هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan kalian, lalu di antara kalian ada yang kafir dan ada yang mukmin. Allah melihat apa yang kalian kerjakan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌhuwa lladzii khalaqakum fa-minkum kaafirun wa-minkum mu'minunDialah yang menciptakan kalian, lalu di antara kalian ada yang kafir dan ada yang mukmin
  2. وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌwa-llaahu bi-maa ta'maluuna bashiirunAllah melihat apa yang kalian kerjakan

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. هُوَhuwaDialah
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. خَلَقَكُمْkhalaqakummenciptakan kalian
  4. فَمِنْكُمْfa-minkummaka di antara kalian
  5. كَافِرٌkaafirunyang kufur
  6. وَمِنْكُمْwa-minkumdan di antara kalian
  7. مُؤْمِنٌmu'minunorang beriman
  8. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  9. بِمَاbi-maapada apa yang
  10. تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan
  11. بَصِيرٌbashiirunmelihat

Inti bacaan

Pengakuan keragaman respons sejak penciptaan: 'Dialah yang menciptakan kalian, lalu di antara kalian ada yang kafir dan ada yang mukmin', penerimaan bahwa keberagaman keyakinan adalah realitas yang sudah ada sejak awal penciptaan, bukan anomali yang mengejutkan, dasar bagi pemahaman bahwa pilihan keyakinan tetap berada di tangan individu.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menyambung 64:1 dengan berpindah dari yang bertasbih tanpa kecuali ke yang tidak seragam. Di ayat sebelumnya seluruh isi langit dan bumi disebut menyatakan kesucian Penciptanya; di sini manusia disebut terbelah dua. Jadi satu-satunya yang tidak seragam di dalam gambaran itu adalah manusia, dan pembelahan itu disebut persis sesudah penciptaannya, bukan sesudah perbuatannya.

Kata (كَافِرٌ, kaafirun) dengan ujung seperti di ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:217 dan 64:2. Kata (مُؤْمِنٌ, mu'minun) dengan ujung yang sepadan muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:221, 4:92, 4:124, 16:97, 17:19, 20:112, 21:94, 40:28, 40:40, dan 64:2. Jadi kedua kata itu jarang berdiri berdampingan seperti di sini, sebab yang pertama hampir tak pernah dipakai dalam bentuk tersebut.

Urutannya patut diperhatikan: yang disebut lebih dulu justru yang kufur. Terjemahan menahan urutan tersebut dan tidak membaliknya menjadi susunan yang terasa lebih pantas. Membaliknya akan mengubah apa yang sedang dikabarkan, sebab yang dikabarkan bukan mana yang lebih baik melainkan apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka yang diciptakan.

Kalimatnya juga tidak menyebut sebab. Tidak dikatakan mengapa yang satu begitu dan yang lain begini, dan tidak dikatakan siapa yang membuat keduanya berbeda. Yang dinyatakan cuma keadaannya. Kekosongan itu tidak diisi terjemahan dengan tambahan dalam kurung.

Rangkaian (بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ, bi-maa ta'maluuna bashiirun) muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:110, 3:156, 41:40, 57:4, dan 64:2. Dua belas kemunculan itu tersebar di sembilan surah, sebab Surah 2 memuatnya empat kali. Yang disebut dilihat selalu berupa perbuatan, bukan keyakinan. Jadi sesudah menyebut pembelahan yang menyangkut keyakinan, penutupnya justru berpindah ke apa yang dikerjakan.

Perpindahan itu bekerja. Keyakinan tidak bisa diperiksa siapa pun dari luar, sedangkan perbuatan bisa. Dengan menutup memakai kata tentang penglihatan atas perbuatan, ayat ini menaruh dua hal berdampingan: yang tidak terjangkau pengamatan manusia, dan yang terjangkau.

Kalimatnya juga memakai kata yang berarti 'di antara kalian' dua kali, sekali untuk tiap pihak. Pengulangan itu menaruh keduanya di dalam satu himpunan yang sama, bukan di dua himpunan yang berhadapan. Terjemahan mempertahankan pengulangan tersebut dan tidak meringkasnya menjadi satu keterangan, sebab meringkasnya akan menghapus kesetaraan kedudukan yang dibawa susunan itu.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa banyak masing-masing, tidak disebut siapa yang termasuk yang mana, dan tidak disebut apakah keadaannya bisa berpindah. Yang disebut cuma bahwa keduanya ada di antara kalian. Menahan sisanya mencegah kalimat ini dipakai untuk menghitung orang, dan menjaganya tetap berupa keterangan tentang kenyataan.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa penciptaan manusia disertai kebebasan berpilih antara kufur dan iman.

