وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

Mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selamanya, disebabkan apa yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Allah mengetahui orang-orang zalim.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْwa-laa yatamannawnahu abadan bi-maa qaddamat aydiihimmereka tidak akan mengharapkan kematian itu selamanya, disebabkan apa yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri
  2. وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَwa-llaahu 'aliimun bi-zh-zhaalimiinaAllah mengetahui orang-orang zalim

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. يَتَمَنَّوْنَهُyatamannawnahumereka mengharapkannya
  3. أَبَدًاabadanselamanya
  4. بِمَاbi-maakarena apa yang
  5. قَدَّمَتْqaddamatmengirimkan lebih dulu
  6. أَيْدِيهِمْaydiihimtangan mereka
  7. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  8. عَلِيمٌ'aliimunberilmu
  9. بِالظَّالِمِينَbi-zh-zhaalimiinaakan orang-orang yang zalim

Inti bacaan

Bukti tersirat dari keengganan: 'mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selamanya disebabkan apa (keburukan) yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri', pengakuan bahwa keengganan menghadapi pertanggungjawaban akhir sering mengungkap kesadaran tersembunyi tentang catatan perbuatan yang tidak ingin dihadapi.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(keburukan)' tidak dipakai, tidak berpadanan kata Arab. 'Aliimun' bentuk tak-bertakrif sesudah subjek 'Allah', tetap diterjemahkan huruf kecil 'mengetahui' tanpa gelar superlatif. Bentuk yang dipakai (عَلِيمٌ, 'aliimun), bukan bentuk bertakrif yang menjadi sebutan tersendiri.

Ayat ini dan 2:95 nyaris satu kalimat yang sama. Rangkaian (أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ, abadan bimaa qaddamat aydiihim) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:95 dan 62:7. Penutupnya pun sama. Rangkaian (وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ, wa-llaahu 'aliimun bi-zh-zhaalimiina) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:95, 2:246, 9:47, dan 62:7. Empat kemunculan itu tersebar di tiga surah, sebab surah 2 memuatnya dua kali.

Yang berbeda antara ayat ini dan 2:95 hanya alat penyangkalnya. Di sana dipakai (لَنْ, lan) dengan kata kerja berbentuk nasab, di sini dipakai (لَا, laa) dengan kata kerja berbentuk rafa'. Keduanya menyangkal masa depan, tetapi tidak dengan cara yang sama. Yang pertama menutup sekali untuk selamanya, sedangkan yang kedua menyangkal keadaan yang sedang dan akan terus berjalan. Perbedaan itu tidak bisa muncul di terjemahan Indonesia, sebab bahasa kita tidak membedakan dua jenis penyangkalan masa depan. Yang bisa dilakukan terjemahan hanyalah mempertahankan kata 'selamanya', yang memang tertulis di kedua ayat.

Frasa (بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ, bimaa qaddamat aydiihim) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:95, 4:62, 28:47, 30:36, 42:48, dan 62:7. Di tempat-tempat itu ia menyebut sebab dari sesuatu yang buruk, dan sebabnya selalu diletakkan pada tangan pelakunya sendiri. Kata 'tangan' dipertahankan dalam terjemahan, tidak diganti 'perbuatan'. Menggantinya akan menghapus gambaran yang dipilih ayatnya, yaitu bahwa yang dihadapi seseorang di depan adalah barang kiriman dari dirinya yang dahulu.

Kata (بِالظَّالِمِينَ, bi-zh-zhaalimiina) pada penutup diterjemahkan 'orang-orang zalim' sesuai konvensi proyek. Yang perlu diperhatikan bukan kata itu sendiri melainkan letaknya. Penutup ini tidak menyebut 'orang-orang yang berdusta', padahal yang barusan dibicarakan sebuah klaim yang tidak benar. Yang dipakai justru kata untuk menaruh sesuatu bukan pada tempatnya. Klaim kedekatan yang tak berdasar diperlakukan bukan sebagai kekeliruan informasi, melainkan sebagai kedudukan yang diambil tanpa hak.

Kata 'abadan' diterjemahkan 'selamanya' dan letaknya penting. Ia menempel pada penyangkalan, bukan pada perbuatan. Yang dinyatakan bukan bahwa mereka tidak pernah mengharapkan kematian sampai hari ini, melainkan bahwa mereka tidak akan pernah mengharapkannya. Penyangkalan seperti itu meliputi seluruh waktu yang tersisa, sehingga ujian di ayat sebelumnya tidak bisa ditunda dengan alasan belum sempat.

Letak ayat ini di dalam surahnya juga terbaca. Ia berdiri di antara tantangan pada ayat sebelumnya dan penegasan pada ayat sesudahnya bahwa kematian tetap akan menemui siapa pun. Jadi urutannya bukan tantangan lalu ancaman, melainkan tantangan, lalu keterangan mengapa tantangan itu tak akan diambil, lalu pemberitahuan bahwa menolak ujian tidak menghapus perjumpaannya. Tiga langkah itu menutup pintu satu per satu, dan yang terakhir menutupnya untuk semua pembaca, bukan hanya untuk yang mengaku.

