أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ فَذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Apakah belum sampai kepada kalian berita orang-orang yang kufur sebelumnya? Maka mereka merasakan akibat buruk urusan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُa-lam ya'tikum naba'u lladziina kafaruu min qabluapakah belum sampai kepada kalian berita orang-orang yang kufur sebelumnya
  2. فَذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌfa-dzaaquu wabaala amrihim wa-lahum 'adzaabun aliimunmaka mereka merasakan akibat buruk urusan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. أَلَمْa-lamtidakkah
  2. يَأْتِكُمْya'tikumdatang kepada kalian
  3. نَبَأُnaba'uberita
  4. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  5. كَفَرُواkafaruukufur
  6. مِنْmindari
  7. قَبْلُqablusebelumnya
  8. فَذَاقُواfa-dzaaquumaka mereka merasakan
  9. وَبَالَwabaalaakibat buruk
  10. أَمْرِهِمْamrihimurusan mereka
  11. وَلَهُمْwa-lahumdan bagi mereka
  12. عَذَابٌ'adzaabunazab
  13. أَلِيمٌaliimunyang pedih

Inti bacaan

Peringatan berbasis sejarah yang dapat diverifikasi: 'apakah belum sampai kepada kalian berita orang-orang yang kufur sebelumnya?', penggunaan contoh serupa historis sebagai bukti yang dapat dicek, bukan ancaman abstrak tanpa rujukan konkret.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memutar arah surah. Empat ayat sebelumnya berisi pernyataan tentang Allah, yaitu tasbih seluruh alam, penciptaan manusia, pembentukan rupa, dan keluasan pengetahuan. Di sini yang dibicarakan orang-orang terdahulu yang kufur, dan bentuknya bukan pernyataan melainkan pertanyaan.

Rangkaian (أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ, a-lam ya'tikum naba'u) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 14:9 dan 64:5. Di kedua tempat itu yang ditanyakan bukan apakah orangnya percaya, melainkan apakah kabarnya sudah sampai. Pertanyaan tentang sampainya kabar berbeda dari pertanyaan tentang sikap terhadap kabar, dan yang dipilih di sini yang pertama.

Rangkaian (وَبَالَ أَمْرِهِمْ, wabaala amrihim) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:15 dan 64:5. Bentuk yang sama dengan kata ganti perempuan tunggal dipakai di 65:9, dan bentuk dengan kata ganti lelaki tunggal di 5:95. Jadi empat tempat memakai susunan yang sama dengan pemilik yang berbeda-beda, dan tiga di antaranya berkumpul di surah-surah yang berdampingan.

Di keempat tempat tersebut yang dirasakan selalu akibat dari urusan orang itu sendiri, tak pernah akibat dari urusan pihak lain. Terjemahan menahan kata ganti pemiliknya dan tidak menggantinya dengan kata umum, sebab kata ganti itulah yang membedakan akibat perbuatan dari kemalangan yang datang tanpa sebab.

Dua akibat disebut berurutan, dan keduanya tidak sejenis. Yang pertama sudah dirasakan dan dinyatakan dengan bentuk lampau; yang kedua masih tersedia bagi mereka dan dinyatakan dengan bentuk yang menyatakan kepemilikan. Jadi satu disebut sudah lewat, satu lagi disebut masih menunggu.

Susunan pertanyaannya juga tidak menuntut jawaban lisan. Ia dibuka dengan bentuk yang mengandaikan jawabannya sudah diketahui, sehingga yang sebenarnya dikerjakan bukan bertanya melainkan mengingatkan. Terjemahan mempertahankan bentuk pertanyaannya dan tidak mengubahnya menjadi pernyataan.

Perpindahan dari pernyataan ke pertanyaan itu terjadi tanpa kata penghubung. Empat ayat pertama surah ini tidak sekali pun menyapa pembacanya dengan pertanyaan; semuanya berupa kabar. Ayat kelima membuka dengan menanyakan sesuatu, dan pertanyaannya diarahkan kepada 'kalian', pihak yang di empat ayat sebelumnya cuma disebut sebagai yang diciptakan dan yang dibentuk. Jadi pembaca berpindah dari yang dibicarakan menjadi yang diajak bicara.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa orang-orang terdahulu itu, tidak disebut kapan mereka hidup, dan tidak disebut apa persisnya yang mereka kerjakan. Yang disebut cuma bahwa beritanya ada dan bahwa akibatnya mereka rasakan. Menahan sisanya membuat kabar itu tak bisa ditolak dengan alasan bahwa keadaannya berbeda.

Tafsiran

Ayat ini mengingatkan lewat kisah umat-umat terdahulu yang kufur dan merasakan akibat buruknya.

Letaknya memutar arah surah. Empat ayat sebelumnya berisi pernyataan tentang Allah; di sini yang dibicarakan orang-orang terdahulu, dan bentuknya pertanyaan, bukan pernyataan.

