فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila salat telah dilaksanakan, bertebaranlah kalian di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِfa-idzaa qudhiyati sh-shalaatu fa-ntasyiruu fii l-ardhiapabila salat telah dilaksanakan, bertebaranlah kalian di bumi
  2. وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَwa-btaghuu min fadhli llaahi wa-dzkuruu llaaha katsiiran la'allakum tuflihuunacarilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  2. قُضِيَتِqudhiyatiditunaikan
  3. الصَّلَاةُsh-shalaatusalat
  4. فَانْتَشِرُواfa-ntasyiruumaka bertebaranlah kalian
  5. فِيfiidi
  6. الْأَرْضِl-ardhibumi
  7. وَابْتَغُواwa-btaghuudan carilah kalian
  8. مِنْmindari
  9. فَضْلِfadhlikarunia
  10. اللَّهِllaahiAllah
  11. وَاذْكُرُواwa-dzkuruudan ingatlah kalian
  12. اللَّهَllaahaAllah
  13. كَثِيرًاkatsiiranbanyak
  14. لَعَلَّكُمْla'allakumagar kalian
  15. تُفْلِحُونَtuflihuunakalian beruntung

Inti bacaan

Keseimbangan setelah ibadah: 'apabila salat telah dilaksanakan, bertebaranlah kalian di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya', model integrasi antara kewajiban spiritual dan aktivitas duniawi, bukan pemisahan total melainkan urutan prioritas yang jelas: ibadah dahulu, baru kemudian aktivitas ekonomi dengan tetap membawa kesadaran spiritual.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memuat tiga perintah berturut-turut, dan ketiganya memakai bentuk jamak. Bentuk (فَانْتَشِرُوا, fa-ntasyiruu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 33:53 dan 62:10. Di 33:53 perintah itu diberikan kepada tamu yang sudah selesai makan supaya membubarkan diri. Di sini ia diberikan kepada orang yang sudah selesai salat. Dua-duanya menyuruh bubar sesudah suatu perkumpulan selesai, dan dua-duanya menolak berlama-lama pada tempat yang tugasnya sudah tuntas.

Kata 'fa-idzaa qudhiyati sh-shalaatu' memakai kata kerja pasif, yaitu 'telah ditunaikan', bukan 'kalian telah menunaikan'. Yang menjadi patokan bukan perasaan selesai pada masing-masing orang melainkan selesainya salat itu sendiri. Terjemahan 'apabila salat telah dilaksanakan' mempertahankan bentuk pasif tersebut. Menggantinya dengan bentuk aktif akan memindahkan patokannya kepada pelaku, padahal ayat ini justru menaruhnya di luar pelaku.

Frasa (مِنْ فَضْلِ اللَّهِ, min fadhli llaahi) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 12:38, 57:29, 62:10, dan 73:20. Yang paling dekat dengan ayat ini adalah 73:20, yang menyebut orang berjalan di bumi mencari karunia Allah dan menaruhnya dalam satu ayat bersama salat malam. Dua ayat itu memakai susunan yang sama untuk maksud yang sama, yaitu menempatkan pencarian nafkah berdampingan dengan ibadah, bukan berhadapan dengannya. Karena itu 'fadhl' di sini diterjemahkan 'karunia', bukan 'rezeki'. Kata 'rezeki' akan mempersempitnya menjadi urusan penghasilan, padahal kata yang dipakai adalah kata yang sama yang di ayat lain menamai kenabian.

Bentuk (وَاذْكُرُوا اللَّهَ, wa-dzkuruu llaaha) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:203, 8:45, dan 62:10. Di 8:45 perintah itu diberikan pada saat berhadapan dengan pasukan, dan di 2:203 pada hari-hari yang berbilang sesudah ibadah haji. Ketiganya menaruh perintah mengingat di tengah kesibukan, bukan di ruang yang sudah dikosongkan untuknya. Itu memperkuat bacaan bahwa 'katsiiran' di ayat ini menempel pada mengingat, bukan pada mencari.

Bentuk (لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ, la'allakum tuflihuuna) muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:189, 5:35, 8:45, 24:31, dan 62:10. Sebelas kemunculan itu tersebar di delapan surah, sebab beberapa surah memuatnya lebih dari sekali. Kata 'la'alla' menyatakan harapan, bukan jaminan. Terjemahan 'agar kalian beruntung' mempertahankan sifat itu, sebab ia menyebut tujuan tanpa menjanjikan hasilnya sebagai kepastian.

Tiga perintah di ayat ini memakai bentuk jamak dan disusun tanpa kata penghubung sebab-akibat. Bertebaranlah, carilah, dan ingatlah, ketiganya berdiri sejajar. Susunan sejajar itu penting, sebab kalau yang ketiga disambungkan sebagai akibat dari dua yang pertama, ia akan terbaca sebagai penutup yang dikerjakan sesudahnya. Yang dimaksud justru bersamaan, dan itu ditegaskan oleh keterangan 'sebanyak-banyaknya' yang menempel padanya sendiri.

Keterangan tempat 'fi l-ardh' diterjemahkan 'di bumi', bukan 'di muka bumi'. Tambahan 'muka' tidak berpadanan kata Arab dan cuma memanjangkan kalimat. Kata 'bumi' di sini berdiri sebagai lawan dari satu tempat berkumpul yang barusan ditinggalkan. Yang dinyatakan bukan luasnya perjalanan melainkan sebaran arah, sebab yang tadi berkumpul di satu titik sekarang diminta memencar ke banyak titik.

