مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa, kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah mengetahui segala sesuatu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِmaa ashaaba min mushiibatin illaa bi-idzni llaahitidak ada suatu musibah pun yang menimpa, kecuali dengan izin Allah
  2. وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُwa-man yu'min bi-llaahi yahdi qalbahusiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya
  3. وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌwa-llaahu bi-kulli syay'in 'aliimunAllah mengetahui segala sesuatu

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. مَاmaatidaklah
  2. أَصَابَashaabamenimpa
  3. مِنْmindari
  4. مُصِيبَةٍmushiibatinmusibah
  5. إِلَّاillaakecuali
  6. بِإِذْنِbi-idznidengan izin
  7. اللَّهِllaahiAllah
  8. وَمَنْwa-mandan orang yang
  9. يُؤْمِنْyu'minberiman
  10. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  11. يَهْدِyahdimemberi petunjuk
  12. قَلْبَهُqalbahuhatinya
  13. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  14. بِكُلِّbi-kullipada segala
  15. شَيْءٍsyay'insesuatu
  16. عَلِيمٌ'aliimunberilmu

Inti bacaan

Kerangka penerimaan musibah yang menenangkan: 'tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya', pengakuan bahwa iman tidak menghapuskan musibah, tetapi memberi kerangka pemahaman (hati yang terarah) untuk menghadapinya dengan ketenangan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(seseorang)' tidak dipakai, tidak berpadanan kata Arab. 'Aliimun' diterjemahkan 'mengetahui', diselaraskan dari 'berilmu' pada draf.

Rangkaian (مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ, maa ashaaba min mushiibatin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 57:22 dan 64:11. Lanjutannya berbeda di kedua tempat. Di 57:22 disebutkan bahwa musibah itu sudah tercatat sebelum diadakan, sehingga yang ditekankan waktunya. Di sini disebutkan bahwa ia terjadi dengan izin Allah, sehingga yang ditekankan kewenangannya. Satu pembuka yang sama membawa ke dua keterangan yang berlainan, dan keduanya tidak saling meniadakan.

Rangkaian (يَهْدِ قَلْبَهُ, yahdi qalbahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 64:11. Yang diberi petunjuk disebutkan hatinya, bukan langkahnya dan bukan urusannya. Terjemahan mempertahankan kata 'hatinya' dan tidak menggantinya dengan kata yang lebih umum, sebab penggantian itu akan memindahkan yang dijanjikan dari bagian dalam ke bagian luar.

Susunan ayat ini menaruh dua hal yang tampak tak sejalan di dalam satu kalimat. Yang pertama musibah yang menimpa dari luar; yang kedua petunjuk yang diberikan di dalam. Yang di luar tidak dijanjikan berubah, dan yang dijanjikan berubah justru yang di dalam. Terjemahan menahan susunan itu dan tidak menyisipkan kata penghubung yang menerangkan hubungan keduanya.

Syaratnya juga disebut dengan kata kerja, bukan dengan kata benda. Yang disebut bukan orang beriman melainkan siapa yang beriman, sehingga yang menjadi syarat perbuatannya, bukan golongannya. Perbedaan itu ditahan terjemahan dengan memakai 'siapa yang beriman'.

Penutupnya menyebut pengetahuan Allah atas segala sesuatu. Surah ini sudah memakai dua penutup bersaudara di 64:2 dan 64:8, yang satu tentang melihat dan yang lain tentang mengetahui secara mendalam. Di sini yang dipakai kata ketiga, yaitu tentang mengetahui. Jadi tiga ayat di surah yang sama ditutup tiga sifat yang berdekatan artinya tetapi tidak sama.

Kata yang dipakai untuk izin bukan kata yang berarti membiarkan, melainkan kata yang menyatakan kewenangan memberi jalan. Terjemahan memakai 'dengan izin Allah' dan tidak melonggarkannya menjadi 'atas kehendak', sebab yang kedua menghapus adanya pemberian yang disengaja dan menggantinya dengan sesuatu yang sekadar terjadi.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut musibah seperti apa, tidak disebut mengapa ia diizinkan, dan tidak disebut petunjuk itu berupa apa. Yang disebut cuma bahwa keduanya berada di bawah kewenangan yang sama. Menahan sisanya mencegah ayat ini berubah menjadi keterangan tentang sebab penderitaan, dan menjaganya tetap berupa keterangan tentang siapa yang memegang keduanya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa segala musibah terjadi atas izin Allah, dan iman membawa petunjuk bagi hati.

Letaknya berpindah dari perkara besar ke perkara yang dialami sendiri. Sepuluh ayat sebelumnya membicarakan penciptaan, umat terdahulu, dan hari berhimpun; mulai di sini yang dibicarakan apa yang menimpa orang per orang.

