وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberikan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia cukup baginya. Sesungguhnya Allah pasti mencapai urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُwa-yarzuqhu min haytsu laa yahtasibudan memberikan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga
  2. وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُwa-man yatawakkal 'alaa llaahi fa-huwa hasbuhusiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia cukup baginya
  3. إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِinna llaaha baalighu amrihisesungguhnya Allah pasti mencapai urusan-Nya
  4. قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًاqad ja'ala llaahu li-kulli syay'in qadransungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu

Terjemahan per kata (21 kata)

  1. وَيَرْزُقْهُwa-yarzuqhudan memberinya rezeki
  2. مِنْmindari
  3. حَيْثُhaytsudi mana saja
  4. لَاlaatidak
  5. يَحْتَسِبُyahtasibuia menduga
  6. وَمَنْwa-mandan orang yang
  7. يَتَوَكَّلْyatawakkalbertawakal
  8. عَلَى'alaaatas
  9. اللَّهِllaahiAllah
  10. فَهُوَfa-huwamaka dia
  11. حَسْبُهُhasbuhucukuplah baginya
  12. إِنَّinnasesungguhnya
  13. اللَّهَllaahaAllah
  14. بَالِغُbaalighuyang mencapai
  15. أَمْرِهِamrihiurusan-Nya
  16. قَدْqadsungguh
  17. جَعَلَja'alamenjadikan
  18. اللَّهُllaahuAllah
  19. لِكُلِّli-kullibagi setiap
  20. شَيْءٍsyay'insesuatu
  21. قَدْرًاqadranketentuan

Inti bacaan

Jaminan rezeki bagi yang bertawakal: 'memberikan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya', penghiburan bagi yang menghadapi ketidakpastian finansial akibat keputusan sulit (seperti perceraian), keyakinan bahwa ketaatan pada prinsip yang benar tidak akan meninggalkan seseorang tanpa jalan keluar.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(keperluan)' tidak dipakai. 'Fa-huwa hasbuhu' diterjemahkan 'maka Dia cukup baginya', bukan 'mencukupkan (keperluan)-nya' seperti draf.

Kata (يَحْتَسِبُ, yahtasibu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 65:3. Kata kerja yang sama dengan bentuk lain dipakai di dua tempat lagi, yaitu 39:47 dan 59:2. Rangkaian (مِنْ حَيْثُ, min haytsu) muncul 16 kali di seluruh Al-Qur'an, tersebar di 2:149, 2:150, 2:191, 2:199, 2:222, 7:19, 7:27, 7:182, 12:68, 16:26, 16:45, 39:25, 59:2, 65:3, 65:6, dan 68:44. Yang menarik pasangannya: di 59:2 rangkaian itu bertemu kata kerja yang sama seperti di sini, dan yang datang dari arah tak terduga adalah kehancuran; di 65:3 yang datang dari arah tak terduga adalah rezeki. Susunan yang sama dipakai untuk dua arah yang berlawanan.

Rangkaian (يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ, yatawakkal 'alaa llaahi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 8:49 dan 65:3. Syaratnya sama kata demi kata, tetapi lanjutannya berbeda: di 8:49 yang disebut sesudahnya dua sifat Allah, dan di sini yang disebut kecukupan-Nya bagi orang itu.

Kata (حَسْبُهُ, hasbuhu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 65:3. Kata yang sama dengan kata ganti orang ketiga dipakai di tiga tempat lain, yaitu 2:206 dengan huruf sambung di depannya, serta 9:68 dan 58:8 dengan kata ganti jamak. Di ketiga tempat tersebut yang dinyatakan mencukupi adalah neraka Jahanam. Di 65:3 yang dinyatakan mencukupi adalah Allah sendiri. Jadi dari empat kali kalimat 'cukuplah baginya' dipakai untuk orang ketiga, tiga di antaranya berupa ancaman dan satu berupa jaminan, dan yang satu itu ayat ini.

Rangkaian (بَالِغُ أَمْرِهِ, baalighu amrihi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 65:3. Kata pertamanya dengan ujung yang berbeda dipakai sekali lagi di 5:95. Kalimat ini menutup janji sebelumnya dengan menyebut bahwa yang menjanjikan pasti sampai pada urusan-Nya, sehingga jaminan tadi tidak berdiri sendiri melainkan disandarkan pada kemampuan yang menjanjikan.

Kata (قَدْرًا, qadran) dengan harakat seperti di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 65:3. Huruf yang sama tanpa harakat dipakai juga di 33:38, tetapi di sana harakatnya berbeda sehingga katanya pun berbeda. Perbedaan itu tidak boleh diserap dengan melucuti harakat, sebab dua kata yang berlainan akan terbaca menjadi satu.

Empat kalimat ayat ini bergerak dari yang paling dekat ke yang paling luas: rezeki bagi satu orang, kecukupan bagi yang bertawakal, kepastian urusan Allah, lalu ketentuan bagi segala sesuatu. Yang terakhir tidak menyebut manusia sama sekali. Jadi jaminan yang dibuka untuk seorang yang baru berpisah ditutup dengan pernyataan yang berlaku atas seluruh yang ada.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut rezeki itu berupa apa, tidak disebut arahnya dari mana, dan tidak disebut kapan datangnya. Yang disebut cuma bahwa arahnya tidak diduga. Menahan sisanya membuat kalimat ini tidak bisa dipakai untuk menghitung, dan itulah yang membedakannya dari sebuah perkiraan.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan janji bagi yang bertawakal: rezeki dari arah tak terduga, serta kepastian Allah menuntaskan segala urusan sesuai ketentuan-Nya.

