Ayat 61:2

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَyaa ayyuhaa lladziina aamanuu li-ma taquuluuna maa laa taf'aluunawahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. لِمَli-mamengapa
  6. تَقُولُونَtaquuluunakalian mengatakan
  7. مَاmaaapa yang
  8. لَاlaatidak
  9. تَفْعَلُونَtaf'aluunakalian kerjakan

Inti bacaan

Prinsip integritas yang tegas: 'mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan?', pertanyaan konfrontatif yang langsung menyoroti kesenjangan antara ucapan dan tindakan, standar konsistensi yang menuntut keselarasan kata dengan perbuatan nyata.

Penjelasan pilihan kata

Sapaannya, (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا, yaa ayyuha lladziina aamanuu), muncul 89 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:104, 2:153, 2:178, 2:208, dan 61:2. Sapaan sebanyak itu hampir selalu mendahului perintah, larangan, atau teguran. Yang dipanggil bukan penentang dan bukan pula orang yang belum percaya, melainkan justru mereka yang sudah menyatakan iman. Teguran di sini karena itu bukan serangan dari luar pagar; ia percakapan ke dalam rumah sendiri.

Kata tanyanya adalah (لِمَ, lima), gabungan huruf sebab dengan kata tanya, yang di dalam bahasa Indonesia paling dekat dengan 'mengapa'. Bentuknya pertanyaan, tetapi kedudukannya teguran. Ayat ini tidak sedang mengumpulkan keterangan, sebab jawabannya sudah diketahui yang bertanya. Pertanyaan semacam ini menyerahkan pekerjaan menjawab kepada yang ditanya, dan di situlah tekanannya: orang dipaksa menyebut sendiri alasannya, lalu mendapati bahwa alasan itu tidak ada.

Rangkaian (مَا لَا تَفْعَلُونَ, maa laa taf'aluuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 61:2 dan 61:3. Keduanya berada di surah ini dan letaknya berurutan. Verbanya sendiri, (تَفْعَلُونَ, taf'aluuna), muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:91, 27:88, 42:25, 61:2, 61:3, dan 82:12. Dua dari enam kemunculan itu menempel di surah ini, sehingga pasangan ayat kedua dan ketiga terbaca sebagai satu tarikan napas, bukan dua pernyataan terpisah.

Dua verba yang diperhadapkan berasal dari akar yang berlainan: (تَقُولُونَ, taquuluuna) dari akar yang berarti berkata, dan (تَفْعَلُونَ, taf'aluuna) dari akar yang berarti berbuat. Keduanya berbentuk sekarang dan berorang kedua jamak, jadi sejajar sempurna dari segi bentuk. Yang dipersoalkan bukan kegagalan mengerjakan, melainkan jarak antara dua pekerjaan yang semestinya sejalan. Orang yang diam lalu tidak berbuat tidak disinggung di sini; yang disinggung adalah yang berbicara lebih dulu.

Terjemahan 'apa yang tidak kalian kerjakan' memilih 'kerjakan', bukan 'lakukan', supaya bobot pekerjaannya terasa, sesuai konvensi proyek untuk akar ini. Bentuk 'kalian' dipakai karena verbanya memang berorang kedua jamak murni, bukan sapaan tunggal yang diperhalus. Pilihan itu menyebarkan tanggung jawabnya: yang ditegur bukan satu orang tertentu yang bisa ditunjuk hidungnya, melainkan seluruh yang hadir.

Tidak ada apa pun yang disisipkan antara sapaan dan pertanyaan. Ayat ini melompat langsung dari 'wahai orang-orang yang beriman' ke 'mengapa'. Tak ada pujian pembuka, tak ada pengantar yang melunakkan, tak ada penyebutan kebaikan mereka lebih dulu. Susunan sekeras itu jarang muncul sesudah sapaan iman, dan kelangkaannya sendiri sudah menjadi ukuran betapa seriusnya perkara yang hendak disampaikan.

Tafsiran

Ayat ini menegur keras kesenjangan antara ucapan dan perbuatan di kalangan orang-orang beriman.

Yang ditegur perlu digarisbawahi. Sasaran ayat ini bukan orang yang menolak, bukan pula orang yang berpura-pura percaya, melainkan mereka yang sudah dipanggil dengan sebutan beriman. Artinya penyakit ini tumbuh di dalam, bukan datang dari luar. Iman tidak membuat seseorang kebal terhadapnya; justru orang yang sudah beriman punya lebih banyak kesempatan mengucapkan hal-hal besar yang belum tentu sanggup ia tunaikan.

