يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ ۚ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Mereka berkata, “Sungguh, jika kita kembali ke Madinah, pastilah yang lebih digdaya akan mengusir yang lebih hina dari sana,” padahal kedigdayaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّyaquuluuna la-in raja'naa ilaa l-madiinati la-yukhrijanna l-a'azzu minhaa l-adzallamereka berkata, 'sungguh, jika kita kembali ke Madinah, pastilah yang lebih digdaya akan mengusir yang lebih hina dari sana'
- وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَwa-li-llaahi l-'izzatu wa-li-rasuulihi wa-li-l-mu'miniina wa-laakinna l-munaafiqiina laa ya'lamuunapadahal kedigdayaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui
Terjemahan per kata (17 kata)
- يَقُولُونَyaquuluunamereka berkata
- لَئِنْla-insungguh jika
- رَجَعْنَاraja'naakami kembali
- إِلَىilaakepada
- الْمَدِينَةِl-madiinatikota
- لَيُخْرِجَنَّla-yukhrijannasungguh akan mengusir
- الْأَعَزُّl-a'azzuyang paling mulia
- مِنْهَاminhaadarinya
- الْأَذَلَّl-adzallayang paling hina
- وَلِلَّهِwa-li-llaahidan milik Allah
- الْعِزَّةُl-'izzatukemuliaan
- وَلِرَسُولِهِwa-li-rasuulihidan bagi Rasul-Nya
- وَلِلْمُؤْمِنِينَwa-li-l-mu'miniinadan bagi orang-orang beriman
- وَلَٰكِنَّwa-laakinnatetapi
- الْمُنَافِقِينَl-munaafiqiinaorang-orang munafik
- لَاlaatidak
- يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui
Inti bacaan
Klaim superioritas yang keliru: 'jika kita kembali ke Madinah, pastilah yang lebih digdaya akan mengusir yang lebih hina dari sana, padahal kedigdayaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin', koreksi tegas terhadap asumsi keliru bahwa kekuatan sosial atau politik menentukan kemuliaan sejati, sumber kedigdayaan sesungguhnya bukan berasal dari status duniawi.
Penjelasan pilihan kata
Ucapan mereka dikutip langsung dan berbentuk pengandaian yang bersumpah, yaitu 'sungguh, jika kita kembali'. Isinya ancaman tentang siapa yang akan mengusir siapa. Terjemahan menahan bentuk sumpah itu dan tidak melunakkannya menjadi perkiraan biasa.
Kata (الْأَعَزُّ, al-a'azzu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 63:8. Bentuknya bentuk perbandingan yang menyatakan paling, dan ia dipakai mereka untuk menyebut diri sendiri tanpa menamai siapa pun. Lawannya disebut dengan bentuk yang sepadan susunannya, sehingga ucapan itu tersusun dari dua sebutan yang keduanya tidak menunjuk nama.
Cara menyebut begitu membuat ancamannya bisa diingkari kalau ditanyakan. Ini sejalan dengan dua cara mereka yang sudah disebut sebelumnya, yaitu sumpah sebagai perisai di 63:2 dan menolak lewat gerakan kepala di 63:5. Ketiganya memilih bentuk yang tidak bisa dipegang sebagai bukti.
Rangkaian (وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ, wa-lillaahi l-'izzatu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 63:8. Kata (الْعِزَّةُ, al-'izzatu) berkata sandang sendiri muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:206, 4:139, 10:65, 35:10, 37:180, dan 63:8. Angka itu menghitungnya lintas ujung i'rab; yang berujung seperti di ayat ini ada tiga. Jadi yang jarang bukan katanya melainkan pernyataan kepemilikannya.
Bantahannya memakai kata yang sama dengan yang mereka pakai, yaitu kata yang berarti digdaya. Mereka memakainya untuk menyebut diri sendiri; Allah memakainya untuk menyebut milik siapa ia sesungguhnya. Satu kata dipakai dua pihak dengan dua maksud yang berlawanan, dan bantahan itu tidak mengganti kosakatanya melainkan mengembalikannya kepada pemiliknya.
Yang disebut memiliki kedigdayaan ada tiga, yaitu Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Urutannya menurun dari yang paling tinggi, dan orang mukmin disebut ikut memilikinya. Jadi bantahannya tidak berhenti pada menyatakan siapa yang benar-benar digdaya, melainkan juga menyebut bahwa pihak yang mereka anggap hina justru termasuk pemiliknya.
Kata kerja pembukanya berbentuk berlangsung, yaitu 'mereka berkata', bukan bentuk lampau. Yang dikabarkan karena itu bukan satu ucapan yang pernah terjadi melainkan sesuatu yang mereka katakan berulang. Bentuk yang sama dipakai di 63:7, sehingga dua ayat berurutan sama-sama mengabarkan ucapan yang berulang, bukan dua peristiwa tunggal.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang mereka maksud dengan kedua sebutan itu, tidak disebut kapan kembalinya, dan tidak disebut apakah ancaman itu terlaksana. Yang disebut cuma ucapannya dan bantahannya. Menahan sisanya membuat pembacanya menimbang cara berpikirnya, bukan menelusuri sebuah kejadian.
