فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Maka berimanlah kepada Allah, Rasul-Nya, dan cahaya yang telah Kami turunkan. Allah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَاfa-aaminuu bi-llaahi wa-rasuulihi wa-n-nuuri lladzii anzalnaamaka berimanlah kepada Allah, Rasul-Nya, dan cahaya yang telah Kami turunkan
  2. وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌwa-llaahu bi-maa ta'maluuna khabiirunAllah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. فَآمِنُواfa-aaminuumaka berimanlah kalian
  2. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  3. وَرَسُولِهِwa-rasuulihidan Rasul-Nya
  4. وَالنُّورِwa-n-nuuridan cahaya
  5. الَّذِيlladziiyang
  6. أَنْزَلْنَاanzalnaaKami menurunkan
  7. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  8. بِمَاbi-maaatas apa yang
  9. تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan
  10. خَبِيرٌkhabiirunmengetahui

Inti bacaan

Tiga objek keimanan yang saling terkait: 'berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan cahaya (Al-Qur'an) yang telah Kami turunkan', struktur keimanan yang mencakup sumber (Allah), perantara (Rasul), dan pesan (wahyu), ketiga elemen yang perlu diterima bersamaan bukan dipilih secara sebagian.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(Jika demikian halnya,)' dan '(Al-Qur'an)' tidak dipakai, tidak berpadanan kata Arab.

Ayat ini berpindah dari membantah ke menyeru. Dua ayat sebelumnya menceritakan penolakan, yang satu terhadap pembawa pesan dan yang lain terhadap isinya. Di sini yang diminta justru sebaliknya, yaitu beriman, dan yang diseru bukan mereka yang menolak melainkan pembacanya.

Tiga hal disebut sebagai tempat beriman, yaitu Allah, Rasul-Nya, dan cahaya yang diturunkan. Ketiganya disusun berurutan dalam satu kalimat, dari yang mengutus, ke yang diutus, lalu ke yang dibawa. Terjemahan menahan urutan tersebut dan tidak menggabungkan dua yang terakhir menjadi satu keterangan.

Rangkaian (وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا, wa-n-nuuri lladzii anzalnaa) tidak dipakai di tempat lain mana pun. Yang menarik penyebutan wahyu dengan kata 'cahaya', bukan dengan kata 'kitab'. Pilihan kata itu menyambung ke 64:6 yang menyebut keterangan yang nyata, sebab keduanya memakai gagasan yang sama, yaitu sesuatu yang membuat hal lain terlihat.

Kata ganti pelakunya juga berpindah di dalam satu kalimat. Dua yang pertama memakai bentuk orang ketiga, yaitu Allah dan Rasul-Nya, sedangkan penurunan cahaya memakai bentuk 'Kami'. Perpindahan itu tidak diratakan terjemahan menjadi satu bentuk.

Rangkaian (بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ, bi-maa ta'maluuna khabiirun) muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:234, 2:271, 3:180, 31:29, 57:10, 58:3, 58:11, dan 64:8. Delapan kemunculan itu tersebar di enam surah, sebab Surah 2 memuatnya dua kali dan Surah 58 juga dua kali.

Surah ini memakai dua penutup yang bersaudara di dua tempat. Di 64:2 yang dipakai kata tentang melihat, dan di sini kata tentang mengetahui secara mendalam. Keduanya sama-sama diikuti keterangan 'apa yang kalian kerjakan', dan keduanya sama-sama menutup kalimat. Jadi surah yang sama menyebut perbuatan manusia dua kali di bawah dua sifat yang berbeda, yang satu menyangkut yang tampak dan yang lain menyangkut yang tersirat.

Seruan ini juga berdiri tanpa satu pun ancaman, padahal dua ayat sebelumnya sudah menyediakan bahannya. Di 64:6 disebutkan akibat penolakan, dan di 64:7 disebutkan kepastian yang mereka ingkari. Sesudah dua ayat itu, ajakan di sini tidak diteruskan dengan menyebut apa yang menimpa yang menolaknya. Susunan begitu meninggalkan pilihan pada pembacanya tanpa mendesaknya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut cahaya itu berupa apa, tidak disebut kepada siapa ia diturunkan, dan tidak disebut apa akibatnya kalau seruan ini tidak dituruti. Yang disebut cuma tiga tempat beriman dan satu keterangan tentang pengetahuan Allah. Menahan sisanya membuat seruan ini berdiri tanpa ancaman, dan itu membedakannya dari dua ayat sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini menyerukan keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, dan cahaya wahyu yang diturunkan.

Letaknya berpindah dari membantah ke menyeru. Dua ayat sebelumnya menceritakan penolakan terhadap pembawa pesan dan terhadap isinya; di sini yang diminta justru beriman, dan yang diseru bukan pihak yang menolak melainkan pembacanya.

