كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَkabura maqtan 'inda llaahi an taquuluu maa laa taf'aluunasangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan
Terjemahan per kata (9 kata)
- كَبُرَkaburaterasa berat
- مَقْتًاmaqtankemurkaan
- عِنْدَ'indadi sisi
- اللَّهِllaahiAllah
- أَنْanbahwa
- تَقُولُواtaquuluukalian katakan
- مَاmaaapa yang
- لَاlaatidak
- تَفْعَلُونَtaf'aluunakalian kerjakan
Inti bacaan
Penegasan tingkat keseriusan pelanggaran: 'sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan', bobot moral yang tinggi diberikan pada inkonsistensi kata-tindakan, bukan pelanggaran ringan yang bisa dianggap remeh.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ, kabura maqtan 'inda llaahi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 40:35 dan 61:3. Di 40:35 rangkaian itu dikenakan kepada orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah tanpa keterangan yang datang kepada mereka, dan di sana kalimatnya diteruskan menjadi 'di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman'. Di sini kalimatnya berhenti pada 'di sisi Allah' saja. Perbedaan kecil itu mengubah arah tekanan: perdebatan yang batil merusak di dua mata sekaligus, sedangkan ucapan yang tak ditepati ditimbang lebih dulu di satu mata yang tak bisa dibohongi.
Kata (مَقْتًا, maqtan) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:22, 35:39, 40:35, dan 61:3. Empat pemakaian itu jatuh pada perkara yang berat semua: pernikahan yang dilarang di 4:22, kekufuran yang bertambah-tambah di 35:39, perdebatan tanpa dasar di 40:35, dan ucapan yang tidak ditepati di sini. Proyek ini menerjemahkannya 'kemurkaan'. Yang dinyatakan bukan sekadar tidak berkenan, melainkan penolakan yang keras dan berjarak.
Verbanya, (كَبُرَ, kabura), berasal dari akar yang berarti besar. Ia dipakai bukan untuk mengukur perbuatannya, melainkan untuk mengukur kemurkaannya. Susunan seperti ini di dalam bahasa Arab menaruh kata yang diukur dalam bentuk penjelas sesudah verba, sehingga terjemahan harfiahnya kira-kira 'besarlah ia, dari segi kemurkaan'. Terjemahan 'sangat besarlah kemurkaan' mempertahankan urutan itu: yang lebih dulu disebut ukurannya, baru sesudah itu perkaranya.
Yang menjadi pokok kalimat justru diletakkan paling belakang: (أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ, an taquuluu maa laa taf'aluuna). Pembaca lebih dulu mendengar bahwa ada sesuatu yang sangat besar kemurkaannya di sisi Allah, lalu menunggu, baru kemudian diberi tahu sesuatu itu apa. Penundaan semacam ini bekerja seperti tangan yang menahan tirai sebentar sebelum membukanya, dan yang muncul di baliknya ternyata perkara yang di mata manusia terhitung ringan: berbicara tanpa mengerjakan.
Rangkaian penutupnya persis mengulang penutup ayat sebelumnya. Gabungan (مَا لَا تَفْعَلُونَ, maa laa taf'aluuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 61:2 dan 61:3, dan keduanya adalah dua ayat yang bersambungan ini. Pengulangan yang begitu rapat membuat kedua ayat terbaca sebagai satu perkara yang ditinjau dari dua sisi: ayat sebelumnya bertanya mengapa, ayat ini menyebut harganya.
Kata (عِنْدَ, 'inda) menunjuk tempat penimbangan, dan tempat itu bukan di kalangan manusia. Ukuran ringan atau berat yang dipakai orang untuk perkara ini tidak dijadikan rujukan sama sekali. Ayat ini memindahkan timbangannya, dan begitu timbangannya berpindah, angka yang keluar pun berubah total dari yang biasa diduga.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan skala kemurkaan Allah atas kesenjangan ucapan-perbuatan yang disebut di ayat sebelumnya.
Yang ditambahkan ayat ini terhadap ayat sebelumnya adalah kadar. Ayat kedua bertanya mengapa; ayat ketiga menyebut berapa berat. Pertanyaan tanpa kadar masih bisa dibaca sebagai keluhan yang boleh diabaikan, sedangkan kadar tanpa pertanyaan akan terasa seperti vonis yang jatuh tiba-tiba. Dua ayat yang berdempetan ini melengkapi satu sama lain, dan pengulangan penutupnya yang sama persis mengikat keduanya jadi satu perkara.
Yang menarik adalah letak perkaranya di ujung kalimat. Pendengar lebih dulu diberi tahu bahwa ada sesuatu yang sangat besar kemurkaannya di sisi Allah. Pada titik itu pikiran manusia biasanya melompat ke dosa-dosa yang tampak besar: darah, harta, kehormatan. Lalu kalimatnya selesai, dan yang disebut ternyata mengatakan apa yang tidak dikerjakan. Jarak antara dugaan dan kenyataan itulah pukulannya.
