بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Milik-Nyalah segala kerajaan dan segala pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِyusabbihu li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhiapa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah
  2. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُlahu l-mulku wa-lahu l-hamdumilik-Nyalah segala kerajaan dan segala pujian
  3. وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌwa-huwa 'alaa kulli syay'in qadiirundan Dia berkuasa atas segala sesuatu

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. يُسَبِّحُyusabbihubertasbih
  2. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  3. مَاmaaapa yang
  4. فِيfiidi
  5. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  6. وَمَاwa-maadan apa yang
  7. فِيfiidi
  8. الْأَرْضِl-ardhibumi
  9. لَهُlahubaginya
  10. الْمُلْكُl-mulkukerajaan
  11. وَلَهُwa-lahudan bagi-Nya
  12. الْحَمْدُl-hamdusegala puji
  13. وَهُوَwa-huwadan Dia
  14. عَلَىٰ'alaaatas
  15. كُلِّkullisegala
  16. شَيْءٍsyay'insesuatu
  17. قَدِيرٌqadiirunberkuasa

Inti bacaan

Pembukaan At-Taghabun dengan otoritas menyeluruh: 'milik-Nyalah segala kerajaan dan segala pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu', kombinasi kepemilikan (kerajaan), pengakuan (pujian), dan kekuasaan (berkuasa) yang saling melengkapi, gambaran otoritas total yang tidak terbagi dengan pihak mana pun.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama surah ini mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. 'Qadiirun' bentuk tak-bertakrif sesudah 'huwa alaa kulli shay'in', tetap diterjemahkan huruf kecil 'berkuasa' tanpa gelar superlatif.

Lima surah dibuka dengan pernyataan tasbih, dan kelimanya berdekatan letaknya. Rangkaian (سَبَّحَ لِلَّهِ, sabbaha li-llaahi) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 57:1, 59:1, dan 61:1. Rangkaian (يُسَبِّحُ لِلَّهِ, yusabbihu li-llaahi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 62:1 dan 64:1.

Bedanya bentuk kata kerjanya. Tiga surah pertama memakai bentuk yang menyatakan perbuatan sudah terjadi, dua surah berikutnya memakai bentuk yang menyatakan perbuatan sedang dan terus berlangsung. Jadi lima pembuka yang tampak sama sebetulnya terbagi dua, dan pembagian itu mengikuti urutan surahnya: yang lampau lebih dulu, yang berlangsung menyusul. Terjemahan menahan perbedaan itu dengan memakai kata 'senantiasa' di sini.

Kelima surah itu juga berdekatan nomornya, yaitu 57, 59, 61, 62, dan 64, sehingga pembacanya melewati pembuka yang serupa lima kali dalam jarak yang pendek. Yang berubah di antara kelimanya bukan isinya melainkan waktunya, dan surah ini berada di ujung rangkaian tersebut.

Yang bertasbih disebut dengan kata yang dipakai untuk benda, bukan kata yang dipakai untuk orang berakal. Terjemahan mempertahankan 'apa', bukan 'siapa', sebab menggantinya akan mempersempit yang dimaksud menjadi manusia dan makhluk berakal saja.

Rangkaian (لَهُ الْمُلْكُ, lahu l-mulku) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:247, 6:73, 35:13, 39:6, dan 64:1. Di empat tempat pertama rangkaian itu berdiri sendiri atau disambung keterangan lain. Cuma di 64:1 ia langsung disusul pernyataan bahwa pujian pun milik-Nya, dengan susunan yang mengulang huruf yang sama di depan kedua kata itu. Jadi yang jarang bukan pernyataan kepemilikannya, melainkan penyandingannya dengan pujian dalam satu tarikan.

Dua hal yang disebut milik-Nya itu berbeda jenisnya. Yang pertama menyangkut kuasa memerintah, yang kedua menyangkut kelayakan dipuji. Keduanya tidak selalu berkumpul pada satu pihak, dan ayat ini menaruhnya berkumpul. Susunannya pun sejajar, sebab huruf yang sama diulang di depan kedua kata itu, sehingga tidak ada yang terbaca sebagai keterangan tambahan bagi yang lain. Keduanya berdiri setara.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut dengan cara apa benda-benda itu bertasbih, tidak disebut sejak kapan, dan tidak disebut apakah manusia bisa mendengarnya. Yang disebut cuma bahwa hal itu berlangsung. Menahan sisanya menjaga kalimat ini tetap berupa keterangan tentang keadaan alam, bukan berupa gambaran yang menuntut dibayangkan.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan penegasan tasbih seluruh alam kepada Allah serta kekuasaan mutlak-Nya atas segala sesuatu.

