هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan pertanggungjawaban yang benar, agar Dia mengunggulkannya atas segala pertanggungjawaban, sekalipun orang-orang musyrik tidak menyukai.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّhuwa lladzii arsala rasuulahu bi-l-hudaa wa-diini l-haqqiDialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan pertanggungjawaban yang benar
- لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَli-yuzhhirahu 'alaa d-diini kullihi wa-law kariha l-musyrikuunaagar Dia mengunggulkannya atas segala pertanggungjawaban, sekalipun orang-orang musyrik tidak menyukai
Terjemahan per kata (14 kata)
- هُوَhuwaDialah
- الَّذِيlladziiyang
- أَرْسَلَarsalamengutus
- رَسُولَهُrasuulahurasul-Nya
- بِالْهُدَىٰbi-l-hudaadengan petunjuk
- وَدِينِwa-diinidan agama
- الْحَقِّl-haqqihak
- لِيُظْهِرَهُli-yuzhhirahuagar Dia memenangkannya
- عَلَى'alaaatas
- الدِّينِd-diiniPertanggungjawaban
- كُلِّهِkullihiseluruhnya
- وَلَوْwa-lawdan sekiranya
- كَرِهَkarihamembenci
- الْمُشْرِكُونَl-musyrikuunaorang-orang musyrik
Inti bacaan
Tujuan pengutusan yang eksplisit: 'mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan pertanggungjawaban yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua pertanggungjawaban', visi jangka panjang tentang keunggulan kebenaran atas sistem-sistem lain, kerangka yang memberi makna pada perjuangan jangka panjang meski hasil penuh belum tampak dalam waktu dekat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini sama huruf demi huruf dengan 9:33. Rangkaian (بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ, bi-l-hudaa wa-diini l-haqqi) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:33, 48:28, dan 61:9. Rangkaian (لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ, li-yuzhhirahu 'ala d-diini kullihi) juga muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:33, 48:28, dan 61:9. Penutupnya, (وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ, wa-law kariha l-musyrikuuna), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:33 dan 61:9. Jadi 48:28 mengikuti dua ayat itu sampai ke tengah, lalu berbelok: penutupnya berbunyi 'dan cukuplah Allah sebagai saksi'.
Yang lebih menarik daripada kesamaan satu ayat adalah kesamaan pasangannya. Di surah 9, ayat tentang usaha memadamkan cahaya berdiri tepat sebelum ayat ini, yaitu 9:32 lalu 9:33. Susunan yang sama terulang di sini: 61:8 lalu 61:9. Dua ayat yang berurutan itu dipasang kembali sebagai satu kesatuan di tempat yang berbeda, sehingga yang diulang bukan sepotong kalimat melainkan satu bangunan berisi dua bagian.
Kata (دِينِ الْحَقِّ, diini l-haqqi) diterjemahkan 'pertanggungjawaban yang benar', bukan 'agama yang benar'. Konvensi proyek membedakan makna akarnya, yang berpusat pada pertanggungjawaban dan perhitungan, dari pemakaian modern kata 'agama' sebagai nama himpunan pemeluk. Pembedaan itu penting justru di ayat ini, sebab yang dijanjikan unggul adalah jalannya, bukan jumlah pengikutnya.
Kata ganti pada (لِيُظْهِرَهُ, li-yuzhhirahu) menunjuk ke belakang, kepada pertanggungjawaban yang benar tadi, bukan kepada utusannya. Karena itu terjemahannya berbunyi 'agar Dia mengunggulkannya atas segala pertanggungjawaban'. Kalau kata gantinya dibaca menunjuk kepada orangnya, kalimat ini berubah menjadi janji kemenangan pribadi, dan itu bukan yang dinyatakan susunan Arabnya.
Kata (كُلِّهِ, kullihi) menutup rangkaian itu dengan cakupan penuh: atas pertanggungjawaban seluruhnya, tanpa daftar pengecualian. Yang dijanjikan bukan unggul atas sebagian lalu berdamai dengan sisanya. Sekaligus perlu dicatat bahwa yang dipakai kata 'mengunggulkan', bukan 'melenyapkan'. Yang lain tetap ada; yang dijanjikan kedudukannya, bukan hilangnya mereka.
Golongan yang disebut di penutup ayat ini berbeda dari yang disebut di ayat sebelumnya. Di 61:8 yang membenci disebut orang-orang kafir, di sini orang-orang musyrik. Dua ayat berdampingan menyebut dua golongan yang berlainan dengan bangun kalimat yang sama, sehingga pengandaian 'sekalipun mereka benci' berlaku dua kali berturut-turut untuk dua pihak yang berbeda.
Bentuk pembukanya menyebut pelakunya lebih dahulu, 'Dialah yang mengutus', bukan 'Ia mengutus'. Susunan semacam ini di dalam bahasa Arab memusatkan perhatian pada yang mengerjakan, bukan pada pekerjaannya. Yang hendak ditegaskan bukan bahwa pengutusan itu terjadi, melainkan bahwa Dia-lah asalnya. Karena itu seluruh sisa kalimat, termasuk tujuannya dan penolakan yang disebut di ujungnya, bergantung pada satu titik di awal itu.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa misi kerasulan membawa pertanggungjawaban yang benar, ditakdirkan unggul atas segala sistem pertanggungjawaban tandingan, terlepas dari penolakan orang-orang musyrik.
