فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Bertakwalah kalian kepada Allah sekuat kemampuan kalian. Dengarkanlah, taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk diri kalian. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْfa-ttaquu llaaha ma statha'tum wa-sma'uu wa-athii'uu wa-anfiquu khayran li-anfusikumbertakwalah kalian kepada Allah sekuat kemampuan kalian, dengarkanlah, taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk diri kalian
  2. وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَwa-man yuuqa syuhha nafsihi fa-ulaa'ika humu l-muflihuunasiapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. فَاتَّقُواfa-ttaquumaka jagalah diri dari
  2. اللَّهَllaahaAllah
  3. مَاmasekuat
  4. اسْتَطَعْتُمْstatha'tumkalian sanggup
  5. وَاسْمَعُواwa-sma'uudan dengarkanlah kalian
  6. وَأَطِيعُواwa-athii'uudan taatlah
  7. وَأَنْفِقُواwa-anfiquudan nafkahkanlah kalian
  8. خَيْرًاkhayrankebaikan
  9. لِأَنْفُسِكُمْli-anfusikumuntuk diri kalian
  10. وَمَنْwa-mandan orang yang
  11. يُوقَyuuqadipelihara
  12. شُحَّsyuhhakekikiran
  13. نَفْسِهِnafsihidirinya
  14. فَأُولَٰئِكَfa-ulaa'ikamaka mereka itu
  15. هُمُhumumerekalah
  16. الْمُفْلِحُونَl-muflihuunaorang-orang yang beruntung

Inti bacaan

Standar ketakwaan yang realistis: 'bertakwalah kalian kepada Allah sekuat kemampuan kalian', pengakuan bahwa ketakwaan tidak menuntut kesempurnaan mutlak, melainkan usaha maksimal sesuai kapasitas masing-masing, standar yang adil dan dapat dicapai tanpa membebani secara tidak realistis.

Penjelasan pilihan kata

'Ulaa'ika humu' dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'mereka itulah' sesuai kaidah baku.

Rangkaian (مَا اسْتَطَعْتُمْ, maa istatha'tum) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 8:60 dan 64:16. Yang diukur dengan kemampuan berbeda di kedua tempat. Di 8:60 yang diukur persiapan kekuatan menghadapi pihak lain, yaitu perkara yang tampak dan bisa dihitung orang. Di sini yang diukur ketakwaan, yaitu perkara yang tak bisa dihitung siapa pun. Satu ukuran yang sama dipasang pada dua hal yang berlawanan sifat keterlihatannya.

Empat perintah disebut berurutan tanpa kata penghubung yang menerangkan hubungannya, yaitu bertakwa, mendengar, taat, dan berinfak. Urutannya bergerak dari yang paling di dalam ke yang paling di luar: sikap hati, lalu telinga, lalu kepatuhan, lalu tangan yang mengeluarkan. Terjemahan menahan urutan itu dan tidak menyusun ulang keempatnya menurut kepentingan.

Cuma perintah pertama yang diberi batas kemampuan. Tiga sisanya disebut tanpa keterangan seperti itu. Terjemahan tidak meratakan batas tersebut ke seluruh perintah, sebab meratakannya akan memberi kelonggaran yang memang tidak diberikan teksnya.

Rangkaian (يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ, yuuqa syuhha nafsihi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:9 dan 64:16. Di kedua tempat itu ia disusul rangkaian penutup yang sama persis, sehingga sepuluh kata terakhir 64:16 tidak berbeda satu huruf pun dari sepuluh kata terakhir 59:9. Yang berbeda cuma apa yang mendahuluinya: di 59:9 yang mendahului sikap mendahulukan orang lain meski diri sendiri kekurangan, dan di sini empat perintah berurutan tadi.

Bentuk kata kerjanya juga patut diperhatikan. Yang disebut bukan orang yang menjaga dirinya, melainkan orang yang dijaga, sehingga pelakunya tidak dinyatakan. Terjemahan menahan bentuk itu dengan 'dijaga dirinya', bukan 'menjaga dirinya'.

Rangkaian (هُمُ الْمُفْلِحُونَ, humu l-muflihuuna) muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:5, 3:104, 23:102, 59:9, dan 64:16. Dua belas kemunculan itu tersebar di sebelas surah, sebab Surah 7 memuatnya dua kali.

Perintah ketiga dan keempat disebut tanpa objek. Tidak dikatakan mendengarkan apa dan menaati siapa, dan tidak dikatakan menginfakkan apa. Terjemahan mempertahankan kekosongan objek tersebut. Menyisipkan objeknya akan mempersempit perintahnya pada satu perkara tertentu, padahal susunannya membiarkan ketiganya berlaku atas apa pun yang sudah diketahui pembacanya dari ayat-ayat sebelumnya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa ukuran kemampuan seseorang, tidak disebut siapa yang menilainya, dan tidak disebut berapa banyak yang harus diinfakkan. Yang disebut cuma bahwa ukurannya diambil dari yang bersangkutan. Menahan sisanya mencegah perintah ini dipakai untuk menakar ketakwaan orang lain, sebab ukurannya memang tidak berada di tangan pengamat.

Tafsiran

Ayat ini merangkai perintah bertakwa, mendengar, taat, dan berinfak sebagai jalan menuju keberuntungan.

