وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

Dan ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kalian, membenarkan apa yang ada sebelumku berupa Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang Rasul yang datang setelahku, namanya Ahmad.” Maka ketika dia datang kepada mereka dengan bukti-bukti nyata, mereka berkata, “Ini sihir yang nyata.”

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَwa-idz qaala 'iisaa bnu maryamadan ketika Isa putra Maryam berkata
  2. يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِyaa banii israa'iila innii rasuulu llaahi ilaykum mushaddiqan li-maa bayna yadayya mina t-tawraati'wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kalian, membenarkan apa yang ada sebelumku berupa Taurat'
  3. وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُwa-mubasysyiran bi-rasuulin ya'tii min ba'dii smuhu ahmadu'dan memberi kabar gembira tentang seorang Rasul yang datang setelahku, namanya Ahmad'
  4. فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌfa-lammaa jaa'ahum bi-l-bayyinaati qaaluu haadzaa sihrun mubiinunmaka ketika dia datang kepada mereka dengan bukti-bukti nyata, mereka berkata, 'ini sihir yang nyata'

Terjemahan per kata (32 kata)

  1. وَإِذْwa-idzdan ketika
  2. قَالَqaalaberkata
  3. عِيسَى'iisaaIsa
  4. ابْنُbnuputra
  5. مَرْيَمَmaryamaMaryam
  6. يَاyaawahai
  7. بَنِيbaniiBani
  8. إِسْرَائِيلَisraa'iilaIsrail
  9. إِنِّيinniisesungguhnya aku
  10. رَسُولُrasuulurasul
  11. اللَّهِllaahiAllah
  12. إِلَيْكُمْilaykumkepada kalian
  13. مُصَدِّقًاmushaddiqanyang membenarkan
  14. لِمَاli-maabagi apa yang
  15. بَيْنَbaynadi antara
  16. يَدَيَّyadayyakedua tanganku
  17. مِنَminadari
  18. التَّوْرَاةِt-tawraatiTaurat
  19. وَمُبَشِّرًاwa-mubasysyirandan pembawa kabar gembira
  20. بِرَسُولٍbi-rasuulinseorang rasul
  21. يَأْتِيya'tiimendatangkan
  22. مِنْmindari
  23. بَعْدِيba'diisesudahku
  24. اسْمُهُsmuhunamanya
  25. أَحْمَدُahmaduAhmad
  26. فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
  27. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  28. بِالْبَيِّنَاتِbi-l-bayyinaatidengan bukti-bukti yang nyata
  29. قَالُواqaaluumereka berkata
  30. هَٰذَاhaadzaaini
  31. سِحْرٌsihrunsihir
  32. مُبِينٌmubiinunyang nyata

Inti bacaan

Kontinuitas kenabian yang eksplisit: Isa menyampaikan kabar gembira tentang 'seorang Rasul yang datang setelahku, namanya Ahmad', namun direspons 'ini sihir yang nyata'. Pola penolakan terhadap kabar yang justru mengonfirmasi kesinambungan pesan ilahi, peringatan bahwa penolakan sering muncul bukan karena kurangnya informasi melainkan keengganan menerima implikasinya.

Penjelasan pilihan kata

Struktur kutip dua-berurutan (deklarasi Isa, lalu respons kaumnya) dikonfirmasi morfologi. 'Haadzaa' (dekat) benar diterjemahkan 'ini'. 'Ahmad' adalah nama diri yang tertulis eksplisit di teks Arab (nama diri, bukan tambahan penjelas), sehingga dipertahankan apa adanya tanpa perlu identifikasi tambahan.

Sebutan (عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ, 'iisa bnu maryama) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:45, 4:171, 5:114, 19:34, 61:6, dan 61:14. Dua dari enam kemunculan itu berada di surah ini: satu di ayat ini dan satu lagi di ayat penutup surah. Penyebutan lewat nama ibunya seperti itu dipakai berulang kali, dan susunannya menempatkan asal-usulnya di dalam nama, bukan di dalam keterangan tambahan.

