هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنْفِقُوا عَلَىٰ مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّىٰ يَنْفَضُّوا ۗ وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ
Merekalah yang berkata, “Janganlah kalian berinfak kepada orang-orang yang ada di sisi Rasul Allah sampai mereka bubar,” padahal milik Allahlah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik tidak mengerti.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنْفِقُوا عَلَىٰ مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّىٰ يَنْفَضُّواhumu lladziina yaquuluuna laa tunfiquu 'alaa man 'inda rasuuli llaahi hattaa yanfadhdhuumerekalah yang berkata, 'janganlah kalian berinfak kepada orang-orang yang ada di sisi Rasul Allah sampai mereka bubar'
- وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَwa-li-llaahi khazaa'inu s-samaawaati wa-l-ardhi wa-laakinna l-munaafiqiina laa yafqahuunapadahal milik Allahlah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik tidak mengerti
Terjemahan per kata (20 kata)
- هُمُhumumerekalah
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- يَقُولُونَyaquuluunamereka berkata
- لَاlaajanganlah
- تُنْفِقُواtunfiquukalian nafkahkan
- عَلَىٰ'alaaatas
- مَنْmanorang yang
- عِنْدَ'indadi sisi
- رَسُولِrasuulirasul
- اللَّهِllaahiAllah
- حَتَّىٰhattaasampai
- يَنْفَضُّواyanfadhdhuumereka bubar
- وَلِلَّهِwa-li-llaahidan milik Allah
- خَزَائِنُkhazaa'inuperbendaharaan
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- وَلَٰكِنَّwa-laakinnatetapi
- الْمُنَافِقِينَl-munaafiqiinaorang-orang munafik
- لَاlaatidak
- يَفْقَهُونَyafqahuunamereka memahami
Inti bacaan
Strategi jahat menghalangi bantuan: 'janganlah kalian berinfak kepada orang-orang yang ada di sisi Rasul Allah sampai mereka bubar. Padahal milik Allahlah perbendaharaan langit dan bumi', kritik terhadap upaya mengendalikan sumber daya untuk melemahkan komunitas yang dibenci, dipatahkan dengan pengingat bahwa kekayaan sejati sepenuhnya berada di luar kendali manusia manapun.
Penjelasan pilihan kata
'Rasuulu llaahi' diselaraskan menjadi 'Rasul Allah' (bukan bentuk gabungan seperti draf), sama seperti penyelarasan di 63:5.
Ucapan mereka dikutip langsung, dan isinya seruan supaya orang berhenti berinfak. Yang disasar bukan Rasul melainkan orang-orang yang ada di sisinya, dan tujuannya disebut terang-terangan, yaitu supaya mereka bubar. Terjemahan menahan kutipan itu apa adanya tanpa memperhalus maksudnya.
Cara yang dipakai bukan larangan dan bukan ancaman, melainkan menghentikan aliran bantuan. Ini melanjutkan pola yang sudah disebut 63:2, ketika sumpah dipakai sebagai perisai. Dua-duanya memakai alat yang tampak sah: yang satu sumpah, yang lain keputusan tidak memberi.
Kata (خَزَائِنُ, khazaa'inu) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:50, 11:31, 15:21, 38:9, 52:37, dan 63:7. Di beberapa tempat itu kata tersebut dipakai di dalam bantahan terhadap orang yang mengira dirinya memegang persediaan, dan di sini ia dipakai untuk menyatakan siapa pemilik persediaan yang sesungguhnya.
Bantahannya tidak berupa perintah balasan. Tidak dikatakan agar orang beriman melawan atau membalas; yang dikatakan bahwa perbendaharaan langit dan bumi milik Allah. Jadi yang dipatahkan bukan perbuatannya melainkan anggapan yang melandasinya, yaitu bahwa sumber penghidupan berada di tangan mereka.
Rangkaian (وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ, wa-laakinna l-munaafiqiina) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 63:7 dan 63:8, dua ayat yang berurutan. Rangkaian (لَا يَفْقَهُونَ, laa yafqahuuna) muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:179, 8:65, 9:87, 9:127, 48:15, 59:13, 63:3, dan 63:7. Delapan kemunculan itu tersebar di enam surah, sebab Surah 9 memuatnya dua kali.
Surah ini memakai kata terakhir itu dua kali, yaitu di 63:3 dan 63:7. Di 63:3 ketidakmengertian disebut sebagai akibat hati yang dikunci; di sini ia disebut sebagai sebab mereka menyangka persediaan ada di tangan sendiri. Jadi satu keadaan yang sama diterangkan dua kali dari dua sisi, sekali dari asalnya dan sekali dari akibatnya.
Kata yang membuka ayat ini menegaskan pelakunya, yaitu 'merekalah yang berkata'. Bentuk itu memakai kata ganti pemisah, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar bahwa ada yang berkata begitu melainkan bahwa merekalah pengucapnya. Terjemahan menahan penegasan tersebut, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 63:4 ketika mereka disebut sebagai musuh.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang berkata, tidak disebut apakah seruan itu dituruti, dan tidak disebut apa yang terjadi pada orang-orang yang disasar. Yang disebut cuma ucapannya dan bantahannya. Menahan sisanya membuat ayat ini menerangkan cara berpikir, bukan hasil sebuah peristiwa.
