مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Perumpamaan orang-orang yang dibebani tugas mengamalkan Taurat, kemudian tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan tanda-tanda Allah. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًاmatsalu lladziina hummiluu t-tawraata tsumma lam yahmiluuhaa ka-matsali l-himaari yahmilu asfaaranperumpamaan orang-orang yang dibebani tugas mengamalkan Taurat, kemudian tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab
- بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِbi'sa matsalu l-qawmi lladziina kadzdzabuu bi-aayaati llaahisangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan tanda-tanda Allah
- وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَwa-llaahu laa yahdii l-qawma zh-zhaalimiinaAllah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim
Terjemahan per kata (23 kata)
- مَثَلُmatsaluperumpamaan
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- حُمِّلُواhummiluumereka dibebani
- التَّوْرَاةَt-tawraataTaurat
- ثُمَّtsummakemudian
- لَمْlamtidak
- يَحْمِلُوهَاyahmiluuhaamereka memikulnya
- كَمَثَلِka-matsaliseperti perumpamaan
- الْحِمَارِl-himaarikeledai
- يَحْمِلُyahmilumemikul
- أَسْفَارًاasfaarankitab-kitab
- بِئْسَbi'saseburuk-buruk
- مَثَلُmatsaluperumpamaan
- الْقَوْمِl-qawmikaum
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَذَّبُواkadzdzabuumendustakan
- بِآيَاتِbi-aayaatipada tanda-tanda
- اللَّهِllaahiAllah
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- لَاlaatidak
- يَهْدِيyahdiimemberi petunjuk
- الْقَوْمَl-qawmakaum
- الظَّالِمِينَzh-zhaalimiinayang zalim
Inti bacaan
Perumpamaan tajam tentang pengetahuan tanpa amal: 'seperti keledai yang membawa kitab-kitab (tebal tanpa mengerti kandungannya)', kritik terhadap kepemilikan teks suci tanpa pemahaman atau penerapan nyata, peringatan bahwa akses terhadap wahyu tanpa internalisasi tidak memberi manfaat sejati, sekadar beban yang dibawa tanpa makna.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(tebal tanpa mengerti kandungannya)' tidak dipakai: interpretasi tambahan tanpa padanan kata Arab.
Tiga kata kunci di ayat ini masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Quran dalam bentuknya yang persis. Bentuk (حُمِّلُوا, hummiluu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuk (الْحِمَارِ, al-himaari) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuk (أَسْفَارًا, asfaaran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Perumpamaan ini dirakit dari kosakata yang tidak dipakai di tempat lain, dan itu membuatnya berdiri sendiri tanpa gema dari ayat mana pun.
'Hummiluu' berbentuk pasif dari kata kerja bentuk kedua, dan bentuk kedua menambahkan tekanan pada perbuatannya. Terjemahannya 'dibebani', bukan 'diberi'. Bedanya menentukan seluruh nada ayat. 'Diberi' menempatkan Taurat sebagai hadiah yang boleh disimpan; 'dibebani' menempatkannya sebagai muatan yang harus dijalankan. Kata kerja yang sama muncul lagi beberapa kata kemudian dalam bentuk aktif, (لَمْ يَحْمِلُوهَا, lam yahmiluuhaa), yaitu mereka tidak memikulnya. Dimuati lalu tidak memikul: satu akar dipakai dua kali dalam satu kalimat untuk menyatakan jarak antara apa yang ditaruh dan apa yang dijalankan.
Kata 'asfaaran' punya akar yang sama dengan kata untuk perjalanan. Stem jamak yang sama dipakai di 34:19 dalam bentuk (أَسْفَارِنَا, asfaarinaa) dengan arti perjalanan, bukan kitab. Akar s-f-r sendiri tersebar di 12 ayat, dan artinya berpindah-pindah di antara perjalanan, para penulis, dan terbitnya cahaya pagi. Yang menyatukan cabang-cabang itu adalah gagasan menyingkap: perjalanan menyingkap jarak, kitab menyingkap isi, dan pagi menyingkap apa yang semalam tertutup. Di ayat ini yang dipikul justru barang penyingkap, sementara pemikulnya tetap tidak tersingkap apa-apa.