Tiga hal disebut berurutan sebagai tempat beriman, dari yang mengutus ke yang diutus lalu ke yang dibawa. Penyebutan yang ketiga memakai kata cahaya, bukan kata kitab, dan pilihan itu menyambung ke 64:6 yang menyebut keterangan yang nyata.

Kata ganti pelakunya berpindah di tengah kalimat, dari bentuk orang ketiga menjadi bentuk 'Kami', dan perpindahan itu tidak diratakan terjemahan.

Penutupnya memakai rangkaian yang dipakai 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:234, 2:271, 3:180, 31:29, 57:10, 58:3, 58:11, dan 64:8.

Surah ini memakai dua penutup yang bersaudara. Di 64:2 yang dipakai kata tentang melihat, dan di sini kata tentang mengetahui secara mendalam, keduanya sama-sama diikuti keterangan tentang apa yang dikerjakan.

Seruan ini berdiri tanpa satu pun ancaman, padahal dua ayat sebelumnya sudah menyediakan bahannya, yaitu akibat penolakan di 64:6 dan kepastian yang diingkari di 64:7.

Tidak disebut cahaya itu berupa apa, dan tidak disebut apa akibatnya kalau seruan ini tidak dituruti.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut tiga hal berurutan sebagai tempat beriman, yaitu diri-Nya, Rasul-Nya, dan cahaya yang diturunkan. Urutannya bergerak dari yang mengutus, ke yang diutus, lalu ke yang dibawa. Terjemahan menahan urutan itu dan tidak menggabungkan dua yang terakhir. Susunan begitu menutup jalan yang paling sering ditempuh orang, yaitu menerima yang paling jauh sambil menolak yang paling dekat, sebab yang paling dekat itulah yang menuntut sesuatu hari ini. Allah menyusun ketiganya sebagai satu tuntutan, bukan tiga yang boleh dipilih.
  • Yang diturunkan disebut cahaya, bukan kitab. Rangkaian penyebutannya tidak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an. Pilihan kata itu menyambung ke 64:6 yang menyebut keterangan yang nyata, sebab keduanya memakai gagasan yang sama, yaitu sesuatu yang membuat hal lain terlihat. Kitab bisa disimpan tanpa dibuka; cahaya tidak berguna kecuali dipakai untuk melihat sesuatu yang lain, dan itu memindahkan tekanan dari memiliki ke memakai. Yang menyimpan cahaya tanpa melihat apa pun belum memakainya.
  • Surah ini menutup dua ayat dengan dua sifat Allah yang bersaudara. Di 64:2 yang dipakai kata tentang melihat, dan di sini kata tentang mengetahui secara mendalam. Keduanya sama-sama diikuti keterangan tentang apa yang kalian kerjakan, dan rangkaian yang di sini dipakai 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:234, 2:271, 3:180, 31:29, 57:10, 58:3, 58:11, dan 64:8. Yang satu menyangkut apa yang tampak, yang lain menyangkut apa yang tersirat di baliknya, sehingga perbuatan yang sama diperiksa dua lapis. Allah tidak memakai satu sifat saja untuk menutup dua ayat yang berbicara tentang hal yang sama.
  • Dua ayat sebelumnya berisi penolakan dan akibatnya; ayat ini berisi seruan tanpa satu pun ancaman. Tidak disebut apa yang terjadi kalau seruan ini tidak dituruti. Allah menaruh ajakan itu berdiri sendiri, dan letaknya persis sesudah dua gambaran tentang orang yang menolak. Susunan begitu meninggalkan pilihan pada pembacanya tanpa mendesaknya, padahal bahan untuk mendesak sudah tersedia lengkap di dua ayat sebelumnya. Allah menyediakannya tanpa memakainya.
  • Dua sebutan pertama memakai bentuk orang ketiga, yaitu Allah dan Rasul-Nya, lalu penurunan cahaya memakai bentuk 'Kami'. Perpindahan itu terjadi di dalam satu kalimat dan tidak diratakan terjemahan. Bentuk 'Kami' menaruh yang berbicara sebagai pihak yang hadir, bukan yang dibicarakan dari jauh. Jadi di tengah seruan tentang iman kepada Allah, Allah sendiri berpindah dari disebut menjadi berbicara. Yang diseru beriman kepada-Nya mendengar suara-Nya di tengah seruan itu.
  • Cahaya itu berupa apa, dan diturunkan kepada siapa? Ayat ini tidak menyebut keduanya. Yang dinyatakan cuma bahwa ia diturunkan dan bahwa kepadanya orang diminta beriman. Menahan keterangan seperti itu mencegah perhatian berpindah ke pertanyaan tentang wujudnya, padahal seruannya bukan supaya orang mengenali bentuknya melainkan supaya memakainya. Cahaya dikenali dari apa yang terlihat karenanya, bukan dari keterangan tentang dirinya. Allah menyebutnya dengan kata yang sudah memuat kegunaannya.