Tafsiran
Ayat ini mencatat ancaman kesombongan orang munafik terhadap orang-orang beriman, dibantah tegas bahwa kedigdayaan sejati hanya milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin.
Letaknya melanjutkan 63:7 dengan berpindah dari ancaman ekonomi ke ancaman kedudukan. Di ayat sebelumnya mereka hendak memutus bantuan; di sini mereka mengancam pengusiran.
Ucapannya dikutip langsung dan berbentuk pengandaian yang bersumpah, dan terjemahan menahan bentuk itu tanpa melunakkannya.
Sebutan yang mereka pakai untuk diri sendiri tidak dipakai di tempat lain mana pun, dan bentuknya bentuk perbandingan yang menyatakan paling. Lawannya disebut dengan susunan yang sepadan, sehingga keduanya tidak menunjuk nama dan ancamannya bisa diingkari kalau ditanyakan.
Cara begitu sejalan dengan dua cara mereka yang sudah disebut, yaitu sumpah sebagai perisai di 63:2 dan menolak lewat gerakan kepala di 63:5.
Bantahannya memakai kata yang sama dengan yang mereka pakai. Kata itu berkata sandang dipakai 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:206, 4:139, 10:65, 35:10, 37:180, dan 63:8, sedangkan pernyataan kepemilikannya tidak dipakai di tempat lain mana pun.
Yang disebut memilikinya ada tiga, dan orang mukmin termasuk di antaranya, sehingga pihak yang mereka anggap hina justru disebut sebagai pemiliknya.
Kata kerja pembukanya berbentuk berlangsung, bukan lampau, sehingga yang dikabarkan sesuatu yang mereka katakan berulang. Bentuk yang sama dipakai di 63:7.
Tidak disebut siapa yang mereka maksud, dan tidak disebut apakah ancaman itu terlaksana.
Renungan dan Hikmah
- Mereka menyebut diri sendiri dan lawannya dengan dua sebutan yang keduanya tidak menunjuk nama. Sebutan untuk diri sendiri itu tidak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an, hanya di 63:8. Cara begitu membuat ancamannya bisa diingkari kalau ditanyakan, dan itu sejalan dengan sumpah sebagai perisai di 63:2 serta gerakan kepala di 63:5. Tiga kali surah ini memperlihatkan pilihan bentuk yang tidak bisa dipegang sebagai bukti, dan Allah tetap mengutip ketiganya.
- Allah membantah dengan kata yang sama yang mereka pakai, yaitu kata yang berarti digdaya. Mereka memakainya untuk menyebut diri sendiri; Allah memakainya untuk menyebut milik siapa ia sesungguhnya. Pernyataan kepemilikan itu tidak ada di tempat lain mana pun, sedangkan katanya sendiri dipakai 6 kali, yaitu di 2:206, 4:139, 10:65, 35:10, 37:180, dan 63:8. Bantahannya tidak mengganti kosakatanya melainkan mengembalikannya kepada pemiliknya, sehingga yang tersisa bagi mereka cuma kata yang bukan miliknya.
- Yang disebut memiliki kedigdayaan ada tiga: Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Pihak yang mereka anggap paling hina justru disebut ikut memilikinya. Jadi bantahannya tidak berhenti pada menyatakan siapa yang benar-benar digdaya, melainkan membalik seluruh susunan yang mereka bayangkan. Yang mereka kira berada di bawah ternyata berdiri di dalam daftar yang sama dengan yang mereka akui paling tinggi, dan itu membatalkan seluruh perbandingan yang mereka susun.
- Di 63:7 mereka hendak memutus bantuan; di sini mereka mengancam pengusiran. Dua ayat berurutan memperlihatkan dua jenis tekanan, yang satu menyangkut penghidupan dan yang lain menyangkut tempat tinggal. Allah menaruh keduanya berdampingan lalu membantah keduanya dengan cara yang sama, yaitu menyebut siapa pemilik yang sesungguhnya, sekali atas perbendaharaan dan sekali atas kedigdayaan. Dua ancaman yang berbeda dijawab dengan satu bentuk jawaban yang sama.
- Ucapan mereka berbentuk pengandaian yang bersumpah tentang sesuatu yang belum terjadi. Terjemahan menahan bentuk itu. Bersumpah atas kejadian yang belum ada berbeda dari bersumpah atas kejadian yang sudah lewat: yang pertama tidak bisa didustakan pada saat diucapkan, dan itu membuatnya aman bagi pengucapnya. Golongan ini memang berulang kali memilih bentuk yang tidak menanggung risiko, dan surah ini mencatat pilihan itu tanpa sekali pun menuduh melampaui yang terucap.
- Apakah ancaman itu terlaksana? Ayat ini tidak menyebutnya, tidak menyebut siapa yang mereka maksud, dan tidak menyebut kapan kembalinya. Yang dinyatakan cuma ucapannya dan bantahannya. Menahan ketiganya membuat pembacanya menimbang cara berpikirnya, bukan menelusuri sebuah kejadian. Yang dibantah Allah anggapannya, dan anggapan tidak menjadi benar atau salah karena terlaksana atau tidaknya. Yang keliru sejak dipikirkan tetap keliru meski kebetulan terjadi.