Ayat 62:6
قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Katakanlah, “Wahai orang-orang Yahudi, jika kalian mengira bahwa kalian adalah wali-wali Allah, bukan manusia lain, maka harapkanlah kematian, jika kalian orang-orang yang benar.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُواqul yaa ayyuhaa lladziina haaduukatakanlah, 'wahai orang-orang Yahudi'
- إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِin za'amtum annakum awliyaa'u li-llaahi min duuni n-naasi'jika kalian mengira bahwa kalian adalah wali-wali Allah, bukan manusia lain'
- فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَfa-tamannawu l-mawta in kuntum shaadiqiina'maka harapkanlah kematian, jika kalian orang-orang yang benar'
Terjemahan per kata (18 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- يَاyaawahai
- أَيُّهَاayyuhaasekalian
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- هَادُواhaaduumenjadi Yahudi
- إِنْinjika
- زَعَمْتُمْza'amtumkalian mengira
- أَنَّكُمْannakumbahwa kalian
- أَوْلِيَاءُawliyaa'upara pelindung
- لِلَّهِli-llaahibagi Allah
- مِنْmindari
- دُونِduuniselain
- النَّاسِn-naasimanusia
- فَتَمَنَّوُاfa-tamannawumaka dambakanlah kalian
- الْمَوْتَl-mawtakematian
- إِنْinjika
- كُنْتُمْkuntumkalian adalah
- صَادِقِينَshaadiqiinaorang-orang yang benar
Inti bacaan
Tantangan pembuktian klaim eksklusivitas: 'jika kalian mengira bahwa kalian adalah wali-wali Allah, bukan manusia lain, maka harapkanlah kematian, jika kalian orang-orang yang benar', konfrontasi logis yang menuntut konsistensi antara klaim status istimewa dan kesediaan menghadapi konsekuensinya, ujian yang mengungkap kepalsuan klaim yang tidak didukung keyakinan sejati.
Penjelasan pilihan kata
'Alladziina haaduu' diterjemahkan 'orang-orang Yahudi': terjemahan literal langsung dari akar h-w-d yang memang tertulis di teks Arab, bukan tambahan identifikasi kelompok. Bentuk yang dipakai (هَادُوا, haaduu), yaitu kata kerja, bukan kata benda yang menamai satu bangsa.
Bentuk (هَادُوا, haaduu) muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:62, 4:46, 5:69, 22:17, dan 62:6. Susunannya hampir selalu sama, yaitu kata sambung penunjuk diikuti kata kerja tersebut. Teksnya menyebut mereka lewat perbuatan, dan bahasa Indonesia tidak punya susunan yang sepadan. Terjemahan 'orang-orang Yahudi' dipakai sebagai padanan terdekat, dengan catatan bahwa bentuk aslinya bukan nama benda.
Kalimat perintah (فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ, fa-tamannawu l-mawta) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:94 dan 62:6. Frasa (مِنْ دُونِ النَّاسِ, min duuni n-naasi) juga muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:94 dan 62:6. Dua ayat itu memakai ujian yang sama untuk klaim yang tidak sama. Di 2:94 yang diklaim negeri akhirat, sedangkan di sini yang diklaim kedudukan sebagai wali. Yang menyatukan keduanya bukan isi klaimnya melainkan bentuknya, sebab keduanya mengecualikan orang lain dan keduanya diuji dengan permintaan yang sama persis.
Kata kerja (زَعَمْتُمْ, za'amtum) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:94, 17:56, 18:48, 18:52, 34:22, dan 62:6. Di lima tempat lainnya ia selalu menyertai anggapan yang justru sedang dibantah oleh ayatnya sendiri. Karena itu ia diterjemahkan 'mengira', bukan 'mengatakan' atau 'meyakini'. Menaikkannya menjadi 'meyakini' akan memberi klaim itu bobot yang justru sedang dipersoalkan.
Bentuk (أَوْلِيَاءُ, awliyaa'u) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:51, 8:72, 8:73, 9:71, 45:19, 46:32, dan 62:6. Bentuknya tak-bertakrif dan berkasus nominatif, dan di ayat ini ia menjadi berita bagi 'annakum'. Klaim yang direkam berbunyi 'bahwa kalian adalah wali-wali bagi Allah'. Terjemahannya mempertahankan jamak karena teksnya jamak, bukan karena penafsiran.
