زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Orang-orang yang kufur mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Tidak demikian, demi Tuhanku, kalian pasti akan dibangkitkan, kemudian pasti diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُواza'ama lladziina kafaruu an lan yub'atsuuorang-orang yang kufur mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan
  2. قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْqul balaa wa-rabbii la-tub'atsunna tsumma la-tunabba'unna bi-maa 'amiltumkatakanlah, 'tidak demikian, demi Tuhanku, kalian pasti akan dibangkitkan, kemudian pasti diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan'
  3. وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌwa-dzaalika 'alaa llaahi yasiirun'dan yang demikian itu mudah bagi Allah'

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. زَعَمَza'amamengira
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. كَفَرُواkafaruukufur
  4. أَنْanbahwa
  5. لَنْlantidak akan
  6. يُبْعَثُواyub'atsuumereka dibangkitkan
  7. قُلْqulkatakanlah
  8. بَلَىٰbalaaya
  9. وَرَبِّيwa-rabbiidan Tuhanku
  10. لَتُبْعَثُنَّla-tub'atsunnasungguh kalian akan dibangkitkan
  11. ثُمَّtsummakemudian
  12. لَتُنَبَّؤُنَّla-tunabba'unnasungguh kalian akan diberitakan
  13. بِمَاbi-maapada apa yang
  14. عَمِلْتُمْ'amiltumkalian kerjakan
  15. وَذَٰلِكَwa-dzaalikadan itulah
  16. عَلَى'alaaatas
  17. اللَّهِllaahiAllah
  18. يَسِيرٌyasiirunmudah

Inti bacaan

Argumen tegas melawan penolakan kebangkitan: 'orang-orang yang kufur mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan; katakanlah: tidak demikian, demi Tuhanku, kalian pasti akan dibangkitkan', respons langsung dan berani terhadap keraguan, disertai penjelasan tujuan (pemberitahuan tentang perbuatan) yang memberi makna pada kebangkitan itu sendiri.

Penjelasan pilihan kata

'Dzaalika alaa llaahi yasiirun' dipertahankan 'yang demikian itu mudah': yang menyusulnya kata sifat ('yasiirun'), bukan pola dzaalika+nomina definit yang diterjemahkan 'itulah'.

Kata (زَعَمَ, za'ama) dengan bentuk seperti di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 64:7. Kata itu tidak berarti sekadar berpendapat; ia menandai perkiraan yang diucapkan tanpa dasar yang bisa diperiksa. Terjemahan memakai 'mengira', bukan 'berkata' atau 'meyakini', sebab dua pilihan tersebut akan menaikkan kedudukan perkiraan itu menjadi pendirian yang berdasar.

Kata (لَتُبْعَثُنَّ, la-tub'atsunna) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 64:7. Bentuknya memuat dua penegasan sekaligus, yaitu huruf penegas di depan dan penegas di ujungnya. Jawaban atas perkiraan tadi karena itu tidak setara bobotnya dengan perkiraan itu sendiri: yang satu diucapkan tanpa dasar, yang lain dinyatakan dengan bentuk yang paling kuat yang tersedia dalam bahasanya.

Jawabannya juga disertai sumpah, dan yang dipakai bersumpah adalah 'Tuhanku'. Bukan dalil yang diajukan, melainkan kepastian dari pihak yang mengetahui. Susunan itu ditahan terjemahan apa adanya, sebab menggantinya dengan penalaran akan mengubah jenis jawabannya.

Rangkaian (عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ, 'alaa llaahi yasiirun) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:70, 29:19, 35:11, 57:22, dan 64:7. Di kelima tempat itu yang disebut mudah selalu perkara yang bagi manusia terdengar mustahil atau amat berat, seperti mencatat segala sesuatu, memulai penciptaan kembali, dan mengetahui umur seseorang. Jadi rangkaian tersebut tidak dipakai untuk perkara yang memang ringan; ia justru dipasang pada perkara yang paling berat.

Dua tahap disebut berurutan sesudah sumpah itu, yaitu dibangkitkan lalu diberitakan apa yang dikerjakan. Yang kedua memakai bentuk penegasan yang sama dengan yang pertama. Jadi bukan cuma kebangkitannya yang dipastikan, melainkan juga laporannya, dan keduanya dipastikan dengan cara yang setara.

Perintah menjawabnya ditujukan kepada satu orang, sedangkan isi jawabannya ditujukan kepada banyak orang. Yang disuruh berkata satu, yang dikatai jamak. Susunan itu menaruh penjawabnya sebagai penyampai, bukan sebagai pihak yang berbantah atas namanya sendiri, sehingga bobot jawabannya tidak bergantung pada kedudukan orang yang mengucapkannya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan kebangkitan itu terjadi, tidak disebut bagaimana caranya, dan tidak disebut seperti apa bentuk pemberitaannya. Yang disebut cuma bahwa keduanya pasti dan bahwa keduanya mudah bagi-Nya. Menahan sisanya memindahkan perdebatan dari soal cara ke soal kepastian, dan cuma yang kedua yang sedang dipersoalkan.

Tafsiran

Ayat ini membantah tegas keraguan orang-orang kufur terhadap kebangkitan, menegaskan hal itu mudah bagi Allah.

