ذَٰلِكَ بِأَنَّهُ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالُوا أَبَشَرٌ يَهْدُونَنَا فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوْا ۚ وَاسْتَغْنَى اللَّهُ ۚ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Yang demikian itu karena sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan keterangan-keterangan yang nyata, lalu mereka berkata, “Apakah manusia yang memberi petunjuk kepada kami?” Maka mereka kufur dan berpaling. Dan Allah berkecukupan. Allah berkecukupan lagi terpuji.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. ذَٰلِكَ بِأَنَّهُ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِdzaalika bi-annahu kaanat ta'tiihim rusuluhum bi-l-bayyinaatiyang demikian itu karena sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan keterangan-keterangan yang nyata
  2. فَقَالُوا أَبَشَرٌ يَهْدُونَنَا فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوْاfa-qaaluu a-basyarun yahduunanaa fa-kafaruu wa-tawallawlalu mereka berkata, 'apakah manusia yang memberi petunjuk kepada kami?' maka mereka kufur dan berpaling
  3. وَاسْتَغْنَى اللَّهُ ۚ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌwa-staghnaa llaahu wa-llaahu ghaniyyun hamiidundan Allah berkecukupan; Allah berkecukupan lagi terpuji

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  2. بِأَنَّهُbi-annahukarena sesungguhnya ia
  3. كَانَتْkaanatadalah
  4. تَأْتِيهِمْta'tiihimdatang kepada mereka
  5. رُسُلُهُمْrusuluhumrasul-rasul mereka
  6. بِالْبَيِّنَاتِbi-l-bayyinaatidengan bukti-bukti yang nyata
  7. فَقَالُواfa-qaaluulalu mereka berkata
  8. أَبَشَرٌa-basyarunapakah manusia
  9. يَهْدُونَنَاyahduunanaamereka memberi kami petunjuk
  10. فَكَفَرُواfa-kafaruumaka mereka kufur
  11. وَتَوَلَّوْاwa-tawallawdan mereka berpaling
  12. وَاسْتَغْنَىwa-staghnaadan Dia Mahakaya
  13. اللَّهُllaahuAllah
  14. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  15. غَنِيٌّghaniyyunMahakaya
  16. حَمِيدٌhamiidunMaha Terpuji

Inti bacaan

Akar penolakan berbasis prasangka: 'apakah (pantas jenis) manusia yang memberi petunjuk kepada kami?', pengungkapan bahwa penolakan sering berasal dari prasangka terhadap sumber pesan (karena manusia biasa) daripada evaluasi objektif terhadap isi pesan itu sendiri, peringatan untuk menilai kebenaran berdasarkan substansi bukan status pembawanya.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(Hukuman)', '(terjadi)', '(yang membawa)', '(pantas jenis)', dan '(mereka)' seluruhnya dihapus, tidak berpadanan kata Arab. 'Rusuluhum' diterjemahkan dengan akhiran 'mereka' yang sempat hilang pada draf (akhiran jamak '-hum' tak diterjemahkan sebelumnya). Pengulangan akar gny ('istaghnaa llaahu' dan 'llaahu ghaniyyun') dipertahankan sesuai gaya penekanan Arab asli, bukan redundansi tak disengaja.

Ayat ini menjawab pertanyaan yang ditinggalkan 64:5. Di sana ditanyakan apakah berita orang-orang terdahulu sudah sampai, dan akibat yang mereka rasakan disebut tanpa sebab. Di sini sebabnya diterangkan. Jadi dua ayat berturut-turut menyusun satu keterangan yang utuh: kabarnya lebih dulu, alasannya menyusul.

Kata (أَبَشَرٌ, a-basyarun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 64:6. Kata dasarnya sendiri jauh lebih sering dipakai, yaitu 22 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 14:10, 16:103, dan 18:110. Jadi yang jarang bukan katanya melainkan bentuk pertanyaannya, dan bentuk itu dipakai untuk menolak, bukan untuk bertanya.

Keberatan yang mereka ucapkan tidak menyentuh isi yang dibawa. Rangkaian sebelumnya sudah menyebut bahwa rasul-rasul datang dengan keterangan yang nyata, sehingga penolakan itu jatuh sesudah bukti, bukan sebelumnya. Terjemahan menahan urutan tersebut dan tidak memindahkan keberatan itu ke depan.

Kata (وَاسْتَغْنَى, wa-staghnaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 64:6 dan 92:8. Bentuk yang sama tanpa huruf sambung di depannya muncul 2 kali pula, yaitu di 80:5 dan 96:7. Dari empat tempat tersebut, tiga menyebut manusia yang merasa dirinya cukup, dan cuma satu menyebut Allah yang memang berkecukupan, yaitu ayat ini. Satu kata kerja dipakai untuk dua hal yang berlawanan mutunya: yang satu perasaan yang keliru, yang lain keadaan yang sebenarnya.

Rangkaian (غَنِيٌّ حَمِيدٌ, ghaniyyun hamiidun) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:267, 14:8, 31:12, dan 64:6. Di keempat tempat itu kedua sifat tersebut selalu berpasangan, tak pernah berdiri sendiri. Yang pertama menyangkut tidak butuhnya Dia, yang kedua menyangkut layak dipuji-Nya. Keduanya bersama menutup satu kesalahpahaman yang wajar: bahwa yang tidak membutuhkan biasanya juga tidak peduli, sehingga tidak ada alasan memujinya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut umat yang mana, tidak disebut rasul yang mana, dan tidak disebut keterangan nyata seperti apa yang dibawa. Yang disebut cuma bentuk keberatannya dan akibatnya. Menahan sisanya membuat keberatan itu terbaca sebagai pola yang berulang, bukan sebagai kejadian satu kali di satu tempat.