Kemurkaan itu juga diberi tempat: di sisi Allah. Bukan di mata orang, bukan menurut ukuran yang berlaku di antara manusia. Perkara ini di kalangan manusia hampir tak pernah dihitung sebagai pelanggaran. Orang yang banyak berjanji dan sedikit menepati paling jauh disebut kurang dapat dipegang, dan itu pun sering dimaafkan. Ayat ini memindahkan penimbangannya ke tempat lain, dan di tempat itu perkaranya berubah menjadi berat.
Perbandingan dengan satu-satunya ayat lain yang memakai rangkaian yang sama menambah kedalaman. Di sana rangkaian itu dikenakan kepada orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah tanpa dasar, dan kemurkaannya disebut ada di dua sisi sekaligus. Di sini cukup satu sisi, tetapi sisi yang paling menentukan. Berbicara tanpa mengerjakan diletakkan sejajar dengan berdebat tanpa keterangan: dua-duanya memakai kata-kata untuk sesuatu yang tidak ada isinya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menimbang jarak antara ucapan dan perbuatan. Yang diucap. Yang tidak dikerjakan. Yang masuk timbangan bukan salah satunya, melainkan ruang kosong di antara keduanya, dan ruang itulah yang ternyata punya bobot. Selama ini orang terbiasa menghitung amalnya saja atau dosanya saja, seolah keduanya berdiri sendiri-sendiri. Ayat ini menambahkan pos ketiga yang jarang dihitung siapa pun: selisih antara yang sudah diumumkan dan yang benar-benar dijalankan. Selisih itu tidak terlihat oleh siapa pun kecuali oleh yang mengucapkannya dan oleh yang mendengar semua ucapan.
- Frasa sangat besar dipakai untuk kemurkaannya. Bukan sekadar tidak disukai. Diberi kadar. Ada perbedaan besar antara sesuatu yang dinyatakan tidak berkenan dan sesuatu yang diberi ukuran. Ukuran memaksa pembaca berhenti menawar. Begitu kadarnya disebut, perkara ini tak bisa lagi digeser ke daftar hal-hal kecil yang boleh diurus belakangan, sebab yang menetapkan ukurannya bukan orang yang bisa dibantah. Menyebut ukuran berarti menutup ruang bagi tawar-menawar yang biasanya dipakai orang untuk menunda perbaikan.
- Yang dipersoalkan bukan gagalnya, melainkan mengatakannya. Allah menyebut ucapannya. Yang berjanji lalu tidak menepati. Kegagalan adalah perkara kemampuan, dan kemampuan punya batas yang wajar. Ucapan adalah perkara pilihan, dan pilihan itu diambil sebelum satu langkah pun dijalankan. Karena itu yang ditimbang di sini bukan hasil akhirnya, melainkan keputusan mengeluarkan janji yang sejak awal sudah tahu tak akan ditebus. Batas kemampuan bisa dimaklumi siapa saja, tetapi kelebihan bicara tak punya alasan yang bisa diajukan.
- Kalimatnya menyebut ukurannya lebih dulu, perkaranya paling belakang. Pendengar diberi tahu bahwa ada sesuatu yang sangat besar kemurkaannya, lalu menunggu, lalu barulah tahu sesuatu itu apa. Pada saat menunggu, pikiran biasanya melompat ke pelanggaran yang tampak mengerikan. Dan yang muncul justru perkara yang di mata orang terhitung sepele. Bukankah jarak antara dugaan dan kenyataan itu sendiri sudah merupakan teguran?
- Tempat penimbangannya disebut terang-terangan: di sisi Allah. Bukan menurut ukuran yang berlaku di antara manusia, tempat orang yang banyak berjanji paling jauh disebut kurang bisa dipegang lalu dimaafkan. Begitu timbangannya dipindah, angkanya berubah total. Yang di satu tempat dianggap kelemahan wajar, di tempat lain tercatat sebagai perkara yang besar, dan tempat yang kedua itulah yang menentukan. Pindahnya tempat penimbangan itu yang membuat perkara ini tak bisa diselesaikan dengan permintaan maaf yang lisan lagi.
- Rangkaian yang sama dipakai di satu ayat lain untuk orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah tanpa keterangan apa pun. Dua perkara itu jadi bersaudara: berbicara tanpa mengerjakan dan berdebat tanpa dasar. Keduanya memakai kata-kata untuk membungkus sesuatu yang isinya kosong. Yang satu mengaku sanggup padahal tidak, yang lain mengaku tahu padahal tidak, dan kemurkaan yang disebut untuk keduanya ditulis dengan kalimat yang serupa.