يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَyaa ayyuhaa lladziina aamanuu li-ma taquuluuna maa laa taf'aluunawahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. لِمَli-mamengapa
  6. تَقُولُونَtaquuluunakalian mengatakan
  7. مَاmaaapa yang
  8. لَاlaatidak
  9. تَفْعَلُونَtaf'aluunakalian kerjakan

Inti bacaan

Prinsip integritas yang tegas: 'mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan?', pertanyaan konfrontatif yang langsung menyoroti kesenjangan antara ucapan dan tindakan, standar konsistensi yang menuntut keselarasan kata dengan perbuatan nyata.

Penjelasan pilihan kata

Sapaannya, (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا, yaa ayyuha lladziina aamanuu), muncul 89 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:104, 2:153, 2:178, 2:208, dan 61:2. Sapaan sebanyak itu hampir selalu mendahului perintah, larangan, atau teguran. Yang dipanggil bukan penentang dan bukan pula orang yang belum percaya, melainkan justru mereka yang sudah menyatakan iman. Teguran di sini karena itu bukan serangan dari luar pagar; ia percakapan ke dalam rumah sendiri.

Kata tanyanya adalah (لِمَ, lima), gabungan huruf sebab dengan kata tanya, yang di dalam bahasa Indonesia paling dekat dengan 'mengapa'. Bentuknya pertanyaan, tetapi kedudukannya teguran. Ayat ini tidak sedang mengumpulkan keterangan, sebab jawabannya sudah diketahui yang bertanya. Pertanyaan semacam ini menyerahkan pekerjaan menjawab kepada yang ditanya, dan di situlah tekanannya: orang dipaksa menyebut sendiri alasannya, lalu mendapati bahwa alasan itu tidak ada.

Rangkaian (مَا لَا تَفْعَلُونَ, maa laa taf'aluuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 61:2 dan 61:3. Keduanya berada di surah ini dan letaknya berurutan. Verbanya sendiri, (تَفْعَلُونَ, taf'aluuna), muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:91, 27:88, 42:25, 61:2, 61:3, dan 82:12. Dua dari enam kemunculan itu menempel di surah ini, sehingga pasangan ayat kedua dan ketiga terbaca sebagai satu tarikan napas, bukan dua pernyataan terpisah.

Dua verba yang diperhadapkan berasal dari akar yang berlainan: (تَقُولُونَ, taquuluuna) dari akar yang berarti berkata, dan (تَفْعَلُونَ, taf'aluuna) dari akar yang berarti berbuat. Keduanya berbentuk sekarang dan berorang kedua jamak, jadi sejajar sempurna dari segi bentuk. Yang dipersoalkan bukan kegagalan mengerjakan, melainkan jarak antara dua pekerjaan yang semestinya sejalan. Orang yang diam lalu tidak berbuat tidak disinggung di sini; yang disinggung adalah yang berbicara lebih dulu.

Terjemahan 'apa yang tidak kalian kerjakan' memilih 'kerjakan', bukan 'lakukan', supaya bobot pekerjaannya terasa, sesuai konvensi proyek untuk akar ini. Bentuk 'kalian' dipakai karena verbanya memang berorang kedua jamak murni, bukan sapaan tunggal yang diperhalus. Pilihan itu menyebarkan tanggung jawabnya: yang ditegur bukan satu orang tertentu yang bisa ditunjuk hidungnya, melainkan seluruh yang hadir.

Tidak ada apa pun yang disisipkan antara sapaan dan pertanyaan. Ayat ini melompat langsung dari 'wahai orang-orang yang beriman' ke 'mengapa'. Tak ada pujian pembuka, tak ada pengantar yang melunakkan, tak ada penyebutan kebaikan mereka lebih dulu. Susunan sekeras itu jarang muncul sesudah sapaan iman, dan kelangkaannya sendiri sudah menjadi ukuran betapa seriusnya perkara yang hendak disampaikan.

Tafsiran

Ayat ini menegur keras kesenjangan antara ucapan dan perbuatan di kalangan orang-orang beriman.

Yang ditegur perlu digarisbawahi. Sasaran ayat ini bukan orang yang menolak, bukan pula orang yang berpura-pura percaya, melainkan mereka yang sudah dipanggil dengan sebutan beriman. Artinya penyakit ini tumbuh di dalam, bukan datang dari luar. Iman tidak membuat seseorang kebal terhadapnya; justru orang yang sudah beriman punya lebih banyak kesempatan mengucapkan hal-hal besar yang belum tentu sanggup ia tunaikan.

Bentuknya pertanyaan, dan itu bukan pilihan yang kebetulan. Larangan langsung akan menutup perkara dengan cepat: dilarang, selesai. Pertanyaan justru membiarkan perkaranya terbuka dan menyerahkan jawabannya kepada yang ditanya. Orang dibawa menengok ke dalam dirinya sendiri, mencari sebab yang ia sendiri tahu tidak ada. Teguran yang bekerja seperti ini meninggalkan bekas lebih lama daripada larangan yang tinggal dipatuhi.