Kalimatnya dibuka dengan menyebut pelakunya lebih dulu: Dialah yang mengutus. Bentuk seperti ini memusatkan perhatian pada yang mengutus, bukan pada yang diutus. Pengutusan itu lalu diberi dua bekal sekaligus, petunjuk dan pertanggungjawaban yang benar, dan sesudah itu barulah disebut untuk apa semuanya dikerjakan. Peristiwa dan maksudnya tidak dipisah ke dalam dua kalimat.
Yang dijanjikan unggul adalah jalannya, bukan orangnya. Kata ganti di dalam kalimat itu menunjuk ke belakang, kepada pertanggungjawaban yang benar tadi. Perbedaan ini bukan perkara tata bahasa semata. Kalau yang dijanjikan orangnya, setiap kekalahan yang dialami pengikutnya akan terbaca sebagai janji yang meleset. Karena yang dijanjikan jalannya, penilaiannya berpindah dari nasib perorangan ke arah yang ditempuh.
Kata yang dipakai juga bukan 'melenyapkan', melainkan 'mengunggulkan'. Yang lain tetap ada. Yang dijanjikan kedudukan, bukan kekosongan lawan. Pembacaan ini menutup pintu bagi siapa pun yang hendak menjadikan ayat ini sebagai izin menghapus, sebab menghapus bukan kata yang dipilih, padahal bahasa Arab punya kata untuk itu.
Ayat ini terulang hampir utuh di dua tempat lain, dan di salah satunya ia bahkan didahului ayat yang sama tentang usaha memadamkan cahaya. Jadi yang diulang bukan sepotong kalimat, melainkan pasangan dua ayat sebagai satu bangunan. Pengulangan sebesar itu memperlihatkan bahwa urutannya disengaja: lebih dulu usaha memadamkan yang tak berdaya, baru sesudah itu keterangan tentang apa yang sebenarnya sedang berjalan.
Renungan dan Hikmah
- Allah menerangkan untuk apa Rasul-Nya diutus, bukan sekadar bahwa Ia mengutus. Maksudnya disebut di kalimat yang sama. Peristiwa dan tujuannya tak dipisah. Susunan seperti itu menutup kemungkinan membaca pengutusan sebagai kejadian yang berdiri sendiri, yang boleh ditafsirkan tujuannya belakangan sesuai kebutuhan. Tujuannya sudah tertulis di tempat kejadiannya, dan siapa pun yang hendak menambahkan maksud lain harus melawan kalimatnya sendiri. Maksud yang ditulis di tempat kejadiannya tak bisa digeser oleh penafsiran yang datang berabad-abad sesudahnya.
- Ketidaksukaan sebagian pihak disebut, lalu dilewati. Sekalipun mereka tidak suka. Penolakan diakui ada, bukan disangkal. Ayat sebelumnya memakai bangun kalimat yang sama untuk golongan yang berbeda, sehingga pengandaian itu jatuh dua kali berturut-turut pada dua pihak yang berlainan. Allah tidak menggambarkan jalan yang mulus tanpa penentang. Yang digambarkan justru jalan yang penuh penentang, dan penentangnya tetap dicatat namanya, cuma tak diberi kuasa menghentikan. Jalan yang digambarkan bukan jalan yang sepi, melainkan jalan yang ramai penentang dan tetap berjalan.
- Yang diunggulkan Allah adalah ketaatannya, bukan pemeluknya. Yang naik jalannya. Orangnya tidak dijanjikan menang sendiri-sendiri. Kata ganti di dalam kalimatnya memang menunjuk ke belakang, kepada pertanggungjawaban yang benar, dan pembedaan itu menyelamatkan banyak orang dari salah paham yang pahit. Kalau yang dijanjikan orangnya, setiap kekalahan akan terbaca sebagai janji yang meleset. Karena yang dijanjikan jalannya, ukurannya berpindah dari nasib perorangan ke arah yang ditempuh.
- Kata yang dipakai berarti mengunggulkan, bukan melenyapkan, padahal bahasa Arab punya kata untuk yang kedua. Pilihan itu berarti yang lain tetap ada. Yang dijanjikan kedudukan, bukan kekosongan lawan. Pembacaan itu menutup pintu bagi siapa pun yang hendak menjadikan ayat ini sebagai izin menghapus siapa pun. Unggul di antara yang banyak berbeda sama sekali dari sendirian karena yang lain sudah tidak ada. Bahasa Arab punya kata untuk menghapus, dan kata itu justru tidak dipakai di sini.
- Ayat tentang usaha memadamkan cahaya dan ayat ini berdiri berurutan, dan urutan yang sama terulang di surah lain. Jadi yang diulang bukan sepotong kalimat, melainkan bangunan berisi dua bagian. Lalu mengapa urutannya tidak pernah dibalik? Karena maknanya bergantung pada urutan: lebih dulu usaha yang tak berdaya, baru keterangan tentang apa yang sebenarnya sedang berjalan. Dibalik, kalimatnya berubah dari jawaban menjadi pengumuman.
- Kata penutup rangkaiannya berarti seluruhnya, tanpa daftar pengecualian. Yang dijanjikan bukan unggul atas sebagian lalu berdamai dengan sisanya. Cakupan sepenuh itu terasa berat kalau dibaca sebagai tugas manusia, dan memang bukan manusia yang menjadi pelakunya di dalam kalimat ini. Allah sebagai yang mengunggulkan disebut terang-terangan, dan pengikutnya berada di posisi yang dibawa, bukan yang memikul. Beban sebesar itu memang tak pernah ditaruh di pundak manusia oleh kalimatnya sendiri.