اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia. Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَallaahu laa ilaaha illaa huwaAllah, tidak ada tuhan kecuali Dia
  2. وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَwa-'alaa llaahi fa-l-yatawakkali l-mu'minuunadan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. اللَّهُallaahuAllah
  2. لَاlaatidak ada
  3. إِلَٰهَilaahatuhan
  4. إِلَّاillaakecuali
  5. هُوَhuwaDia
  6. وَعَلَىwa-'alaadan atas
  7. اللَّهِllaahiAllah
  8. فَلْيَتَوَكَّلِfa-l-yatawakkalimaka hendaklah bertawakal
  9. الْمُؤْمِنُونَl-mu'minuunaorang-orang beriman

Inti bacaan

Penegasan tauhid sebagai dasar tawakal: 'Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia; dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal', hubungan logis antara keesaan (tidak ada sumber kepercayaan lain) dan penyerahan diri, tawakal yang bermakna hanya jika diarahkan kepada satu sumber yang benar-benar berkuasa.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ, allaahu laa ilaaha illaa huwa) muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:255, 3:2, 4:87, 9:129, 20:8, 27:26, 28:70, dan 64:13. Delapan kemunculan di delapan surah, jadi tak satu surah pun memuatnya lebih dari sekali. Di kebanyakan tempat rangkaian itu disusul penyebutan sifat-sifat Allah yang panjang; di sini ia disusul perintah bertawakal, dan itu jauh lebih pendek.

Rangkaian (فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ, fa-l-yatawakkali l-mu'minuuna) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:122, 3:160, 5:11, 9:51, 14:11, 58:10, dan 64:13. Tujuh kemunculan di enam surah, sebab Surah 3 memuatnya dua kali. Di semua tempat itu perintahnya ditujukan kepada orang beriman sebagai kelompok, tidak kepada seorang.

Kata sambung di depan nama Allah pada bagian kedua menaruh sasaran tawakal lebih dulu daripada perintahnya. Susunan seperti itu menegaskan bahwa yang dibatasi bukan perbuatannya melainkan arahnya: bukan sekadar bertawakal, melainkan bertawakal kepada-Nya dan bukan kepada yang lain. Terjemahan menahan penegasan tersebut dengan memakai kata 'hanya'.

Ayat ini paling pendek di antara lima ayat sekitarnya, dan isinya dua hal saja. Yang pertama pernyataan tentang siapa Dia; yang kedua perintah yang mengikutinya. Tidak ada keterangan di antara keduanya, sehingga perintah bertawakal berdiri langsung di atas pernyataan tersebut sebagai akibat yang tak perlu diterangkan.

Letaknya juga menjelaskan. Ayat sebelumnya membatasi tanggungan Rasul pada penyampaian, dan ayat berikutnya memperingatkan bahwa keluarga sendiri bisa menjadi musuh. Di antara dua keterangan tentang batas manusia itu berdiri satu kalimat tentang yang tak berbatas.

Nama Allah disebut dua kali di dalam ayat sependek ini, sekali di pembuka pernyataan dan sekali lagi sebagai sasaran tawakal. Pengulangan itu tidak diringkas terjemahan menjadi kata ganti pada penyebutan kedua. Menggantinya dengan kata ganti akan melemahkan penegasan bahwa yang disebut di bagian kedua persis yang dinyatakan di bagian pertama.

Bentuk perintahnya juga tidak langsung. Ia tidak berbunyi 'bertawakallah kalian', melainkan memakai susunan yang menyuruh lewat pihak ketiga, yaitu hendaklah orang-orang beriman bertawakal. Terjemahan menahan bentuk itu. Susunan seperti itu menyebut golongannya lebih dulu, sehingga yang membacanya menempatkan dirinya sendiri ke dalam golongan tersebut sebelum menerima perintahnya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut bertawakal dalam perkara apa, tidak disebut apa yang harus ditinggalkan, dan tidak disebut apa hasilnya. Yang disebut cuma kepada siapa. Menahan sisanya membuat perintah itu berlaku atas segala perkara tanpa perlu didaftar, dan daftar justru akan mempersempitnya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan tauhid mutlak serta anjuran bertawakal hanya kepada Allah.

Letaknya berdiri di antara dua keterangan tentang batas manusia. Ayat sebelumnya membatasi tanggungan Rasul pada penyampaian; ayat berikutnya memperingatkan bahwa keluarga sendiri bisa menjadi musuh. Di antara keduanya berdiri satu kalimat tentang yang tak berbatas.

