وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Serta kepada yang lain dari mereka yang belum menyusul mereka. Dan Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْwa-aakhariina minhum lammaa yalhaquu bihimserta kepada yang lain dari mereka yang belum menyusul mereka
  2. وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُwa-huwa l-'aziizu l-hakiimudan Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَآخَرِينَwa-aakhariinadan yang lain
  2. مِنْهُمْminhumdari mereka
  3. لَمَّاlammaaketika
  4. يَلْحَقُواyalhaquumereka menyusul
  5. بِهِمْbihimpada mereka
  6. وَهُوَwa-huwadan Dia
  7. الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
  8. الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah

Inti bacaan

Cakupan misi yang melampaui batas waktu langsung: 'kepada (kaum) selain mereka yang belum (datang) menyusul mereka', pengakuan bahwa dampak wahyu tidak terbatas pada generasi yang lebih dulu menerimanya, melainkan menjangkau ke depan untuk generasi yang belum lahir sekalipun.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung yang menyisipkan ulang subjek, yaitu keterangan bahwa Allah juga mengutus utusan itu, beserta '(kaum)' dan '(datang)' seluruhnya dihapus. Ayat ini kalimat lanjutan gramatikal dari ayat sebelumnya, diterjemahkan sebagai fragmen bersambung sesuai struktur Arab aslinya, bukan kalimat mandiri dengan subjek disisipkan ulang.

Dalam bahasa Arab, (وَآخَرِينَ, wa-aakhariina) bersambung langsung ke kata kerja (بَعَثَ, baatsa) pada ayat sebelumnya, sehingga ia menjadi objek kedua dari kata kerja yang sama. Menyisipkan ulang subjeknya memutus sambungan itu. Pembaca lalu mengira ada pengutusan kedua yang terpisah, padahal yang disebut satu pengutusan dengan jangkauan yang lebih panjang. Fragmen yang dibiarkan bersambung memang terasa menggantung di awal, tetapi menggantungnya itu sendiri bagian dari maknanya.

Kata kerja (يَلْحَقُوا, yalhaquu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:170 dan 62:3. Keduanya memakai susunan yang mirip, 'yang belum menyusul mereka', dan keduanya berbicara tentang orang yang belum sampai. Tetapi arah menyusulnya berlawanan. Di 3:170 yang sudah sampai adalah mereka yang gugur, dan yang belum menyusul adalah yang masih hidup di belakang, sehingga batas yang mesti dilewati adalah kematian. Di ayat ini yang sudah sampai adalah generasi pertama yang menerima pengutusan, dan yang belum menyusul adalah yang belum lahir, sehingga batas yang mesti dilewati adalah waktu. Satu kata kerja, dua arah, dan dua-duanya menyebut orang yang saat itu belum ada di tempat.

Partikel (لَمَّا, lammaa) pada 'lammaa yalhaquu' tidak sama dengan (لَمْ, lam). Keduanya menegasikan, tetapi 'lam' berarti tidak terjadi sampai sekarang tanpa janji apa pun, sedangkan 'lammaa' berarti belum terjadi dengan pintu yang masih terbuka. Terjemahan 'belum menyusul' membawa muatan itu. Kalau dipakai 'tidak menyusul', ayat ini akan terbaca sebagai penolakan, padahal yang dimaksud penantian.

Pasangan bertakrif (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, al-'aziizu l-hakiimu) dipakai 29 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:129, 2:209, 3:6, dan ayat ini. Kedudukan i'rabnya tidak selalu sama. Di ayat pertama surah ini pasangan itu berkasus genitif karena mengikuti 'lillaahi', sedangkan di sini berkasus nominatif karena menjadi berita bagi 'huwa'. Dua nama yang sama muncul dua kali hanya dalam rentang tiga ayat, dengan kedudukan tata bahasa yang berbeda, dan itu bukan pengulangan yang kebetulan. Yang pertama menutup pernyataan tentang alam yang bertasbih, yang kedua menutup pernyataan tentang jangkauan pengutusan yang melampaui satu generasi.

Kata (آخَرِينَ, aakhariina) berbentuk jamak maskulin dalam kasus akusatif, sejajar dengan 'rasuulan' pada ayat sebelumnya, dan kesejajaran itulah yang menjadikannya objek kedua dari kata kerja yang sama. Terjemahan 'serta kepada yang lain' menambahkan kata depan 'kepada' karena bahasa Indonesia menuntutnya untuk menyambungkan dua objek yang letaknya berjauhan, sedangkan bahasa Arab cukup memakai tanda akhiran. Penambahan itu tidak diberi kurung, sebab ia tuntutan tata bahasa penerima, bukan tambahan makna. Kaidah proyek memberi kurung hanya pada tambahan yang membawa keterangan baru, bukan pada penyesuaian yang tanpanya kalimat Indonesia tidak berdiri.

Tafsiran

Ayat ini memperluas misi kerasulan kepada golongan lain yang belum menyusul generasi pertama yang disebut di ayat sebelumnya. Yang disebut belum ada. Mereka bukan kelompok yang menolak, bukan pula kelompok yang tertinggal karena lalai, melainkan kelompok yang saat itu memang belum lahir. Pengutusan yang dikabarkan ayat sebelumnya dinyatakan mencakup mereka sejak awal, bukan diperluas belakangan karena keadaan berubah.

