وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan Allah tidak akan menunda suatu jiwa apabila telah datang ajalnya. Allah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَاwa-lan yu'akhkhira llaahu nafsan idzaa jaa'a ajaluhaadan Allah tidak akan menunda suatu jiwa apabila telah datang ajalnya
  2. وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَwa-llaahu khabiirun bi-maa ta'maluunaAllah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَلَنْwa-landan tidak akan
  2. يُؤَخِّرَyu'akhkhiramenangguhkan
  3. اللَّهُllaahuAllah
  4. نَفْسًاnafsanjiwa
  5. إِذَاidzaaapabila
  6. جَاءَjaa'adatang
  7. أَجَلُهَاajaluhaaajalnya
  8. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  9. خَبِيرٌkhabiirunmengetahui
  10. بِمَاbi-maaatas apa yang
  11. تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan

Inti bacaan

Kepastian mutlak tentang waktu kematian: 'Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang', penutup tegas yang menegaskan bahwa permohonan penundaan seperti pada ayat sebelumnya tidak akan dikabulkan, dorongan untuk bertindak baik selagi masih ada kesempatan, bukan berharap pada penundaan yang tidak akan pernah terjadi.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(kematian)' tidak dipakai: maknanya sudah tersirat lewat anak kalimat 'ajaluhaa' pada ayat yang sama, tidak memerlukan tambahan tambahan.

Ayat ini menjawab langsung ayat sebelumnya, dan jawabannya memakai akar kata yang sama dengan permintaannya. Di 63:10 orang yang kehabisan waktu meminta ditunda dengan kata (أَخَّرْتَنِي, akhkhartanii); di sini Allah menyatakan tidak akan menunda dengan kata (يُؤَخِّرَ, yu'akhkhira). Permintaan dan penolakan berdiri di dua ayat yang berurutan, dan keduanya memakai kata yang sepangkal.

Kata (يُؤَخِّرَ, yu'akhkhira) dengan harakat seperti di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 63:11. Huruf yang sama dengan harakat lain dipakai di 71:4, dan di sana bentuknya berbeda sehingga katanya pun berbeda kedudukannya.

Kata dari akar yang sama dipakai juga untuk hal yang berlawanan. Di 14:10 dan 71:4 penundaan justru dijanjikan sebagai sesuatu yang diberikan sampai waktu yang ditentukan, dan di 14:42, 16:61, serta 35:45 disebutkan bahwa Allah menangguhkan mereka. Jadi akar yang sama menerangkan dua hal: penangguhan yang diberikan selama waktunya belum tiba, dan penolakan menunda ketika waktunya sudah tiba.

Permintaan penundaan itu sendiri diucapkan tiga orang berbeda di dalam Al-Qur'an, dan ketiganya memakai kata ganti yang berlainan: (أَخَّرْتَنَا, akhkhartanaa) di 4:77, (أَخَّرْتَنِ, akhkhartani) di 17:62, dan (أَخَّرْتَنِي, akhkhartanii) di 63:10. Ketiganya meminta hal yang sama dengan kata yang sepangkal, dan ayat ini menjawab ketiganya sekaligus.

Kata (أَجَلُهَا, ajaluhaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 63:11. Kata ganti perempuan di ujungnya kembali kepada 'jiwa', sehingga yang punya ajal disebut jiwanya, bukan orangnya. Terjemahan menahan hubungan itu.

Rangkaian (خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ, khabiirun bi-maa ta'maluuna) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:153, 5:8, 9:16, 24:53, 58:13, 59:18, dan 63:11. Susunan terbalik dari rangkaian yang sama, yaitu yang menaruh keterangannya lebih dulu, muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an dan tersebar di enam surah. Salah satu di antaranya 64:8, yaitu di surah tepat sesudah ini. Dua surah berdampingan memakai bahan yang sama dengan urutan yang berbeda.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan ajal itu datang, tidak disebut apakah ada yang dikecualikan, dan tidak disebut apa yang terjadi sesudahnya. Yang disebut cuma bahwa penundaan tidak diberikan dan bahwa perbuatan diketahui. Menahan sisanya membuat penutup surah ini mendesak tanpa perlu menggambarkan apa pun yang menakutkan.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini menegaskan bahwa ajal tidak dapat ditunda, dan pengetahuan Allah menyeluruh atas segala amal manusia.

Letaknya menjawab langsung 63:10. Di sana orang yang kehabisan waktu meminta ditunda; di sini dinyatakan bahwa penundaan itu tidak diberikan. Permintaan dan penolakan berdiri di dua ayat berurutan, dan keduanya memakai kata yang sepangkal.

