ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ

Yang demikian itu karena mereka beriman, kemudian kufur, maka hati mereka dikunci sehingga mereka tidak mengerti.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُواdzaalika bi-annahum aamanuu tsumma kafaruuyang demikian itu karena mereka beriman, kemudian kufur
  2. فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَfa-thubi'a 'alaa quluubihim fa-hum laa yafqahuunamaka hati mereka dikunci sehingga mereka tidak mengerti

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  2. بِأَنَّهُمْbi-annahumkarena sesungguhnya mereka
  3. آمَنُواaamanuuberiman
  4. ثُمَّtsummakemudian
  5. كَفَرُواkafaruukufur
  6. فَطُبِعَfa-thubi'amaka dikunci
  7. عَلَىٰ'alaaatas
  8. قُلُوبِهِمْquluubihimhati mereka
  9. فَهُمْfa-hummaka mereka
  10. لَاlaatidak
  11. يَفْقَهُونَyafqahuunamereka memahami

Inti bacaan

Konsekuensi bertahap dari inkonsistensi keimanan: 'mereka beriman, kemudian kufur, maka hati mereka dikunci sehingga mereka tidak mengerti', pengakuan bahwa bolak-balik antara iman dan kekufuran bukan tanpa dampak, pengerasan hati yang progresif sebagai konsekuensi dari ketidakkonsistenan spiritual yang berulang.

Penjelasan pilihan kata

'Dzaalika bi-anna' adalah susunan kausal ('yang demikian itu karena...'), berbeda dari pola 'dzaalika' yang langsung diikuti kata benda yang diterjemahkan 'itulah': dipertahankan 'yang demikian itu karena' sesuai fungsi gramatikalnya, tidak melanggar kaidah baku dzaalika→itulah yang khusus untuk pola yang satu lagi itu.

Rangkaian (آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا, aamanuu tsumma kafaruu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:137 dan 63:3. Di 4:137 rangkaian itu berdiri di dalam urutan yang lebih panjang, sebab di sana disebutkan berulang beriman lalu kufur lebih dari sekali. Di sini urutannya cuma dua langkah, dan langkah keduanya langsung disusul akibatnya.

Kata sambung di antara keduanya berarti 'kemudian', bukan 'lalu' yang rapat. Bentuk itu menandai jarak waktu, sehingga yang digambarkan bukan perubahan yang seketika melainkan yang berjarak. Terjemahan mempertahankan 'kemudian' dan tidak merapatkannya.

Kata (طُبِعَ, thubi'a) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:87 dan 63:3. Kata (قُلُوبِهِمْ, quluubihim) yang menjadi sasarannya justru sering dipakai, yaitu 36 kali di seluruh Al-Qur'an dan tersebar di dua puluh satu surah, antara lain di 2:7, 8:49, 9:87, dan 47:16. Jadi yang jarang bukan penyebutan hati mereka melainkan kata kerja yang dikenakan padanya. Bentuk kata kerja itu tidak menyebut pelakunya, sehingga yang dinyatakan bahwa hati itu dikunci tanpa dikatakan siapa yang menguncinya. Terjemahan menahan bentuk tersebut dengan 'dikunci', bukan 'Dia mengunci'.

Susunan sebab-akibatnya berlapis tiga dan disambung dua huruf yang sama. Mula-mula beriman lalu kufur, lalu hati dikunci, lalu mereka tidak mengerti. Jadi ketidakmengertian disebut sebagai akibat paling ujung, bukan sebagai sebab. Terjemahan menahan urutan itu dan tidak membalik hubungan keduanya.

Susunan seperti itu penting sebab ia menutup satu pembelaan yang wajar, yaitu bahwa mereka menolak karena tidak mengerti. Yang dinyatakan sebaliknya: mereka tidak mengerti karena sudah menolak lebih dulu.

Kata kerja terakhirnya berarti memahami dengan mendalam, bukan sekadar mengetahui. Terjemahan memakai 'mengerti', dan tidak menggantinya dengan 'mengetahui', sebab yang dinyatakan hilang bukan keterangan yang bisa disampaikan ulang melainkan kesanggupan menangkap maknanya.

Ayat ini juga menyambung 63:2 dengan kata tunjuk di pembukanya, yaitu 'yang demikian itu'. Yang ditunjuk perbuatan yang baru saja disebut, sehingga ayat ini tidak berdiri sendiri melainkan menerangkan sebab bagi apa yang mendahuluinya. Terjemahan menahan sambungan tersebut dan tidak memulai kalimat baru yang lepas.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang membuat mereka berbalik, tidak disebut berapa lama jarak di antara keduanya, dan tidak disebut apakah keadaan itu bisa berubah lagi. Yang disebut cuma urutannya. Menahan sisanya membuat ayat ini menerangkan sebuah proses, bukan memutuskan nasib orang tertentu.

Tafsiran

Ayat ini menelusuri akar kemunafikan: iman awal yang kemudian dikhianati, berujung pada hati yang terkunci dari pemahaman.