Pertanyaan pembukanya dipakai juga di 14:9, dan di kedua tempat yang ditanyakan bukan apakah orangnya percaya melainkan apakah kabarnya sudah sampai. Bentuknya pun mengandaikan jawabannya sudah diketahui, sehingga yang dikerjakan bukan bertanya melainkan mengingatkan.

Kalimat tentang akibat yang dirasakan dipakai juga di 59:15, sedangkan bentuk yang sama dengan pemilik yang berbeda berdiri di 5:95 dan 65:9. Tiga dari empat tempat itu berkumpul di surah-surah yang berdampingan.

Di keempatnya yang dirasakan selalu akibat dari urusan orang itu sendiri, tak pernah akibat dari urusan pihak lain.

Perpindahan dari pernyataan ke pertanyaan terjadi tanpa kata penghubung. Empat ayat pertama surah ini semuanya berupa kabar; ayat kelima membuka dengan menanyakan sesuatu kepada 'kalian', pihak yang sebelumnya cuma disebut sebagai yang diciptakan dan yang dibentuk.

Dua akibat disebut berurutan dan keduanya tidak sejenis: yang pertama sudah dirasakan, yang kedua masih tersedia bagi mereka.

Tidak disebut siapa orang-orang terdahulu itu, tidak disebut kapan mereka hidup, dan tidak disebut apa persisnya yang mereka kerjakan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menanyakan apakah kabarnya belum sampai. Bukan apakah percaya, melainkan apakah sudah mendengar. Rangkaian pertanyaan itu dipakai 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 14:9 dan 64:5, dan di kedua tempat yang ditanyakan hal yang sama. Bertanya soal sampainya kabar berbeda dari bertanya soal sikap terhadap kabar: yang pertama bisa dijawab dengan jujur oleh siapa pun, sedangkan yang kedua menuntut orang membela dirinya lebih dulu. Yang ditanyakan di sini hal yang tak seorang pun rugi mengakuinya.
  • Yang mereka rasakan disebut akibat urusan mereka. Bukan nasib, melainkan buah pilihannya. Rangkaian itu dipakai 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:15 dan 64:5, dan bentuk yang sama dengan pemilik berbeda berdiri di 5:95 dan 65:9. Di keempat tempat tersebut yang dirasakan selalu milik yang merasakannya, tak pernah milik pihak lain. Allah tidak menyediakan satu pun tempat di mana kalimat ini bisa dibaca sebagai kemalangan yang datang tanpa sebab, sebab kata gantinya selalu menunjuk kembali kepada yang merasakannya.
  • Dua akibat disebut Allah berurutan, dan keduanya tidak sejenis. Yang pertama sudah dirasakan dan dinyatakan dengan bentuk lampau; yang kedua masih tersedia bagi mereka dan dinyatakan sebagai sesuatu yang mereka miliki. Satu sudah lewat, satu masih menunggu. Susunan begitu menutup dua anggapan sekaligus: bahwa yang sudah tertimpa berarti sudah selesai perkaranya, dan bahwa yang belum tertimpa berarti tidak akan. Dua-duanya ditutup dalam satu kalimat yang pendek.
  • Bentuk pertanyaannya mengandaikan jawabannya sudah diketahui, sehingga yang dikerjakan Allah bukan bertanya melainkan mengingatkan. Terjemahan mempertahankan bentuk itu dan tidak mengubahnya menjadi pernyataan. Bedanya terasa: pernyataan menaruh pembaca sebagai penerima kabar, sedangkan pertanyaan menaruhnya sebagai orang yang sedang diajak memeriksa apa yang sudah ada padanya. Yang kedua lebih sulit dilewati begitu saja, sebab ia menunggu sesuatu dari pihak yang mendengarnya, meski tidak menuntut suara.
  • Kalimat tentang merasakan akibat urusan sendiri berkumpul di surah-surah yang berdekatan, yaitu 59:15, 64:5, dan 65:9. Yang keempat, 5:95, letaknya jauh dan perkaranya pun lain. Allah mengulang satu cara bicara dalam jarak yang pendek, dan pengulangan dalam jarak pendek bekerja berbeda dari yang tersebar: ia terbaca sebagai penekanan yang sedang berjalan, bukan gagasan yang kebetulan muncul lagi. Yang dibaca berurutan tiga kali dalam jarak dekat sulit dianggap kebetulan.
  • Siapa orang-orang terdahulu yang dimaksud? Namanya tidak disebut, zamannya tidak disebut, dan perbuatannya tidak dirinci. Yang dinyatakan cuma bahwa beritanya ada dan akibatnya mereka rasakan. Menahan keterangan seperti itu menutup jalan keluar yang paling mudah, yaitu menganggap keadaan mereka berbeda sehingga kabarnya tidak berlaku. Tanpa nama dan tanpa zaman, tak ada yang bisa dipakai untuk membedakan diri dari mereka.