukan dengan perasaan hangat, melainkan dengan garis yang jelas di depan mata. Pembacanya dilepas bukan dengan perasaan hangat, melainkan dengan garis yang terang di depan mata.
- Ayat pertama surah ini dan ayat ini memakai sapaan yang sama kepada orang beriman, dan keduanya berupa larangan berpihak. Surah ini berdiri di antara dua larangan yang bersaudara, dan segala yang di tengahnya adalah keterangan tentang mengapa dan sampai di mana. Bukankah susunan seperti itu memudahkan pembacanya? Ia tahu di mana pintu masuk dan pintu keluarnya, dan tahu bahwa segala kelonggaran di tengah tidak mencabut kedua batas itu.
- Kata kerja untuk kemurkaan itu berbentuk lampau, jadi yang dinyatakan bukan kemungkinan melainkan sesuatu yang sudah berlangsung. Kaum itu dikenali lewat keadaan yang sudah ada, bukan lewat ramalan tentang nasib mereka. Perbedaannya penting: yang diramalkan selalu bisa dibantah, sedangkan yang sudah terjadi tinggal dilihat. Allah tidak meminta pembacanya menebak masa depan siapa pun untuk menjalankan larangan ini. Yang diramalkan selalu bisa dibantah; yang sudah terjadi tinggal dilihat saja.
- Kata kerjanya seakar dengan yang dipakai empat ayat sebelumnya, dan terjemahannya diselaraskan supaya akar yang sama tidak berganti wajah di dalam satu surah. Yang dilarang di kedua tempat sama: bukan bergaul, bukan berbuat baik, melainkan berpihak. Dan lima ayat sebelumnya sudah menegaskan bahwa berbuat baik justru tidak dilarang. Larangan penutup ini karena itu tidak menarik kembali kelonggaran yang baru saja diberikan.