Letaknya menerangkan apa yang disebut dua ayat sebelumnya. Di 63:1 disebut ucapan mereka, di 63:2 kebiasaan mereka, dan di sini sebab keduanya.

Urutan yang dipakai dipakai juga di 4:137, tetapi di sana ia berdiri di dalam rangkaian yang lebih panjang karena beriman dan kufur disebut berulang lebih dari sekali. Di sini urutannya cuma dua langkah.

Kata sambung di antara keduanya menandai jarak waktu, sehingga yang digambarkan bukan perubahan yang seketika melainkan yang berjarak.

Kata kerja yang dipakai untuk akibat pertamanya dipakai 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:87 dan 63:3, sedangkan sasarannya dipakai 36 kali, antara lain di 2:7, 8:49, dan 47:16. Bentuk kata kerjanya tidak menyebut pelakunya.

Susunan sebab-akibatnya berlapis tiga: beriman lalu kufur, lalu hati dikunci, lalu tidak mengerti. Ketidakmengertian disebut sebagai akibat paling ujung, bukan sebagai sebab, dan susunan itu menutup pembelaan bahwa mereka menolak karena tidak mengerti.

Kata kerja terakhirnya berarti memahami dengan mendalam, bukan sekadar mengetahui, sehingga yang dinyatakan hilang bukan keterangan melainkan kesanggupan menangkap makna.

Pembukanya memakai kata tunjuk yang merujuk perbuatan di 63:2, sehingga ayat ini menerangkan sebab bagi apa yang mendahuluinya dan tidak berdiri sendiri.

Tidak disebut apa yang membuat mereka berbalik, dan tidak disebut apakah keadaan itu bisa berubah lagi.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut mereka beriman lebih dulu, baru kufur. Jadi yang dibicarakan bukan orang yang tidak pernah sampai kepadanya, melainkan orang yang pernah sampai lalu berbalik. Urutan itu dipakai 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:137 dan 63:3. Kata sambung di antaranya menandai jarak waktu, bukan perubahan seketika, sehingga yang digambarkan sebuah perjalanan yang punya tengah, bukan satu keputusan yang diambil dalam sekejap. Yang berjarak itulah yang paling sulit disadari pelakunya sendiri.
  • Akibat pertamanya disebut dengan bentuk yang tidak menyebut pelakunya: hati itu dikunci, tanpa dikatakan siapa yang menguncinya. Kata kerjanya dipakai 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:87 dan 63:3, sedangkan hati yang menjadi sasarannya disebut 36 kali, antara lain di 2:7, 8:49, dan 47:16. Terjemahan menahan bentuk itu. Tidak menyebut pelakunya membuat kalimatnya berhenti pada kejadiannya, dan pembacanya tidak diberi bahan untuk memperdebatkan siapa yang harus disalahkan atas keadaan tersebut. Yang disebut cuma bahwa hal itu menyusul, dan menyusul sesudah sesuatu yang mereka kerjakan sendiri.
  • Ketidakmengertian disebut Allah sebagai akibat paling ujung, bukan sebagai sebab. Susunan itu menutup satu pembelaan yang wajar, yaitu bahwa mereka menolak karena tidak mengerti. Yang dinyatakan justru sebaliknya. Kata kerja terakhirnya berarti memahami dengan mendalam, bukan sekadar mengetahui, sehingga yang hilang bukan keterangan yang bisa disampaikan ulang melainkan kesanggupan menangkap maknanya. Keterangan yang sama bisa sampai ke telinga dua orang dan cuma berhenti di salah satunya.
  • Susunan sebab-akibatnya berlapis tiga dan disambung dua huruf yang sama: beriman lalu kufur, maka hati dikunci, sehingga tidak mengerti. Tidak ada satu pun keterangan tambahan di antara lapisan-lapisan itu. Allah menyusunnya rapat sehingga tiap lapis terbaca sebagai akibat langsung dari lapis sebelumnya, dan kerapatan itu sendiri yang menerangkan bahwa jaraknya tidak sejauh yang mungkin disangka pelakunya. Allah tidak menyisipkan apa pun di antara ketiganya.
  • Di 4:137 urutan yang sama berdiri di dalam rangkaian yang lebih panjang, sebab di sana beriman dan kufur disebut berulang lebih dari sekali. Di sini cukup dua langkah, dan langkah keduanya langsung disusul akibatnya. Allah tidak selalu menunggu pengulangan sebelum menyebut akibat; di ayat ini sekali berbalik sudah cukup untuk menerangkan keadaan yang menyusul, dan itu membuat peringatannya berlaku lebih awal daripada yang disangka orang.
  • Apa yang membuat mereka berbalik? Ayat ini tidak menyebutnya, tidak menyebut berapa lama jaraknya, dan tidak menyebut apakah keadaan itu masih bisa berubah. Yang dinyatakan cuma urutannya. Menahan ketiganya membuat ayat ini menerangkan sebuah proses, bukan memutuskan nasib orang tertentu, dan proses yang diterangkan bisa dikenali oleh siapa pun yang memeriksa dirinya sendiri. Yang tidak diputuskan Allah di sini justru nasib orang per orang.