وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Dan satu lagi yang kalian cintai: pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌwa-ukhraa tuhibbuunahaa nashrun mina llaahi wa-fathun qariibundan satu lagi yang kalian cintai: pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat
  2. وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَwa-basysyiri l-mu'miniinasampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَأُخْرَىٰwa-ukhraadan yang lain
  2. تُحِبُّونَهَاtuhibbuunahaakalian mencintainya
  3. نَصْرٌnashrunpertolongan
  4. مِنَminadari
  5. اللَّهِllaahiAllah
  6. وَفَتْحٌwa-fathundan kemenangan
  7. قَرِيبٌqariibunyang dekat
  8. وَبَشِّرِwa-basysyiridan sampaikanlah kabar gembira
  9. الْمُؤْمِنِينَl-mu'miniinaorang-orang beriman

Inti bacaan

Kabar gembira duniawi yang menyertai: 'pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin', pengakuan bahwa selain ganjaran akhirat, ada juga hasil nyata yang bisa dirasakan dalam waktu dekat, keseimbangan antara harapan jangka panjang dan motivasi jangka pendek.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(Ada balasan)', '(yaitu)', dan '(waktunya)' seluruhnya tidak dipakai, tidak berpadanan kata Arab.

Kata pembukanya, (وَأُخْرَىٰ, wa-ukhraa), muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:13, 48:21, dan 61:13. Bentuknya kata sifat perempuan yang berarti 'yang lain', berdiri sendiri tanpa kata benda yang disifatinya. Karena kata bendanya dibuang, pembaca terpaksa mencarinya sendiri ke belakang, dan yang ditemukannya adalah 'perdagangan' di 61:10. Jadi yang dijanjikan di sini adalah satu keuntungan lagi dari perdagangan yang sama, bukan tawaran baru.

Kata kerja (تُحِبُّونَهَا, tuhibbuunahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 61:13. Bentuknya orang kedua jamak dengan kata ganti perempuan di ujungnya, yang menunjuk kembali ke 'yang lain' tadi. Kalimatnya menyebut apa yang mereka cintai, bukan apa yang seharusnya mereka cintai. Bandingkan dengan 61:4, yang menyebut siapa yang dicintai Allah; di sini arah cintanya dibalik, dan yang mencintai adalah manusia.

Isi janjinya disebut dalam dua potongan pendek yang sejajar. Yang pertama, (نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ, nashrun mina llaahi), memakai bentuk tanpa penanda takrif lalu disambung keterangan asalnya. Susunan itu berbeda dari bentuk gabungan yang lebih ringkas seperti 'pertolongan Allah': dengan memisahkan keduanya, asal pertolongan itu disebut sebagai keterangan tersendiri, bukan sekadar dilekatkan.

Yang kedua, (فَتْحٌ قَرِيبٌ, fathun qariibun), muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 61:13. Sifat yang dipilih untuk melekat padanya adalah 'dekat', bukan 'besar' dan bukan 'pasti'. Yang ditonjolkan jaraknya, bukan ukurannya. Bagi orang yang sedang menunggu, jarak memang lebih menekan daripada ukuran.

Penutupnya, (وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ, wa-basysyiri l-mu'miniina), muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:223, 9:112, 10:87, 33:47, dan 61:13. Bentuknya perintah tunggal, sedangkan seluruh ayat sebelumnya memakai bentuk jamak. Pergantian itu mendadak: kalimatnya berpaling dari orang banyak kepada satu orang, dan orang itu diberi tugas meneruskan kabarnya kepada yang lain.

Kata kerja yang dipakai untuk meneruskan kabar itu berasal dari akar yang juga menurunkan kata untuk kulit wajah, sebab kabar gembira memang terbaca lebih dulu di raut muka sebelum sampai ke telinga. Terjemahan 'sampaikanlah kabar gembira' menahan makna itu tanpa menambahkan penjelasan ke dalam teks.

Susunan seluruh ayat ini pendek-pendek dan terpotong-potong, berbeda dari dua ayat sebelumnya yang kalimatnya panjang mengalir. Ada satu kata yang berdiri tanpa sandaran, lalu dua potongan berpasangan, lalu sebuah perintah yang berpaling ke arah lain. Susunan yang tersendat seperti itu terasa seperti tambahan yang diucapkan sesudah daftar utamanya selesai, dan memang begitulah kedudukannya di dalam surah ini.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan balasan lain yang dicintai orang-orang beriman di dunia: pertolongan dan kemenangan yang dekat, disusul perintah menyampaikan kabar gembira.

Yang menarik lebih dulu adalah pengakuannya. Dua ayat sebelumnya sudah menyebut pengampunan, taman, dan tempat tinggal, yaitu balasan yang seluruhnya berada di seberang sana. Ayat ini menambahkan satu lagi, dan yang ditambahkan justru sesuatu yang terasa di dunia. Lebih jauh lagi, kalimatnya menyebut terang-terangan bahwa mereka mencintainya. Keinginan itu tidak dicela dan tidak diminta dihapus.

