وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian, sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu dia berkata, “Tuhanku, sekiranya Engkau menunda aku sampai waktu yang dekat, aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُwa-anfiquu min maa razaqnaakum min qabli an ya'tiya ahadakumu l-mawtudan infakkanlah sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian, sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian
  2. فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَfa-yaquula rabbi lawlaa akhkhartanii ilaa ajalin qariibin fa-ashshaddaqa wa-akun mina sh-shaalihiinalalu dia berkata, 'Tuhanku, sekiranya Engkau menunda aku sampai waktu yang dekat, aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh'

Terjemahan per kata (21 kata)

  1. وَأَنْفِقُواwa-anfiquudan nafkahkanlah kalian
  2. مِنْmindari
  3. مَاmaaapa yang
  4. رَزَقْنَاكُمْrazaqnaakumKami rezekikan kepada kalian
  5. مِنْmindari
  6. قَبْلِqablisebelum
  7. أَنْanbahwa
  8. يَأْتِيَya'tiyamendatangkan
  9. أَحَدَكُمُahadakumusalah seorang kalian
  10. الْمَوْتُl-mawtukematian
  11. فَيَقُولَfa-yaquulamaka ia berkata
  12. رَبِّrabbiTuhan
  13. لَوْلَاlawlaamengapa tidak
  14. أَخَّرْتَنِيakhkhartaniiEngkau menangguhkanku
  15. إِلَىٰilaasampai
  16. أَجَلٍajalinajal
  17. قَرِيبٍqariibinyang dekat
  18. فَأَصَّدَّقَfa-ashshaddaqamaka aku bersedekah
  19. وَأَكُنْwa-akundan aku menjadi
  20. مِنَminadari
  21. الصَّالِحِينَsh-shaalihiinaorang-orang saleh

Inti bacaan

Penyesalan di ambang kematian yang terlambat: 'sekiranya Engkau menunda aku sampai waktu yang dekat, aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh', gambaran permohonan yang datang terlalu terlambat, dorongan untuk bertindak dermawan dan saleh sekarang alih-alih menunda hingga menyesal di saat yang sudah tak bisa diubah.

Penjelasan pilihan kata

Perintah berinfak di ayat ini memakai keterangan 'dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian', bukan 'dari harta kalian'. Yang diminta dikeluarkan disebut sebagai sesuatu yang sudah diberikan lebih dulu. Terjemahan menahan keterangan itu dan tidak menggantinya dengan kata yang menyiratkan kepemilikan penuh.

Batas waktunya disebut kematian, bukan tanggal atau jumlah. Yang menutup kesempatan bukan habisnya harta melainkan habisnya waktu, dan waktu itu tidak diketahui siapa pun.

Rangkaian (لَوْلَا أَخَّرْتَنِي, lawlaa akhkhartanii) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 63:10. Bentuknya permintaan penundaan yang diucapkan sesudah waktunya lewat. Terjemahan memakai 'sekiranya Engkau menunda aku' dan menahan bentuk pengandaian itu.

Yang diminta bukan penundaan yang panjang. Kata yang dipakai berarti waktu yang dekat, sehingga permintaannya sendiri kecil. Susunan begitu memperlihatkan bahwa yang hilang bukan kesempatan besar melainkan kesempatan kecil yang berulang, dan yang menyesal pun tahu bahwa sedikit tambahan waktu sudah cukup.

Kata (فَأَصَّدَّقَ, fa-ashshaddaqa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 63:10. Ia berdiri di dalam ucapan penyesalan itu sebagai apa yang akan dikerjakan seandainya waktunya ditambah. Jadi yang disebut sebagai penyesalan bukan hal besar yang belum sempat dicapai, melainkan perbuatan yang sama dengan yang diperintahkan di awal ayat.

Ucapan penyesalannya dikutip langsung dan berbentuk permohonan kepada Tuhannya. Dua hal disebut di dalamnya, yaitu bersedekah dan menjadi termasuk orang saleh. Yang pertama perbuatan, yang kedua kedudukan. Terjemahan menahan keduanya terpisah.

Ayat ini menutup rangkaian yang dibuka 63:9. Di sana disebut apa yang bisa melalaikan, dan di sini disebut apa yang harus dikerjakan sebelum terlambat. Jadi peringatan dan perintah berdiri berurutan, dan keduanya sama-sama menyangkut harta.

Perintahnya disambung ke ayat sebelumnya dengan huruf sambung biasa, bukan dengan panggilan baru. Jadi seruan di 63:9 masih berlaku di sini, dan dua ayat itu terbaca sebagai satu alamat yang sama. Larangan dan perintah karena itu ditujukan kepada pihak yang sama, dan yang diperingatkan tentang harta pula yang disuruh mengeluarkannya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa yang harus diinfakkan, tidak disebut kepada siapa, dan tidak disebut apakah permintaan penundaan itu dikabulkan. Yang disebut cuma perintahnya, batas waktunya, dan penyesalan yang mungkin. Menahan sisanya membuat ayat ini mendesak tanpa perlu menakut-nakuti.