Bentuknya pertanyaan, dan itu bukan pilihan yang kebetulan. Larangan langsung akan menutup perkara dengan cepat: dilarang, selesai. Pertanyaan justru membiarkan perkaranya terbuka dan menyerahkan jawabannya kepada yang ditanya. Orang dibawa menengok ke dalam dirinya sendiri, mencari sebab yang ia sendiri tahu tidak ada. Teguran yang bekerja seperti ini meninggalkan bekas lebih lama daripada larangan yang tinggal dipatuhi.

Yang dipersoalkan pun bukan kelemahan yang lazim. Ayat ini tidak menghukum orang yang gagal, tidak pula orang yang lambat. Ia menyorot satu urutan tertentu: berbicara lebih dulu, lalu tidak mengerjakan. Kalau ucapannya tidak pernah keluar, perkaranya tidak muncul. Jadi bukan kekurangan tenaga yang ditimbang, melainkan kelebihan bicara yang tidak ditutup oleh perbuatan.

Letaknya sesudah ayat pembuka juga berbicara. Ayat pertama menyebut seisi langit dan bumi yang bertasbih tanpa satu kata pun. Ayat kedua menghadapkan manusia yang berkata-kata tanpa satu perbuatan pun. Dua ayat yang berdempetan itu menyusun perbandingan yang tidak perlu dijelaskan lagi, dan surahnya baru mulai.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menegur orang beriman, bukan penentang. Yang disapa yang percaya. Tegurannya ke dalam. Sapaan 'wahai orang-orang yang beriman' dipakai puluhan kali di dalam Al-Qur'an dan hampir selalu diikuti sesuatu yang berat, sehingga siapa pun yang merasa masuk ke dalam panggilan itu sekaligus masuk ke dalam tuntutannya. Iman ternyata tidak dipakai sebagai perisai dari kritik, melainkan sebagai alasan mengapa kritik itu boleh datang sekeras ini. Yang paling ditakuti dari teguran seperti ini bukan malunya, melainkan kenyataan bahwa ia datang dari pihak yang tidak mungkin salah menilai.
  • Yang dipersoalkan ucapannya, bukan kelalaiannya. Bukan tidak mengerjakan. Mengatakan lalu tidak. Orang yang diam dan tidak berbuat tak disinggung sedikit pun di sini, sebab perkaranya memang baru lahir begitu mulut terbuka. Ucapan menciptakan utang yang sebelumnya tidak ada. Karena itu yang ditimbang bukan seberapa besar tenaga seseorang, melainkan seberapa jauh ia berani berjanji melampaui tenaga itu.
  • Pertanyaannya dibuka dengan mengapa. Allah tidak langsung melarang. Ia menanyakan sebabnya. Larangan akan menutup perkara seketika, sedangkan pertanyaan membiarkannya menganga dan menyerahkan jawabannya kepada yang ditanya. Adakah alasan yang benar-benar bisa disebut? Orang yang jujur akan mendapati dirinya kehabisan kata, dan kekosongan itulah tegurannya yang sesungguhnya, jauh lebih menusuk daripada satu kalimat larangan. Larangan menuntut kepatuhan, sedangkan pertanyaan menuntut kejujuran, dan yang kedua jauh lebih sulit dipalsukan.
  • Verbanya berorang kedua jamak, dan terjemahannya mengikuti dengan 'kalian'. Teguran itu tidak ditujukan kepada satu orang yang bisa ditunjuk lalu disingkirkan agar sisanya merasa aman. Ia disebar ke seluruh yang hadir. Cara menyapa seperti ini menutup jalan keluar yang paling disukai manusia, yaitu mencari siapa gerangan yang dimaksud selain dirinya. Begitu sapaannya jamak, tak ada lagi kursi penonton yang tersisa. Sapaan jamak membuat setiap orang harus memeriksa dirinya sendiri sebelum sempat memeriksa tetangganya.
  • Antara sapaan dan pertanyaan tidak ada apa-apa. Allah tidak menyebut kebaikan mereka lebih dulu, tidak memuji, tidak melunakkan. Dari 'wahai orang-orang yang beriman' langsung ke 'mengapa'. Susunan sekeras itu jarang datang sesudah sapaan iman, dan kelangkaannya sendiri sudah menjadi ukuran. Ada perkara yang justru rusak kalau diantar dengan basa-basi, sebab basa-basi memberi ruang bagi yang ditegur untuk merasa perkaranya masih bisa ditawar.
  • Kata untuk berkata dan kata untuk berbuat dipasang berdampingan dalam satu kalimat pendek, sama bentuknya, sama orangnya, hanya berbeda akarnya. Kesejajaran itu membuat jarak di antara keduanya terlihat telanjang. Bahasa Arab di sini bekerja seperti timbangan dengan dua piring yang tampak serupa: begitu yang satu berisi dan yang lain kosong, kemiringannya tak bisa disembunyikan lagi oleh susunan kalimat mana pun. Tidak ada kalimat penjelas yang ditambahkan sesudahnya, sebab susunannya sendiri sudah menjelaskan segalanya.