Kata sambungnya kecil tetapi menentukan. 'Dari mereka' menempelkan yang belakangan kepada yang terdahulu. Satu golongan, bukan dua. Jarak waktu tidak menjadikan mereka umat yang berbeda, dan tidak menjadikan yang belakangan sebagai tamu yang menumpang pada undangan orang lain.

Kata yang dipakai untuk 'belum menyusul' hanya muncul di satu tempat lain, dan di sana ia dipakai untuk orang yang gugur menanti yang masih hidup. Dua ayat itu memakai gambar yang sama tetapi arah yang berlawanan: yang satu menanti dari seberang kematian, yang lain menanti dari seberang waktu. Dua-duanya menempatkan orang yang belum sampai sebagai bagian yang sudah dihitung.

Penutupnya menyebut Allah sebagai Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah, tepat sesudah kalimat tentang rentang waktu yang panjang. Letaknya masuk akal. Menjangkau generasi yang belum lahir menuntut kuasa yang tidak terhalang, dan menghubungkan mereka dengan generasi pertama menuntut pertimbangan yang tidak keliru. Dua nama itu menjawab dua tuntutan tersebut sekaligus.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut 'yang lain dari mereka yang belum menyusul mereka'. Belum ada. Pengutusan itu dinyatakan mencakup generasi yang saat kalimat ini turun belum lahir sama sekali. Artinya cakupannya tidak diperlebar belakangan karena keadaan berubah, melainkan sudah selebar itu sejak disebutkan. Bagi pembaca sekarang, ini memindahkan kedudukannya sendiri: ia tidak sedang membaca dokumen milik orang lain yang kebetulan masih tersimpan, melainkan bagian yang namanya sudah disebut sebelum ia ada. Kalau namanya sudah masuk hitungan sebelum ia lahir, apa lagi sebenarnya yang sedang ia tunggu?
  • Frasa 'dari mereka' menyambungkan yang belakangan dengan yang terdahulu. Satu golongan, bukan dua. Jarak waktu tidak menjadikan mereka umat yang berbeda, dan tidak menjadikan yang datang belakangan sebagai penumpang pada undangan orang lain. Sambungan sekecil itu menolak dua sikap sekaligus. Ia menolak yang terdahulu merasa lebih berhak karena lebih dulu tiba, dan menolak yang belakangan merasa cuma mewarisi sisa. Keduanya disebut dalam satu kalimat oleh Allah, dengan kata kerja yang sama.
  • Allah menutup dengan Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah, tepat sesudah menyebut rentang waktu yang panjang. Letak itu masuk akal. Menjangkau generasi yang belum lahir menuntut kuasa yang tidak terhalang apa pun, termasuk oleh jarak abad. Menghubungkan mereka dengan generasi pertama menuntut pertimbangan yang tidak keliru menakar apa yang berubah dan apa yang tetap. Dua nama itu menjawab dua tuntutan tersebut sekaligus, dan urutannya pun terbaca: kuasa dulu, baru timbangan.
  • Kata kerja 'belum menyusul' hanya dipakai di satu tempat lain di dalam Quran, dan di sana ia dipakai oleh mereka yang gugur tentang yang masih hidup di belakang. Di sana batas yang harus dilewati adalah kematian; di sini batas yang harus dilewati adalah waktu. Gambarnya sama, arahnya berlawanan. Yang menarik, kedua ayat sama-sama menempatkan orang yang belum sampai sebagai bagian yang sudah dihitung, bukan sebagai kemungkinan yang masih ditimbang. Allah menyebut mereka lebih dulu daripada kehadiran mereka sendiri.
  • Kata penyangkal yang dipakai berarti 'belum', bukan 'tidak'. Bedanya bukan gaya bahasa. 'Tidak' menutup perkara dan menyatakan sesuatu tak akan terjadi; 'belum' membiarkan pintunya terbuka dan menyatakan sesuatu masih ditunggu. Ayat ini memilih yang kedua, sehingga golongan yang disebut bukan golongan yang menolak melainkan golongan yang dinanti. Kalau kata pertama yang dipakai, kalimat ini akan berubah menjadi penolakan, dan seluruh nada ayat ikut berubah dari penantian menjadi pengucilan.
  • Ayat ini tidak berdiri sebagai kalimat utuh. Ia menyambung langsung ke kata kerja di ayat sebelumnya, sehingga terjemahannya pun sengaja dibiarkan bersambung dan terasa menggantung di awal. Menyisipkan subjek baru memang membuatnya rapi dibaca, tetapi sekaligus memutus sambungannya. Pembaca lalu mengira ada pengutusan kedua yang terpisah, padahal Allah menyebut satu pengutusan dengan jangkauan yang lebih panjang. Menggantungnya kalimat ini bagian dari maknanya, dan merapikannya berarti menghilangkan satu keterangan tanpa menghapus satu kata pun.