Perintah 'fa-tamannawu' berdiri sebagai jawab bagi syarat 'in za'amtum', lalu seluruhnya ditutup oleh syarat kedua, 'in kuntum shaadiqiin'. Ada dua syarat yang mengapit satu perintah. Susunan itu membuat perintahnya bukan perintah lepas melainkan ujian. Ia hanya berlaku kalau klaimnya benar, dan menolak mengerjakannya sama saja dengan menarik klaimnya kembali. Terjemahan yang memecah ayat ini menjadi dua kalimat berdiri sendiri akan menghilangkan jepitan tersebut.
Kata 'awliyaa'' diterjemahkan 'wali-wali', bukan 'kekasih' atau 'teman dekat'. Akar w-l-y berputar pada gagasan kedekatan yang membawa kuasa mengurus, bukan kedekatan rasa. Karena itu klaim yang direkam ayat ini bukan sekadar merasa disayang, melainkan merasa memegang kedudukan. Terjemahan 'kekasih' akan memindahkan perkaranya ke wilayah perasaan, padahal yang diuji sesudahnya justru kesediaan menanggung akibat sebuah kedudukan.
Susunan 'min duuni n-naas' harfiahnya 'dari selain manusia', dan diterjemahkan 'bukan manusia lain'. Susunan ini tidak menambahkan keterangan, ia mengurangi. Fungsinya memotong sebagian dari yang sudah disebut, sehingga yang tersisa hanya kelompok yang mengaku. Terjemahan yang menghilangkannya akan membuat klaim di ayat ini terdengar biasa saja, padahal justru bagian inilah yang membuatnya perlu diuji.
Tafsiran
Ayat ini menantang siapa pun yang mengaku wali Allah secara eksklusif untuk mengharapkan kematian sebagai bukti klaim mereka. Ujiannya dipilih dengan cermat. Bukan adu dalil, bukan pula adu jumlah pengikut. Yang diminta hanya satu sikap batin, yaitu kesediaan menginginkan perjumpaan yang mereka sendiri akui sebagai kedekatan.
Logikanya berjalan sendiri tanpa perlu dibantu. Orang yang benar-benar yakin dirinya dekat dengan Allah tidak punya alasan takut bertemu. Kalau ketakutan itu ada, ia menunjukkan sesuatu yang tidak pernah diucapkan, yaitu bahwa keyakinannya tidak sepenuh yang ia nyatakan. Ujian ini tidak membantah klaim mereka dengan kata-kata; ia membiarkan sikap mereka sendiri yang membantahnya.
Klaim yang direkam ayat ini punya dua bagian, dan bagian keduanya yang paling berat. Mereka disebut mengaku sebagai wali Allah, lalu ditambahkan 'bukan manusia lain'. Bagian pertama masih bisa berupa harapan, tetapi bagian kedua sudah berupa pengusiran. Kedekatan yang diakui sendiri hampir selalu memakai pagar, dan pagarnya biasanya lebih tegas daripada kedekatannya.
Ayat ini juga menutup satu jalan mundur. Perintahnya dijepit dua syarat, di depan 'jika kalian mengira' dan di belakang 'jika kalian orang-orang yang benar'. Menolak mengerjakan perintah itu bukan sekadar menolak sebuah permintaan, melainkan menarik kembali klaim yang sudah diucapkan. Tidak ada pilihan ketiga yang membiarkan klaimnya tetap berdiri sambil ujiannya dihindari.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyuruh menguji klaim mereka dengan satu hal saja: harapkanlah kematian. Bukan dengan dalil, bukan dengan hitungan pengikut, bukan dengan riwayat siapa yang lebih dulu. Yang mengaku paling dekat diminta membuktikan lewat sikapnya terhadap perjumpaan. Ujian semacam ini tidak bisa dijawab dengan kata-kata, dan justru itu kekuatannya. Orang bisa menyusun pembelaan yang rapi untuk klaim apa pun, tetapi tidak bisa memalsukan kesediaan hatinya sendiri terhadap sesuatu yang benar-benar ia takuti.
- Kata yang dipakai adalah 'jika kalian mengira', bukan tuduhan bahwa mereka berdusta. Yang dipersoalkan perkiraan, dan perkiraan bisa diuji tanpa perlu perdebatan. Perbedaannya halus tetapi menentukan nada seluruh ayat. Menuduh berdusta menutup pintu dan memaksa lawan bicara bertahan; menyebut perkiraan membiarkan pintunya terbuka dan memindahkan beban pembuktian kepada yang mengaku. Allah tidak sedang menang berdebat di ayat ini, Dia sedang menyodorkan cermin.
