عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ'aalimu l-ghaybi wa-sy-syahaadatiYang Mengetahui yang gaib dan yang nyata
- الْعَزِيزُ الْحَكِيمُal-'aziizu l-hakiimuSang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah
Terjemahan per kata (5 kata)
- عَالِمُ'aalimuyang mengetahui
- الْغَيْبِl-ghaybiyang gaib
- وَالشَّهَادَةِwa-sy-syahaadatidan yang tampak
- الْعَزِيزُal-'aziizuSang Digdaya
- الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah
Inti bacaan
Penutup surah dengan penegasan pengetahuan dan otoritas: 'Dialah yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata. Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah', kombinasi pengetahuan menyeluruh dan kekuatan bijaksana, penutup yang merangkum tema-tema surah tentang pengawasan ilahi dan konsekuensi yang adil.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(Dialah)' tidak dipakai: ayat ini fragmen apositif lanjutan dari ayat sebelumnya, subjek Allah sudah tersirat tanpa perlu diulang.
Ayat ini menyambung langsung 64:17 tanpa memulai kalimat baru. Dua sifat yang disebut di ujung 64:17 dilanjutkan tiga sifat lagi di sini, sehingga lima sifat berturut-turut menutup surah ini. Terjemahan menahan sambungan tersebut dan tidak menyisipkan subjek yang tidak ada di teksnya.
Rangkaian (عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ, 'aalimu l-ghaybi wa-sy-syahaadati) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:73, 13:9, 32:6, 59:22, dan 64:18. Kata (وَالشَّهَادَةِ, wa-sy-syahaadati) muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 6:73, 9:94, 23:92, 39:46, dan 64:18. Sepuluh kemunculan itu tersebar di sembilan surah. Jadi separuhnya berdiri di dalam rangkaian tadi dan separuh lagi di luar. Yang tidak pernah berdiri sendiri bukan kata itu, melainkan susunannya: setiap kali pengetahuan Allah atas keduanya disebut, keduanya disebut bersama. Yang gaib dan yang nyata karena itu tidak diperlakukan sebagai dua wilayah pengetahuan yang berbeda, melainkan sebagai dua sisi dari satu pengetahuan yang sama.
Rangkaian (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, al-'aziizu l-hakiimu) muncul 29 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:129, 2:209, 3:6, 57:1, 59:1, 61:1, dan 64:18. Angka itu menghitung kata tersebut lintas ujung i'rab. Dihitung sebagai bentuk, yang berujung seperti di ayat ini ada dua puluh empat, dan lima sisanya berujung genetif seperti di 62:1.
Yang menarik letaknya di kelompok surah ini. Surah 57, 59, dan 61 sama-sama memakainya untuk mengakhiri ayat pertamanya, yaitu ayat yang membuka dengan pernyataan tasbih. Surah 64 memakai pernyataan tasbih yang sama di ayat pertamanya, tetapi tidak menutupnya dengan rangkaian ini; rangkaian itu justru disimpan sampai ayat terakhir. Jadi bahan yang di tiga surah lain menutup pembuka, di surah ini menutup keseluruhannya.
Ayat ini juga yang terpendek di surahnya, dan isinya sifat semata tanpa satu pun perintah atau kabar. Sesudah delapan belas ayat yang memuat penciptaan, umat terdahulu, hari berhimpun, keluarga, harta, dan infak, yang ditaruh di ujung bukan kesimpulan melainkan penyebutan siapa yang sejak awal dibicarakan.
Tiga sifat di ayat ini disebut tanpa kata sambung di antara dua yang terakhir, sedangkan yang pertama berupa susunan yang menerangkan pengetahuan. Jadi bentuknya tidak seragam: satu berupa keterangan tentang apa yang diketahui, dua lagi berupa nama sifat. Terjemahan menahan ketidakseragaman itu dan tidak menyeragamkan ketiganya menjadi satu daftar yang sejajar.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang gaib itu, tidak disebut kepada siapa sifat-sifat ini ditujukan, dan tidak disebut apa yang harus dilakukan sesudah membacanya. Yang disebut cuma sifat-sifatnya. Menahan sisanya membuat penutup ini tidak menambah beban baru pada pembacanya, melainkan mengembalikannya kepada yang menyampaikan seluruh surah.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini merangkum sifat-sifat Allah: mengetahui yang gaib dan yang nyata, digdaya, dan penuh hikmah.
Letaknya menyambung langsung 64:17 tanpa memulai kalimat baru. Dua sifat di ujung ayat sebelumnya dilanjutkan tiga sifat lagi di sini, sehingga lima sifat berturut-turut menutup surah.
Pasangan pertama dipakai 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:73, 13:9, 32:6, 59:22, dan 64:18, dan di kelimanya selalu berpasangan, tak sekali pun salah satunya berdiri sendiri.