Letaknya menutup rangkaian peringatan yang dibuka 64:14 tentang keluarga dan 64:15 tentang harta. Sesudah dua hal yang paling dekat dengan seseorang disebut sebagai ujian, di sini disebutkan apa yang harus dikerjakan terhadapnya.

Batas kemampuan yang dipakai di ayat ini dipakai juga di 8:60, tetapi yang diukur di sana persiapan kekuatan yang tampak dan bisa dihitung orang. Di sini yang diukur ketakwaan, yang tak bisa dihitung siapa pun.

Empat perintah disebut berurutan dari yang paling di dalam ke yang paling di luar, dan cuma yang pertama diberi batas kemampuan.

Sepuluh kata terakhirnya sama persis dengan sepuluh kata terakhir 59:9. Yang berbeda cuma apa yang mendahuluinya: di 59:9 sikap mendahulukan orang lain meski diri sendiri kekurangan, dan di sini empat perintah tadi. Dua jalan berbeda menuju satu kesimpulan yang sama.

Bentuk kata kerjanya menyebut orang yang dijaga, bukan yang menjaga, sehingga pelakunya tidak dinyatakan.

Rangkaian penutupnya dipakai 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:5, 3:104, 23:102, dan 59:9.

Perintah ketiga dan keempat disebut tanpa objek, dan terjemahan mempertahankan kekosongan itu supaya ketiganya tetap berlaku atas apa pun yang sudah diketahui pembacanya.

Tidak disebut berapa ukuran kemampuan seseorang, dan tidak disebut siapa yang menilainya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah mengukur ketakwaan dengan kemampuan orangnya, bukan dengan satu ambang yang sama untuk semua. Rangkaian itu dipakai 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 8:60 dan 64:16, dan di 8:60 yang diukur persiapan kekuatan yang bisa dihitung orang lain. Di sini yang diukur perkara yang tak bisa dihitung siapa pun. Ukuran yang diambil dari diri sendiri tidak bisa dipakai membandingkan, dan justru karena itu ia tidak melahirkan perasaan lebih ataupun perasaan kalah. Allah menetapkan ukuran yang membuat perlombaan menjadi mustahil sejak awal.
  • Empat perintah disebut berurutan: bertakwa, mendengar, taat, lalu berinfak. Urutannya bergerak dari yang paling di dalam ke yang paling di luar, yaitu dari sikap hati sampai ke tangan yang mengeluarkan. Terjemahan menahan urutan itu tanpa menyusun ulang keempatnya. Susunan yang dipakai Allah itu tidak membiarkan salah satunya berdiri sendiri: mendengar tanpa taat berhenti di telinga, dan taat tanpa berinfak berhenti sebelum sampai ke tangan. Tiga perintah terakhirnya bahkan disebut tanpa objek, sehingga tak satu pun bisa dianggap sudah tertunaikan oleh satu perbuatan tertentu.
  • Yang disebut bukan orang yang menjaga dirinya dari kekikiran, melainkan orang yang dijaga. Pelakunya tidak dinyatakan. Terjemahan menahan bentuk itu. Perbedaannya besar: yang pertama menaruh keberhasilan itu sebagai hasil usaha sendiri, yang kedua menaruhnya sebagai sesuatu yang diterima. Kekikiran memang disebut sebagai sifat diri, dan yang harus dijaga dari dirinya sendiri tidak bisa sepenuhnya mengandalkan dirinya sendiri.
  • Sepuluh kata terakhir ayat ini sama persis dengan sepuluh kata terakhir 59:9, tanpa berbeda satu huruf pun. Yang berbeda apa yang mendahuluinya. Di 59:9 yang mendahului sikap mendahulukan orang lain meski diri sendiri sedang kekurangan; di sini empat perintah berurutan. Allah menaruh dua jalan yang berlainan menuju satu kesimpulan yang sama, dan kesamaan kalimat penutupnya membuat kedua jalan itu terbaca sebagai satu perkara yang sama.
  • Batas kemampuan cuma dilekatkan pada perintah bertakwa. Tiga perintah sesudahnya disebut tanpa keterangan seperti itu, dan terjemahan tidak meratakannya. Meratakan batas tersebut ke seluruh perintah akan memberi kelonggaran yang memang tidak diberikan teksnya. Ketakwaan memang perkara yang kadarnya berbeda-beda pada tiap orang; mendengar, taat, dan berinfak lebih berupa perbuatan yang dikerjakan atau tidak. Allah memberi kelonggaran pada yang tak bisa ditakar, dan tidak memberikannya pada yang bisa.
  • Berapa ukuran kemampuan seseorang, dan siapa yang menilainya? Ayat ini tidak menyebut keduanya, dan tidak menyebut berapa banyak yang harus diinfakkan. Yang dinyatakan cuma bahwa ukurannya diambil dari yang bersangkutan. Menahan keterangan seperti itu mencegah perintahnya dipakai untuk menakar ketakwaan orang lain, sebab ukuran yang tidak ditetapkan tidak bisa dipegang pengamat. Yang tersisa bagi tiap orang cuma menakar dirinya sendiri, dan itu takaran yang tidak bisa dibantah maupun dipamerkan.