وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah, agar Rasul Allah memohonkan ampunan bagi kalian,” mereka membuang muka dan engkau melihat mereka menolak sambil menyombongkan diri.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِwa-idzaa qiila lahum ta'aalaw yastaghfir lakum rasuulu llaahiapabila dikatakan kepada mereka, 'marilah, agar Rasul Allah memohonkan ampunan bagi kalian'
- لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَlawwaw ru'uusahum wa-ra'aytahum yashudduuna wa-hum mustakbiruunamereka membuang muka dan engkau melihat mereka menolak sambil menyombongkan diri
Terjemahan per kata (14 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- قِيلَqiiladikatakan
- لَهُمْlahumkepada mereka
- تَعَالَوْاta'aalawmarilah kalian
- يَسْتَغْفِرْyastaghfirmemohon ampun
- لَكُمْlakumbagi kalian
- رَسُولُrasuulurasul
- اللَّهِllaahiAllah
- لَوَّوْاlawwawmereka memalingkan
- رُءُوسَهُمْru'uusahumkepala mereka
- وَرَأَيْتَهُمْwa-ra'aytahumdan engkau melihat mereka
- يَصُدُّونَyashudduunamereka menghalangi
- وَهُمْwa-humdan mereka
- مُسْتَكْبِرُونَmustakbiruunaorang-orang yang menyombongkan diri
Inti bacaan
Penolakan terhadap tawaran pengampunan: 'marilah agar Rasul Allah memohonkan ampunan bagi kalian, mereka membuang muka. sambil menyombongkan diri', gambaran tragis penolakan terhadap kesempatan perbaikan diri karena kesombongan, peringatan bahwa keangkuhan bisa menghalangi seseorang dari peluang yang jelas menguntungkan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(beriman)' dan '(ajakan itu)' tidak dipakai. 'Rasuulu llaahi' diselaraskan menjadi 'Rasul Allah' (bukan bentuk gabungan seperti draf) untuk konsistensi lintas ayat dalam rangkaian ini, muncul juga di 63:1 dan 63:7.
Rangkaian (لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ, lawwaw ru'uusahum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 63:5. Yang digambarkan gerakan kepala, bukan ucapan. Jadi penolakan mereka disebut lewat isyarat badan, dan isyarat badan tidak bisa dibantah dengan mengatakan bahwa maksudnya lain.
Ayat ini menyusun tiga tanda penolakan yang berurutan, yaitu memalingkan kepala, berpaling, dan menyombongkan diri. Yang pertama gerakan, yang kedua tindakan, dan yang ketiga sikap. Terjemahan menahan urutan itu dan tidak menggabungkan ketiganya menjadi satu keterangan.
Kata (مُسْتَكْبِرُونَ, mustakbiruuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:22 dan 63:5. Di 16:22 kata itu menyifati orang yang hatinya mengingkari akhirat; di sini ia menyifati orang yang menolak dimintakan ampun. Dua tempat yang berbeda perkaranya, tetapi sama-sama menyangkut penolakan terhadap sesuatu yang datang dari luar dirinya.
Yang ditolak patut diperhatikan. Yang ditawarkan bukan hukuman dan bukan tuntutan, melainkan permohonan ampun dari Rasul untuk mereka. Jadi yang ditolak justru sesuatu yang menguntungkan mereka sendiri dan tidak menuntut apa pun selain datang.
Ayat ini juga memakai bentuk pengandaian di pembukanya, yaitu 'apabila dikatakan kepada mereka'. Yang dinyatakan bukan satu peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu melainkan keadaan yang berulang setiap kali ajakan itu disampaikan. Bentuk yang sama dipakai di 63:1 untuk menggambarkan kedatangan mereka, sehingga dua ayat di surah ini sama-sama membuka dengan keadaan yang berulang, bukan dengan kejadian tunggal.
Ajakannya pun berupa satu kata, yaitu 'marilah'. Terjemahan menahan kependekan itu dan tidak memperpanjangnya dengan keterangan, sebab yang diminta memang cuma bergerak mendekat, bukan mengerjakan sesuatu yang berat.
Kata kerja yang menyebut Rasul memohonkan ampun berbentuk yang menyatakan tujuan, sehingga permohonan itu belum terjadi dan bergantung pada kedatangan mereka. Yang menghalangi bukan penolakan Rasul melainkan penolakan mereka sendiri.
Sebutan bagi yang akan memohonkan ampun dipakai lengkap, yaitu Rasul Allah, bukan kata ganti. Padahal orang yang dimaksud sudah disebut di 63:1 dengan sebutan yang sama. Pengulangan sebutan lengkap itu ditahan terjemahan, sebab ia menegaskan kedudukan yang justru sedang ditolak mereka: yang menawarkan bukan sembarang orang.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang mengajak, tidak disebut kapan, dan tidak disebut apa akibat penolakan itu bagi mereka. Yang disebut cuma tawaran dan tiga tanda penolakannya. Menahan sisanya membuat ayat ini berupa gambaran tentang sikap, bukan catatan tentang satu peristiwa.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan penolakan sombong orang munafik bahkan terhadap tawaran permohonan ampunan dari Rasul sendiri.