Sapaannya, (يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ, yaa banii israa'iila), muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:40, 2:47, 2:122, 5:72, 20:80, dan 61:6. Enam kemunculan itu jatuh pada kalimat yang isinya pengingat atau tuntutan, tak satu pun berupa pujian. Sapaan itu memanggil satu kaum lewat garis keturunannya, jadi yang diajak bicara adalah rombongan yang punya sejarah panjang, bukan orang per orang.

Frasa (مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ, mushaddiqan limaa bayna yadayya) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:50 dan 61:6. Dua-duanya diucapkan orang yang sama. Kata gantinya orang pertama, harfiahnya 'apa yang ada di antara kedua tanganku', yaitu apa yang berada tepat di hadapan. Yang membenarkan menyebut dirinya sendiri berdiri sesudah sesuatu, bukan menggantikannya.

Nama (أَحْمَدُ, ahmadu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 61:6. Karena ia nama diri yang tertulis di teks Arab, terjemahan mempertahankannya apa adanya tanpa keterangan tambahan di dalam kurung. Kabar yang menyebut nama berbeda sifatnya dari kabar yang cuma menyebut ciri-ciri: ia menutup ruang untuk ditafsirkan menjadi siapa saja, dan sekaligus membuka dirinya untuk diperiksa.

Tuduhan yang mereka lontarkan, (سِحْرٌ مُبِينٌ, sihrun mubiinun), muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:110, 6:7, 10:76, 11:7, 27:13, 34:43, 37:15, 46:7, dan 61:6. Salah satunya, 5:110, juga berbicara tentang Isa. Sembilan kemunculan itu tersebar pada kaum yang berlainan di zaman yang berlainan, dan justru keseragamannya yang menarik: penolakan ternyata memakai kalimat yang nyaris satu, seolah disalin turun-temurun.

Ada pergantian pelaku di tengah ayat yang gampang terlewat. Kutipannya berhenti pada nama, lalu kalimat berikutnya berbunyi 'maka ketika dia datang kepada mereka dengan bukti-bukti nyata'. Yang datang tidak disebut namanya lagi, dan yang menolak disebut 'mereka'. Perpindahan sesingkat itu melompatkan kejadiannya jauh ke depan tanpa satu keterangan waktu pun ditambahkan.

Tafsiran

Ayat ini mencatat nubuat Isa tentang utusan sesudahnya, direspons dengan tuduhan sihir oleh kaumnya: pola penolakan yang sama dengan yang dialami Musa di ayat sebelumnya.

Dua ayat berdampingan ini menyusun satu pola dengan dua contoh. Di ayat sebelumnya Musa bertanya mengapa kaumnya menyakitinya padahal mereka tahu ia utusan. Di sini Isa menyampaikan kabar, dan jawabannya tuduhan sihir. Kalimat pembukanya pun sama bentuknya, 'dan ketika berkata', sehingga kedua kisah terbaca sebagai dua entri dari satu daftar yang sama.

Yang disampaikan Isa berisi dua tugas sekaligus. Ia membenarkan yang datang sebelumnya dan mengabarkan yang akan datang sesudahnya. Susunan itu menempatkan dirinya sebagai mata rantai, bukan sebagai ujung. Utusan yang mengakui pendahulunya benar dan menyebut penerusnya akan datang sedang menolak menjadikan dirinya sebagai akhir dari segalanya, dan penolakan itu diucapkan sendiri, bukan disimpulkan orang lain.

Jarak antara kabar dan penolakan tidak diberi jembatan. Kutipan Isa selesai pada sebuah nama, lalu kalimat berikutnya sudah bicara tentang orang yang datang membawa bukti-bukti nyata dan disambut dengan sebutan sihir. Waktu di antara keduanya dilompati begitu saja. Cara bercerita seperti ini menaruh kabar dan penolakannya berdampingan di satu ayat, supaya pembaca melihat keduanya sekaligus.