- Allah merekam klaim itu lengkap dengan pengecualiannya: wali-wali-Nya, bukan manusia lain. Ada yang disingkirkan. Bagian pertama klaim masih bisa berupa harapan, tetapi bagian keduanya sudah berupa pengusiran. Kedekatan yang diakui sendiri hampir selalu disertai pagar, dan pagarnya biasanya lebih tegas daripada kedekatannya. Yang perlu diperiksa pembaca bukan apakah ia memakai kalimat seperti itu, melainkan apakah rasa dekatnya pada sesuatu selalu membuat orang lain terdengar lebih jauh.
- Permintaan yang sama persis muncul di satu tempat lain di dalam Quran, lengkap dengan kata pengecualiannya. Di sana yang diklaim negeri akhirat, di sini yang diklaim kedudukan sebagai wali. Isinya berbeda, bentuknya sama: keduanya menyisihkan orang lain, dan keduanya diuji dengan satu permintaan yang identik. Allah tampak memperlakukan bentuk klaimnya sebagai perkara, bukan hanya isinya. Artinya ujian ini tidak terikat pada satu jenis pengakuan tertentu, melainkan pada cara pengakuan itu memagari dirinya.
- Perintah di ayat ini dijepit dua syarat, di depan 'jika kalian mengira' dan di belakang 'jika kalian orang-orang yang benar'. Susunan itu membuatnya bukan perintah lepas melainkan ujian. Ia hanya berlaku kalau klaimnya benar, sehingga menolak mengerjakannya sama dengan menarik kembali klaim yang sudah diucapkan. Allah tidak menyisakan pilihan ketiga yang membiarkan klaimnya berdiri sambil ujiannya dihindari. Setiap pengakuan besar sebenarnya bekerja begitu: ia selalu membawa satu tindakan yang, kalau tidak dikerjakan, membatalkan pengakuannya sendiri.
- Seluruh ayat ini berdiri di atas satu keganjilan yang jarang diucapkan. Orang yang benar-benar yakin dirinya dekat dengan Allah tidak punya alasan takut kepada perjumpaan. Kalau rasa dekat dan rasa takut itu hidup bersama pada orang yang sama, salah satunya tidak sekuat yang ia kira. Ayat ini tidak menyuruh siapa pun mencari kematian; ia hanya menaruh pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan kalimat. Apa yang sebenarnya sedang saya harapkan ketika saya mengaku dekat, dan apa yang sedang saya hindari pada saat yang sama?
Ayat 62:7
وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
Mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selamanya, disebabkan apa yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Allah mengetahui orang-orang zalim.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْwa-laa yatamannawnahu abadan bi-maa qaddamat aydiihimmereka tidak akan mengharapkan kematian itu selamanya, disebabkan apa yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri
- وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَwa-llaahu 'aliimun bi-zh-zhaalimiinaAllah mengetahui orang-orang zalim
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَتَمَنَّوْنَهُyatamannawnahumereka mengharapkannya
- أَبَدًاabadanselamanya
- بِمَاbi-maakarena apa yang
- قَدَّمَتْqaddamatmengirimkan lebih dulu
- أَيْدِيهِمْaydiihimtangan mereka
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- عَلِيمٌ'aliimunberilmu
- بِالظَّالِمِينَbi-zh-zhaalimiinaakan orang-orang yang zalim
Inti bacaan
Bukti tersirat dari keengganan: 'mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selamanya disebabkan apa (keburukan) yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri', pengakuan bahwa keengganan menghadapi pertanggungjawaban akhir sering mengungkap kesadaran tersembunyi tentang catatan perbuatan yang tidak ingin dihadapi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(keburukan)' tidak dipakai, tidak berpadanan kata Arab. 'Aliimun' bentuk tak-bertakrif sesudah subjek 'Allah', tetap diterjemahkan huruf kecil 'mengetahui' tanpa gelar superlatif. Bentuk yang dipakai (عَلِيمٌ, 'aliimun), bukan bentuk bertakrif yang menjadi sebutan tersendiri.
