خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar, dan Dia membentuk kalian lalu memperindah bentuk kalian, dan kepada-Nyalah tempat kembali.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْkhalaqa s-samaawaati wa-l-ardha bi-l-haqqi wa-shawwarakum fa-ahsana shuwarakumDia menciptakan langit dan bumi dengan benar, dan Dia membentuk kalian lalu memperindah bentuk kalian
- وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُwa-ilayhi l-mashiirudan kepada-Nyalah tempat kembali
Terjemahan per kata (9 kata)
- خَلَقَkhalaqamenciptakan
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
- بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
- وَصَوَّرَكُمْwa-shawwarakumdan Dia membentuk kalian
- فَأَحْسَنَfa-ahsanamaka Dia memperbaiki
- صُوَرَكُمْshuwarakumrupa kalian
- وَإِلَيْهِwa-ilayhidan kepada-Nya
- الْمَصِيرُl-mashiirutempat kembali
Inti bacaan
Kualitas ganda dalam penciptaan: 'Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar, dan Dia membentuk kalian lalu memperindah bentuk kalian', penekanan bahwa penciptaan bukan sekadar fungsional tetapi juga estetis, dasar bagi penghargaan terhadap keindahan sebagai nilai yang melekat dalam desain penciptaan, bukan sekadar pelengkap.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini melanjutkan urutan yang dimulai 64:2. Di sana yang disebut penciptaan manusia berikut pembelahannya; di sini yang disebut penciptaan langit dan bumi berikut pembentukan rupa manusia. Jadi dua ayat berturut-turut menyebut penciptaan yang sama dari dua arah, yaitu dari yang paling dekat lalu dari yang paling luas.
Rangkaian (بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ, bi-l-haqqi wa-shawwarakum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 64:3. Yang disambungkan rangkaian itu dua hal yang biasanya dibicarakan terpisah, yaitu kebenaran yang mendasari penciptaan alam dan pembentukan rupa manusia. Keduanya ditaruh di dalam satu kalimat tanpa jeda.
Rangkaian (فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ, fa-ahsana shuwarakum) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 40:64 dan 64:3. Di kedua tempat itu ia berdiri persis sesudah penyebutan pembentukan, sehingga bukan keterangan yang berdiri sendiri melainkan langkah kedua dari satu perbuatan. Huruf sambung di depannya menandai urutan yang rapat: dibentuk, lalu diperbaiki bentuknya.
Yang diperindah disebutkan 'bentuk kalian', bukan bentuk langit dan bumi yang barusan disebut. Padahal yang disebut lebih dulu jauh lebih besar. Perpindahan perhatian dari yang terluas ke rupa manusia terjadi di dalam satu kalimat, tanpa kata penghubung yang menerangkan mengapa.
Rangkaian (وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ, wa-ilayhi l-mashiiru) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:18, 42:15, dan 64:3. Di ketiga tempat itu ia berdiri sebagai penutup kalimat, dan menyebut arah pulang tanpa menyebut kapan. Di sini ia menyusul persis sesudah pujian atas rupa, sehingga dua hal yang berjauhan jaraknya dalam hidup seseorang, yaitu wujudnya sekarang dan tempatnya kembali nanti, disebut berdampingan.
Kata 'dengan benar' yang menyifati penciptaan langit dan bumi tidak diberi keterangan tambahan dalam kurung. Terjemahan menahan keluasannya, sebab menyempitkannya menjadi satu maksud tertentu akan menutup maksud yang lain yang sama-sama terkandung.
Di 40:64 pujian atas rupa itu berdiri di dalam rangkaian yang menyebut bumi sebagai tempat menetap dan langit sebagai bangunan, lalu ditutup penyebutan rezeki. Di 64:3 ia berdiri di dalam rangkaian yang menyebut kebenaran sebagai dasar penciptaan, lalu ditutup penyebutan tempat kembali. Jadi dua tempat memakai pujian yang sama tetapi mengapitnya dengan hal yang berbeda: yang satu dengan apa yang menopang hidup, yang lain dengan apa yang mengakhirinya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut bentuk seperti apa yang dianggap indah, tidak disebut dibandingkan dengan apa, dan tidak disebut kapan tempat kembali itu tiba. Yang disebut cuma bahwa pembentukannya diperbaiki dan bahwa ada arah pulang. Menahan sisanya mencegah ayat ini dipakai untuk menilai rupa seseorang terhadap rupa orang lain.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan penciptaan langit dan bumi dengan kebenaran serta pembentukan rupa manusia yang terbaik.