Letaknya melanjutkan 64:6 dengan berpindah dari penolakan terhadap pembawa pesan ke penolakan terhadap isi pesannya. Di ayat sebelumnya yang ditolak jenis rasulnya; di sini yang ditolak apa yang dikabarkannya tentang hari kebangkitan.

Kata yang dipakai untuk perkiraan mereka tidak ada di tempat lain mana pun dalam bentuk ini, dan ia menandai perkiraan yang diucapkan tanpa dasar yang bisa diperiksa.

Jawabannya tidak berupa dalil melainkan sumpah, dan kata yang menyatakan kepastiannya juga tidak dipakai di tempat lain mana pun. Bentuknya memuat dua penegasan sekaligus, sehingga bobot jawabannya tidak setara dengan bobot perkiraan yang dijawabnya.

Dua tahap disebut berurutan, yaitu dibangkitkan lalu diberitakan apa yang dikerjakan, dan keduanya memakai bentuk penegasan yang sama.

Penutupnya memakai rangkaian yang dipakai 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:70, 29:19, 35:11, 57:22, dan 64:7. Di kelimanya yang disebut mudah selalu perkara yang bagi manusia terdengar mustahil atau amat berat, tidak sekali pun perkara yang memang ringan.

Tidak disebut kapan kebangkitan itu terjadi, dan tidak disebut seperti apa bentuk pemberitaannya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyuruh menjawab perkiraan mereka dengan sumpah, bukan dengan dalil. Yang dipakai kepastian dari pihak yang mengetahui, bukan penalaran yang harus disepakati lebih dulu. Kata yang dipakai untuk perkiraan mereka tidak ada di tempat lain mana pun dalam bentuk ini, hanya di 64:7, dan ia menandai ucapan tanpa dasar yang bisa diperiksa. Menjawab perkiraan tanpa dasar dengan dalil akan menaikkan kedudukan perkiraan itu menjadi pendapat yang setara; sumpah menolak menaikkannya. Allah tidak menempatkan kabar dari-Nya sebagai salah satu pendapat yang bersaing.
  • Sesudah dibangkitkan, Allah menyebut mereka akan diberitakan apa yang telah dikerjakan. Dua tahap, dan keduanya memakai bentuk penegasan yang sama kuatnya. Yang menanti bukan kebangkitannya saja, melainkan laporannya. Kebangkitan tanpa laporan cuma perpanjangan keberadaan; yang membuatnya berarti justru tahap kedua, dan tahap kedua itulah yang paling mudah luput dari perhatian orang yang sedang memperdebatkan tahap pertama. Allah menyebut keduanya sekaligus, sehingga perdebatan tentang yang satu tak bisa menyembunyikan yang lain.
  • Penutupnya menyebut hal itu mudah bagi-Nya. Bukan berat. Yang dianggap mustahil oleh mereka disebut dengan kata yang paling ringan. Rangkaian itu dipakai 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:70, 29:19, 35:11, 57:22, dan 64:7, dan di kelimanya yang disebut mudah selalu perkara yang bagi manusia terdengar mustahil. Rangkaian itu tidak pernah dipasang pada perkara yang memang ringan, sehingga kata 'mudah' di situ mengukur kesanggupan yang menyanggupi, bukan bobot perkaranya. Berat bagi siapa selalu menentukan artinya.
  • Kata yang menyatakan kepastian kebangkitan tidak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an, hanya di 64:7, dan bentuknya memuat dua penegasan sekaligus. Jadi jawaban Allah tidak setara bobotnya dengan perkiraan yang dijawabnya: yang satu diucapkan tanpa dasar, yang lain dinyatakan dengan bentuk terkuat yang tersedia dalam bahasanya. Ketidaksetaraan itu disengaja, dan ia menjawab bukan cuma isi perkiraannya melainkan juga kesembronoan cara mengucapkannya. Allah menaruh bobot jawaban tidak menurut bobot lawannya.
  • Ayat sebelumnya menceritakan orang yang menolak rasul karena ia manusia; ayat ini menceritakan orang yang menolak kabar tentang kebangkitan. Allah menaruh keduanya berurutan tanpa kata penghubung. Dua bentuk penolakan yang berbeda sasarannya, satu pada pembawa dan satu pada isi, tetapi keduanya sama-sama menghindari perkara yang sesungguhnya. Yang pertama tak perlu memeriksa isi; yang kedua tak perlu menunggu buktinya. Keduanya sama-sama berhenti sebelum sampai pada apa yang sesungguhnya ditawarkan.
  • Bagaimana kebangkitan itu terjadi, dan seperti apa bentuk pemberitaannya? Ayat ini tidak menjawab keduanya, dan tidak menyebut kapan. Yang dinyatakan cuma bahwa keduanya pasti dan mudah bagi-Nya. Menahan keterangan seperti itu memindahkan perdebatan dari soal cara ke soal kepastian, dan cuma yang kedua yang sedang dipersoalkan. Menjelaskan caranya justru akan memberi bahan baru untuk berdebat tanpa menyentuh yang sebenarnya diragukan. Allah menutup jalan memutar itu dengan tidak membukanya sama sekali.