Ayat ini dan 2:95 nyaris satu kalimat yang sama. Rangkaian (أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ, abadan bimaa qaddamat aydiihim) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:95 dan 62:7. Penutupnya pun sama. Rangkaian (وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ, wa-llaahu 'aliimun bi-zh-zhaalimiina) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:95, 2:246, 9:47, dan 62:7. Empat kemunculan itu tersebar di tiga surah, sebab surah 2 memuatnya dua kali.
Yang berbeda antara ayat ini dan 2:95 hanya alat penyangkalnya. Di sana dipakai (لَنْ, lan) dengan kata kerja berbentuk nasab, di sini dipakai (لَا, laa) dengan kata kerja berbentuk rafa'. Keduanya menyangkal masa depan, tetapi tidak dengan cara yang sama. Yang pertama menutup sekali untuk selamanya, sedangkan yang kedua menyangkal keadaan yang sedang dan akan terus berjalan. Perbedaan itu tidak bisa muncul di terjemahan Indonesia, sebab bahasa kita tidak membedakan dua jenis penyangkalan masa depan. Yang bisa dilakukan terjemahan hanyalah mempertahankan kata 'selamanya', yang memang tertulis di kedua ayat.
Frasa (بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ, bimaa qaddamat aydiihim) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:95, 4:62, 28:47, 30:36, 42:48, dan 62:7. Di tempat-tempat itu ia menyebut sebab dari sesuatu yang buruk, dan sebabnya selalu diletakkan pada tangan pelakunya sendiri. Kata 'tangan' dipertahankan dalam terjemahan, tidak diganti 'perbuatan'. Menggantinya akan menghapus gambaran yang dipilih ayatnya, yaitu bahwa yang dihadapi seseorang di depan adalah barang kiriman dari dirinya yang dahulu.
Kata (بِالظَّالِمِينَ, bi-zh-zhaalimiina) pada penutup diterjemahkan 'orang-orang zalim' sesuai konvensi proyek. Yang perlu diperhatikan bukan kata itu sendiri melainkan letaknya. Penutup ini tidak menyebut 'orang-orang yang berdusta', padahal yang barusan dibicarakan sebuah klaim yang tidak benar. Yang dipakai justru kata untuk menaruh sesuatu bukan pada tempatnya. Klaim kedekatan yang tak berdasar diperlakukan bukan sebagai kekeliruan informasi, melainkan sebagai kedudukan yang diambil tanpa hak.
Kata 'abadan' diterjemahkan 'selamanya' dan letaknya penting. Ia menempel pada penyangkalan, bukan pada perbuatan. Yang dinyatakan bukan bahwa mereka tidak pernah mengharapkan kematian sampai hari ini, melainkan bahwa mereka tidak akan pernah mengharapkannya. Penyangkalan seperti itu meliputi seluruh waktu yang tersisa, sehingga ujian di ayat sebelumnya tidak bisa ditunda dengan alasan belum sempat.
Letak ayat ini di dalam surahnya juga terbaca. Ia berdiri di antara tantangan pada ayat sebelumnya dan penegasan pada ayat sesudahnya bahwa kematian tetap akan menemui siapa pun. Jadi urutannya bukan tantangan lalu ancaman, melainkan tantangan, lalu keterangan mengapa tantangan itu tak akan diambil, lalu pemberitahuan bahwa menolak ujian tidak menghapus perjumpaannya. Tiga langkah itu menutup pintu satu per satu, dan yang terakhir menutupnya untuk semua pembaca, bukan hanya untuk yang mengaku.
Tafsiran
Ayat ini menjawab tantangan ayat sebelumnya: mereka tidak akan berani mengharap kematian karena takut akan konsekuensi perbuatan mereka sendiri. Jawabannya datang sebelum mereka sempat menjawab. Allah tidak menunggu hasil ujian yang baru saja Dia perintahkan, melainkan langsung menyebutkan hasilnya. Ujian itu tetap berdiri, tetapi kesimpulannya sudah ditulis di ayat berikutnya.
Sebab yang disebut bukan ketakutan pada rasa sakit, bukan pula cinta pada dunia. Yang disebut adalah apa yang telah mereka perbuat dengan tangan sendiri. Artinya yang menahan mereka bukan ketidaktahuan tentang apa yang menanti, melainkan justru pengetahuan tentangnya. Mereka tidak takut kepada sesuatu yang asing; mereka takut kepada sesuatu yang mereka kenal karena mereka sendiri yang mengirimnya ke depan.
