وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِي وَقَدْ تَعْلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ ۖ فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, mengapa kalian menyakitiku? Padahal, kalian sungguh mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah kepada kalian.” Maka, ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِwa-idz qaala muusaa li-qawmihidan ketika Musa berkata kepada kaumnya
- يَا قَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِي وَقَدْ تَعْلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْyaa qawmi li-ma tu'dzuunanii wa-qad ta'lamuuna annii rasuulu llaahi ilaykum'wahai kaumku, mengapa kalian menyakitiku? Padahal, kalian sungguh mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah kepada kalian'
- فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْfa-lammaa zaaghuu azaagha llaahu quluubahummaka ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka
- وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَwa-llaahu laa yahdii l-qawma l-faasiqiinaAllah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik
Terjemahan per kata (24 kata)
- وَإِذْwa-idzdan ketika
- قَالَqaalaberkata
- مُوسَىٰmuusaaMusa
- لِقَوْمِهِli-qawmihikepada kaumnya
- يَاyaawahai
- قَوْمِqawmikaumku
- لِمَli-mamengapa
- تُؤْذُونَنِيtu'dzuunaniikalian menyakitiku
- وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
- تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui
- أَنِّيanniibahwa aku
- رَسُولُrasuulurasul
- اللَّهِllaahiAllah
- إِلَيْكُمْilaykumkepada kalian
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- زَاغُواzaaghuumereka menyimpang
- أَزَاغَazaaghamemalingkan
- اللَّهُllaahuAllah
- قُلُوبَهُمْquluubahumhati mereka
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- لَاlaatidak
- يَهْدِيyahdiimemberi petunjuk
- الْقَوْمَl-qawmakaum
- الْفَاسِقِينَl-faasiqiinaorang-orang fasik
Inti bacaan
Konsekuensi berpaling dari kebenaran yang berulang: Musa bertanya mengapa kaumnya menyakitinya padahal tahu ia utusan Allah, 'ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka'. Pola bahwa penolakan berulang terhadap kebenaran yang sudah diketahui bisa berujung pada pengerasan hati yang semakin sulit dipulihkan, peringatan agar tidak menunda respons terhadap kebenaran yang sudah jelas.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(Ingatlah)' tidak dipakai: 'idz' bermakna 'ketika/tatkala', bukan seruan mengingat eksplisit yang berpadanan kata tersendiri. Tambahan '(dari perintah Allah)' dan '(dari kebenaran)' juga dihapus, keduanya interpretasi tambahan tanpa padanan kata Arab.
Panggilan (يَا قَوْمِ, yaa qawmi) muncul 47 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:54, 5:20, 6:78, 7:59, dan 61:5. Hampir seluruhnya diucapkan seorang utusan kepada kaumnya sendiri. Bentuknya menyimpan kata ganti kepunyaan: bukan 'wahai kaum' melainkan 'wahai kaumku'. Orang yang disakiti itu tetap menyebut mereka miliknya sendiri, dan pengakuan kepemilikan itu diucapkan justru di kalimat yang mengeluhkan perbuatan mereka.
Kata kerja (تُؤْذُونَنِي, tu'dzuunanii) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 61:5. Bentuk yang tanpa kata ganti orang pertama, (يُؤْذُونَ, yu'dzuuna), muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:61, 33:57, dan 33:58. Perbedaannya bukan cuma tata bahasa. Di sini sakitnya dilekatkan pada satu orang yang sedang berbicara, dan ia mengucapkannya sendiri, bukan dilaporkan orang lain tentang dirinya.
Rangkaian (رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ, rasuulu llaahi ilaykum) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:158, 61:5, dan 61:6. Dua dari tiga kemunculan itu berada di surah ini, berurutan: yang satu ucapan Musa, yang satu lagi ucapan Isa di ayat berikutnya. Kata (إِلَيْكُمْ, ilaykum) menegaskan arah pengutusan, bukan sekadar kedudukan. Yang disampaikan bukan 'aku seorang utusan' melainkan 'aku utusan kepada kalian', sehingga penolakan mereka jatuh pada sesuatu yang memang ditujukan buat mereka.
Bagian kedua ayat ini memakai satu akar dua kali dengan bentuk yang berbeda. Bentuk (زَاغُوا, zaaghuu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 61:5, dan bentuk (أَزَاغَ, azaagha) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat yang sama. Yang pertama menyatakan perbuatan mereka sendiri, yang kedua menyatakan Allah membuat sesuatu menjadi begitu. Susunan seperti ini menaruh urutannya secara terang: perbuatan mereka lebih dulu, akibatnya menyusul, memakai kata yang sama supaya hubungannya tak bisa dipisahkan.
Akar yang sama muncul di tempat lain dengan wajah yang berlawanan. Kata (تُزِغْ, tuzigh) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:8, dalam doa 'janganlah Engkau condongkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk'. Kata (زَيْغٌ, zayghun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:7, tentang orang yang di dalam hatinya ada kecenderungan menyimpang. Doa di 3:8 meminta persis apa yang tidak diperoleh kaum Musa di ayat ini.
Penutupnya, (لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ, laa yahdi l-qawma l-faasiqiina), muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:108, 9:24, 9:80, 61:5, dan 63:6. Kalimat itu berupa pernyataan tentang kebiasaan, bukan tentang satu peristiwa. Yang dinyatakan bukan bahwa petunjuk ditarik dari orang tertentu, melainkan bahwa golongan dengan sifat itu memang bukan yang diberi petunjuk.
Tafsiran
Ayat ini mengisahkan Musa disakiti kaumnya sendiri meski status kerasulannya sudah mereka ketahui: pola penolakan berulang terhadap utusan Allah yang menjadi tema utama surah ini.