Yang dipersoalkan pun bukan kelemahan yang lazim. Ayat ini tidak menghukum orang yang gagal, tidak pula orang yang lambat. Ia menyorot satu urutan tertentu: berbicara lebih dulu, lalu tidak mengerjakan. Kalau ucapannya tidak pernah keluar, perkaranya tidak muncul. Jadi bukan kekurangan tenaga yang ditimbang, melainkan kelebihan bicara yang tidak ditutup oleh perbuatan.

Letaknya sesudah ayat pembuka juga berbicara. Ayat pertama menyebut seisi langit dan bumi yang bertasbih tanpa satu kata pun. Ayat kedua menghadapkan manusia yang berkata-kata tanpa satu perbuatan pun. Dua ayat yang berdempetan itu menyusun perbandingan yang tidak perlu dijelaskan lagi, dan surahnya baru mulai.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menegur orang beriman, bukan penentang. Yang disapa yang percaya. Tegurannya ke dalam. Sapaan 'wahai orang-orang yang beriman' dipakai puluhan kali di dalam Al-Qur'an dan hampir selalu diikuti sesuatu yang berat, sehingga siapa pun yang merasa masuk ke dalam panggilan itu sekaligus masuk ke dalam tuntutannya. Iman ternyata tidak dipakai sebagai perisai dari kritik, melainkan sebagai alasan mengapa kritik itu boleh datang sekeras ini. Yang paling ditakuti dari teguran seperti ini bukan malunya, melainkan kenyataan bahwa ia datang dari pihak yang tidak mungkin salah menilai.
  • Yang dipersoalkan ucapannya, bukan kelalaiannya. Bukan tidak mengerjakan. Mengatakan lalu tidak. Orang yang diam dan tidak berbuat tak disinggung sedikit pun di sini, sebab perkaranya memang baru lahir begitu mulut terbuka. Ucapan menciptakan utang yang sebelumnya tidak ada. Karena itu yang ditimbang bukan seberapa besar tenaga seseorang, melainkan seberapa jauh ia berani berjanji melampaui tenaga itu.
  • Pertanyaannya dibuka dengan mengapa. Allah tidak langsung melarang. Ia menanyakan sebabnya. Larangan akan menutup perkara seketika, sedangkan pertanyaan membiarkannya menganga dan menyerahkan jawabannya kepada yang ditanya. Adakah alasan yang benar-benar bisa disebut? Orang yang jujur akan mendapati dirinya kehabisan kata, dan kekosongan itulah tegurannya yang sesungguhnya, jauh lebih menusuk daripada satu kalimat larangan. Larangan menuntut kepatuhan, sedangkan pertanyaan menuntut kejujuran, dan yang kedua jauh lebih sulit dipalsukan.
  • Verbanya berorang kedua jamak, dan terjemahannya mengikuti dengan 'kalian'. Teguran itu tidak ditujukan kepada satu orang yang bisa ditunjuk lalu disingkirkan agar sisanya merasa aman. Ia disebar ke seluruh yang hadir. Cara menyapa seperti ini menutup jalan keluar yang paling disukai manusia, yaitu mencari siapa gerangan yang dimaksud selain dirinya. Begitu sapaannya jamak, tak ada lagi kursi penonton yang tersisa. Sapaan jamak membuat setiap orang harus memeriksa dirinya sendiri sebelum sempat memeriksa tetangganya.
  • Antara sapaan dan pertanyaan tidak ada apa-apa. Allah tidak menyebut kebaikan mereka lebih dulu, tidak memuji, tidak melunakkan. Dari 'wahai orang-orang yang beriman' langsung ke 'mengapa'. Susunan sekeras itu jarang datang sesudah sapaan iman, dan kelangkaannya sendiri sudah menjadi ukuran. Ada perkara yang justru rusak kalau diantar dengan basa-basi, sebab basa-basi memberi ruang bagi yang ditegur untuk merasa perkaranya masih bisa ditawar.
  • Kata untuk berkata dan kata untuk berbuat dipasang berdampingan dalam satu kalimat pendek, sama bentuknya, sama orangnya, hanya berbeda akarnya. Kesejajaran itu membuat jarak di antara keduanya terlihat telanjang. Bahasa Arab di sini bekerja seperti timbangan dengan dua piring yang tampak serupa: begitu yang satu berisi dan yang lain kosong, kemiringannya tak bisa disembunyikan lagi oleh susunan kalimat mana pun. Tidak ada kalimat penjelas yang ditambahkan sesudahnya, sebab susunannya sendiri sudah menjelaskan segalanya.