Tafsiran

Ayat ini menjawab tantangan ayat sebelumnya: mereka tidak akan berani mengharap kematian karena takut akan konsekuensi perbuatan mereka sendiri. Jawabannya datang sebelum mereka sempat menjawab. Allah tidak menunggu hasil ujian yang baru saja Dia perintahkan, melainkan langsung menyebutkan hasilnya. Ujian itu tetap berdiri, tetapi kesimpulannya sudah ditulis di ayat berikutnya.

Sebab yang disebut bukan ketakutan pada rasa sakit, bukan pula cinta pada dunia. Yang disebut adalah apa yang telah mereka perbuat dengan tangan sendiri. Artinya yang menahan mereka bukan ketidaktahuan tentang apa yang menanti, melainkan justru pengetahuan tentangnya. Mereka tidak takut kepada sesuatu yang asing; mereka takut kepada sesuatu yang mereka kenal karena mereka sendiri yang mengirimnya ke depan.

Kata 'tangan' dipertahankan dan itu mengubah rasa kalimatnya. Bukan 'karena perbuatan mereka', yang terdengar seperti catatan administratif, melainkan 'dengan tangan mereka sendiri', yang membuat pembaca melihat gerakannya. Ada yang mengangkat, ada yang meletakkan, ada yang mendorong sesuatu maju ke depan. Yang ditemui nanti bukan vonis yang datang dari luar, melainkan barang kiriman yang tiba di tujuannya.

Penutupnya menyebut Allah mengetahui orang-orang zalim, bukan mengancam mereka. Yang ditegaskan hanya bahwa perkiraan mereka tentang diri sendiri tidak sama dengan yang diketahui-Nya. Dan kata yang dipakai untuk mereka bukan kata untuk pendusta, melainkan kata untuk orang yang menaruh sesuatu bukan pada tempatnya. Klaim kedekatan yang tak berdasar diperlakukan sebagai kedudukan yang diambil tanpa hak, bukan sekadar keterangan yang keliru.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selamanya. Kata 'selamanya' dipakai, bukan 'sekarang' atau 'hari ini'. Tantangan di ayat sebelumnya sudah dijawab sebelum mereka sempat menjawabnya sendiri. Yang menarik, ujiannya tetap dibiarkan berdiri meskipun hasilnya sudah diberitakan. Ujian itu bukan untuk mencari tahu jawabannya, melainkan supaya yang diuji melihat sendiri jawaban yang selama ini ia bawa tanpa pernah mengakuinya.
  • Sebab yang Allah sebut adalah apa yang telah mereka perbuat dengan tangan sendiri. Bukan ketakutan biasa terhadap rasa sakit, bukan pula kecintaan pada hidup. Yang menahan mereka justru pengetahuan tentang apa yang menanti. Mereka tidak takut kepada sesuatu yang asing, melainkan kepada sesuatu yang mereka kenali karena mereka sendiri yang mengirimnya ke depan. Rasa enggan menghadapi sesuatu sering menjadi keterangan yang lebih jujur tentang isi catatan seseorang daripada seluruh kalimat yang ia susun tentang dirinya.
  • Penutupnya menyebut Allah mengetahui orang-orang zalim, bukan mengancam mereka. Tidak ada kata tentang hukuman di kalimat itu. Yang ditegaskan hanya bahwa perkiraan mereka tentang diri sendiri tidak sesuai dengan yang diketahui-Nya. Justru bentuk seperti ini yang lebih sulit dilawan daripada ancaman. Ancaman bisa diperdebatkan besar-kecilnya, sedangkan pernyataan bahwa ada yang tahu persis keadaan seseorang tidak menyisakan ruang tawar-menawar sama sekali.
  • Yang barusan dibicarakan adalah klaim yang tidak benar, tetapi penutupnya tidak menyebut mereka pendusta. Yang dipakai kata untuk orang yang menaruh sesuatu bukan pada tempatnya. Pilihan itu memindahkan perkaranya. Klaim kedekatan yang tak berdasar bukan sekadar keterangan yang salah, melainkan kedudukan yang diambil tanpa hak. Allah memperlakukannya sebagai perkara pengambilan, bukan perkara informasi, dan itu sebabnya jawabannya berupa ujian sikap dan bukan bantahan kalimat.
  • Kalimat ini muncul dua kali di dalam Quran dengan bunyi yang nyaris sama persis, sampai ke penutupnya. Yang berbeda cuma alat penyangkalnya, dan perbedaan itu tidak bisa dibawa oleh bahasa Indonesia. Dua kelompok yang berbeda, dua klaim yang berbeda, tetapi satu penolakan yang tercatat dengan susunan yang sama. Allah tampaknya tidak sedang menggambarkan satu peristiwa melainkan satu pola. Pola itu bisa berulang pada siapa saja: mengaku memegang kedudukan istimewa, lalu mundur ketika kedudukan itu diminta ditunjukkan.
  • Kata kerja yang dipakai berarti mendahulukan atau mengirim ke depan, bukan sekadar melakukan. Perbuatan digambarkan sebagai sesuatu yang berangkat lebih dulu dan menunggu di ujung jalan. Karena itu yang ditemui nanti bukan vonis yang datang dari luar, melainkan kiriman yang tiba di alamatnya. Allah memakai gambaran ini berulang kali di beberapa surah lain dengan kata yang sama. Kalau perbuatan hari ini memang sedang berangkat lebih dulu, apa yang sebenarnya sedang saya kirimkan ke tempat yang pasti saya datangi?