Pembukaan seperti ini dipakai di lima surah yang letaknya berdekatan, yaitu 57:1, 59:1, 61:1, 62:1, dan 64:1. Kelimanya menyatakan hal yang sama, tetapi terbagi dua menurut bentuk kata kerjanya: tiga yang pertama memakai bentuk lampau, dua yang terakhir memakai bentuk yang sedang berlangsung.

Pembagian itu mengikuti urutan surahnya, dan surah ini berada di ujung kelompok tersebut. Yang dinyatakan bukan sesuatu yang pernah terjadi, melainkan sesuatu yang tidak berhenti.

Pernyataan kepemilikan sesudahnya memakai rangkaian yang dipakai juga di 2:247, 6:73, 35:13, dan 39:6. Yang membedakan ayat ini, rangkaian tersebut langsung disusul pernyataan tentang pujian dengan susunan yang sejajar.

Dua hal yang dinyatakan milik-Nya berbeda jenisnya, yaitu kuasa memerintah dan kelayakan dipuji, dan keduanya tidak selalu berkumpul pada satu pihak.

Kelima surah itu berdekatan nomornya, sehingga pembacanya melewati pembuka serupa lima kali dalam jarak pendek, dan yang berubah di antaranya cuma waktunya.

Tidak disebut dengan cara apa benda-benda itu bertasbih, tidak disebut sejak kapan, dan tidak disebut apakah manusia bisa mendengarnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah memakai kata yang dipakai untuk benda, bukan kata untuk orang berakal, ketika menyebut yang bertasbih kepada-Nya. Benda ikut disebut. Yang tak berakal pun punya caranya menyatakan kesucian Penciptanya, dan cara itu sengaja tidak dijelaskan di mana pun. Terjemahan mempertahankan 'apa' dan bukan 'siapa', sebab menggantinya akan mempersempit yang dimaksud menjadi manusia saja, padahal yang hendak dikatakan justru bahwa hal itu berlaku lebih luas daripada yang berakal. Manusia bukan satu-satunya yang menyatakan, dan bukan pula yang pertama.
  • Allah menyebut dua hal sebagai milik-Nya: kuasa memerintah dan kelayakan dipuji. Keduanya berbeda jenis. Yang berkuasa dan yang layak dipuji ternyata satu, dan itu jarang berpasangan di dunia; kekuasaan biasanya menuntut pujian, bukan berhak atasnya. Rangkaian pertamanya dipakai 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:247, 6:73, 35:13, 39:6, dan 64:1, tetapi cuma di sini ia langsung disusul pernyataan tentang pujian.
  • Allah menutup dengan menyatakan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Letaknya sesudah dua pernyataan kepemilikan. Yang memiliki juga yang mampu, dan urutan itu menutup pertanyaan yang paling wajar muncul sesudah mendengar klaim kepemilikan, yaitu apakah yang mengaku memiliki benar-benar sanggup menanganinya. Kepemilikan tanpa kesanggupan cuma nama; di sini keduanya dinyatakan berurutan, sehingga klaim yang di mulut manusia sering kosong justru diberi penopangnya.
  • Lima surah yang berdekatan sama-sama dibuka pernyataan tasbih, yaitu 57:1, 59:1, 61:1, 62:1, dan 64:1. Tetapi kelimanya tidak seragam: tiga yang pertama memakai bentuk lampau, dua yang terakhir memakai bentuk yang sedang berlangsung. Allah menyusunnya sehingga yang sudah terjadi disebut lebih dulu dan yang tak berhenti menyusul. Pembacanya sampai di surah ini setelah melewati tiga pernyataan tentang masa lalu, lalu menemukan hal yang sama dinyatakan sebagai sesuatu yang masih berjalan.
  • Bentuk kata kerja di ayat ini menyatakan perbuatan yang sedang dan terus berlangsung, bukan yang sudah selesai. Terjemahan menahannya dengan kata 'senantiasa'. Perbedaan itu menentukan cara membacanya: yang dikabarkan bukan peristiwa yang pernah terjadi di suatu masa, melainkan keadaan yang berjalan pada saat ayat ini dibaca. Allah menaruh pembukaan surah pada waktu sekarang, sehingga tidak ada jarak antara pembaca dan apa yang dikabarkan.
  • Bagaimana benda bertasbih? Ayat ini tidak menjawabnya. Tidak disebut dengan cara apa, tidak disebut sejak kapan, dan tidak disebut apakah ada yang bisa mendengarnya. Yang disebut cuma bahwa hal itu berlangsung. Menahan keterangan seperti itu mencegah kalimatnya berubah menjadi gambaran yang harus dibayangkan, dan menjaganya tetap berupa kabar tentang keadaan yang sesungguhnya. Yang diminta bukan membayangkan, melainkan mengetahui.