Letaknya melanjutkan 64:2 dengan membalik arah pandang. Ayat sebelumnya bergerak dari penciptaan manusia ke pembelahannya; ayat ini bergerak dari penciptaan alam ke rupa manusia. Dua ayat berturut-turut menyebut hal yang sama dari dua arah yang berlawanan.
Penyambungan antara kebenaran yang mendasari penciptaan alam dan pembentukan rupa manusia tidak ada di tempat lain mana pun, sedangkan pujian atas rupa itu sendiri dipakai juga di 40:64.
Di kedua tempat tersebut pujian itu berdiri persis sesudah penyebutan pembentukan, sehingga ia bukan keterangan tersendiri melainkan langkah kedua dari satu perbuatan.
Yang diperindah disebut rupa manusia, bukan langit dan bumi yang baru saja disebut, padahal yang disebut lebih dulu jauh lebih besar. Perpindahan perhatian itu terjadi di dalam satu kalimat tanpa kata penghubung yang menerangkan sebabnya.
Penutupnya memakai rangkaian yang dipakai juga di 5:18 dan 42:15, dan di ketiga tempat ia menyebut arah pulang tanpa menyebut kapan.
Di 40:64 pujian yang sama diapit penyebutan tempat menetap dan rezeki; di sini ia diapit penyebutan kebenaran dan tempat kembali.
Tidak disebut bentuk seperti apa yang dianggap indah, dan tidak disebut dibandingkan dengan apa.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut keindahan, bukan cuma kegunaan. Dibentuk lalu diperindah, dua langkah yang disebut berurutan dengan huruf sambung yang rapat. Rangkaian itu dipakai 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 40:64 dan 64:3, dan di kedua tempat ia menyusul persis sesudah penyebutan pembentukan. Sesuatu bisa berfungsi tanpa perlu bagus; yang dikabarkan di sini bahwa langkah kedua itu tetap dikerjakan, padahal langkah pertama sudah cukup untuk membuatnya bekerja. Yang dikerjakan melebihi yang diperlukan, dan kelebihan itu disebut.
- Yang diperindah disebut bentuk kalian, bukan langit dan bumi yang baru saja disebut. Padahal yang disebut lebih dulu jauh lebih besar ukurannya. Perhatian itu turun sampai ke rupa manusia di dalam satu kalimat yang sama, tanpa kata penghubung yang menerangkan mengapa. Allah tidak memperlakukan yang besar sebagai yang penting dan yang kecil sebagai yang sekadar ada; urutan kalimatnya justru berakhir pada yang paling kecil ukurannya. Besar dan penting ternyata bukan satu hal yang sama.
- Kalimat penutupnya menyebut arah pulang. Allah menaruhnya persis sesudah pujian atas rupa, bukan di tempat lain. Yang dibentuk akan kembali. Rangkaian penutup itu dipakai 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:18, 42:15, dan 64:3, dan di ketiganya ia menyebut arah tanpa menyebut waktu. Dua hal yang paling berjauhan dalam hidup seseorang, yaitu wujudnya sekarang dan tempatnya nanti, ditaruh berdampingan dalam satu tarikan, sehingga yang memuji rupanya sekaligus diingatkan ke mana rupa itu dibawa.
- Ayat sebelumnya bergerak dari penciptaan manusia ke pembelahan yang terjadi padanya; ayat ini bergerak dari penciptaan langit dan bumi ke rupa manusia. Dua arah yang berlawanan, dua ayat yang berurutan. Allah menyusunnya sehingga pembacanya melihat perkara yang sama dari dua sisi tanpa diberi tahu bahwa itu sedang dilakukan. Yang di satu ayat berupa titik akhir, di ayat berikutnya menjadi titik mula, dan perpindahan itu tidak pernah diberi keterangan.
- Penciptaan langit dan bumi disebut berdasar kebenaran, dan pembentukan rupa disebut diperbaiki. Kedua keterangan itu ditaruh Allah di dalam satu kalimat tanpa jeda, dan penyambungan seperti itu tidak ada di tempat lain mana pun. Yang satu menyangkut dasar, yang lain menyangkut tampilan. Keduanya jarang dibicarakan bersama, sebab yang mementingkan dasar biasanya menganggap tampilan tak penting, dan yang mementingkan tampilan jarang menanyakan dasarnya.
- Indah menurut ukuran apa? Ayat ini tidak menyebutnya, tidak menyebut pembandingnya, dan tidak menyebut rupa mana yang lebih. Yang dinyatakan cuma bahwa pembentukannya diperbaiki. Menahan keterangan seperti itu mencegah kalimatnya dipakai untuk menimbang rupa seseorang terhadap rupa orang lain, padahal itulah pemakaian yang paling mudah terjadi. Yang dipuji hasil pekerjaan Allah, bukan salah satu di antara hasilnya.