يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, sedangkan Allah menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang-orang kafir membenci.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْyuriiduuna li-yuthfi'uu nuura llaahi bi-afwaahihimmereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka
- وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَwa-llaahu mutimmu nuurihi wa-law kariha l-kaafiruunasedangkan Allah menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang-orang kafir membenci
Terjemahan per kata (11 kata)
- يُرِيدُونَyuriiduunamereka menghendaki
- لِيُطْفِئُواli-yuthfi'uuagar mereka memadamkan
- نُورَnuuracahaya
- اللَّهِllaahiAllah
- بِأَفْوَاهِهِمْbi-afwaahihimdengan mulut mereka
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- مُتِمُّmutimmuyang menyempurnakan
- نُورِهِnuurihicahaya-Nya
- وَلَوْwa-lawdan sekiranya
- كَرِهَkarihamembenci
- الْكَافِرُونَl-kaafiruunaorang-orang kafir
Inti bacaan
Kepastian kegagalan upaya memadamkan kebenaran: 'mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, sedang Allah menyempurnakan cahaya-Nya', jaminan bahwa upaya menghalangi kebenaran melalui retorika semata tidak akan berhasil melawan kekuatan yang jauh lebih besar, dasar keyakinan bagi yang menghadapi kampanye penyangkalan terhadap kebenaran yang diyakininya.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (لِيُطْفِئُوا, li-yuthfi'uu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 61:8. Kalimat yang hampir sama ada di 9:32, tetapi di sana huruf penghubungnya berbeda: (أَنْ يُطْفِئُوا, an yuthfi'uu). Huruf yang dipakai di ayat ini biasanya menandai tujuan, sedangkan yang dipakai di 9:32 menandai isi kehendak. Bedanya tipis di telinga, tetapi arahnya berlainan: yang satu menyorot maksud yang hendak dicapai, yang lain menyorot apa yang diinginkan.
Frasa (بِأَفْوَاهِهِمْ, bi-afwaahihim) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:167, 5:41, 9:8, 9:30, 9:32, dan 61:8. Hampir seluruhnya melekat pada ucapan yang tidak disertai isi hati atau tidak disertai perbuatan. Jadi kata 'mulut' di situ bukan sekadar menyebut alat bicara. Ia menandai bahwa yang keluar berhenti di bibir dan tidak berlanjut ke mana-mana.
Perbedaan yang paling menentukan antara ayat ini dan 9:32 ada di bagian tengahnya. Di 9:32 jawabannya berupa kalimat kerja: Allah menolak kecuali menyempurnakan cahaya-Nya. Di sini jawabannya berupa kata pelaku, (مُتِمُّ نُورِهِ, mutimmu nuurihi), yang muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 61:8. Kalimat kerja menceritakan tindakan yang akan dikerjakan; kata pelaku menyatakan sifat yang sudah melekat. Yang pertama berbunyi 'Ia akan melakukannya', yang kedua berbunyi 'memang begitulah Ia'.
Penutupnya, (وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ, wa-law kariha l-kaafiruuna), muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:32, 40:14, dan 61:8. Bentuknya pengandaian yang langsung dilewati: sekalipun begitu, tak ada yang berubah. Kebencian mereka disebut, tidak disangkal, dan tidak pula diberi kedudukan sebagai penghalang. Menyebut lalu melewati berbeda dari tidak menyebut sama sekali, sebab yang disebut berarti diakui ada.
Perumpamaan di kalimat pertamanya menaruh dua hal yang tidak sebanding berhadapan: mulut dan cahaya. Yang satu alat yang jangkauannya sejauh suara, yang lain sesuatu yang mengisi ruang tanpa batas yang jelas. Terjemahan 'memadamkan' dipertahankan karena kata itu memang dipakai untuk api dan lampu, sehingga gambarannya utuh: orang meniup ke arah cahaya yang bukan lilin.
Terjemahan 'menyempurnakan cahaya-Nya' menahan diri dari 'menjaga cahaya-Nya'. Akar kata yang dipakai berarti menggenapkan sampai penuh, bukan sekadar mempertahankan supaya tidak berkurang. Yang dijanjikan karena itu bukan bertahan, melainkan bertambah sampai lengkap, dan janji itu diletakkan tepat sesudah gambaran usaha memadamkannya.
Susunan kalimatnya menaruh kehendak mereka di depan dan hasilnya di belakang, dipisah oleh satu huruf sambung yang berarti 'sedangkan'. Huruf itu memasang dua sisi berhadapan dalam satu tarikan: di sebelah sini usaha yang sedang berjalan, di sebelah sana keadaan yang sudah tetap. Tidak ada kata penghubung yang menyatakan bantahan, tidak ada kalimat yang menjelaskan mengapa usaha itu gagal. Cukup dua keadaan disandingkan, dan pembacanya melihat sendiri mana yang bergerak sia-sia.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan kesia-siaan upaya memadamkan cahaya Allah hanya dengan ucapan mulut belaka.
Kesia-siaan itu tidak dinyatakan dengan celaan, melainkan dengan memasang dua benda yang tidak sebanding di dalam satu kalimat. Mulut dan cahaya. Alatnya disebut, sasarannya disebut, dan pembaca dibiarkan sendiri menimbang. Tidak ada satu kata pun yang berbunyi 'mustahil' atau 'sia-sia'; perbandingannya sudah mengerjakan seluruh pekerjaan itu.
