قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya pasti akan menemui kalian. Kalian kemudian akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang selama ini kalian kerjakan.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْqul inna l-mawta lladzii tafirruuna minhu fa-innahu mulaaqiikumkatakanlah, 'sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya pasti akan menemui kalian'
  2. ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَtsumma turadduuna ilaa 'aalimi l-ghaybi wa-sy-syahaadati fa-yunabbi'ukum bi-maa kuntum ta'maluuna'kalian kemudian akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang selama ini kalian kerjakan'

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. إِنَّinnasesungguhnya
  3. الْمَوْتَl-mawtakematian
  4. الَّذِيlladziiyang
  5. تَفِرُّونَtafirruunakalian lari
  6. مِنْهُminhudarinya
  7. فَإِنَّهُfa-innahumaka sesungguhnya dia
  8. مُلَاقِيكُمْmulaaqiikumyang menemui kalian
  9. ثُمَّtsummakemudian
  10. تُرَدُّونَturadduunakalian dikembalikan
  11. إِلَىٰilaakepada
  12. عَالِمِ'aalimiyang mengetahui
  13. الْغَيْبِl-ghaybiyang gaib
  14. وَالشَّهَادَةِwa-sy-syahaadatidan yang tampak
  15. فَيُنَبِّئُكُمْfa-yunabbi'ukummaka Dia memberitakan kepada kalian
  16. بِمَاbi-maapada apa yang
  17. كُنْتُمْkuntumkalian selalu
  18. تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan

Inti bacaan

Ketidakmungkinan menghindari kematian: 'kematian yang kalian lari darinya pasti akan menemui kalian', pengingat bahwa penghindaran terhadap kenyataan fundamental (kematian dan pertanggungjawaban) tidak pernah benar-benar berhasil, hanya menunda konfrontasi yang tak terelakkan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memakai dua kata yang tidak dipakai lagi di ayat mana pun. Bentuk (تَفِرُّونَ, tafirruuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 62:8. Bentuk (مُلَاقِيكُمْ, mulaaqiikum) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 62:8. Dua kata itu berhadapan langsung di dalam satu kalimat, yang satu tentang lari dan yang satu tentang perjumpaan.

Kata (مُلَاقِيكُمْ, mulaaqiikum) berbentuk pelaku, bukan kata kerja. Harfiahnya 'yang menemui kalian'. Kematian ditempatkan sebagai pihak yang mengerjakan perjumpaan, dan manusia sebagai pihak yang ditemui. Terjemahan 'pasti akan menemui kalian' mempertahankan arah itu. Kalau dibalik menjadi 'kalian pasti menemuinya', pelakunya berpindah kepada manusia, dan justru itulah yang sedang dibantah ayatnya.

Susunan kalimatnya tidak biasa. Sesudah 'inna l-mawta lladzii tafirruuna minhu', kalimat itu diulang pangkalnya dengan 'fa-innahu mulaaqiikum'. Penegas 'inna' dipakai dua kali untuk satu subjek yang sama. Pengulangan seperti ini muncul ketika keterangan subjeknya panjang, sehingga beritanya perlu disambungkan kembali agar tidak tergantung. Terjemahannya memakai kata 'pasti' untuk membawa penegasan ganda tersebut tanpa harus mengulang kalimatnya.

Rangkaian (ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ, tsumma turadduuna ilaa 'aalimi l-ghaybi wa-sy-syahaadati fa-yunabbi'ukum bimaa kuntum ta'maluuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:94 dan 62:8. Di 9:94 ia ditujukan kepada orang yang mengarang alasan sesudah tidak ikut berangkat. Di sini ia ditujukan kepada orang yang lari dari kematian. Dua sikap yang berbeda, satu penutup yang sama, dan yang menyamakan keduanya adalah upaya menghindar dari sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Rangkaian (عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ, 'aalimu l-ghaybi wa-sy-syahaadati) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:73, 13:9, 32:6, 59:22, dan 64:18. Ayat ini memakai bentuk genitifnya, sebab ia mengikuti kata depan 'ilaa'. Bentuk genitif itu dipakai juga di 9:94, 9:105, dan 23:92, sehingga sebagai kata rangkaian ini hadir di sembilan ayat sementara sebagai bentuk ia terbagi menjadi dua kelompok. Dua angka itu tidak saling membatalkan, keduanya menghitung hal yang berbeda. Nama itu dipilih sesuai pekerjaannya di kalimat ini. Yang diberitakan nanti bukan hanya perbuatan yang sempat dilihat orang, melainkan juga yang tidak pernah keluar dari dada. Karena itu yang memberitakan disebut dengan nama yang mencakup dua-duanya sekaligus.

Kata (الْغَيْبِ, al-ghaybi) diterjemahkan 'yang gaib' dan (الشَّهَادَةِ, asy-syahaadati) diterjemahkan 'yang nyata'. Pasangan itu bukan tentang dunia dan akhirat, melainkan tentang yang tersembunyi dan yang tersaksikan. Keduanya berpasangan sebagai lawan, bukan sebagai dua wilayah yang terpisah. Dalam beberapa ayat lain di proyek ini pasangan yang sama diterjemahkan 'yang gaib dan yang tampak', dan dua pilihan itu membawa arti yang sama.