Pasangan kedua dipakai 29 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:129, 2:209, 3:6, 57:1, dan 61:1, dihitung lintas ujung i'rab.
Letaknya di kelompok surah ini yang patut diperhatikan. Surah 57, 59, dan 61 memakainya untuk mengakhiri ayat pertamanya, yaitu ayat yang membuka dengan pernyataan tasbih. Surah 64 membuka dengan pernyataan tasbih yang sama tetapi menyimpan rangkaian ini sampai ayat terakhir, sehingga bahan yang di tiga surah lain menutup pembuka, di sini menutup keseluruhannya.
Ayat ini juga yang terpendek di surahnya, dan isinya sifat semata tanpa satu pun perintah atau kabar.
Tiga sifat di ayat ini tidak seragam bentuknya: yang pertama berupa keterangan tentang apa yang diketahui, dua lagi berupa nama sifat, dan terjemahan tidak menyeragamkan ketiganya.
Tidak disebut apa yang gaib itu, dan tidak disebut apa yang harus dilakukan sesudah membacanya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut diri-Nya mengetahui yang gaib dan yang nyata, dan pasangan itu dipakai 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:73, 13:9, 32:6, 59:22, dan 64:18. Di kelimanya keduanya selalu disebut bersama, tak sekali pun salah satunya berdiri sendiri. Jadi keduanya tidak diperlakukan sebagai dua wilayah pengetahuan yang berbeda melainkan sebagai dua sisi dari satu pengetahuan yang sama, dan batas di antara keduanya cuma ada pada yang memandang dari sini. Apa yang gaib bagi seseorang tidak gaib bagi Allah, sehingga sebutan itu menerangkan kedudukan pembacanya, bukan kedudukan yang dibicarakannya.
- Dua sifat terakhirnya disebut berdampingan, dan rangkaian itu dipakai 29 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:129, 2:209, 3:6, 57:1, dan 64:18. Yang satu menyangkut kesanggupan memaksakan kehendak, yang lain menyangkut ketepatan memilih. Keduanya jarang berkumpul pada satu pihak, sebab yang sanggup memaksa biasanya tak perlu memilih dengan tepat, dan yang harus memilih dengan tepat biasanya tak sanggup memaksa. Penutup surah ini menaruh keduanya bersama, dan Allah menyebutnya berurutan tanpa kata sambung, seolah keduanya satu hal.
- Sesudah delapan belas ayat yang memuat penciptaan, umat terdahulu, hari berhimpun, keluarga, harta, dan infak, yang ditaruh Allah di ujung bukan kesimpulan melainkan penyebutan sifat. Ayat ini juga yang terpendek di surahnya, dan isinya sifat semata tanpa satu pun perintah atau kabar. Surah yang penuh tuntutan ditutup tanpa menambah tuntutan baru, dan yang dikembalikan kepada pembacanya bukan daftar yang harus dikerjakan melainkan ingatan tentang kepada siapa semua itu tertuju. Allah menutup dengan menyebut diri-Nya, bukan dengan menyebut kewajiban pembacanya.
- Surah 57, 59, dan 61 memakai rangkaian ini untuk mengakhiri ayat pertamanya, yaitu ayat yang membuka dengan pernyataan tasbih. Surah 64 membuka dengan pernyataan tasbih yang sama tetapi menyimpan rangkaian tersebut sampai ayat terakhir. Bahan yang di tiga surah lain menutup pembuka, di sini menutup keseluruhannya. Allah memakai bahan yang sama di tempat yang berbeda, sehingga pembacanya yang melewati kelima surah itu menemukan yang dikenalnya muncul di tempat yang tak diduganya, dan pengenalan itu sendiri menjadi tanda bahwa kelimanya satu kelompok.
- Ayat ini tidak memulai kalimat baru melainkan menyambung langsung ayat sebelumnya, dan terjemahan tidak menyisipkan subjek yang tidak ada di teksnya. Dua sifat di ujung 64:17 dilanjutkan tiga sifat lagi di sini, sehingga lima sifat berturut-turut menutup surah. Pembagian nomor ayat di situ tidak memotong kalimatnya, dan yang membacanya berurutan menemukan satu tarikan panjang yang kebetulan diberi dua nomor. Nomor ayat menandai bacaan, bukan memotong maknanya.
- Apa yang gaib itu? Ayat ini tidak menyebutnya, tidak menyebut kepada siapa sifat-sifat ini ditujukan, dan tidak menyebut apa yang harus dilakukan sesudah membacanya. Yang dinyatakan cuma sifat-sifatnya. Menerangkan isi yang gaib justru akan memindahkannya ke wilayah yang nyata dan membatalkan sebutannya sendiri. Yang ditinggalkan bukan kekosongan melainkan keterangan tentang siapa yang mengetahuinya, dan itu yang bisa dipegang orang yang tidak mengetahuinya. Yang tak tahu tetap punya pijakan selama ia tahu siapa yang tahu.