بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah, Sang Raja, Sang Kudus, Sang Digdaya, lagi Sang Penuh Hikmah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِyusabbihu li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhiapa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah
  2. الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِal-maliki l-qudduusi l-'aziizi l-hakiimiSang Raja, Sang Kudus, Sang Digdaya, lagi Sang Penuh Hikmah

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. يُسَبِّحُyusabbihubertasbih
  2. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  3. مَاmaaapa yang
  4. فِيfiidi
  5. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  6. وَمَاwa-maadan apa yang
  7. فِيfiidi
  8. الْأَرْضِl-ardhibumi
  9. الْمَلِكِal-malikiraja
  10. الْقُدُّوسِl-qudduusiYang Mahasuci
  11. الْعَزِيزِl-'aziiziSang Digdaya
  12. الْحَكِيمِl-hakiimiyang penuh hikmah

Inti bacaan

Pembukaan Al-Jumu'ah dengan rangkaian nama agung: 'bertasbih kepada Allah Sang Raja, Sang Kudus, Sang Digdaya, lagi Sang Penuh Hikmah', kombinasi kekuasaan (Raja, Digdaya) dan kesempurnaan moral (Kudus, Penuh Hikmah), gambaran otoritas yang tidak semata kekuatan tetapi juga kebijaksanaan.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama surah ini mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Rangkaian empat gelar takrif 'al-maliki l-qudduusi l-aziizi l-hakiimi' berkasus genitif mengikuti 'lillaahi' (pola apositif genitif, bukan 'huwa X'), tetap diterjemahkan 'Sang X' konsisten dengan kaidah gelar takrif tetap yang sudah baku di proyek.

Verba pembukanya bentuk kedua dari akar s-b-h, dan kalanya kini-nanti. Sebagai kata utuh tanpa awalan, (يُسَبِّحُ, yusabbihu) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 17:44, 24:36, 24:41, 59:24, 62:1, dan 64:1. Sandingannya yang berkala lampau, (سَبَّحَ, sabbaha), muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 57:1, 59:1, dan 61:1. Lima surah dibuka dengan verba tasbih yang mengabarkan, dan pembagiannya rapi: surah 57, 59, dan 61 memakai kala lampau, sedangkan surah 62 dan 64 memakai kala kini-nanti. Surah 87 juga dibuka dengan verba dari akar dan pola yang sama, tetapi bentuknya perintah, sehingga ia berada di luar pembagian dua kala di atas. Perbedaan itu bukan variasi gaya. Kala lampau menutup perkaranya, tasbih itu sudah terjadi. Kala kini-nanti membiarkannya terbuka, sedang berlangsung dan tanpa tanda akan berhenti. Terjemahan 'senantiasa bertasbih' membawa sifat kedua itu, dan itulah sebabnya kata 'telah' tidak dipakai di sini padahal wajar dipakai untuk tiga surah yang lain.

Angka enam di atas berlaku untuk kata telanjang saja. Bentuk berawalan (وَيُسَبِّحُ, wa-yusabbihu) dengan sambung 'wa' adalah kata lain, dan kalau ia ikut dihitung maka ayat 13:13 masuk ke daftar. Yang tidak boleh ikut dihitung adalah (يُسَبِّحُونَ, yusabbihuuna) beserta kerabat jamaknya. Bentuk jamak itu memuat deretan huruf yang sama di awalnya, sehingga pencarian yang hanya mencocokkan potongan huruf akan menariknya masuk tanpa alasan. Kata yang berbeda tetap kata yang berbeda, dan angka yang mencampurnya bukan angka tentang ayat ini.

Kata kedua dalam rangkaian nama, (الْقُدُّوسِ, al-qudduusi), muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuk nominatifnya, (الْقُدُّوسُ, al-qudduusu), muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:23, di dalam deretan nama yang jauh lebih panjang. Jadi sebagai kata ia dua kali di dalam Quran, sebagai bentuk hanya sekali, dan dua-duanya benar karena yang berbeda hanya kedudukan i'rabnya. Akar q-d-s sendiri tersebar di 10 ayat, sebagian besar dalam frasa 'ruh al-qudus' dan dalam sebutan lembah yang disucikan. Hanya di dua tempat ia berdiri sebagai nama bagi Allah sendiri.

Bentuk genitif (الْمَلِكِ, al-maliki) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 12:72, 12:76, dan 62:1. Dua yang pertama ada di kisah Yusuf dan menunjuk raja Mesir, tentang takaran minum yang hilang. Kata yang sama, kedudukan tata bahasa yang sama, tetapi yang ditunjuk berbeda jauh. Karena itu pembedanya bukan kata melainkan konteks: yang menunjuk Allah diterjemahkan 'Sang Raja', yang menunjuk manusia tetap 'raja' dengan huruf kecil.

Kata (مَا, maa) pada frasa 'maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi' diterjemahkan 'apa', bukan 'siapa'. Dalam bahasa Arab (مَا, maa) lazim dipakai untuk yang tak berakal dan (مَنْ, man) untuk yang berakal. Ayat ini memilih yang pertama, sehingga cakupannya melebar sampai ke benda, bukan menyempit ke manusia dan malaikat saja. Terjemahan yang menggantinya dengan 'siapa' memperkecil apa yang sebenarnya disebut, dan kehilangan itu tidak kelihatan karena kalimat Indonesianya tetap terbaca wajar.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan penegasan bahwa seluruh yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah, disertai rangkaian empat nama-Nya. Yang bertasbih tidak disebut satu per satu. Allah memakai kata yang mencakup, 'apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi', sehingga pembaca tidak bisa menyusun daftar lalu merasa selesai. Segala yang ada masuk. Yang bernyawa dan yang tidak, yang tahu sedang bertasbih dan yang tidak tahu.