Tafsiran

Ayat ini menyeimbangkan ibadah dan kerja duniawi: sesudah salat, orang-orang beriman kembali menyebar mencari karunia Allah sembari tetap mengingat-Nya. Perintahnya ada tiga dan disebut berurutan. Bertebaranlah, carilah, dan ingatlah. Dua yang pertama tentang gerak di luar, yang ketiga tentang sesuatu yang dibawa serta ke dalam gerak itu.

Yang menarik, perintah pertamanya menyuruh bubar. Perkumpulan yang baru saja diperintahkan di ayat sebelumnya kini diperintahkan dibubarkan. Susunan ini menolak dua sikap sekaligus: meninggalkan perkumpulan karena dagangan, dan berlama-lama di perkumpulan sesudah tugasnya selesai. Keduanya sama-sama menaruh sesuatu di luar waktunya.

Yang dicari sesudah bubar diberi nama yang tidak biasa. Bukan disebut penghasilan atau rezeki, melainkan karunia Allah, kata yang sama yang di surah ini juga dipakai untuk kenabian. Pekerjaannya tetap sama, tempatnya tetap pasar, tetapi namanya diangkat. Orang yang berangkat mencari nafkah sesudah salat tidak sedang pindah dari urusan Allah ke urusan sendiri; ia sedang mencari sesuatu yang tetap bernama milik-Nya.

Perintah ketiganya yang menjaga dua yang pertama. Mengingat disebut menyertai pencarian, bukan menggantikannya, dan kata 'sebanyak-banyaknya' menempel pada mengingat, bukan pada mencari. Ukuran yang diminta banyak justru pada bagian yang tidak menghasilkan apa-apa secara kelihatan. Penutupnya kemudian memakai kata harapan, bukan jaminan, sehingga seluruh susunan ini ditawarkan sebagai jalan yang masuk akal untuk ditempuh, bukan sebagai rumus yang hasilnya dijaminkan di muka.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyuruh bertebaran sesudah salat, bukan berdiam diri lebih lama. Ibadah selesai, kerja dimulai. Keduanya diurutkan, bukan dipertentangkan, dan urutan itu berlaku dua arah. Ayat sebelumnya melarang dagangan memotong perkumpulan; ayat ini melarang perkumpulan berlama-lama sesudah tugasnya tuntas. Yang dijaga bukan salah satu dari keduanya, melainkan batas di antaranya, sebab menaruh sesuatu di luar waktunya sama merugikannya dari kedua arah.
  • Yang dicari sesudah bubar pun disebut karunia, bukan penghasilan. Kata yang dipakai sama dengan kata yang di surah ini menamai pengutusan. Pekerjaannya tetap sama dan tempatnya tetap pasar, tetapi namanya diangkat. Orang yang berangkat mencari nafkah sesudah salat tidak sedang berpindah dari urusan Allah ke urusan dirinya sendiri. Ia sedang mencari sesuatu yang tetap bernama milik-Nya, dan penamaan itu mengubah kedudukan seluruh harinya tanpa mengubah satu pun pekerjaannya.
  • Mengingat Allah disebut menyertai pencarian, bukan menggantikannya. Bertebar sambil mengingat, dua-duanya berjalan bersamaan. Dan kata 'sebanyak-banyaknya' menempel pada mengingat, bukan pada mencari. Ukuran yang diminta banyak justru pada bagian yang tidak menghasilkan apa pun yang bisa dihitung. Susunan ini menolak pembagian hari menjadi jam ibadah dan jam kerja, sebab yang ketiga tidak diberi jamnya sendiri melainkan diminta menemani dua yang lain.
  • Perintah pertama ayat ini menyuruh bubar, dan itu perintah yang jarang diperhatikan. Perkumpulan yang baru saja diwajibkan di ayat sebelumnya sekarang diperintahkan dibubarkan. Kata perintah yang sama dipakai di satu tempat lain untuk tamu yang sudah selesai makan. Keduanya menolak berlama-lama pada tempat yang tugasnya sudah tuntas. Ada kesalehan yang bentuknya justru berhenti tepat waktu, dan bagi sebagian orang itu lebih sulit daripada datang tepat waktu.
  • Kalimatnya berbunyi 'apabila salat telah ditunaikan', memakai bentuk pasif, bukan 'apabila kalian telah menunaikannya'. Yang menjadi patokan bukan perasaan selesai pada masing-masing orang melainkan selesainya salat itu sendiri. Allah menaruh penandanya di luar diri pelaku. Susunan seperti ini melindungi dua pihak sekaligus: yang merasa belum cukup lalu menahan diri terlalu lama, dan yang merasa sudah cukup padahal belum. Penanda yang ada di luar tidak bisa ditarik-ulur oleh suasana hati siapa pun.
  • Penutupnya memakai kata yang menyatakan harapan, bukan jaminan. Disebut 'agar kalian beruntung', bukan 'niscaya kalian beruntung'. Susunan yang dianjurkan ayat ini ditawarkan sebagai jalan yang masuk akal ditempuh, bukan sebagai rumus yang hasilnya dijaminkan di muka. Bentuk seperti ini menutup pintu bagi anggapan bahwa keberuntungan bisa dipesan dengan menjalankan urutan yang benar. Kalau hasilnya memang tidak dijanjikan sebagai kepastian, apa sebenarnya yang membuat susunan ini tetap pantas dijalani?