يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, apabila telah diserukan untuk salat pada hari perkumpulan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Itulah lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِyaa ayyuhaa lladziina aamanuu idzaa nuudiya li-sh-shalaati min yawmi l-jumu'atiwahai orang-orang yang beriman, apabila telah diserukan untuk salat pada hari perkumpulan
- فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَfa-s'aw ilaa dzikri llaahi wa-dzaruu l-bay'asegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli
- ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَdzaalikum khayrun lakum in kuntum ta'lamuunaitulah lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui
Terjemahan per kata (22 kata)
- يَاyaawahai
- أَيُّهَاayyuhaasekalian
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- إِذَاidzaaapabila
- نُودِيَnuudiyadiserukan
- لِلصَّلَاةِli-sh-shalaatiuntuk salat
- مِنْmindari
- يَوْمِyawmiHari
- الْجُمُعَةِl-jumu'atiJumat
- فَاسْعَوْاfa-s'awmaka bersegeralah kalian
- إِلَىٰilaakepada
- ذِكْرِdzikriperingatan
- اللَّهِllaahiAllah
- وَذَرُواwa-dzaruudan tinggalkanlah kalian
- الْبَيْعَl-bay'ajual beli
- ذَٰلِكُمْdzaalikumdemikian itu
- خَيْرٌkhayrunlebih baik
- لَكُمْlakumbagi kalian
- إِنْinjika
- كُنْتُمْkuntumkalian adalah
- تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui
Inti bacaan
Prioritas ibadah atas transaksi ekonomi: 'apabila (seruan) untuk melaksanakan salat pada hari perkumpulan telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli', penetapan jelas bahwa kegiatan ekonomi, betapa pun penting, harus dijeda demi kewajiban spiritual pada waktu yang ditentukan, disiplin prioritas yang konkret dan terukur.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(seruan)' tidak dipakai, tidak berpadanan kata Arab tersendiri (nuudiya sudah berarti 'diserukan'). 'Dzaalikum' dikonfirmasi morfologi sebagai kata ganti tunjuk jauh berakhiran '-kum', dikoreksi menjadi 'itulah' (bukan 'yang demikian itu' seperti draf).
Bentuk (الْجُمُعَةِ, al-jumu'ati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 62:9. Kata yang menjadi nama surah ini ternyata hanya tertulis satu kali di dalamnya, dan tidak muncul lagi di surah mana pun. Akarnya j-m-' berarti mengumpulkan, dan bentuk ini menamai hari itu lewat perkumpulannya, bukan lewat urutannya dalam pekan. Karena itu 'yawm al-jumu'ah' diterjemahkan 'hari perkumpulan', bukan dipinjam mentah sebagai nama hari. Terjemahan yang meminjamnya mentah akan menyembunyikan alasan penamaannya, padahal alasan itulah yang menjelaskan perintah di ayat ini.
Bentuk (فَاسْعَوْا, fa-s'aw) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 62:9. Akarnya s-'-y menyatakan gerak yang bersungguh-sungguh, bukan sekadar berpindah tempat. Terjemahan 'segeralah' membawa kesungguhan itu tanpa menambahkan gambaran berlari, yang tidak tertulis di teksnya. Yang perlu dicatat, kata ini dipakai untuk seluruh perikop dan bukan hanya untuk langkah kaki, sebab objeknya bukan tempat melainkan pekerjaan.
Objek perintahnya bukan salat, melainkan 'dzikrillaah'. Seruannya memang seruan untuk salat, tetapi yang diperintahkan disegerakan adalah mengingat Allah. Perbedaan itu dipertahankan dalam terjemahan. Menggantinya menjadi 'segeralah menuju salat' akan mempersempit yang disebut ayatnya, sebab salat menjadi salah satu bentuk mengingat, bukan seluruhnya.
Bentuk (وَذَرُوا, wa-dzaruu) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:278, 6:120, 7:180, dan 62:9. Di 2:278 yang diperintahkan ditinggalkan adalah sisa riba, dan di sini yang ditinggalkan justru jual beli yang halal. Kata perintah yang sama dipakai untuk dua hal yang kedudukannya jauh berbeda. Bedanya terletak pada jangka waktunya, yang satu selamanya dan yang satu sampai salat selesai, dan jangka itu tidak disebut oleh kata perintahnya melainkan oleh ayat sesudahnya.
Kata kerja (نُودِيَ, nuudiya) berbentuk pasif dan tidak menyebut siapa yang menyerukan. Terjemahan 'telah diserukan' mempertahankan kekosongan itu. Menyebut pelakunya akan menambahkan keterangan yang memang tidak ada di teks, dan sekaligus mempersempit perintahnya menjadi tergantung pada satu orang tertentu. Yang menjadi patokan bukan siapa yang menyerukan melainkan terdengarnya seruan itu.
Susunan 'min yawmi l-jumu'ah' memakai kata depan yang biasanya berarti 'dari', bukan 'pada'. Susunan seperti ini menandai bagian dari suatu keseluruhan, sehingga yang dimaksud adalah salat pada sebagian hari itu, bukan sepanjang harinya. Terjemahan 'pada hari perkumpulan' dipakai karena bahasa Indonesia tidak menyediakan padanan sependek itu untuk gagasan sebagian. Yang hilang dari terjemahan hanyalah penegasan bahwa yang diminta sebagian dari hari, dan sisanya justru dikembalikan oleh ayat berikutnya.