Yang mereka sebut sihir bukan kabarnya, melainkan bukti-bukti nyata yang datang kemudian. Ini bagian yang paling tajam. Penolakan itu tidak dijatuhkan kepada sesuatu yang samar, melainkan kepada sesuatu yang sudah bisa dilihat. Kata yang mereka pakai pun mengandung sifat terang: sihir yang nyata. Jadi mereka mengakui ada yang nyata di depan mata, lalu memberi nama lain kepadanya.

Renungan dan Hikmah

  • Dua tugas disebut sekaligus: membenarkan yang sebelumnya, dan mengabarkan yang sesudahnya. Ia berdiri di antara dua arah. Utusan yang menyebut pendahulunya benar dan penerusnya akan datang sedang menempatkan diri sebagai mata rantai, bukan sebagai puncak. Pengakuan seperti itu tak mungkin datang dari orang yang mencari kedudukan, sebab ia justru mengecilkan kedudukannya sendiri di dua sisi sekaligus. Allah merekam pengakuan itu sebagai ucapan langsung, bukan sebagai kesimpulan yang disusun orang belakangan. Yang mengecilkan diri di hadapan dua arah sekaligus tak sedang menyiapkan tempat buat dirinya sendiri.
  • Yang mereka jawab dengan sebutan sihir bukan kabarnya, melainkan bukti-bukti nyata yang datang kemudian. Jawaban itu diberikan kepada sesuatu yang sudah bisa dilihat. Allah merekam kedua kalimat itu berdampingan, kabar dan penolakannya, tanpa keterangan apa pun di antaranya. Bahkan kata yang mereka pilih mengandung sifat terang: sihir yang nyata. Mereka mengakui ada sesuatu yang jelas di depan mata, lalu menempelkan nama lain kepadanya, dan nama itulah satu-satunya bantahan yang mereka punya.
  • Allah merekam nama yang dikabarkan itu disebutkan terang-terangan. Bukan kiasan, bukan ciri-ciri. Kabar yang menyebut nama menutup ruang untuk ditafsirkan menjadi siapa saja, dan sekaligus membuka dirinya untuk diperiksa. Kabar yang samar selalu selamat, sebab bisa dicocokkan dengan apa pun yang kebetulan terjadi. Kabar yang menyebut nama menaruh dirinya dalam bahaya, dan justru kesediaan menanggung bahaya itulah yang membuatnya patut ditimbang.
  • Sebutan sihir yang nyata dipakai berkali-kali di dalam Al-Qur'an oleh kaum yang berbeda-beda di zaman yang berbeda-beda. Keseragaman itu sendiri yang menarik perhatian. Kalau penolakan lahir dari pemikiran masing-masing, mestinya bentuknya bermacam-macam. Kenyataannya kalimatnya nyaris satu, seolah disalin turun-temurun tanpa pernah ditimbang ulang. Yang berulang seperti itu bukan lagi kesimpulan, melainkan kebiasaan yang diwarisi.
  • Ayat sebelumnya menceritakan Musa, ayat ini menceritakan Isa, dan keduanya dibuka dengan susunan kalimat yang sama. Allah menaruh dua kisah berdampingan supaya polanya terlihat, bukan supaya sejarahnya lengkap. Dua contoh sudah cukup untuk memperlihatkan bahwa penolakan bukan kecelakaan yang menimpa satu orang. Lalu apa artinya bagi siapa pun yang sedang membawa sesuatu yang benar hari ini? Ia sedang berdiri di dalam daftar yang sama.
  • Kutipannya berhenti pada sebuah nama, lalu kalimat berikutnya sudah bicara tentang penolakan yang terjadi jauh sesudahnya. Tak ada keterangan waktu, tak ada kalimat penghubung. Cara bercerita seperti ini memampatkan jarak bertahun-tahun ke dalam satu huruf sambung. Akibatnya pembaca melihat kabar dan penolakannya dalam satu tarikan mata, dan hubungan di antara keduanya terasa lebih rapat daripada kalau diceritakan berurutan dengan lengkap.