Tafsiran
Ayat ini mengungkap taktik ekonomi orang munafik untuk memutus dukungan finansial bagi orang-orang di sisi Rasul, padahal seluruh perbendaharaan langit dan bumi adalah milik Allah.
Letaknya melanjutkan 63:6 dengan berpindah dari keadaan mereka ke perbuatan mereka. Di ayat sebelumnya disebut bahwa permohonan ampun tidak mengubah apa pun bagi mereka; di sini disebut apa yang mereka kerjakan terhadap orang lain.
Cara yang dipakai bukan larangan dan bukan ancaman, melainkan menghentikan aliran bantuan, dan itu melanjutkan pola yang sudah disebut 63:2 ketika sumpah dipakai sebagai perisai.
Bantahannya tidak berupa perintah balasan. Yang dikatakan bahwa perbendaharaan langit dan bumi milik Allah, sehingga yang dipatahkan bukan perbuatannya melainkan anggapan yang melandasinya.
Kata untuk perbendaharaan itu dipakai 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:50, 11:31, 15:21, 38:9, 52:37, dan 63:7.
Penutupnya memakai rangkaian yang dipakai 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 63:7 dan 63:8, dua ayat yang berurutan.
Kata terakhirnya dipakai dua kali di surah ini, yaitu di 63:3 dan 63:7. Di 63:3 ketidakmengertian disebut sebagai akibat hati yang dikunci; di sini sebagai sebab mereka menyangka persediaan ada di tangan sendiri.
Kata yang membuka ayat ini memakai kata ganti pemisah yang menegaskan pelakunya, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 63:4 ketika mereka disebut sebagai musuh.
Tidak disebut siapa yang berkata, dan tidak disebut apakah seruan itu dituruti.
Renungan dan Hikmah
- Cara yang mereka pakai bukan larangan dan bukan ancaman, melainkan menghentikan aliran bantuan sampai orang bubar sendiri. Tujuannya disebut terang-terangan di dalam kutipan itu. Alat yang dipakai tampak sah, sebab tidak memberi bukan pelanggaran apa pun. Ini melanjutkan pola di 63:2 ketika sumpah dipakai sebagai perisai: dua-duanya memilih alat yang tak bisa dituntut, dan itulah yang membuat golongan ini sukar dihadapi secara terbuka. Yang tidak melanggar aturan tidak bisa dituntut dengan aturan.
- Allah tidak menyuruh orang beriman melawan atau membalas. Yang dikatakan cuma bahwa perbendaharaan langit dan bumi milik-Nya. Jadi yang dipatahkan bukan perbuatan mereka melainkan anggapan yang melandasinya, yaitu bahwa sumber penghidupan berada di tangan mereka. Membantah anggapannya lebih tuntas daripada membalas perbuatannya, sebab perbuatan bisa diulang sedangkan anggapan yang runtuh tidak menyisakan alasan untuk mengulanginya. Allah memilih membantah pangkalnya, bukan cabangnya.
- Kata untuk perbendaharaan dipakai 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:50, 11:31, 15:21, 38:9, 52:37, dan 63:7. Di beberapa tempat itu ia berdiri di dalam bantahan terhadap orang yang mengira dirinya memegang persediaan. Di sini Allah menyatakan siapa pemiliknya. Yang mengancam memutus bantuan sedang memperlakukan dirinya sebagai pemegang persediaan, dan justru anggapan itulah yang dibantah dengan menyebut pemilik yang sebenarnya. Yang mengira memegang keran ternyata cuma berdiri di dekatnya.
- Kata terakhir ayat ini dipakai dua kali di surah ini, yaitu di 63:3 dan 63:7, dan seluruhnya 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:179, 8:65, 9:87, 9:127, 48:15, 59:13, 63:3, dan 63:7. Di 63:3 ketidakmengertian disebut sebagai akibat hati yang dikunci; di sini sebagai sebab mereka menyangka persediaan ada di tangan sendiri. Allah menerangkan satu keadaan dari dua sisi, sekali dari asalnya dan sekali dari akibatnya, dan dua penyebutan itu berjarak empat ayat di dalam surah yang sama.
- Seruan mereka tidak ditujukan kepada Rasul melainkan kepada orang-orang yang ada di sisinya. Yang hendak dibubarkan barisannya, bukan pemimpinnya. Cara begitu tidak menuntut keberanian berhadapan langsung, dan hasilnya pun tidak bisa dilacak kepada seorang pelaku. Allah mengutip ucapannya utuh, sehingga yang terbaca bukan tuduhan atas niat melainkan rencana yang mereka nyatakan sendiri. Kutipan tidak menuntut pembuktian niat; ia cuma mengulang apa yang keluar dari mulutnya.
- Apakah seruan itu dituruti, dan apa yang terjadi pada orang-orang yang disasar? Ayat ini tidak menyebut keduanya, dan tidak menyebut siapa yang berkata. Yang dinyatakan cuma ucapannya dan bantahannya. Menahan ketiganya membuat ayat ini menerangkan cara berpikir, bukan hasil sebuah peristiwa, dan cara berpikir bisa dikenali kembali meski keadaannya sudah lain sama sekali, sebab yang berulang bukan bentuk kejadiannya melainkan cara menimbangnya.