Tafsiran

Ayat ini menjelaskan sebab kehancuran umat terdahulu: penolakan mereka terhadap rasul yang berwujud manusia biasa, berujung pada kekufuran, padahal Allah sama sekali tidak membutuhkan mereka.

Letaknya menjawab apa yang ditinggalkan 64:5. Di sana akibat yang dirasakan disebut tanpa sebab; di sini sebabnya diterangkan, sehingga dua ayat berturut-turut menyusun satu keterangan yang utuh.

Bentuk pertanyaan yang mereka pakai tidak ada di tempat lain mana pun, sedangkan kata dasarnya dipakai 22 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 14:10, 16:103, dan 18:110. Yang jarang bukan katanya melainkan bentuk pertanyaannya, dan bentuk itu dipakai untuk menolak.

Penolakannya jatuh sesudah bukti, bukan sebelumnya, sebab rangkaian sebelum itu sudah menyebut bahwa rasul-rasul datang membawa keterangan yang nyata.

Kata yang menutup ayat ini dipakai juga di 80:5, 92:8, dan 96:7. Di ketiga tempat tersebut yang merasa cukup adalah manusia; cuma di sini yang berkecukupan adalah Allah.

Penutupnya memasangkan dua sifat yang di 2:267, 14:8, dan 31:12 juga selalu berdampingan, tak pernah berdiri sendiri.

Ayat ini juga menutup dengan mengulang satu akar kata dua kali berturut-turut, sekali sebagai perbuatan dan sekali sebagai sifat. Pengulangan itu dipertahankan terjemahan sebagai penekanan, bukan diperlakukan sebagai kelebihan kata.

Tidak disebut umat yang mana, dan tidak disebut keterangan nyata seperti apa yang dibawa.

Renungan dan Hikmah

  • Yang mereka persoalkan bukan isi pesan dari Allah, melainkan siapa yang membawanya. Bentuk pertanyaan yang mereka pakai tidak ada di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an, hanya di 64:6, sedangkan kata dasarnya dipakai 22 kali. Jadi yang jarang bentuk keberatannya, bukan kosakatanya. Menolak sesuatu karena siapa yang membawanya adalah cara paling cepat untuk tidak pernah berhadapan dengan isinya, dan cara itu tidak menuntut satu pun bantahan atas isi. Yang ditolak jenisnya, bukan kebenarannya.
  • Allah menyebut bahwa rasul-rasul datang membawa keterangan yang nyata, dan penolakan itu muncul sesudahnya. Bukan sebelum. Urutan tersebut ditahan terjemahan dan tidak dibalik. Yang mereka tolak bukan klaim tanpa bukti, dan itu yang membuat keberatan tentang jenis pembawanya terdengar sebagai apa adanya: bukan permintaan bukti yang wajar, melainkan penolakan yang mencari bentuk untuk menyatakan dirinya. Keberatan yang datang sesudah bukti berbeda sifatnya dari keberatan yang datang sebelumnya.
  • Penutupnya menyebut Allah sama sekali tidak membutuhkan mereka. Kalimat itu memindahkan seluruh perkaranya: yang rugi dari penolakan bukan pihak yang menyampaikan. Peringatan yang disampaikan oleh pihak tak berkepentingan sulit dibaca sebagai bujukan, dan justru itu yang membuatnya berat. Orang bisa menolak bujukan tanpa kehilangan apa-apa; menolak keterangan dari yang tak butuh jawabannya menyisakan pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang sedang dirugikan, dan pertanyaan itu tidak bisa dialihkan kepada yang menyampaikan.
  • Kata kerja yang menyebut kecukupan di ayat ini dipakai di empat tempat, yaitu 64:6, 80:5, 92:8, dan 96:7. Di tiga tempat sisanya yang merasa cukup adalah manusia, dan di dua di antaranya perasaan itu disebut bersama kekikiran atau kesombongan. Cuma di sini Allah yang berkecukupan. Satu kata dipakai untuk keadaan yang sebenarnya dan untuk perasaan yang keliru, dan yang membedakan bukan katanya melainkan siapa yang menyandangnya. Manusia yang merasa cukup selalu keliru; Allah yang berkecukupan tidak sedang merasa.
  • Dua sifat penutupnya muncul berpasangan 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:267, 14:8, 31:12, dan 64:6, dan tak sekali pun berdiri sendiri. Allah menaruh keduanya bersama, dan itu menutup kesalahpahaman yang wajar: bahwa yang tidak membutuhkan biasanya juga tidak peduli, sehingga tidak ada alasan memujinya. Di sini ketidakbutuhan justru berdampingan dengan kelayakan dipuji, dan pujian yang diberikan kepada yang tak membutuhkannya tidak bisa berupa upeti. Ia cuma bisa berupa pengakuan atas apa yang memang begitu adanya.
  • Umat yang mana, rasul yang mana, dan keterangan seperti apa? Tidak satu pun disebut. Yang dinyatakan cuma bentuk keberatannya dan akibatnya. Menahan keterangan seperti itu memindahkan yang dikabarkan dari sebuah kejadian di satu tempat menjadi pola yang berulang. Tanpa nama dan tanpa zaman, keberatan tersebut tidak bisa ditutup dengan menganggapnya kekeliruan orang dahulu yang sudah lewat masanya. Yang tak bertanggal tak bisa dinyatakan kedaluwarsa.