Tafsiran

Ayat ini menutup tema tantangan mengharap kematian dengan penegasan bahwa kematian pasti menjemput siapa pun, disusul pertanggungjawaban penuh di hadapan Allah. Yang berubah di ayat ini sasarannya. Dua ayat sebelumnya berbicara kepada kelompok yang mengaku punya kedudukan istimewa, sedangkan ayat ini tidak menyebut kelompok mana pun lagi. Perintah 'katakanlah' diulang, tetapi yang diajak bicara sekarang siapa saja yang sedang lari.

Kata yang dipakai membalik kedudukan pelaku. Kematian tidak digambarkan sebagai tujuan yang didatangi manusia, melainkan sebagai pihak yang menemui. Ia yang bergerak, ia yang mencari, dan manusia yang ditemukan. Karena itu lari tidak menambah jarak; lari hanya mengubah arah wajah, sementara jaraknya tetap menipis dengan kecepatan yang sama.

Kalimatnya lalu tidak berhenti di perjumpaan. Ada 'kemudian' yang menyambung, dan sesudahnya ada pengembalian dan pemberitaan. Artinya kematian bukan garis akhir melainkan pintu, dan yang menunggu di baliknya bukan kekosongan melainkan penjelasan. Ketakutan yang membuat orang lari biasanya berhenti membayangkan di titik perjumpaan, padahal bagian yang paling menentukan justru ada sesudahnya.

Nama yang dipilih untuk penutup pun sesuai dengan pekerjaannya. Yang akan memberitakan disebut sebagai Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Yang diberitakan nanti bukan hanya perbuatan yang sempat disaksikan orang lain, melainkan juga yang tidak pernah keluar dari dada. Bagi orang yang seluruh hidupnya dinilai dari yang tampak, kalimat ini bisa menakutkan sekaligus melegakan, tergantung bagian mana dari dirinya yang selama ini tidak terlihat.

Renungan dan Hikmah

  • Allah memakai kata 'menemui', bukan kata 'didatangi'. Kematian ditempatkan sebagai pihak yang bergerak dan mengerjakan perjumpaan, sementara manusia menjadi pihak yang ditemukan. Ia yang mencari, bukan sekadar menunggu di ujung jalan. Pembalikan kecil ini mengubah seluruh gambaran. Selama kematian dianggap tujuan, orang merasa punya kendali atas kapan sampainya; begitu ia dikenali sebagai pencari, satu-satunya yang tersisa untuk diatur adalah keadaan waktu ia tiba.
  • Yang dikejar justru yang dihindari, dan larinya tidak menambah jarak sedikit pun. Jaraknya tetap menipis dengan kecepatan yang sama, entah orangnya menghadap ke arahnya atau membelakanginya. Lari hanya mengubah arah wajah. Karena itu penghindaran tidak pernah benar-benar mengurangi apa pun, ia cuma memindahkan biayanya ke belakang. Yang berkurang bukan jaraknya, melainkan waktu yang tersisa untuk bersiap menghadapinya.
  • Sesudah perjumpaan itu Allah menyebut pengembalian dan pemberitaan. Kalimatnya tidak berhenti di kematian, ada kata 'kemudian' yang menyambungkannya ke sesuatu yang lain. Artinya kematian bukan garis akhir melainkan pintu. Ketakutan yang membuat orang lari biasanya berhenti membayangkan tepat di titik perjumpaan, padahal bagian yang paling menentukan justru ada di sesudahnya. Yang menunggu di balik pintu itu bukan kekosongan, melainkan penjelasan tentang apa yang selama ini dikerjakan.
  • Dua kata kunci ayat ini tidak dipakai lagi di ayat mana pun dengan bentuk yang persis sama, dan keduanya diletakkan berhadapan dalam satu kalimat. Yang satu tentang lari, yang satu tentang perjumpaan. Susunan seperti itu membuat keduanya saling menjelaskan tanpa perlu kalimat penghubung. Lari hanya punya arti kalau ada yang mengejar, dan perjumpaan hanya terasa berat kalau ada yang berusaha menghindarinya. Allah menaruh keduanya dalam satu tarikan napas, sehingga pembaca melihat gerakan yang berlawanan itu sekaligus.
  • Yang akan memberitakan disebut sebagai Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, bukan dengan nama lain. Pilihan itu sesuai dengan apa yang akan dikerjakan-Nya di kalimat tersebut. Yang diberitakan nanti bukan hanya perbuatan yang sempat disaksikan orang, melainkan juga yang tidak pernah keluar dari dada. Bagi orang yang selama ini dinilai hanya dari yang tampak, kalimat ini bisa menakutkan sekaligus melegakan. Bagian mana dari diri saya yang selama ini tidak terlihat siapa pun, dan bagaimana rasanya kalau justru bagian itu yang diberitakan lebih dulu?
  • Dua ayat sebelumnya berbicara kepada kelompok yang mengaku punya kedudukan istimewa. Ayat ini tidak menyebut kelompok mana pun lagi. Perintah 'katakanlah' diulang, tetapi yang diajak bicara sekarang siapa saja yang sedang lari. Allah memperlebar sasaran justru pada bagian yang paling tidak nyaman, dan itu menutup satu jalan keluar yang halus. Pembaca tidak bisa lagi membaca perikop ini sebagai catatan tentang kesalahan kelompok lain, sebab bagian terakhirnya berlaku untuk dirinya juga.