Ayat 61:3

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَkabura maqtan 'inda llaahi an taquuluu maa laa taf'aluunasangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. كَبُرَkaburaterasa berat
  2. مَقْتًاmaqtankemurkaan
  3. عِنْدَ'indadi sisi
  4. اللَّهِllaahiAllah
  5. أَنْanbahwa
  6. تَقُولُواtaquuluukalian katakan
  7. مَاmaaapa yang
  8. لَاlaatidak
  9. تَفْعَلُونَtaf'aluunakalian kerjakan

Inti bacaan

Penegasan tingkat keseriusan pelanggaran: 'sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan', bobot moral yang tinggi diberikan pada inkonsistensi kata-tindakan, bukan pelanggaran ringan yang bisa dianggap remeh.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ, kabura maqtan 'inda llaahi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 40:35 dan 61:3. Di 40:35 rangkaian itu dikenakan kepada orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah tanpa keterangan yang datang kepada mereka, dan di sana kalimatnya diteruskan menjadi 'di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman'. Di sini kalimatnya berhenti pada 'di sisi Allah' saja. Perbedaan kecil itu mengubah arah tekanan: perdebatan yang batil merusak di dua mata sekaligus, sedangkan ucapan yang tak ditepati ditimbang lebih dulu di satu mata yang tak bisa dibohongi.

Kata (مَقْتًا, maqtan) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:22, 35:39, 40:35, dan 61:3. Empat pemakaian itu jatuh pada perkara yang berat semua: pernikahan yang dilarang di 4:22, kekufuran yang bertambah-tambah di 35:39, perdebatan tanpa dasar di 40:35, dan ucapan yang tidak ditepati di sini. Proyek ini menerjemahkannya 'kemurkaan'. Yang dinyatakan bukan sekadar tidak berkenan, melainkan penolakan yang keras dan berjarak.

Verbanya, (كَبُرَ, kabura), berasal dari akar yang berarti besar. Ia dipakai bukan untuk mengukur perbuatannya, melainkan untuk mengukur kemurkaannya. Susunan seperti ini di dalam bahasa Arab menaruh kata yang diukur dalam bentuk penjelas sesudah verba, sehingga terjemahan harfiahnya kira-kira 'besarlah ia, dari segi kemurkaan'. Terjemahan 'sangat besarlah kemurkaan' mempertahankan urutan itu: yang lebih dulu disebut ukurannya, baru sesudah itu perkaranya.

Yang menjadi pokok kalimat justru diletakkan paling belakang: (أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ, an taquuluu maa laa taf'aluuna). Pembaca lebih dulu mendengar bahwa ada sesuatu yang sangat besar kemurkaannya di sisi Allah, lalu menunggu, baru kemudian diberi tahu sesuatu itu apa. Penundaan semacam ini bekerja seperti tangan yang menahan tirai sebentar sebelum membukanya, dan yang muncul di baliknya ternyata perkara yang di mata manusia terhitung ringan: berbicara tanpa mengerjakan.

Rangkaian penutupnya persis mengulang penutup ayat sebelumnya. Gabungan (مَا لَا تَفْعَلُونَ, maa laa taf'aluuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 61:2 dan 61:3, dan keduanya adalah dua ayat yang bersambungan ini. Pengulangan yang begitu rapat membuat kedua ayat terbaca sebagai satu perkara yang ditinjau dari dua sisi: ayat sebelumnya bertanya mengapa, ayat ini menyebut harganya.

Kata (عِنْدَ, 'inda) menunjuk tempat penimbangan, dan tempat itu bukan di kalangan manusia. Ukuran ringan atau berat yang dipakai orang untuk perkara ini tidak dijadikan rujukan sama sekali. Ayat ini memindahkan timbangannya, dan begitu timbangannya berpindah, angka yang keluar pun berubah total dari yang biasa diduga.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan skala kemurkaan Allah atas kesenjangan ucapan-perbuatan yang disebut di ayat sebelumnya.

Yang ditambahkan ayat ini terhadap ayat sebelumnya adalah kadar. Ayat kedua bertanya mengapa; ayat ketiga menyebut berapa berat. Pertanyaan tanpa kadar masih bisa dibaca sebagai keluhan yang boleh diabaikan, sedangkan kadar tanpa pertanyaan akan terasa seperti vonis yang jatuh tiba-tiba. Dua ayat yang berdempetan ini melengkapi satu sama lain, dan pengulangan penutupnya yang sama persis mengikat keduanya jadi satu perkara.

Yang menarik adalah letak perkaranya di ujung kalimat. Pendengar lebih dulu diberi tahu bahwa ada sesuatu yang sangat besar kemurkaannya di sisi Allah. Pada titik itu pikiran manusia biasanya melompat ke dosa-dosa yang tampak besar: darah, harta, kehormatan. Lalu kalimatnya selesai, dan yang disebut ternyata mengatakan apa yang tidak dikerjakan. Jarak antara dugaan dan kenyataan itulah pukulannya.