Kata kerjanya dengan harakat seperti di ayat ini tidak dipakai di tempat lain mana pun, sedangkan akar yang sama dipakai untuk hal yang berlawanan di 14:10 dan 71:4, tempat penundaan justru dijanjikan sampai waktu yang ditentukan, serta di 14:42, 16:61, dan 35:45 tempat Allah menangguhkan mereka.

Jadi akar yang sama menerangkan dua hal: penangguhan yang diberikan selama waktunya belum tiba, dan penolakan menunda ketika waktunya sudah tiba.

Permintaan penundaan itu diucapkan tiga orang berbeda di dalam Al-Qur'an, yaitu di 4:77, 17:62, dan 63:10, masing-masing dengan kata ganti yang berlainan. Ayat ini menjawab ketiganya sekaligus.

Yang punya ajal disebut jiwanya, bukan orangnya, dan kata untuk ajal itu tidak dipakai di tempat lain mana pun.

Penutupnya dipakai 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:153, 5:8, 9:16, 24:53, 58:13, 59:18, dan 63:11, sedangkan susunan terbaliknya dipakai 8 kali, salah satunya di 64:8.

Tidak disebut kapan ajal itu datang, dan tidak disebut apakah ada yang dikecualikan.

Renungan dan Hikmah

  • Di 63:10 orang yang kehabisan waktu meminta ditunda; di sini Allah menyatakan tidak akan menunda. Keduanya memakai kata yang sepangkal, dan keduanya berdiri di dua ayat yang berurutan. Jawaban itu datang sebelum pertanyaannya sempat menggantung. Susunan begitu menutup satu harapan yang paling wajar muncul sesudah membaca penyesalan di ayat sebelumnya, yaitu harapan bahwa permintaan seperti itu mungkin dikabulkan. Allah menutupnya di ayat berikutnya, bukan membiarkannya tumbuh.
  • Akar kata yang dipakai di ayat ini dipakai juga untuk hal yang berlawanan. Di 14:10 dan 71:4 penundaan justru dijanjikan sampai waktu yang ditentukan, dan di 14:42, 16:61, serta 35:45 disebutkan bahwa Allah menangguhkan mereka. Jadi Allah bukan tidak pernah menunda; yang dinyatakan di sini bahwa penundaan berhenti ketika waktunya tiba. Penangguhan itu ada, dan ia berlangsung sepanjang hidup seseorang tanpa ia menyadarinya. Yang diminta di 63:10 sebenarnya sudah diberikan bertahun-tahun sebelumnya.
  • Permintaan penundaan diucapkan tiga orang berbeda di dalam Al-Qur'an, yaitu di 4:77, 17:62, dan 63:10, masing-masing dengan kata ganti yang berlainan. Ketiganya meminta hal yang sama dengan kata yang sepangkal. Ayat ini menjawab ketiganya sekaligus tanpa menyebut satu pun di antaranya. Permintaan yang diulang tiga orang di tiga keadaan yang berbeda menandai bahwa yang diminta memang keinginan yang wajar, dan jawabannya tetap satu. Allah tidak membedakan penjawabnya menurut siapa yang meminta maupun seberapa sedikit yang dimintanya.
  • Kata ganti di ujung kata untuk ajal kembali kepada jiwa, bukan kepada orangnya. Rangkaian itu tidak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an, hanya di 63:11. Terjemahan menahan hubungan tersebut. Menyebut jiwanya dan bukan orangnya menaruh batas waktu itu pada bagian yang paling tidak bisa dikelola siapa pun, dan bukan pada tubuh yang bisa dijaga atau keadaan yang bisa diatur. Allah menaruh batas itu di luar jangkauan segala usaha memperpanjangnya.
  • Penutup ayat ini dipakai 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:153, 5:8, 9:16, 24:53, 58:13, 59:18, dan 63:11. Susunan terbaliknya, yang menaruh keterangannya lebih dulu, dipakai 8 kali, dan salah satunya 64:8 di surah tepat sesudah ini. Allah memakai bahan yang sama dengan urutan yang berbeda di dua surah yang berdampingan, sehingga yang membacanya berurutan menemukan hal yang dikenalnya berdiri dengan susunan lain. Yang berpindah cuma urutannya, dan isinya tetap sama.
  • Kapan ajal itu datang, dan apakah ada yang dikecualikan? Ayat ini tidak menyebut keduanya, dan tidak menyebut apa yang terjadi sesudahnya. Yang dinyatakan cuma bahwa penundaan tidak diberikan dan bahwa perbuatan diketahui. Surah yang seluruhnya membongkar kepalsuan ditutup tanpa satu pun gambaran yang menakutkan. Yang mendesak bukan ancamannya melainkan kepastian waktunya, dan kepastian itu berlaku atas siapa saja yang membacanya, termasuk yang tidak merasa termasuk golongan yang dibicarakan sepanjang surah ini.