Pembukanya dipakai juga di 57:22, tetapi lanjutannya berbeda. Di sana yang ditekankan bahwa musibah sudah tercatat sebelum diadakan; di sini yang ditekankan bahwa ia terjadi dengan izin Allah.

Yang dijanjikan bukan hilangnya musibah, melainkan petunjuk bagi hati, dan rangkaian yang menyebutkannya tidak dipakai di tempat lain mana pun. Yang di luar tidak dijanjikan berubah; yang dijanjikan berubah justru yang di dalam.

Syaratnya disebut dengan kata kerja, bukan kata benda, sehingga yang menjadi syarat perbuatannya dan bukan golongannya.

Penutupnya melengkapi dua penutup sebelumnya di surah ini. Di 64:2 dipakai kata tentang melihat, di 64:8 kata tentang mengetahui secara mendalam, dan di sini kata tentang mengetahui. Tiga ayat ditutup tiga sifat yang berdekatan artinya tetapi tidak sama.

Kata yang dipakai untuk izin menyatakan kewenangan memberi jalan, bukan sekadar membiarkan, dan terjemahan tidak melonggarkannya menjadi 'atas kehendak'.

Tidak disebut musibah seperti apa, dan tidak disebut petunjuk itu berupa apa.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menjanjikan petunjuk bagi hatinya, bukan hilangnya musibah. Rangkaian itu tidak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an, hanya di 64:11. Yang di luar tidak dijanjikan berubah; yang dijanjikan berubah justru yang di dalam. Janji semacam itu tidak bisa diuji dengan melihat apakah keadaannya membaik, dan justru karena itu ia tidak gugur ketika keadaannya tidak membaik. Yang ditawarkan bukan jalan keluar dari musibah, melainkan cara berdiri di dalamnya. Yang berubah tempatnya bukan keadaan, melainkan orang yang menghadapinya.
  • Satu kalimat memuat dua hal yang tampak tak sejalan: musibah yang menimpa dari luar, dan petunjuk yang diberikan di dalam. Allah menaruh keduanya berdampingan tanpa kata penghubung yang menerangkan hubungannya. Terjemahan menahan susunan itu. Ketiadaan penghubung membuat pembacanya tidak diberi rumus sebab-akibat yang gampang, misalnya bahwa musibah datang untuk memberi petunjuk. Yang dinyatakan cuma bahwa keduanya berada di bawah kewenangan yang sama, dan pembacanya dibiarkan menimbang sendiri apa artinya bagi keadaannya.
  • Yang disebut bukan orang beriman melainkan siapa yang beriman. Kata kerja, bukan kata benda. Perbedaan itu menentukan: golongan diwarisi atau dilekatkan orang lain, sedangkan perbuatan dikerjakan sendiri dan bisa berubah. Allah mengikat janji petunjuk itu pada yang kedua, sehingga tidak ada yang bisa merasa sudah tercakup karena namanya terdaftar, dan tidak ada pula yang tersingkir karena tidak terdaftar. Pintunya dibuka lewat perbuatan, dan perbuatan bisa dimulai kapan saja.
  • Pembuka ayat ini dipakai juga di 57:22, dan di kedua tempat itu lanjutannya berbeda. Di 57:22 yang ditekankan bahwa musibah sudah tercatat sebelum diadakan, yaitu keterangan tentang waktunya. Di sini yang ditekankan bahwa ia terjadi dengan izin Allah, yaitu keterangan tentang kewenangannya. Dua keterangan itu tidak saling meniadakan, dan Allah tidak menggabungkan keduanya menjadi satu kalimat di salah satu tempat, sehingga tiap ayat menahan satu keterangan saja dan tidak membebani pembacanya sekaligus.
  • Surah ini menutup tiga ayat dengan tiga sifat Allah yang berdekatan artinya. Di 64:2 kata tentang melihat, di 64:8 kata tentang mengetahui secara mendalam, dan di sini kata tentang mengetahui. Tidak satu pun diulang. Allah tidak memakai satu sifat berulang-ulang untuk menutup ayat yang berbeda-beda isinya, melainkan memilih yang paling cocok dengan apa yang baru saja dibicarakan, dan yang baru dibicarakan di sini adalah isi hati seseorang, yaitu bagian yang paling tidak terjangkau pengamatan.
  • Kenapa musibah itu diizinkan? Ayat ini tidak menjawabnya, dan tidak menyebut musibah seperti apa yang dimaksud. Yang dinyatakan cuma bahwa ia tidak terjadi di luar izin-Nya. Menahan keterangan seperti itu mencegah kalimatnya berubah menjadi penjelasan tentang sebab penderitaan, dan penjelasan semacam itu hampir selalu berakhir menyalahkan yang menderita. Yang ditinggalkan justru keterangan yang berguna bagi orang yang sedang mengalaminya, yaitu bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan kejadian yang lepas dari siapa pun.