Cara menyebutnya pun menahan diri. Kalimatnya tidak berbunyi 'yang seharusnya kalian cintai', melainkan 'yang kalian cintai'. Yang diakui kenyataan hati, bukan aturan tentang hati. Surah yang dibuka dengan teguran keras tentang ucapan yang tak ditepati ternyata menutup daftar janjinya dengan mengakui kecintaan yang paling manusiawi.

Sifat yang dilekatkan pada kemenangan itu juga tidak biasa. Yang dipilih adalah 'dekat', bukan 'besar'. Bagi orang yang sedang berada di tengah kesulitan, ukuran sebuah pertolongan memang kalah penting dibanding jaraknya. Janji yang besar tetapi jauh tidak menolong siapa pun bertahan hari ini; janji yang dekat mengubah cara orang menjalani hari ini juga.

Penutupnya berganti bentuk secara mendadak. Seluruh ayat memakai sapaan jamak, lalu tiba-tiba muncul perintah kepada satu orang: sampaikanlah kabar gembira. Kabar itu tidak dibiarkan berhenti pada yang pertama mendengarnya. Ada tugas meneruskan, dan tugas itu diberikan justru di ujung daftar janji, sesudah semua yang manis disebutkan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut apa yang mereka cintai, bukan apa yang seharusnya. Diakui apa adanya. Keinginan yang wajar tak dicela, malah dijanjikan. Kalimatnya bisa saja berbunyi 'yang seharusnya kalian cintai', dan bunyi itu akan mengubah seluruh nadanya menjadi koreksi. Yang dipilih justru pengakuan atas kenyataan hati. Surah yang dibuka dengan teguran paling keras tentang ucapan yang tak ditepati ternyata menutup daftar janjinya dengan mengakui kecintaan yang paling manusiawi. Pengakuan atas kenyataan hati ternyata lebih menggerakkan daripada koreksi atas kenyataan itu.
  • Yang dijanjikan disebut dekat. Bukan besar. Yang ditonjolkan bukan ukurannya, melainkan jaraknya. Bagi orang yang sedang berada di tengah kesulitan, besar kecilnya sebuah pertolongan memang kalah penting dibanding kapan ia datang. Janji yang megah tetapi jauh tak menolong siapa pun bertahan hari ini. Allah memilih sifat yang justru paling menyentuh keadaan orang yang sedang menunggu, dan pilihan sekecil itu mengubah cara hari ini dijalani. Yang sedang menunggu tak menimbang besar kecilnya; ia menimbang berapa lama lagi.
  • Allah menutup dengan perintah menyampaikan kabar gembira. Bukan menyimpannya. Yang menerima kabar baik disuruh meneruskannya. Bentuk perintahnya tunggal, padahal seluruh ayat sebelumnya memakai sapaan jamak, sehingga pergantiannya terasa mendadak. Kalimatnya berpaling dari orang banyak kepada satu orang, lalu menaruh tugas di pundaknya. Kabar itu tak dibiarkan berhenti pada yang pertama mendengarnya. Kabar baik yang berhenti pada orang pertama yang mendengarnya belum selesai dikerjakan.
  • Kata pembukanya berarti 'yang lain' dan berdiri tanpa kata benda yang disifatinya. Karena kata bendanya dibuang, pembaca terpaksa mencarinya ke belakang, dan yang ditemukan adalah perdagangan yang ditawarkan beberapa ayat sebelumnya. Jadi ini bukan tawaran baru, melainkan satu keuntungan lagi dari perdagangan yang sama. Susunan yang menahan satu kata seperti itu memaksa pembaca menyambung sendiri, dan sambungan yang dikerjakan sendiri lebih melekat. Sambungan yang dikerjakan sendiri oleh pembaca selalu lebih melekat daripada yang disodorkan jadi.
  • Dua ayat sebelumnya menjanjikan pengampunan, taman, dan tempat tinggal, semuanya di seberang sana. Ayat ini menambahkan sesuatu yang terasa di dunia. Bukankah itu menjawab keberatan yang paling sering muncul, bahwa balasan yang dijanjikan selalu tertunda sampai sesudah mati? Allah menaruh satu bagian dari balasannya di sini, dan menyebutnya sebagai bagian yang memang dicintai, bukan sebagai hadiah hiburan.
  • Pertolongan itu tidak disebut dengan bentuk gabungan yang ringkas, melainkan dipisah lalu disambung keterangan asalnya. Susunan seperti itu menaruh asal-usulnya sebagai keterangan tersendiri, bukan sekadar melekatkannya pada kata. Akibatnya yang terdengar bukan sebutan sebuah benda, melainkan sebuah pernyataan tentang dari mana benda itu datang. Perbedaan susunan sekecil itu memindahkan tekanan dari pertolongannya kepada yang menurunkannya. Tekanan berpindah dari barangnya kepada tangan yang mengulurkannya.