يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Dan siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِyaa ayyuhaa lladziina aamanuu laa tulhikum amwaalukum wa-laa awlaadukum 'an dzikri llaahiwahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah
  2. وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَwa-man yaf'al dzaalika fa-ulaa'ika humu l-khaasiruunadan siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. لَاlaajanganlah
  6. تُلْهِكُمْtulhikummelalaikan kalian
  7. أَمْوَالُكُمْamwaalukumharta kalian
  8. وَلَاwa-laadan tidak pula
  9. أَوْلَادُكُمْawlaadukumanak-anak kalian
  10. عَنْ'andari
  11. ذِكْرِdzikriperingatan
  12. اللَّهِllaahiAllah
  13. وَمَنْwa-mandan orang yang
  14. يَفْعَلْyaf'almelakukan
  15. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  16. فَأُولَٰئِكَfa-ulaa'ikamaka mereka itu
  17. هُمُhumumerekalah
  18. الْخَاسِرُونَl-khaasiruunaorang-orang yang rugi

Inti bacaan

Peringatan tentang prioritas yang salah tempat: 'janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah; dan siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi', pengingat bahwa hal-hal yang berharga (keluarga, kekayaan) bisa menjadi sumber kerugian jika sampai menggeser kesadaran spiritual dari posisi utamanya.

Penjelasan pilihan kata

'Dzaalika' sebagai objek 'yaf'al' diterjemahkan 'demikian' (bukan 'itulah', pola berbeda dari 'dzaalika' yang langsung diikuti kata benda). 'Ulaa'ika humu' dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'mereka itulah' sesuai kaidah baku.

Rangkaian (لَا تُلْهِكُمْ, laa tulhikum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 63:9. Kata kerjanya berarti menyibukkan sampai lupa, bukan sekadar menyita waktu. Yang dilarang bukan memiliki harta dan anak, melainkan dibuat lupa olehnya. Terjemahan memakai 'melalaikan' dan tidak menggantinya dengan kata yang menyiratkan larangan memiliki.

Rangkaian (أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ, amwaalukum wa-laa awlaadukum) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 34:37 dan 63:9. Bentuknya memakai kata pengingkar yang diulang di depan yang kedua, sehingga keduanya diingkarkan sendiri-sendiri, bukan sebagai satu pasangan. Terjemahan menahan pengulangan itu.

Susunan tersebut patut dibandingkan dengan 64:15 di surah berikutnya, yang menyebut harta dan anak sebagai cobaan dengan kata sambung biasa. Di sini keduanya disebut sebagai yang mungkin melalaikan, dan di sana sebagai cobaan. Dua surah berurutan membicarakan dua hal yang sama dengan dua kedudukan yang berbeda: yang satu bahaya yang harus dijaga, yang lain keadaan yang harus ditanggung.

Rangkaian (عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ, 'an dzikri llaahi) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:91, 24:37, dan 63:9. Di ketiga tempat itu ia selalu berdiri sesudah kata yang menyatakan terhalang atau terlalaikan, tak sekali pun berdiri sendiri sebagai perintah.

Rangkaian (هُمُ الْخَاسِرُونَ, humu l-khaasiruuna) muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:27, 7:178, 16:109, 58:19, dan 63:9. Sepuluh kemunculan itu tersebar di sembilan surah, sebab Surah 2 memuatnya dua kali.

Ayat ini juga berpindah sasaran. Delapan ayat sebelumnya membicarakan orang munafik sebagai pihak ketiga; di sini yang diseru langsung orang-orang beriman. Jadi peringatan yang sepanjang surah ditujukan kepada golongan lain tiba-tiba dialamatkan kepada pembacanya sendiri.

Panggilannya memakai bentuk yang menyeru orang-orang beriman, dan bentuk itu belum sekali pun dipakai di delapan ayat sebelumnya. Jadi surah ini menahan sapaan langsung sampai ayat kesembilan, sesudah gambaran tentang golongan lain selesai diberikan. Terjemahan menahan panggilan itu di awal kalimat sesuai letaknya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa banyak harta yang melalaikan, tidak disebut tanda-tanda seseorang sudah lalai, dan tidak disebut apa yang harus dilakukan terhadap harta itu. Yang disebut cuma larangan dibuat lupa dan akibatnya. Menahan sisanya mencegah ayat ini dibaca sebagai perintah meninggalkan keduanya.

Tafsiran

Ayat ini memperingatkan agar harta dan keturunan tidak melalaikan orang beriman dari mengingat Allah: kerugian sejati bagi siapa yang lalai.

Letaknya berpindah sasaran. Delapan ayat sebelumnya membicarakan orang munafik sebagai pihak ketiga; di sini yang diseru langsung orang-orang beriman.

