وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Adapun orang-orang yang kufur dan mendustakan tanda-tanda Kami, mereka itulah penghuni api, mereka kekal di dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ خَالِدِينَ فِيهَاwa-lladziina kafaruu wa-kadzdzabuu bi-aayaatinaa ulaa'ika ash-haabu n-naari khaalidiina fiihaaadapun orang-orang yang kufur dan mendustakan tanda-tanda Kami, mereka itulah penghuni api, mereka kekal di dalamnya
  2. وَبِئْسَ الْمَصِيرُwa-bi'sa l-mashiiruitulah seburuk-buruk tempat kembali

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  2. كَفَرُواkafaruukufur
  3. وَكَذَّبُواwa-kadzdzabuudan mendustakan
  4. بِآيَاتِنَاbi-aayaatinaapada tanda-tanda Kami
  5. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  6. أَصْحَابُash-haabupenghuni
  7. النَّارِn-naariapi
  8. خَالِدِينَkhaalidiinakekal
  9. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  10. وَبِئْسَwa-bi'sadan seburuk-buruk
  11. الْمَصِيرُl-mashiirutempat kembali

Inti bacaan

Konsekuensi tegas bagi penolakan aktif: 'orang-orang yang kufur dan mendustakan tanda-tanda Kami, mereka itulah penghuni neraka', kombinasi dua elemen (kekufuran dan pendustaan aktif) yang menegaskan bahwa konsekuensi terkait dengan penolakan yang disengaja, bukan sekadar ketidaktahuan.

Penjelasan pilihan kata

'Ulaa'ika' dikonfirmasi morfologi sebagai kata ganti tunjuk jauh jamak, diterjemahkan 'mereka itulah' sesuai kaidah baku.

Ayat ini menutup pasangan yang dibuka 64:9. Di sana disebut apa yang disediakan bagi yang beriman dan mengerjakan kebajikan; di sini apa yang disediakan bagi yang kufur dan mendustakan. Dua ayat berturut-turut menyusun dua sisi dari satu hari yang sama, yaitu hari yang baru saja dinamai.

Sembilan kata pertama ayat ini sama persis dengan sembilan kata di 2:39. Rangkaian (كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ, kadzdzabuu bi-aayaatinaa ulaa'ika ashhaabu n-naari) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:39 dan 64:10. Yang berbeda cuma penutupnya: 2:39 menyatakan kekekalan dengan susunan kata benda, sedangkan 64:10 menyatakannya dengan susunan keterangan lalu menambahkan satu kalimat tentang buruknya tempat kembali.

Jadi ayat ini bukan pengulangan penuh melainkan pengulangan yang diberi tambahan di ujungnya. Tambahan itulah yang membedakannya, dan tambahan tersebut berupa penilaian, bukan keterangan baru.

Rangkaian (أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ, ulaa'ika ashhaabu n-naari) muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:39, 2:81, 2:217, 2:257, 2:275, 3:116, 7:36, 10:27, 13:5, 58:17, dan 64:10. Sebelas kemunculan itu tersebar di tujuh surah, sebab Surah 2 memuatnya lima kali. Kata tengahnya berarti orang yang menyertai atau menemani sesuatu, sehingga hubungan yang digambarkan bukan sekadar berada di dalamnya melainkan menyertainya.

Rangkaian (بِئْسَ الْمَصِيرُ, bi'sa l-mashiiru) muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:126, 9:73, 58:8, 64:10, dan 67:6. Sebelas kemunculan di sebelas surah, jadi tak satu surah pun memuatnya lebih dari sekali. Rangkaian itu selalu berdiri sebagai penutup dan berupa penilaian atas tempat, bukan atas orangnya.

Dua sebab disebut berurutan, yaitu kufur dan mendustakan tanda-tanda. Keduanya tidak digabungkan menjadi satu, dan yang kedua lebih khusus daripada yang pertama. Terjemahan menahan keduanya terpisah, sebab menggabungkannya akan menghapus perbedaan antara menolak dan menyatakan sesuatu tidak benar.

Bentuk penyebutan kekekalannya pun berbeda dari 64:9. Di ayat sebelumnya dipakai rangkaian yang menambahkan kata tentang selama-lamanya; di sini kata itu tidak ada. Dua ayat berdampingan menyebut kekekalan dengan dua susunan yang tidak sama panjang, dan yang lebih panjang justru dipakai untuk janji, bukan untuk peringatan.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa mereka, tidak disebut tanda-tanda yang mana yang didustakan, dan tidak disebut berapa lama. Yang disebut cuma sebabnya, tempatnya, dan penilaian atas tempat itu. Menahan sisanya menjaga ayat ini tetap sejajar dengan 64:9 yang juga tidak menyebut siapa pun dengan nama.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan nasib orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah: kekal di dalam api.

Letaknya menutup pasangan yang dibuka 64:9. Dua ayat berturut-turut menyusun dua sisi dari satu hari yang sama, yaitu hari yang baru saja dinamai di ayat sebelumnya.