Akar h-m-r tersebar di 6 ayat, dan tidak semuanya tentang keledai. Salah satunya memakai bentuk lain dari akar yang sama untuk menyebut warna merah pada guratan gunung. Bentuk (الْحِمَارِ, al-himaari) di ayat ini tunggal dan bertakrif, sedangkan cabang warna itu memakai bentuk yang lain sama sekali. Karena itu penerjemahan tidak boleh berhenti pada akar, melainkan harus turun ke bentuk dan konteksnya. Adapun 'zh-l-m' pada penutup ayat diterjemahkan 'zalim' sesuai konvensi proyek, dan pilihan kata itu penting di sini karena penutupnya menyebut kaum yang zalim, bukan kaum yang bodoh.
Kata 'matsal' muncul tiga kali di dalam ayat ini: pada pembukanya, pada bandingannya, dan pada penilaian di ujungnya. Pengulangan itu mengunci bentuk kalimatnya. Bentuk (مَثَلُ, matsalu) dan (كَمَثَلِ, ka-matsali) memakai akar yang sama, dan bedanya hanya pada huruf sambung pembanding di depannya. Yang pertama menyebut perumpamaan siapa, yang kedua menyebut perumpamaannya seperti apa, yang ketiga menjatuhkan penilaian atas perumpamaan itu. Terjemahan yang mengganti salah satunya dengan sinonim akan melonggarkan kuncian tersebut, dan struktur bandingannya ikut kabur.
Kata (بِئْسَ, bisa) bukan kata kerja biasa melainkan kata cela baku, sepasang dengan 'ni'ma' yang dipakai untuk memuji. Terjemahan 'sangat buruk' membawa fungsinya, bukan sekadar artinya. Yang dicela olehnya adalah perumpamaannya, bukan orangnya secara langsung. Celaan lewat perumpamaan memang lebih sukar dielakkan daripada celaan langsung, sebab yang dicela lebih dulu harus mengakui gambarnya cocok sebelum bisa membantah penilaiannya.
Tafsiran
Ayat ini menghadirkan perumpamaan keledai yang membawa kitab bagi orang-orang yang dibebani Taurat tetapi tidak mengamalkannya: kritik tegas terhadap ilmu tanpa penghayatan. Gambarnya sederhana dan justru karena itu sulit dielakkan. Ada beban di punggung, ada yang memikul, dan yang memikul tidak tahu apa yang ada di atasnya. Yang dipikul berharga, dan nilainya sama sekali tidak berpindah kepada pemikulnya.
Kata kerjanya dipilih dengan cermat. Mereka disebut 'dibebani', bukan 'diberi'. Amanah itu berat sejak kata pertama, dan beratnya tidak hilang karena tidak dijalankan. Beberapa kata kemudian akar yang sama muncul lagi dalam bentuk aktif: mereka tidak memikulnya. Satu akar, dua kali, untuk menyatakan jarak antara apa yang ditaruh di pundak dan apa yang benar-benar dijalankan.
Yang dipersoalkan bukan pemahaman. Ayat ini menyebut mereka tidak mengamalkannya, bukan tidak memahaminya. Keledai dalam perumpamaan memang tidak mengerti, tetapi yang diumpamakan bukan orang yang tidak mengerti. Justru karena mereka mengerti, membawanya tanpa menjalankannya menjadi setara dengan tidak mengerti sama sekali.
Penutupnya menyebut kaum yang zalim, bukan kaum yang bodoh, dan pilihan kata itu menutup jalan keluar terakhir. Kebodohan bisa dimaklumi dan diperbaiki dengan pengajaran. Zalim berarti menaruh sesuatu bukan pada tempatnya, dan itu persis yang dikerjakan orang yang menjadikan Kitab sebagai muatan punggung. Yang dicela di sini bukan kitabnya, bukan pula beratnya, melainkan keputusan memikulnya tanpa membukanya.
