وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَىٰ إِلَى الْإِسْلَامِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, padahal dia diseru kepada keberserahan? Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَىٰ إِلَى الْإِسْلَامِwa-man azhlamu mimmani ftaraa 'alaa llaahi l-kadziba wa-huwa yud'aa ilaa l-islaamisiapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, padahal dia diseru kepada keberserahan
  2. وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَwa-llaahu laa yahdii l-qawma zh-zhaalimiinaAllah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. وَمَنْwa-mandan orang yang
  2. أَظْلَمُazhlamulebih zalim
  3. مِمَّنِmimmanidaripada siapa
  4. افْتَرَىٰftaraamengada-ada
  5. عَلَى'alaaatas
  6. اللَّهِllaahiAllah
  7. الْكَذِبَl-kadzibakebohongan
  8. وَهُوَwa-huwadan Dia
  9. يُدْعَىٰyud'aadiseru
  10. إِلَىilaakepada
  11. الْإِسْلَامِl-islaamiIslam
  12. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  13. لَاlaatidak
  14. يَهْدِيyahdiimemberi petunjuk
  15. الْقَوْمَl-qawmakaum
  16. الظَّالِمِينَzh-zhaalimiinayang zalim

Inti bacaan

Standar kezaliman tertinggi yang didefinisikan: 'siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, padahal dia diseru kepada keberserahan?', ironi tajam antara diundang kepada kebenaran namun justru memilih menciptakan kebohongan, penolakan yang terjadi meski jalan yang benar sudah ditawarkan secara terbuka.

Penjelasan pilihan kata

'Al-islaami' diterjemahkan 'keberserahan', bukan nama institusional terlarang yang dikenal populer: makna leksikal akar s-l-m di sini adalah tindakan menyerahkan diri, konsisten dengan kerangka baku proyek dalam membedakan makna verbal-generik dari nama institusional kemudian.

Pembukanya, (وَمَنْ أَظْلَمُ, wa-man azhlamu), muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:114, 2:140, 6:21, 6:93, 11:18, 18:57, 29:68, 32:22, dan 61:7. Bentuknya pertanyaan yang tidak menunggu jawaban. Perkara yang ditanyakan di sembilan tempat itu sejenis semua: mengarang dusta atas nama Allah, menghalangi orang dari rumah ibadah, berpaling sesudah peringatan datang. Susunannya memakai kata pembanding, 'lebih zalim', bukan 'paling zalim', sehingga pembaca diminta menimbang sendiri lalu tidak menemukan bandingannya.

Rangkaian (افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ, iftaraa 'ala llaahi l-kadziba) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:94 dan 61:7. Verbanya berarti mengarang, menyusun sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Jadi yang dipersoalkan bukan salah mengerti dan bukan pula keliru menyampaikan, melainkan menyusun sesuatu lalu menempelkannya kepada Allah. Huruf yang dipakai berarti 'atas', dan huruf itulah yang menentukan arahnya: karangannya bukan sekadar tentang Allah, melainkan diatasnamakan Allah.

Terjemahan 'mengada-adakan kebohongan terhadap Allah' menahan diri dari 'berdusta tentang Allah'. Bedanya terletak pada arah tadi. Yang pertama menempelkan karangan itu kepada Allah seolah berasal dari-Nya, yang kedua sekadar berbicara keliru mengenai-Nya. Perbedaan itu bukan soal halus-kasarnya bahasa, melainkan soal siapa yang dijadikan sumber.

Keterangan keadaannya, 'padahal dia diseru kepada keberserahan', memakai bentuk yang menyatakan sesuatu sedang berlangsung. Dua hal itu karena itu terjadi bersamaan, bukan berurutan: seruan sedang datang, dan karangan sedang disusun. Bukan orang yang belum pernah mendengar, bukan pula orang yang sudah lama menolak lalu dilupakan. Pintunya sedang terbuka ketika ia memilih arah lain.

Penutupnya, (لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ, laa yahdi l-qawma zh-zhaalimiina), muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:258, 3:86, 5:51, 6:144, dan 61:7. Dua ayat sebelumnya di surah ini memakai bangun kalimat yang persis sama dengan golongan yang berbeda: (لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ, laa yahdi l-qawma l-faasiqiina) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:108, 9:24, 9:80, 61:5, dan 63:6. Surah ini memakai dua-duanya dalam jarak dua ayat, sekali untuk kaum yang menyimpang dan sekali untuk kaum yang zalim.

Kalimat penutup itu berbentuk pernyataan tentang kebiasaan, bukan tentang satu peristiwa. Yang dinyatakan bukan bahwa petunjuk ditarik dari orang tertentu pada saat tertentu, melainkan bahwa golongan dengan sifat itu memang bukan golongan yang diberi petunjuk. Kalimat semacam ini menutup ayat dengan aturan, bukan dengan hukuman.

Tafsiran

Ayat ini mengecam keras siapa pun yang mengada-adakan kebohongan atas nama Allah, terutama ketika orang itu sendiri justru sedang diseru kepada penyerahan diri yang tulus.