Ayat ini tidak berdiri sendiri. Kalimat pertamanya menyambung langsung kalimat terakhir 65:2, sehingga janji jalan keluar dan janji rezeki sebenarnya satu tarikan yang dipotong nomor ayat. Yang disisipkan di antara aturan-aturan surah ini bukan aturan baru, melainkan alasan untuk menempuhnya.

Idiom tentang arah yang tak diduga dipakai juga di 59:2, dan di sana yang datang dari arah itu kehancuran atas orang yang merasa bentengnya cukup. Dua ayat memakai susunan yang sama untuk dua arah yang berlawanan, dan yang membedakan bukan kekuatan yang datang melainkan kepada siapa ia datang.

Janji kecukupan di sini menempati kedudukan yang jarang. Kalimat 'cukuplah baginya' untuk orang ketiga dipakai juga di 2:206, 9:68, dan 58:8, dan di ketiga tempat itu yang dinyatakan mencukupi neraka Jahanam. Ayat ini satu-satunya yang memakainya sebagai jaminan, bukan sebagai ancaman.

Syarat bertawakalnya sendiri sama kata demi kata dengan 8:49, tetapi 8:49 melanjutkannya dengan menyebut sifat Allah, sedangkan di sini yang disebut apa artinya bagi orang yang bersandar.

Empat kalimatnya melebar dari rezeki bagi satu orang sampai ketentuan bagi segala sesuatu, dan kalimat terakhirnya tidak menyebut manusia sama sekali.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut Dia memberi rezeki dari arah yang tidak diduga. Arahnya yang disebut, bukan jumlahnya. Rangkaian yang dipakai untuk menyebut arah itu muncul 16 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:149, 7:27, 59:2, 65:3, dan 68:44. Di 59:2 rangkaian yang sama bertemu kata kerja yang sama, hanya saja yang datang dari arah tak terduga di sana kehancuran. Susunan yang satu dipakai untuk dua arah yang berlawanan. Yang menghitung-hitung dari mana jalan keluar akan datang sedang membatasi tanpa perlu, sebab yang dijanjikan justru arah yang tak masuk hitungan.
  • Bagi yang bertawakal, Allah menyebut Dia cukup baginya. Kata cukup dipakai, bukan kata tambah. Kata itu dengan kata ganti orang ketiga dipakai di empat tempat, yaitu 2:206, 9:68, 58:8, dan 65:3, dan di tiga tempat pertama yang dinyatakan mencukupi adalah neraka Jahanam. Cuma di ayat ini yang mencukupi Allah sendiri. Yang ditawarkan bukan tambahan, melainkan bahwa tak ada lagi yang diperlukan, dan kalimat yang di tempat lain menjadi ancaman di sini menjadi jaminan.
  • Penutupnya menyebut Dia telah membuat ketentuan bagi segala sesuatu. Termasuk kadarnya. Kalimat terakhir ini tidak menyebut manusia sama sekali, padahal tiga kalimat sebelumnya berbicara tentang seorang yang baru berpisah. Jadi jaminan yang dibuka untuk satu orang ditutup dengan pernyataan yang berlaku atas seluruh yang ada. Tawakal bukan menyerahkan pada ketidakpastian, melainkan pada yang sudah ditetapkan, dan yang menetapkannya disebut lebih dulu sebelum ketetapannya.
  • Sesudah menjanjikan rezeki dan kecukupan, Allah menyebut bahwa Dia pasti mencapai urusan-Nya. Rangkaian itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 65:3. Letaknya penting: ia datang sesudah janjinya, bukan sebelumnya. Yang ditambahkan bukan isi janji yang baru, melainkan keterangan tentang siapa yang berjanji. Sebuah jaminan sekuat kemampuan penjaminnya, dan di sini kemampuan itu disebut tersendiri supaya tidak dianggap sudah dimengerti.
  • Rangkaian tentang siapa yang bertawakal kepada Allah muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 8:49 dan 65:3. Syaratnya sama kata demi kata. Lanjutannya tidak: di 8:49 yang disebut dua sifat Allah, di sini kecukupan-Nya bagi orang itu. Yang satu memberi tahu siapa Dia, yang lain memberi tahu apa artinya bagi yang bersandar. Dua ayat memakai pintu masuk yang sama lalu membawa pembacanya ke dua ruangan yang berbeda, dan yang di sini dipilih ruangan yang lebih dekat kepada orang yang sedang kehilangan pegangan.
  • Kenapa yang dijanjikan arah, bukan jumlah? Orang yang baru kehilangan tempat bergantung biasanya menghitung: dari siapa, berapa, kapan. Ayat ini tidak menjawab satu pun dari ketiganya. Kata yang dipakai untuk menduga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 65:3, dan ia berdiri di dalam bentuk yang mengingkarkannya. Yang dibatalkan bukan hitungannya, melainkan anggapan bahwa hitungan itu memuat semua kemungkinan. Menyebut arah, bukan jumlah, membuat janji ini tak bisa dicocokkan dengan daftar yang sudah ada di kepala.