Letaknya melanjutkan 63:4 dengan berpindah dari gambaran tentang mereka ke sebuah adegan yang melibatkan mereka. Di ayat sebelumnya mereka digambarkan dari luar; di sini mereka ditawari sesuatu dan menolaknya.
Yang ditawarkan bukan hukuman dan bukan tuntutan, melainkan permohonan ampun dari Rasul untuk mereka, dan ajakannya berupa satu kata saja.
Kata kerja yang menyebut permohonan itu berbentuk yang menyatakan tujuan, sehingga permohonannya belum terjadi dan bergantung pada kedatangan mereka. Yang menghalangi bukan penolakan Rasul.
Tiga tanda penolakan disusun berurutan: memalingkan kepala, berpaling, lalu menyombongkan diri. Yang pertama gerakan, yang kedua tindakan, dan yang ketiga sikap.
Gerakan kepalanya disebut dengan rangkaian yang tidak dipakai di tempat lain mana pun, sedangkan sifat terakhirnya dipakai 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:22 dan 63:5. Di 16:22 sifat itu menyifati orang yang hatinya mengingkari akhirat.
Sebutan bagi yang akan memohonkan ampun dipakai lengkap, bukan kata ganti, padahal orang yang dimaksud sudah disebut di 63:1 dengan sebutan yang sama.
Tidak disebut siapa yang mengajak, dan tidak disebut apa akibat penolakan itu bagi mereka.
Renungan dan Hikmah
- Yang ditawarkan kepada mereka bukan hukuman dan bukan tuntutan, melainkan permohonan ampun dari Rasul untuk mereka sendiri. Ajakannya pun berupa satu kata saja, yaitu marilah. Yang diminta cuma bergerak mendekat, bukan mengerjakan sesuatu yang berat. Allah menaruh tawaran yang paling ringan syaratnya dan paling besar manfaatnya bagi yang menerimanya, lalu memperlihatkan bahwa yang seringan itu pun bisa ditolak. Yang menolak tawaran seperti itu tidak sedang menghitung untung rugi.
- Penolakan mereka digambarkan lewat gerakan kepala, bukan lewat ucapan. Rangkaian itu tidak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an, hanya di 63:5. Isyarat badan tidak bisa dibantah dengan mengatakan bahwa maksudnya lain, dan ia juga tidak menuntut keberanian mengucapkan penolakan secara terbuka. Yang dipilih justru cara menolak yang paling mudah diingkari kalau ditanyakan kemudian, dan itu sejalan dengan cara mereka memakai sumpah sebagai perisai di 63:2.
- Tiga tanda penolakan disusun berurutan: memalingkan kepala, berpaling, lalu menyombongkan diri. Yang pertama gerakan, yang kedua tindakan, dan yang ketiga sikap. Terjemahan menahan urutan itu tanpa menggabungkan ketiganya. Sifat terakhirnya dipakai 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:22 dan 63:5, dan di kedua tempat ia menyangkut penolakan terhadap sesuatu yang datang dari luar diri mereka. Allah menaruh sikap itu sebagai yang terakhir, sesudah dua tanda yang bisa dilihat mata.
- Kata kerja yang menyebut Rasul memohonkan ampun berbentuk yang menyatakan tujuan, sehingga permohonan itu belum terjadi dan bergantung pada kedatangan mereka. Yang menghalangi bukan penolakan Rasul melainkan penolakan mereka sendiri. Allah tidak menutup pintunya dari sisi sana; yang tertutup dari sisi ini. Susunan begitu menaruh seluruh hambatannya pada pihak yang dirugikan olehnya, sehingga tak ada yang bisa dituntut selain dirinya sendiri.
- Sepanjang lima ayat pertama surah ini, golongan yang dibicarakan digambarkan lewat apa yang mereka ucapkan. Di ayat ini mereka digambarkan lewat apa yang mereka gerakkan. Perpindahan itu berarti: ucapan bisa disusun untuk menyenangkan pendengar, sedangkan gerakan badan lebih sulit disusun. Allah menutup rangkaian ini dengan tanda yang paling tidak bisa diatur pelakunya, yaitu gerakan yang keluar sebelum sempat dipikirkan.
- Apa akibat penolakan itu bagi mereka? Ayat ini tidak menyebutnya, tidak menyebut siapa yang mengajak, dan tidak menyebut kapan. Yang dinyatakan cuma tawaran dan tiga tanda penolakannya. Menahan ketiganya membuat ayat ini berupa gambaran tentang sikap, bukan catatan tentang satu peristiwa, dan gambaran tentang sikap bisa dikenali kembali oleh siapa pun yang pernah menolak sesuatu yang sebenarnya menguntungkannya. Yang ditahan Allah justru bagian yang akan membuat pembacanya merasa aman karena bukan dirinya yang dimaksud.