Kemurkaan itu juga diberi tempat: di sisi Allah. Bukan di mata orang, bukan menurut ukuran yang berlaku di antara manusia. Perkara ini di kalangan manusia hampir tak pernah dihitung sebagai pelanggaran. Orang yang banyak berjanji dan sedikit menepati paling jauh disebut kurang dapat dipegang, dan itu pun sering dimaafkan. Ayat ini memindahkan penimbangannya ke tempat lain, dan di tempat itu perkaranya berubah menjadi berat.

Perbandingan dengan satu-satunya ayat lain yang memakai rangkaian yang sama menambah kedalaman. Di sana rangkaian itu dikenakan kepada orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah tanpa dasar, dan kemurkaannya disebut ada di dua sisi sekaligus. Di sini cukup satu sisi, tetapi sisi yang paling menentukan. Berbicara tanpa mengerjakan diletakkan sejajar dengan berdebat tanpa keterangan: dua-duanya memakai kata-kata untuk sesuatu yang tidak ada isinya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menimbang jarak antara ucapan dan perbuatan. Yang diucap. Yang tidak dikerjakan. Yang masuk timbangan bukan salah satunya, melainkan ruang kosong di antara keduanya, dan ruang itulah yang ternyata punya bobot. Selama ini orang terbiasa menghitung amalnya saja atau dosanya saja, seolah keduanya berdiri sendiri-sendiri. Ayat ini menambahkan pos ketiga yang jarang dihitung siapa pun: selisih antara yang sudah diumumkan dan yang benar-benar dijalankan. Selisih itu tidak terlihat oleh siapa pun kecuali oleh yang mengucapkannya dan oleh yang mendengar semua ucapan.
  • Frasa sangat besar dipakai untuk kemurkaannya. Bukan sekadar tidak disukai. Diberi kadar. Ada perbedaan besar antara sesuatu yang dinyatakan tidak berkenan dan sesuatu yang diberi ukuran. Ukuran memaksa pembaca berhenti menawar. Begitu kadarnya disebut, perkara ini tak bisa lagi digeser ke daftar hal-hal kecil yang boleh diurus belakangan, sebab yang menetapkan ukurannya bukan orang yang bisa dibantah. Menyebut ukuran berarti menutup ruang bagi tawar-menawar yang biasanya dipakai orang untuk menunda perbaikan.
  • Yang dipersoalkan bukan gagalnya, melainkan mengatakannya. Allah menyebut ucapannya. Yang berjanji lalu tidak menepati. Kegagalan adalah perkara kemampuan, dan kemampuan punya batas yang wajar. Ucapan adalah perkara pilihan, dan pilihan itu diambil sebelum satu langkah pun dijalankan. Karena itu yang ditimbang di sini bukan hasil akhirnya, melainkan keputusan mengeluarkan janji yang sejak awal sudah tahu tak akan ditebus. Batas kemampuan bisa dimaklumi siapa saja, tetapi kelebihan bicara tak punya alasan yang bisa diajukan.
  • Kalimatnya menyebut ukurannya lebih dulu, perkaranya paling belakang. Pendengar diberi tahu bahwa ada sesuatu yang sangat besar kemurkaannya, lalu menunggu, lalu barulah tahu sesuatu itu apa. Pada saat menunggu, pikiran biasanya melompat ke pelanggaran yang tampak mengerikan. Dan yang muncul justru perkara yang di mata orang terhitung sepele. Bukankah jarak antara dugaan dan kenyataan itu sendiri sudah merupakan teguran?
  • Tempat penimbangannya disebut terang-terangan: di sisi Allah. Bukan menurut ukuran yang berlaku di antara manusia, tempat orang yang banyak berjanji paling jauh disebut kurang bisa dipegang lalu dimaafkan. Begitu timbangannya dipindah, angkanya berubah total. Yang di satu tempat dianggap kelemahan wajar, di tempat lain tercatat sebagai perkara yang besar, dan tempat yang kedua itulah yang menentukan. Pindahnya tempat penimbangan itu yang membuat perkara ini tak bisa diselesaikan dengan permintaan maaf yang lisan lagi.
  • Rangkaian yang sama dipakai di satu ayat lain untuk orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah tanpa keterangan apa pun. Dua perkara itu jadi bersaudara: berbicara tanpa mengerjakan dan berdebat tanpa dasar. Keduanya memakai kata-kata untuk membungkus sesuatu yang isinya kosong. Yang satu mengaku sanggup padahal tidak, yang lain mengaku tahu padahal tidak, dan kemurkaan yang disebut untuk keduanya ditulis dengan kalimat yang serupa.