Tafsiran
Ayat ini memerintahkan meninggalkan jual beli demi memenuhi seruan salat pada hari perkumpulan. Yang diperintahkan ditinggalkan bukan sesuatu yang buruk. Jual beli pekerjaan yang halal, perlu, dan di banyak ayat lain justru dianjurkan. Karena itu perintah di sini bukan tentang memilih antara yang benar dan yang salah, melainkan tentang menaruh dua hal yang sama-sama benar pada urutannya.
Kata yang dipakai untuk perintah pertamanya menyatakan kesungguhan, bukan sekadar perpindahan. Yang diminta bukan hadir dengan badan, melainkan berangkat dengan seluruh perhatian. Dan objeknya bukan salat melainkan mengingat Allah, meskipun seruan yang terdengar adalah seruan salat. Salat menjadi bentuk yang paling jelas dari mengingat itu, bukan penggantinya.
Nama harinya sendiri sudah menjelaskan alasannya. Hari itu dinamai lewat perkumpulan, bukan lewat urutannya dalam pekan. Yang membuat hari itu berbeda bukan tanggalnya melainkan orang-orang yang berkumpul padanya. Perintah meninggalkan jual beli menjadi masuk akal begitu ini disadari, sebab jual beli adalah pekerjaan yang justru memisahkan orang menjadi dua pihak yang berhadapan.
Penutupnya tidak memakai bahasa perintah lagi melainkan bahasa perbandingan. Disebut bahwa itu lebih baik, lalu ditambahkan syarat 'jika kalian mengetahui'. Yang ditawarkan bukan kepatuhan buta, melainkan penilaian yang dibalik. Apa yang terasa sebagai kehilangan waktu dinyatakan sebagai pilihan yang lebih menguntungkan, dan syarat di ujungnya menaruh beban pada pengetahuan pembaca sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Allah memerintahkan segera mengingat-Nya ketika seruan salat terdengar. Bukan sekadar datang, dan bukan pula sekadar hadir tepat waktu. Kata yang dipakai menyatakan kesungguhan, sehingga yang diminta adalah berangkat dengan seluruh perhatian, bukan memindahkan badan sambil pikiran tertinggal di meja kerja. Menempatkan urusan itu di depan yang sedang dikerjakan berarti memutus sesuatu yang belum selesai. Justru pemutusan itulah bagian yang beratnya terasa, sebab pekerjaan hampir tidak pernah berada di titik yang enak untuk ditinggalkan.
- Allah menyebut yang ditinggalkan adalah jual beli, bukan kesenangan atau kesia-siaan. Pekerjaan yang halal, perlu, dan di tempat lain justru dianjurkan. Yang dihentikan sementara justru sesuatu yang benar. Karena itu perintah ini bukan tentang memilih antara yang baik dan yang buruk, melainkan tentang menaruh dua hal yang sama-sama baik pada urutannya. Ujian semacam ini lebih sulit daripada meninggalkan yang jelas keliru, sebab tidak ada rasa bersalah yang membantu mendorong.
- Allah menutup dengan menyebut itu lebih baik, lalu menambahkan syarat 'jika kalian mengetahui'. Perbandingannya dibuat, bukan perintahnya diulang. Yang terasa sebagai kehilangan waktu dinyatakan sebagai pilihan yang lebih menguntungkan. Syarat di ujungnya memindahkan beban kepada pembaca sendiri: kalimat itu tidak berkata 'patuhlah walau tak paham', melainkan 'kalian akan setuju kalau tahu'. Yang ditawarkan bukan kepatuhan buta melainkan penilaian yang dibalik arahnya.
- Hari itu dinamai lewat perkumpulan, bukan lewat urutannya dalam pekan. Yang membuatnya berbeda bukan tanggalnya melainkan orang-orang yang berkumpul padanya. Begitu ini disadari, perintah meninggalkan jual beli jadi masuk akal dengan sendirinya. Jual beli adalah pekerjaan yang menempatkan orang sebagai dua pihak yang berhadapan dan berbeda kepentingan. Allah meminta pekerjaan itu dijeda tepat pada hari yang seluruh namanya berarti berkumpul menjadi satu.
- Kata perintah 'tinggalkanlah' di ayat ini dipakai juga di beberapa tempat lain, dan di salah satunya yang diperintahkan ditinggalkan adalah sisa riba. Satu kata untuk dua hal yang kedudukannya jauh berbeda: yang satu terlarang, yang satu halal. Bedanya bukan pada kata perintahnya melainkan pada jangka waktunya, dan jangka itu baru disebut di ayat berikutnya. Artinya kata perintah dalam Quran tidak selalu membawa vonis tentang barangnya. Yang menentukan sering bukan kata kerjanya, melainkan keterangan waktu yang menyertainya.
- Seruan yang terdengar adalah seruan salat, tetapi yang diperintahkan disegerakan adalah mengingat Allah. Objek perintahnya tidak sama dengan bunyi seruannya, dan perbedaan itu dibiarkan berdiri. Salat menjadi bentuk yang paling jelas dari mengingat, bukan penggantinya. Kalau objeknya dipersempit menjadi salat, orang bisa merasa selesai begitu badannya sampai dan gerakannya benar. Kalau berapa lama saya berada di dalam salat bukan ukurannya, apa sebenarnya yang sedang diukur dari kedatangan saya?