Bentuk pertanyaannya menentukan cara ayat ini bekerja. Kalau kalimatnya berbunyi 'inilah yang paling zalim', pembaca tinggal menerima atau menolak. Karena kalimatnya bertanya 'siapakah yang lebih zalim', pembaca terpaksa mencari bandingannya lebih dulu. Pencarian itu yang mengerjakan tugasnya: ukuran yang ditemukan sendiri jauh lebih sulit ditawar daripada ukuran yang tinggal diterima.

Yang memberatkan bukan kebohongannya saja, melainkan waktunya. Kalimat ini menempelkan satu keterangan yang mengubah segalanya: padahal dia sedang diseru. Kedua hal itu berjalan bersamaan. Ada undangan yang sedang disampaikan kepadanya, dan pada saat yang sama ia sedang menyusun karangan atas nama yang mengundang. Bukan orang jauh yang belum pernah mendengar, melainkan orang yang sedang berdiri di depan pintu yang terbuka.

Kata yang dipakai untuk seruan itu diterjemahkan 'keberserahan', mengikuti makna akarnya, yaitu menyerahkan diri. Pilihan itu menjaga supaya yang diseru tetap terbaca sebagai perbuatan, bukan sebagai lencana keanggotaan. Orang yang mengarang atas nama Allah sebenarnya sedang melakukan kebalikan dari berserah: ia menaruh kehendaknya sendiri lalu memberinya cap dari atas.

Penutupnya menyusul persis sesudah gambaran orang yang menolak seruan, dan letak itu penting. Yang tidak diberikan bukan kesempatan pertama, melainkan yang datang sesudah kesempatan itu ditolak. Bangun kalimat yang sama dipakai dua ayat sebelumnya untuk golongan yang berbeda, sehingga surah ini memasang dua kali aturan yang serupa dalam jarak dekat: ada sifat-sifat tertentu yang membuat petunjuk tidak sampai, dan sifat itu dipilih sendiri oleh yang memilikinya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah tidak menyatakan siapa yang paling zalim; Dia bertanya siapa yang lebih zalim. Bentuk pertanyaan itu mengajak pembacanya menimbang. Ukuran yang ditemukan sendiri lebih sulit ditawar daripada ukuran yang diberikan. Orang yang disodori kesimpulan bisa menolaknya seketika, sedangkan orang yang diminta mencari bandingannya harus menempuh jalannya lebih dulu. Dan setelah jalan itu ditempuh, kesimpulan yang sama datang dari dalam dirinya sendiri, bukan dari luar. Pertanyaan yang tak menunggu jawaban ternyata bekerja lebih keras daripada pernyataan yang tinggal dibaca.
  • Keterangan yang membuatnya berat bahwa ia mengada-adakan kebohongan padahal sedang diseru kepada keberserahan. Pintu itu sedang terbuka ketika ia memilih arah lain. Yang memberatkan bukan kebohongannya saja, melainkan waktu ia memilihnya. Bentuk kata kerjanya menyatakan sesuatu yang sedang berlangsung, jadi kedua perbuatan itu bertumpang waktu, bukan berurutan. Orang yang belum pernah mendengar tidak berada dalam kalimat ini; yang berada di dalamnya justru yang sedang dipanggil.
  • Penutupnya menyebut Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Kalimat itu menyusul persis sesudah gambaran orang yang menolak seruan. Yang tidak diberikan bukan kesempatan pertama, melainkan yang datang sesudah kesempatan itu ditolak. Bentuknya pernyataan tentang kebiasaan, bukan tentang satu peristiwa, sehingga yang dibaca bukan hukuman atas seseorang melainkan aturan yang berlaku bagi siapa saja yang memenuhi sifatnya.
  • Kata kerjanya berarti menyusun sesuatu yang sebelumnya tidak ada, bukan salah mengerti. Perbedaan itu terletak di niat, bukan di hasil. Orang yang keliru memahami tetap sedang berusaha menemukan sesuatu yang benar, sedangkan orang yang mengarang sudah tahu bahwa yang disusunnya tak punya asal. Huruf yang dipakai pun berarti atas, jadi karangannya bukan sekadar mengenai Allah, melainkan diatasnamakan Allah, dan itulah yang membuat perkaranya berpindah kelas. Yang keliru bisa diluruskan dengan keterangan; yang mengarang tak butuh keterangan, sebab ia sudah tahu.
  • Bangun kalimat penutup yang sama dipakai dua ayat sebelumnya untuk golongan yang berbeda, yaitu kaum yang menyimpang. Di sini golongannya kaum yang zalim. Allah memasang aturan serupa dua kali dalam jarak dekat, dengan isian yang berlainan. Pengulangan itu memperlihatkan bahwa yang menghalangi petunjuk bukan satu jenis sifat, melainkan beberapa, dan semuanya punya satu kesamaan: dipilih sendiri oleh yang memilikinya, bukan ditimpakan dari luar.
  • Yang diseru kepadanya adalah tindakan menyerahkan diri, dan yang ia kerjakan justru kebalikannya. Bukankah mengarang atas nama Allah berarti menaruh kehendak sendiri lalu memberinya cap dari atas? Dua hal itu bergerak ke arah yang berlawanan persis. Satu menurunkan diri sampai kehendaknya tunduk, satu lagi menaikkan diri sampai kehendaknya berbicara seakan dari langit. Ayat ini menaruh keduanya di dalam satu kalimat supaya jaraknya terlihat.