Pernyataan pembukanya dipakai 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:255, 3:2, 4:87, 9:129, 20:8, 27:26, 28:70, dan 64:13, tersebar di delapan surah tanpa satu pun mengulangnya. Di kebanyakan tempat ia disusul penyebutan sifat-sifat yang panjang; di sini yang menyusulnya perintah yang pendek.

Perintah itu sendiri dipakai 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:122, 3:160, 5:11, 9:51, 14:11, 58:10, dan 64:13, dan di semua tempat ditujukan kepada orang beriman sebagai kelompok, tidak kepada seorang.

Sasaran tawakalnya disebut lebih dulu daripada perintahnya, sehingga yang ditegaskan arahnya, bukan perbuatannya.

Ayat ini paling pendek di antara lima ayat sekitarnya, dan isinya dua hal saja, tanpa keterangan penghubung di antara keduanya.

Bentuk perintahnya tidak langsung, melainkan menyuruh lewat pihak ketiga, sehingga golongannya disebut lebih dulu daripada perintahnya.

Tidak disebut bertawakal dalam perkara apa, dan tidak disebut apa hasilnya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini berisi dua hal saja: pernyataan tentang siapa Allah, lalu perintah bertawakal. Tidak ada keterangan di antara keduanya. Perintahnya berdiri langsung di atas pernyataan itu sebagai akibat yang tak perlu diterangkan. Susunan tanpa penghubung seperti itu memperlakukan hubungan keduanya sebagai sesuatu yang sudah jelas dengan sendirinya, dan menerangkannya justru akan memperlemahnya menjadi salah satu alasan di antara alasan-alasan lain. Yang tak diterangkan sebabnya justru terbaca sebagai sesuatu yang tak memerlukan sebab.
  • Sasaran tawakal disebut lebih dulu daripada perintahnya, dan terjemahan menahan penegasan itu dengan kata 'hanya'. Yang dibatasi Allah bukan perbuatannya melainkan arahnya. Bertawakal itu sendiri dilakukan siapa pun kepada apa pun, entah kepada kekuatan, kepada rencana, atau kepada orang. Yang diminta di sini bukan menambah tawakal, melainkan memindahkan alamatnya, dan pemindahan alamat lebih sulit daripada penambahan, sebab ia menuntut melepaskan sesuatu yang sudah dipegang.
  • Perintah bertawakal di sini ditujukan kepada orang-orang beriman sebagai kelompok, dan rangkaian itu dipakai 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:122, 3:160, 5:11, 9:51, 14:11, 58:10, dan 64:13. Di semua tempat bentuknya sama, tak sekali pun ditujukan kepada seorang. Tawakal karena itu bukan urusan pribadi yang tersembunyi melainkan sikap bersama, dan sikap bersama bisa saling menular sebagaimana kegelisahan bersama juga menular. Allah menaruhnya sebagai sikap yang saling menopang, bukan yang ditanggung sendiri-sendiri.
  • Ayat sebelumnya membatasi tanggungan Rasul pada penyampaian; ayat berikutnya memperingatkan bahwa keluarga sendiri bisa menjadi musuh. Keduanya keterangan tentang batas dan kekurangan manusia. Di antara keduanya Allah menaruh satu kalimat tentang diri-Nya yang tak berbatas. Letak seperti itu bukan selingan; ia menyediakan tempat berpijak justru pada titik ketika dua keterangan di kiri dan kanannya sedang memperlihatkan bahwa pijakan manusiawi tidak cukup. Letak sebuah kalimat ikut menerangkan isinya.
  • Pernyataan pembuka ayat ini dipakai 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:255, 3:2, 4:87, 9:129, 20:8, 27:26, 28:70, dan 64:13, tersebar di delapan surah tanpa satu pun mengulangnya. Di kebanyakan tempat ia disusul penyebutan sifat-sifat Allah yang panjang, seperti di 2:255 dan 20:8. Di sini yang menyusulnya justru perintah yang pendek. Allah tidak selalu memakai pernyataan besar untuk membuka uraian besar; kali ini ia dipakai untuk menopang satu perintah saja, dan perintah itu justru yang paling sering dilupakan ketika keadaan sedang berat.
  • Bertawakal dalam perkara apa, dan apa hasilnya? Ayat ini tidak menyebut keduanya. Yang dinyatakan cuma kepada siapa. Menahan keterangan seperti itu membuat perintahnya berlaku atas segala perkara tanpa perlu didaftar, dan daftar justru akan mempersempitnya. Perkara yang tidak masuk daftar akan terbaca sebagai perkara yang boleh disandarkan ke tempat lain, dan itulah yang paling sering terjadi pada perkara yang terasa kecil. Allah menutup celah itu dengan tidak menyediakan daftarnya sama sekali.