Letaknya berpindah dari 64:1 yang menyebut seluruh isi langit dan bumi menyatakan kesucian Penciptanya tanpa kecuali. Di sini manusia disebut terbelah dua, sehingga satu-satunya yang tidak seragam di dalam gambaran tersebut adalah manusia.

Pembelahan itu disebut persis sesudah penciptaannya, bukan sesudah perbuatannya, sehingga yang dikabarkan bukan hasil penilaian melainkan keadaan yang menyertai sejak awal.

Bentuk kata yang dipakai untuk yang kufur jarang muncul, yaitu 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yang satunya di 2:217. Pasangannya lebih sering, yaitu 10 kali, antara lain di 2:221, 16:97, dan 40:40. Keduanya jarang berdampingan seperti di sini.

Yang disebut lebih dulu justru yang kufur, dan sebabnya tidak diterangkan. Tidak dikatakan mengapa yang satu begitu dan yang lain begini.

Penutupnya berpindah dari keyakinan ke perbuatan, memakai rangkaian yang dipakai 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:110, 3:156, dan 57:4. Yang dinyatakan dilihat selalu berupa apa yang dikerjakan.

Kata yang berarti 'di antara kalian' dipakai dua kali, sekali untuk tiap pihak, sehingga keduanya berada di dalam satu himpunan yang sama dan bukan di dua himpunan yang berhadapan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut keduanya lahir dari penciptaan yang sama. Bahan yang sama, arah yang berbeda. Kalimatnya membuka dengan menyatakan Dialah yang menciptakan kalian, baru sesudahnya menyebut pembelahan itu, sehingga tidak ada ruang untuk menganggap yang satu berasal dari sumber yang berbeda dengan yang lain. Perbedaan yang paling dalam di antara manusia ternyata tidak berpangkal pada bahan pembuatnya, dan itu menutup satu jalan yang paling mudah dipakai untuk merendahkan orang lain, yaitu anggapan bahwa yang berbeda keyakinannya berbeda pula asalnya.
  • Yang kufur disebut lebih dahulu, bukan yang percaya. Urutannya tidak seperti yang diduga. Kenyataannya yang disebut, bukan yang sepantasnya. Terjemahan menahan urutan itu dan tidak membaliknya menjadi susunan yang terasa lebih pantas, sebab membaliknya akan mengubah apa yang sedang dikabarkan. Allah mengabarkan apa yang terjadi pada yang diciptakan-Nya, dan kabar semacam itu tidak disusun menurut selera pembacanya. Yang lebih enak didengar belum tentu yang sedang dikabarkan.
  • Kalimat penutupnya menyebut Allah melihat apa yang dikerjakan. Pengawasan ditaruh sesudah kebebasan, bukan sebelumnya. Bebas memilih, tetap dilihat. Rangkaian penutup itu dipakai 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:110, 3:156, dan 57:4, dan yang dinyatakan dilihat selalu berupa perbuatan. Kebebasan yang diberikan bukan kebebasan yang tidak diperhatikan; keduanya berdiri bersama tanpa saling membatalkan. Yang membatalkan kebebasan bukan diperhatikan, melainkan dipaksa.
  • Tidak dikatakan mengapa yang satu begitu dan yang lain begini. Tidak dikatakan pula siapa yang membuat keduanya berbeda. Yang dinyatakan Allah cuma keadaannya, dan kekosongan itu tidak diisi keterangan apa pun. Pertanyaan tentang sebab memang yang paling ingin dijawab manusia, tetapi menjawabnya di sini akan memindahkan tanggung jawab ke tempat yang salah, entah kepada bahan pembuatnya atau kepada yang membuatnya. Yang dibiarkan kosong justru ruang tempat tanggung jawab itu semestinya berdiri.
  • Sesudah menyebut pembelahan yang menyangkut keyakinan, Allah menutup dengan menyebut penglihatan atas perbuatan. Dua hal itu berbeda sifatnya: keyakinan tak bisa diperiksa siapa pun dari luar, sedangkan perbuatan bisa. Menaruh keduanya berdampingan meninggalkan pembagian yang jelas, yaitu bahwa yang tersembunyi urusan-Nya, dan yang tampak urusan yang bisa dinilai. Manusia diberi bagian yang memang sanggup ditanganinya, dan tidak diberi bagian yang akan membuatnya menghakimi isi dada orang lain.
  • Berapa banyak masing-masing, dan siapa termasuk yang mana? Ayat ini tidak menjawab keduanya. Yang disebut cuma bahwa keduanya ada di antara kalian. Menahan keterangan seperti itu mencegah kalimatnya dipakai untuk menghitung orang atau menunjuk orang, dan keduanya adalah pemakaian yang paling mudah terjadi. Yang dikabarkan Allah bentuk kenyataannya, bukan daftar isinya, sehingga tak seorang pun bisa memakai ayat ini untuk menempatkan orang lain.