Kata 'tangan' dipertahankan dan itu mengubah rasa kalimatnya. Bukan 'karena perbuatan mereka', yang terdengar seperti catatan administratif, melainkan 'dengan tangan mereka sendiri', yang membuat pembaca melihat gerakannya. Ada yang mengangkat, ada yang meletakkan, ada yang mendorong sesuatu maju ke depan. Yang ditemui nanti bukan vonis yang datang dari luar, melainkan barang kiriman yang tiba di tujuannya.
Penutupnya menyebut Allah mengetahui orang-orang zalim, bukan mengancam mereka. Yang ditegaskan hanya bahwa perkiraan mereka tentang diri sendiri tidak sama dengan yang diketahui-Nya. Dan kata yang dipakai untuk mereka bukan kata untuk pendusta, melainkan kata untuk orang yang menaruh sesuatu bukan pada tempatnya. Klaim kedekatan yang tak berdasar diperlakukan sebagai kedudukan yang diambil tanpa hak, bukan sekadar keterangan yang keliru.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selamanya. Kata 'selamanya' dipakai, bukan 'sekarang' atau 'hari ini'. Tantangan di ayat sebelumnya sudah dijawab sebelum mereka sempat menjawabnya sendiri. Yang menarik, ujiannya tetap dibiarkan berdiri meskipun hasilnya sudah diberitakan. Ujian itu bukan untuk mencari tahu jawabannya, melainkan supaya yang diuji melihat sendiri jawaban yang selama ini ia bawa tanpa pernah mengakuinya.
- Sebab yang Allah sebut adalah apa yang telah mereka perbuat dengan tangan sendiri. Bukan ketakutan biasa terhadap rasa sakit, bukan pula kecintaan pada hidup. Yang menahan mereka justru pengetahuan tentang apa yang menanti. Mereka tidak takut kepada sesuatu yang asing, melainkan kepada sesuatu yang mereka kenali karena mereka sendiri yang mengirimnya ke depan. Rasa enggan menghadapi sesuatu sering menjadi keterangan yang lebih jujur tentang isi catatan seseorang daripada seluruh kalimat yang ia susun tentang dirinya.
- Penutupnya menyebut Allah mengetahui orang-orang zalim, bukan mengancam mereka. Tidak ada kata tentang hukuman di kalimat itu. Yang ditegaskan hanya bahwa perkiraan mereka tentang diri sendiri tidak sesuai dengan yang diketahui-Nya. Justru bentuk seperti ini yang lebih sulit dilawan daripada ancaman. Ancaman bisa diperdebatkan besar-kecilnya, sedangkan pernyataan bahwa ada yang tahu persis keadaan seseorang tidak menyisakan ruang tawar-menawar sama sekali.
- Yang barusan dibicarakan adalah klaim yang tidak benar, tetapi penutupnya tidak menyebut mereka pendusta. Yang dipakai kata untuk orang yang menaruh sesuatu bukan pada tempatnya. Pilihan itu memindahkan perkaranya. Klaim kedekatan yang tak berdasar bukan sekadar keterangan yang salah, melainkan kedudukan yang diambil tanpa hak. Allah memperlakukannya sebagai perkara pengambilan, bukan perkara informasi, dan itu sebabnya jawabannya berupa ujian sikap dan bukan bantahan kalimat.
- Kalimat ini muncul dua kali di dalam Quran dengan bunyi yang nyaris sama persis, sampai ke penutupnya. Yang berbeda cuma alat penyangkalnya, dan perbedaan itu tidak bisa dibawa oleh bahasa Indonesia. Dua kelompok yang berbeda, dua klaim yang berbeda, tetapi satu penolakan yang tercatat dengan susunan yang sama. Allah tampaknya tidak sedang menggambarkan satu peristiwa melainkan satu pola. Pola itu bisa berulang pada siapa saja: mengaku memegang kedudukan istimewa, lalu mundur ketika kedudukan itu diminta ditunjukkan.
- Kata kerja yang dipakai berarti mendahulukan atau mengirim ke depan, bukan sekadar melakukan. Perbuatan digambarkan sebagai sesuatu yang berangkat lebih dulu dan menunggu di ujung jalan. Karena itu yang ditemui nanti bukan vonis yang datang dari luar, melainkan kiriman yang tiba di alamatnya. Allah memakai gambaran ini berulang kali di beberapa surah lain dengan kata yang sama. Kalau perbuatan hari ini memang sedang berangkat lebih dulu, apa yang sebenarnya sedang saya kirimkan ke tempat yang pasti saya datangi?