Letaknya sesudah ayat tentang barisan yang rapat membentuk pasangan yang tajam. Ayat sebelumnya menggambarkan orang-orang yang begitu rapat sampai menyerupai bangunan tanpa celah; ayat ini menggambarkan kaum yang justru menyakiti orang yang memimpin mereka. Dua gambar itu diletakkan berdampingan tanpa satu kalimat penghubung pun, dan pembaca dibiarkan sendiri melihat betapa jauh jaraknya.
Yang membuat perbuatan mereka berat bukan menyakitinya, melainkan menyakiti sambil tahu. Kalimatnya menyebutkan pengetahuan itu terang-terangan. Dengan begitu satu-satunya alasan yang biasanya diterima, yaitu ketidaktahuan, ditutup lebih dulu sebelum sempat diajukan. Yang tersisa cuma kesengajaan, dan kesengajaan tidak punya pembelaan.
Musa tidak membalas dan tidak mengancam. Ia bertanya. Pertanyaan itu bentuknya sama dengan pertanyaan di ayat kedua surah ini, ketika orang beriman ditanya mengapa mengucapkan apa yang tidak mereka kerjakan. Dua kali di dalam satu surah, teguran datang berupa pertanyaan yang jawabannya sudah diketahui. Surah ini agaknya memang lebih suka membuat orang mencari jawabannya sendiri daripada menyodorkan vonis.
Bagian penutupnya menyusun urutan sebab dengan hati-hati. Mereka berpaling lebih dulu, baru sesudah itu hati mereka dipalingkan. Kata yang dipakai untuk keduanya berasal dari akar yang sama, sehingga hubungan antara perbuatan dan akibatnya terlihat dari bunyinya sendiri. Pengerasan hati di sini bukan sebab yang mendahului, melainkan akibat yang datang belakangan, sesudah pilihan yang diulang-ulang. Kalimat terakhir menutupnya dengan pernyataan umum: golongan yang menyimpang memang bukan golongan yang diberi petunjuk.
Renungan dan Hikmah
- Musa tidak membalas; ia bertanya mengapa. Pertanyaan itu tidak sedang menunggu jawaban. Ada teguran yang berbentuk pertanyaan justru karena yang ditegur sudah tahu jawabannya sendiri. Bentuk yang sama dipakai Allah di awal surah ini ketika orang beriman ditanya mengapa mengucapkan apa yang tidak mereka kerjakan. Dua kali dalam satu surah, teguran datang sebagai pertanyaan, dan dua-duanya membiarkan yang ditegur mencari sendiri alasan yang sebenarnya tidak ada.
- Yang membuat perbuatan itu berat bukan menyakitinya, melainkan bahwa mereka mengetahui ia utusan Allah. Pengetahuan mereka disebutkan terang-terangan. Menyakiti sambil tahu berbeda dari menyakiti karena tidak tahu, dan ayat ini menutup pintu alasan yang kedua. Begitu ketidaktahuan dicoret dari daftar, yang tersisa tinggal kesengajaan, dan kesengajaan tak punya pembelaan yang bisa diajukan di hadapan siapa pun. Pengetahuan yang seharusnya menahan tangan justru dibiarkan lewat begitu saja, dan itulah yang membuat perkaranya berlipat.
- Urutannya disebut jelas: mereka berpaling lebih dahulu, baru Allah memalingkan hati mereka. Yang kedua menyusul yang pertama. Pengerasan hati digambarkan bukan sebagai sebab, melainkan sebagai akibat yang datang sesudah pilihan yang berulang. Kata untuk keduanya diambil dari akar yang sama, sehingga hubungan sebab dan akibatnya terdengar dari bunyinya sendiri, tanpa perlu satu kalimat penjelas pun ditambahkan. Urutan itu menyisakan ruang bagi siapa pun yang belum melangkah terlalu jauh untuk berhenti lebih dulu.
- Panggilannya menyimpan kata ganti kepunyaan: bukan wahai kaum, melainkan wahai kaumku. Orang yang sedang disakiti itu masih menyebut mereka miliknya sendiri, dan pengakuan itu diucapkan tepat di kalimat yang mengeluhkan perbuatan mereka. Sakit hati tidak membuatnya melepaskan hubungan. Ada cara mengeluh yang tetap menjaga ikatan, dan cara itu ditunjukkan di dalam satu kata yang gampang terlewat kalau dibaca cepat. Melepaskan sebutan itu akan jauh lebih mudah, dan justru karena mudahlah ia tidak dilakukan.
- Kalimatnya tidak berhenti pada aku utusan Allah; ada tambahan kepada kalian. Arah pengutusannya disebut, bukan cuma kedudukannya. Dengan begitu penolakan mereka tidak jatuh pada urusan orang lain yang kebetulan lewat, melainkan pada sesuatu yang memang dikirimkan buat mereka. Menolak kiriman yang dialamatkan atas nama sendiri berbeda bobotnya dari sekadar tidak peduli pada barang yang bukan miliknya. Alamat yang jelas membuat penolakan berubah sifat: dari acuh tak acuh menjadi penampikan atas nama sendiri.
- Kata yang sama dipakai di sebuah doa terkenal: janganlah Engkau condongkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk. Doa itu meminta persis apa yang tidak diperoleh kaum di ayat ini. Bukankah artinya bahaya ini disadari orang-orang yang justru sedang berada di jalan yang benar? Mereka yang sudah mendapat petunjuk pun merasa perlu meminta perlindungan dari kecondongan hati, sebab tahu urutannya bisa berjalan pada siapa saja.