Kata 'mulut' juga menyimpan tuduhan yang halus. Di beberapa tempat lain Al-Qur'an memakai kata yang sama untuk ucapan yang tidak sampai ke hati atau tidak dilanjutkan ke perbuatan. Jadi yang digambarkan bukan cuma alat yang lemah, melainkan usaha yang isinya memang cuma bicara. Perlawanan yang berhenti di bibir, betapapun kerasnya, tetap berhenti di bibir.
Jawaban atas usaha itu diberikan dalam bentuk yang tidak lazim. Ayat ini tidak berkata Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya, melainkan Allah adalah yang menyempurnakan cahaya-Nya. Bentuk kata pelaku menyatakan sifat yang melekat, bukan tindakan yang menunggu waktu. Ayat lain yang kalimat pembukanya hampir sama justru memakai bentuk kerja, sehingga perbedaan di antara keduanya terasa: di sana janji, di sini keterangan tentang siapa Dia.
Yang dijanjikan pun bukan sekadar bertahan. Akar kata yang dipakai berarti menggenapkan sampai penuh. Jadi arah kalimatnya berlawanan dengan arah usaha mereka: mereka bergerak mengurangi, dan yang terjadi justru penambahan sampai lengkap. Penutupnya menyebut kebencian mereka lalu melewatinya begitu saja, dan cara melewati itu sendiri sudah menjadi jawaban: perasaan yang tidak berdaya tetap dicatat, tetapi tidak diberi tempat untuk menghalangi.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyandingkan mulut dengan cahaya. Alat yang dipakai tidak sebanding. Perbandingannya sudah menjawab sendiri. Tidak ada kata sia-sia di dalam ayat ini, tidak ada kata mustahil, tidak ada celaan yang diucapkan. Cukup dua benda dipasang berhadapan, lalu kalimatnya berjalan terus seakan tak ada yang perlu dijelaskan. Cara menegur seperti itu meninggalkan pekerjaan menimbang kepada pembacanya, dan hasil timbangan sendiri selalu lebih sulit dibantah. Dua benda itu dipasang berhadapan tanpa satu kata pengantar pun, dan kesenjangannya bekerja sendiri di kepala pembaca.
- Yang dijanjikan bukan sekadar bertahan, melainkan disempurnakan. Bukan cuma tidak padam. Justru ditambah terangnya. Akar kata yang dipakai berarti menggenapkan sampai penuh, bukan menjaga supaya tidak berkurang. Arah janji itu berlawanan persis dengan arah usaha mereka: mereka bergerak mengurangi, dan yang terjadi penambahan. Allah tidak menjawab serangan dengan pertahanan, melainkan dengan sesuatu yang bergerak ke arah yang justru mereka takuti. Yang menyerang justru mempercepat apa yang hendak dicegahnya, dan itu bagian yang paling pahit dari kalimat ini.
- Kebencian mereka disebut Allah tetapi tidak dianggap penghalang. Sekalipun mereka benci. Perasaan itu tidak mengubah apa pun. Menyebut lalu melewati berbeda dari tidak menyebut sama sekali: yang disebut berarti diakui ada. Jadi bukan kebenciannya yang disangkal, melainkan kedudukannya sebagai penghambat. Ada perasaan yang nyata, kuat, dan tetap tak berdaya, dan ayat ini menaruhnya di ujung kalimat seolah catatan kaki. Ada kemarahan yang dicatat rapi lalu dibiarkan lewat, dan pencatatan itu sendiri sudah menjadi jawaban.
- Jawabannya tidak berbunyi Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya, melainkan Allah adalah yang menyempurnakan cahaya-Nya. Bentuk kata pelaku menyatakan sifat yang melekat, bukan tindakan yang menunggu giliran waktu. Janji bisa ditunggu dan sementara itu diragukan; sifat tidak menunggu apa-apa. Ayat lain yang pembukanya hampir sama memakai bentuk kerja, dan perbedaan sekecil itu memindahkan seluruh kalimat dari daftar janji ke daftar keterangan tentang siapa Dia.
- Kata mulut di beberapa tempat lain dipakai untuk ucapan yang tak sampai ke hati atau tak dilanjutkan ke perbuatan. Jadi yang digambarkan bukan cuma alat yang lemah, melainkan usaha yang isinya memang sebatas bicara. Bukankah itu juga peringatan bagi pihak yang merasa berada di sisi yang benar? Surah ini dibuka dengan teguran kepada orang beriman yang berbicara tanpa mengerjakan, dan kata yang sama kini dipakai untuk lawan mereka. Alat yang sama disebut untuk dua pihak yang berlawanan, dan itu bukan kebetulan penyusunan.
- Ayat ini dan satu ayat lain memakai kalimat yang hampir sama dengan huruf penghubung yang berbeda. Yang di sini biasanya menandai tujuan, yang di sana menandai isi kehendak. Bedanya nyaris tak terdengar, tetapi sorotannya berpindah: satu menyoroti maksud yang hendak dicapai, satu lagi menyoroti apa yang diinginkan. Ketelitian sebesar itu di dalam satu huruf menunjukkan bahwa pengulangan di dalam Al-Qur'an tak pernah benar-benar salinan.