Renungan dan Hikmah
- Allah memakai perumpamaan keledai yang membawa kitab. Beban di punggung, jalan yang ditempuh, dan pemikul yang tidak tahu apa yang ada di atasnya. Yang dipikul berharga, dan nilainya sama sekali tidak berpindah kepada yang memikul. Gambar ini menolak satu anggapan yang halus dan umum, yaitu bahwa kedekatan dengan sesuatu yang mulia dengan sendirinya memuliakan. Berada dekat, bahkan menempel seharian, tidak mengubah apa pun kalau yang menempel itu tidak pernah dibuka.
- Kata yang dipakai 'dibebani', bukan 'diberi'. Amanah itu berat sejak kata pertamanya disebut, dan beratnya tidak hilang karena tidak dijalankan. Justru sebaliknya: yang tidak dijalankan tetap menekan pundak yang memikulnya, sebab beban tidak menguap hanya karena diabaikan. Beberapa kata kemudian akar yang sama muncul lagi dalam bentuk aktif, yaitu mereka tidak memikulnya. Satu akar dipakai dua kali dalam satu kalimat oleh Allah, untuk menyatakan jarak antara apa yang ditaruh di pundak dan apa yang benar-benar dijalankan.
- Allah menyebut mereka tidak mengamalkannya, bukan tidak memahaminya. Bukan soal paham. Yang dipersoalkan jarak antara tahu dan berbuat. Keledai dalam perumpamaan memang tidak mengerti, tetapi yang diumpamakan bukan orang yang tidak mengerti. Justru karena mereka mengerti, membawa tanpa menjalankan menjadi setara dengan tidak mengerti sama sekali. Perumpamaan ini paling menusuk bukan bagi yang jauh dari kitab, melainkan bagi yang paling sering memegangnya. Berapa bagian dari yang sudah dibaca tahun ini benar-benar berpindah menjadi perbuatan?
- Tiga kata kunci ayat ini tidak dipakai lagi di ayat mana pun dengan bentuk yang persis sama: kata untuk dibebani, kata untuk keledai itu, dan kata untuk kitab-kitab yang dipikul. Perumpamaan ini dirakit dari kosakata yang tidak dipakai di tempat lain. Akibatnya ia berdiri sendiri, tanpa gema dari ayat mana pun yang bisa melunakkan atau menjelaskannya dari jauh. Pembaca tidak bisa mengalihkannya ke ayat lain yang lebih ramah. Gambar ini dibuat sekali, untuk satu perkara, dan dibiarkan berdiri tanpa penyangga.
- Kata untuk kitab-kitab di sini seakar dengan kata untuk perjalanan, dan stem jamak yang sama dipakai di ayat lain dengan arti perjalanan. Cabang-cabang akar itu bertemu pada satu gagasan, yaitu menyingkap. Perjalanan menyingkap jarak, kitab menyingkap isi, pagi menyingkap apa yang semalam tertutup. Di ayat ini yang dipikul justru barang penyingkap, sementara pemikulnya sendiri tidak tersingkap apa-apa. Benda yang seluruh gunanya membuka sesuatu berubah menjadi muatan mati, dan itu kerugian yang tidak kelihatan dari luar.
- Penutupnya menyebut kaum yang zalim, bukan kaum yang bodoh, dan pilihan kata itu menutup jalan keluar terakhir. Kebodohan bisa dimaklumi dan diperbaiki dengan pengajaran. Zalim berarti menaruh sesuatu bukan pada tempatnya, dan itu persis yang dikerjakan orang yang menjadikan Kitab sebagai muatan punggung. Allah menyatakan tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim, dan kalimat itu terbaca sebagai akibat, bukan sebagai hukuman yang ditambahkan. Petunjuk memang tidak bisa masuk ke tempat yang sudah dipakai untuk menyimpan sesuatu tanpa membukanya.