Sembilan kata pertamanya sama persis dengan sembilan kata di 2:39, dan rangkaian itu tidak ditemukan di tempat ketiga mana pun. Yang berbeda cuma penutupnya: 2:39 menyatakan kekekalan dengan susunan kata benda, sedangkan di sini dengan susunan keterangan, lalu ditambahkan satu kalimat tentang buruknya tempat kembali.

Jadi ayat ini pengulangan yang diberi tambahan di ujungnya, dan tambahan itu berupa penilaian, bukan keterangan baru.

Sebutan bagi penghuninya berikut kata tunjuk di depannya dipakai 11 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:257, 7:36, 10:27, dan 58:17, dan kata itu berarti orang yang menyertai sesuatu.

Penutupnya dipakai 11 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:126, 9:73, dan 67:6, tersebar di sebelas surah tanpa satu pun mengulangnya.

Bentuk penyebutan kekekalannya berbeda dari 64:9. Di ayat sebelumnya dipakai rangkaian yang menambahkan kata tentang selama-lamanya; di sini kata itu tidak ada, sehingga yang lebih panjang justru dipakai untuk janji dan bukan untuk peringatan.

Tidak disebut siapa mereka, dan tidak disebut tanda-tanda yang mana yang didustakan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat sebelumnya menyebut apa yang disediakan bagi yang beriman; ayat ini menyebut apa yang disediakan bagi yang kufur. Dua ayat berturut-turut menyusun dua sisi dari satu hari yang sama, yaitu hari yang baru saja dinamai Allah di 64:9. Penamaan hari itu memakai gambaran kerugian dalam pertukaran, dan pertukaran mengandaikan dua pihak. Susunan dua ayat ini memperlihatkan kedua pihak tersebut, dan menaruh yang beruntung lebih dulu. Urutan itu sama dengan urutan di 64:9, sehingga yang dibaca terakhir bukan janji melainkan peringatan.
  • Sembilan kata pertama ayat ini sama persis dengan sembilan kata di 2:39, dan rangkaian sepanjang itu tidak ditemukan di tempat ketiga mana pun. Yang berbeda cuma penutupnya. Allah memakai susunan yang sudah dipakai di surah kedua, lalu menggantinya di ujung dengan satu kalimat penilaian. Pengulangan yang hampir utuh seperti itu membuat perbedaan yang kecil menjadi terlihat jelas, sebab yang berubah berdiri sendirian di antara yang tidak berubah. Yang ditambahkan Allah di ujung karena itu tidak mungkin luput dibaca.
  • Dua sebab disebut berurutan, yaitu kufur dan mendustakan tanda-tanda. Keduanya tidak digabungkan menjadi satu, dan yang kedua lebih khusus daripada yang pertama. Terjemahan menahan keduanya terpisah, sebab menggabungkannya akan menghapus perbedaan antara menolak sesuatu dan menyatakan sesuatu tidak benar. Yang pertama bisa berupa sikap yang diam; yang kedua menuntut pernyataan, dan pernyataan itulah yang disebut Allah sesudahnya. Menolak bisa dilakukan tanpa membuka mulut; mendustakan tidak.
  • Kalimat terakhirnya menilai tempat, bukan orang. Rangkaian itu dipakai 11 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:126, 9:73, dan 67:6, tersebar di sebelas surah tanpa satu pun mengulangnya. Di semua tempat ia berupa penilaian atas tempat kembali. Allah menutup dengan menyebut buruknya tujuan, bukan buruknya yang menuju, padahal yang sedang dibicarakan orangnya. Perbedaan itu menyisakan jarak antara perbuatan dan pelakunya, dan jarak itu tidak pernah ditutup Allah dengan menilai orangnya secara langsung.
  • Sebutan bagi penghuninya berikut kata tunjuk di depannya dipakai 11 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:39, 2:257, 7:36, dan 10:27. Kata itu berarti orang yang menyertai atau menemani sesuatu, bukan sekadar orang yang berada di dalamnya. Hubungan yang digambarkan Allah karena itu bukan hubungan tempat melainkan hubungan pertemanan yang melekat. Sebutan seperti itu menaruh keadaan mereka sebagai sesuatu yang berpangkal pada kedekatan yang mereka pilih sendiri semasa hidup. Yang menyertai sesuatu tidak sampai di sana karena tersesat.
  • Kalau sembilan kata pertamanya sudah ada di 2:39, apa gunanya diulang di sini? Yang ditambahkan bukan keterangan baru tentang mereka, melainkan satu kalimat penilaian atas tempat kembalinya. Tidak disebut siapa mereka, tidak disebut tanda yang mana, dan tidak disebut berapa lama. Jadi yang dikerjakan tambahan itu bukan melengkapi keterangan melainkan menutup pertimbangan, dan penutup semacam itu berbicara kepada pembaca yang masih bisa memilih, bukan kepada mereka yang sudah disebut. Allah menutup ayatnya dengan kalimat yang berguna bagi pihak yang tidak sedang dibicarakannya.