Tafsiran

Ayat ini menyerukan berinfak sebelum ajal tiba, disertai penyesalan hipotetis orang yang terlambat sebagai peringatan bagi yang masih diberi waktu.

Letaknya menutup rangkaian yang dibuka 63:9. Di sana disebut apa yang bisa melalaikan; di sini disebut apa yang harus dikerjakan sebelum terlambat.

Yang diminta dikeluarkan disebut sebagai sesuatu yang sudah diberikan lebih dulu, bukan sebagai milik penuh, dan terjemahan menahan keterangan itu.

Batas waktunya disebut kematian, bukan tanggal atau jumlah. Yang menutup kesempatan bukan habisnya harta melainkan habisnya waktu.

Ucapan penyesalannya dikutip langsung dan memakai rangkaian permintaan penundaan yang tidak dipakai di tempat lain mana pun. Yang diminta pun bukan penundaan yang panjang, sebab kata yang dipakai berarti waktu yang dekat.

Kata yang menyebut apa yang akan dikerjakannya seandainya ditunda juga tidak dipakai di tempat lain mana pun, dan perbuatan yang disebutnya sama dengan yang diperintahkan di awal ayat.

Dua hal disebut di dalam penyesalan itu, yaitu bersedekah dan menjadi termasuk orang saleh. Yang pertama perbuatan, yang kedua kedudukan.

Perintahnya disambung ke ayat sebelumnya dengan huruf sambung biasa, sehingga seruan di 63:9 masih berlaku dan keduanya terbaca sebagai satu alamat yang sama.

Tidak disebut berapa yang harus diinfakkan, dan tidak disebut apakah permintaan penundaan itu dikabulkan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut apa yang diminta dikeluarkan sebagai sesuatu yang sudah Dia rezekikan lebih dulu, bukan sebagai harta mereka. Terjemahan menahan keterangan itu. Menyebutnya begitu mengubah kedudukan perbuatannya: yang diminta bukan menyerahkan milik sendiri melainkan meneruskan sesuatu yang sampai lewat tangannya. Beratnya melepaskan berkurang ketika yang dilepaskan tidak pernah sepenuhnya dipegang, dan Allah menaruh keterangan itu sebelum perintahnya selesai diucapkan.
  • Batas yang disebut kematian, bukan tanggal atau jumlah tertentu. Yang menutup kesempatan bukan habisnya harta melainkan habisnya waktu, dan waktu itu tidak diketahui siapa pun. Allah memilih batas yang tidak bisa dihitung mundur, sehingga tidak ada titik di mana seseorang bisa merasa masih punya sisa yang cukup. Batas yang tak diketahui bekerja setiap hari; batas yang diketahui cuma bekerja menjelang akhirnya, dan itu terlambat bagi perbuatan yang menuntut kebiasaan.
  • Permintaan penundaan di dalam penyesalan itu memakai kata yang berarti waktu yang dekat, bukan waktu yang panjang. Rangkaiannya tidak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an, hanya di 63:10. Yang hilang karena itu bukan kesempatan besar melainkan kesempatan kecil yang berulang. Orang yang menyesal pun tahu bahwa sedikit tambahan sudah cukup, dan justru itu yang membuat penyesalannya berat. Yang diminta bukan umur baru melainkan sedikit sisa yang dulu tersedia setiap hari.
  • Kata yang menyebut apa yang akan dikerjakannya seandainya ditunda tidak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an. Perbuatan yang disebutnya sama persis dengan yang diperintahkan Allah di awal ayat. Jadi yang disesali bukan hal besar yang belum sempat dicapai, melainkan hal yang sudah diperintahkan dan tidak dikerjakan. Penyesalan yang paling tajam memang bukan atas yang mustahil, melainkan atas yang mudah, dan yang mudah itu tersedia berkali-kali sebelum waktunya habis.
  • Dua hal disebut di dalam ucapan itu, yaitu bersedekah dan menjadi termasuk orang saleh. Yang pertama perbuatan, yang kedua kedudukan. Terjemahan menahan keduanya terpisah. Susunan begitu memperlihatkan bahwa yang diinginkan bukan cuma menambah satu amalan, melainkan berpindah golongan, dan orang yang sedang di ujung waktunya melihat keduanya sebagai satu perkara yang sama. Allah mengutipnya utuh tanpa memisahkan mana yang lebih penting.
  • Apakah permintaan penundaan itu dikabulkan? Ayat ini tidak menyebutnya, tidak menyebut berapa yang harus diinfakkan, dan tidak menyebut kepada siapa. Yang dinyatakan cuma perintahnya, batas waktunya, dan penyesalan yang mungkin. Menahan jawabannya membuat ayat ini mendesak tanpa perlu menakut-nakuti, sebab pertanyaan yang dibiarkan menggantung dikerjakan sendiri oleh yang membacanya, dan jawaban yang disusun sendiri lebih sulit dilupakan daripada yang diberikan.