Yang dilarang bukan memiliki harta dan anak, melainkan dibuat lupa olehnya. Kata kerjanya berarti menyibukkan sampai lupa, dan rangkaian yang memuatnya tidak dipakai di tempat lain mana pun.

Penyebutan harta dan anaknya memakai kata pengingkar yang diulang di depan yang kedua, sehingga keduanya diingkarkan sendiri-sendiri. Susunan itu dipakai juga di 34:37.

Perbandingannya dengan 64:15 di surah berikutnya patut diperhatikan. Di sana keduanya disebut sebagai cobaan dengan kata sambung biasa; di sini sebagai yang mungkin melalaikan. Dua surah berurutan memberi dua kedudukan yang berbeda pada dua hal yang sama.

Yang dilalaikan disebut dengan rangkaian yang dipakai 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:91, 24:37, dan 63:9, dan di ketiganya ia selalu berdiri sesudah kata yang menyatakan terhalang.

Penutupnya dipakai 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:27, 7:178, dan 58:19.

Panggilannya memakai bentuk yang menyeru orang-orang beriman, dan bentuk itu belum sekali pun dipakai di delapan ayat sebelumnya.

Tidak disebut berapa banyak harta yang melalaikan, dan tidak disebut tanda-tanda seseorang sudah lalai.

Renungan dan Hikmah

  • Allah melarang dibuat lupa, bukan melarang memiliki. Kata kerjanya berarti menyibukkan sampai lupa, bukan sekadar menyita waktu, dan rangkaian yang memuatnya tidak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an. Terjemahan memakai melalaikan dan tidak menggantinya dengan kata yang menyiratkan larangan memiliki. Perbedaan itu menentukan: yang pertama menuntut orang menjaga perhatiannya, yang kedua akan menuntutnya melepaskan hidupnya. Allah melarang akibatnya, bukan sebabnya.
  • Kata pengingkarnya diulang di depan yang kedua, sehingga harta dan anak diingkarkan sendiri-sendiri, bukan sebagai satu pasangan. Susunan itu dipakai 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 34:37 dan 63:9, dan terjemahan menahan pengulangannya. Menyebut keduanya terpisah menutup satu celah: orang bisa merasa aman karena hartanya sedikit, padahal yang melalaikannya anaknya, atau sebaliknya. Pengingkaran yang diulang menutup dua pintu, bukan satu.
  • Delapan ayat sebelumnya membicarakan orang munafik sebagai pihak ketiga. Di sini Allah menyeru langsung orang-orang beriman. Peringatan yang sepanjang surah ditujukan kepada golongan lain tiba-tiba dialamatkan kepada pembacanya sendiri. Perpindahan itu tidak diberi kata penghubung, dan ketiadaan itu membuat kejutannya utuh: yang tadinya mengamati kini diamati. Allah menaruh peringatan itu justru sesudah pembacanya cukup lama merasa aman.
  • Harta dan anak disebut di sini sebagai yang mungkin melalaikan, dan di 64:15 sebagai cobaan. Dua surah yang berurutan memberi dua kedudukan yang berbeda pada dua hal yang sama. Yang satu bahaya yang harus dijaga, yang lain keadaan yang harus ditanggung. Allah tidak menyatukan keduanya menjadi satu rumusan, sebab menjaga diri dari bahaya dan menanggung keadaan menuntut sikap yang tidak sama, dan satu rumusan akan menghapus salah satunya.
  • Penutupnya memakai rangkaian yang dipakai 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:27, 7:178, 16:109, dan 58:19. Bentuknya memakai kata ganti pemisah yang menegaskan, sehingga yang dinyatakan bukan bahwa mereka termasuk yang merugi melainkan bahwa merekalah orang-orang yang merugi. Allah memakai kata dagang untuk menilai kelalaian, dan kata itu menaruh yang lalai bukan sebagai orang bersalah melainkan sebagai orang yang kehilangan, dan yang kehilangan biasanya tidak menyadarinya pada saat kehilangan itu terjadi.
  • Berapa banyak harta yang melalaikan, dan apa tandanya seseorang sudah lalai? Ayat ini tidak menyebut keduanya, dan tidak menyebut apa yang harus dilakukan terhadap harta itu. Yang dinyatakan cuma larangan dibuat lupa dan akibatnya. Menahan ketiganya mencegah ayat ini dibaca sebagai perintah meninggalkan keduanya, dan sekaligus mencegah orang merasa aman hanya karena jumlahnya belum mencapai batas tertentu. Yang tak berbatas angka diperiksa dengan cara lain, yaitu dengan memeriksa perhatiannya.