يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka. Jika kalian memaafkan, menyantuni, dan mengampuni, sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْyaa ayyuhaa lladziina aamanuu inna min azwaajikum wa-awlaadikum aduwwan lakum fa-hdzaruuhumwahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka
  2. وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌwa-in ta'fuu wa-tasfahuu wa-taghfiruu fa-inna llaaha ghafuurun rahiimunjika kalian memaafkan, menyantuni, dan mengampuni, sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih
Aplikasi

Peringatan realistis tentang potensi konflik keluarga: 'sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagi kalian... jika kalian memaafkan, menyantuni, dan mengampuni, sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih', pengakuan jujur bahwa hubungan keluarga terdekat pun bisa menjadi sumber konflik atau godaan negatif, namun ditutup dengan penekanan pada pemaafan sebagai respons ideal yang mencerminkan sifat ilahi.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya, superlatif yang di teks. *Ghafuur* berpola *fa'uul* & *rahiim* berpola *fa'iil*: intensif, superlatif (bandingkan *arham*, pola *af'al* = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151)., kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik KEMENAG SENDIRI: di ia menulis *rahiim* diterjemahkan “penyayang”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus muncul di, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8)., dan itu penting: *ghafara* = (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), *rahima* =. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. bahwa *ghafuur* & *rahiim* memang saling terikat namun berbeda: akar akar gh-f-r muncul di dekat *rahiim* tapi hanya di dekat *rahmaan*, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan *rahmaan* ≠ *rahiim*. ⚠ Akar tetangga yang BELUM diputuskan (*'aziiz*, *hakiim*, *haliim*, *'aliim* dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Rujukan:,. sebagian penerjemah: 'O you who heed warning:1 among your wives and your children is an enemy to you, so beware of them. But if you pardon, and overlook, and forgive, then is God forgiving and merciful.' Corpus ayat ini: = LEM:gafuwr ROOT:gfr,; = LEM:r~aHiym ROOT:rHm,. Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.