Sesudah itu barulah nama-nama disebut, dan urutannya terbaca. Sang Raja lebih dulu, yaitu yang punya kuasa atas semua yang barusan disebut bertasbih. Lalu Sang Kudus, sebab kuasa itu bersih dan tidak bercampur cacat. Kemudian Sang Digdaya, sebab tidak ada yang sanggup mengalahkan-Nya. Terakhir Sang Penuh Hikmah, sebab kuasa yang tak terkalahkan itu dipakai dengan pertimbangan.

Empat nama itu bekerja berpasangan. Dua yang pertama tentang kedudukan, dua yang terakhir tentang cara memakainya. Kalau hanya dua yang pertama, gambarannya raja yang berkuasa dan suci tetapi jauh. Kalau hanya dua yang terakhir, gambarannya bijak dan kuat tetapi tidak jelas atas apa. Disebut berempat, keduanya saling menahan.

Surah ini nanti berbicara tentang orang yang dibebani Kitab lalu tidak mengamalkannya, dan tentang orang beriman yang meninggalkan khotbah demi dagangan. Dua-duanya soal tidak menempatkan sesuatu pada kedudukannya. Ayat pembuka ini memasang ukurannya lebih dulu, yaitu seluruh alam yang sedang mengerjakan tugasnya tanpa perlu diminta.

Renungan dan Hikmah

  • Allah disebut dengan empat nama beruntun di ujung ayat ini: Sang Raja, Sang Kudus, Sang Digdaya, Sang Penuh Hikmah. Dua yang pertama berbicara tentang kedudukan, dua yang terakhir tentang cara memakainya. Kuasa yang disebut sendirian akan terbaca sebagai otot belaka, dan pertimbangan yang disebut sendirian tidak jelas berlaku atas apa. Disebut berempat, keduanya saling menahan. Yang berkuasa itu bersih, dan yang tak terkalahkan itu menimbang. Siapa pun yang memegang wewenang, sekecil apa pun bentuknya, bisa mengukur dirinya di deretan ini: mana yang sudah ia punya, dan mana yang selama ini ia lewatkan.
  • Kata yang dipakai adalah 'apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi', bukan 'siapa'. Dalam bahasa Arab pilihan itu berakibat: 'siapa' menyempit ke yang berakal, 'apa' melebar ke segala yang ada. Bendanya ikut disebut. Tasbih dalam kalimat ini bukan hanya urusan manusia dan malaikat, melainkan sesuatu yang dikerjakan oleh seluruh isi alam. Yang membuatnya berat bukan bahwa benda ikut bertasbih. Yang berat adalah bahwa manusia yang sedang membaca ayat ini satu-satunya bagian dari daftar itu yang sanggup memilih untuk tidak. Kalau seluruh isi alam mengerjakannya tanpa diminta, apa sebenarnya yang membuat satu-satunya makhluk yang bisa memilih justru paling sering lalai?
  • Bentuk kata kerjanya menyatakan kejadian yang belum selesai, bukan yang sudah lewat. Tiga surah lain membuka dengan kalimat yang hampir sama persis tetapi memakai kata kerja berkala lampau, seolah menutup perkaranya. Di sini Allah memilih bentuk yang tidak menutup. Sedang berlangsung, sekarang juga, sementara ayat ini dibaca. Artinya pembaca tidak sedang membaca laporan tentang sesuatu yang pernah terjadi. Ia sedang membaca keterangan tentang sesuatu yang berjalan di sekelilingnya pada detik ia membaca, dan ia satu-satunya yang mungkin sedang tidak ikut.
  • Urutan keempat nama itu tidak acak. Sang Kudus diletakkan Allah persis di antara Sang Raja dan Sang Digdaya, yaitu di antara dua nama yang sama-sama tentang kuasa. Kesucian tidak ditaruh di ujung sebagai hiasan penutup, melainkan disisipkan di tengah, memotong kuasa dari kuasa. Yang dibaca bukan kekuasaan lalu kesucian menyusul, melainkan kekuasaan yang di dalamnya kesucian sudah lebih dulu ada. Susunan seperti ini sulit ditiru oleh kuasa mana pun yang dijalankan manusia, dan justru karena itu ia berguna sebagai ukuran.
  • Bentuk kata untuk 'raja' yang dipakai di sini sama persis dengan yang dipakai bagi raja Mesir dalam kisah Yusuf, lengkap dengan kedudukan tata bahasanya. Quran tidak menyediakan kosakata khusus yang hanya boleh dipakai untuk Allah. Kata biasa dipinjam, dan yang membedakan hanya siapa yang sedang ditunjuk. Ini menyingkap sesuatu tentang kerajaan manusia: ia bukan tiruan terlarang, melainkan versi kecil yang dipinjami nama. Yang dituntut dari pemegangnya bukan berhenti memakai nama itu, melainkan bersedia dinilai dengan tiga nama yang disebut sesudahnya.
  • Surah ini dibuka tanpa menyapa siapa pun. Tidak ada 'wahai manusia', tidak ada perintah, tidak ada pertanyaan. Allah menyebut satu keadaan yang sedang berlangsung, lalu menyebut nama-nama-Nya, lalu berhenti. Pembaca datang belakangan ke sesuatu yang sudah berjalan sebelum ia tiba dan akan terus berjalan sesudah ia pergi. Sapaan baru muncul jauh di bawah, ketika surah ini memanggil orang beriman meninggalkan jual beli dan bergegas ke ingatan kepada Allah. Ayat pertama memasang latarnya lebih dulu: yang perlu dipanggil bergegas ternyata cuma satu dari sekian banyak yang disebut.