وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِ فَحَاسَبْنَاهَا حِسَابًا شَدِيدًا وَعَذَّبْنَاهَا عَذَابًا نُكْرًا

Dan betapa banyak negeri yang mendurhakai perintah Tuhannya dan rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab mereka dengan perhitungan yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِwa-ka'ayyin min qaryatin 'atat 'an amri rabbihaa wa-rusulihidan betapa banyak negeri yang mendurhakai perintah Tuhannya dan rasul-rasul-Nya
  2. فَحَاسَبْنَاهَا حِسَابًا شَدِيدًا وَعَذَّبْنَاهَا عَذَابًا نُكْرًاfa-haasabnaahaa hisaaban syadiidan wa-'adzdzabnaahaa 'adzaaban nukranmaka Kami hisab mereka dengan perhitungan yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَكَأَيِّنْwa-ka'ayyindan betapa banyak
  2. مِنْmindari
  3. قَرْيَةٍqaryatinnegeri
  4. عَتَتْ'atatmelampaui batas
  5. عَنْ'andari
  6. أَمْرِamriurusan
  7. رَبِّهَاrabbihaaTuhannya
  8. وَرُسُلِهِwa-rusulihidan para rasul-Nya
  9. فَحَاسَبْنَاهَاfa-haasabnaahaamaka Kami menghisabnya
  10. حِسَابًاhisaabanperhitungan
  11. شَدِيدًاsyadiidanyang keras
  12. وَعَذَّبْنَاهَاwa-'adzdzabnaahaadan Kami mengazabnya
  13. عَذَابًا'adzaabanazab
  14. نُكْرًاnukranyang mungkar

Inti bacaan

Konsekuensi kolektif atas pembangkangan sistemik: 'betapa banyak negeri yang mendurhakai perintah Tuhannya dan rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab mereka dengan perhitungan yang keras', pengakuan bahwa akuntabilitas berlaku di tingkat komunitas/negeri, bukan hanya individual, kepemimpinan dan budaya kolektif yang menyimpang membawa konsekuensi menyeluruh.

Penjelasan pilihan kata

Kata ganti feminin tunggal 'haa' (merujuk 'qaryah', negeri) diterjemahkan 'mereka': metonimia negeri untuk penduduknya, konvensi baku penerjemahan Al-Qur'an, bukan pelanggaran disiplin tunggal/jamak.

Ayat ini memutar arah pembicaraan. Tujuh ayat sebelumnya berisi aturan rumah tangga yang dirinci sampai ke perkaranya; mulai di sini yang dibicarakan negeri-negeri yang binasa. Rangkaian (وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ, wa-ka'ayyin min qaryatin) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:48, 47:13, dan 65:8. Di ketiga tempat itu rangkaian tersebut membuka peringatan dengan menyebut banyaknya tanpa menyebut bilangannya.

Ketiga tempat itu memakai pembuka yang sama lalu melanjutkannya ke arah yang berbeda. Di 22:48 yang ditekankan tenggang waktu yang diberikan sebelum negeri itu direnggut. Di 47:13 yang ditekankan kekuatannya, yang ternyata lebih besar daripada kekuatan negeri yang mengusir Nabi, dan tetap binasa. Di 65:8 yang ditekankan urutan perlakuannya, yaitu dihisab lebih dulu baru diazab. Jadi satu pembuka dipakai untuk menerangkan tiga hal yang berlainan: kesabaran yang mendahului, kekuatan yang tak menolong, dan pemeriksaan yang mendahului hukuman.

Kata (عَتَتْ, 'atat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 65:8. Yang didurhakai disebutkan dua, yaitu perintah Tuhannya dan rasul-rasul-Nya. Dua-duanya disebut dalam satu susunan, sehingga menolak yang membawa terhitung sama dengan menolak yang mengutus. Rangkaian (وَرُسُلِهِ, wa-rusulihi) muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:285, 4:136, 4:150, 57:19, dan 65:8. Sepuluh kemunculan itu tersebar di lima surah saja, sebab Surah 4 memuatnya empat kali. Di kebanyakan tempat rangkaian itu berdiri di dalam kalimat tentang apa yang diimani atau diingkari sebagai satu kesatuan; di sini ia berdiri di dalam kalimat tentang apa yang didurhakai.

Rangkaian (حِسَابًا شَدِيدًا, hisaaban syadiidan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 65:8. Kata (نُكْرًا, nukran) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 18:74, 18:87, dan 65:8, dan rangkaian (عَذَابًا نُكْرًا, 'adzaaban nukran) sendiri muncul 2 kali, yaitu di 18:87 dan 65:8. Di 18:87 rangkaian itu diucapkan seorang manusia tentang orang yang berbuat zalim; di sini ia diucapkan tentang perbuatan Allah sendiri.

Dua akibat disebut berurutan, dan urutannya bukan hiasan: dihisab lebih dulu, baru diazab. Yang datang bukan hukuman tanpa pemeriksaan. Terjemahan menahan urutan itu dan tidak menggabungkan keduanya menjadi satu keterangan, sebab penggabungan akan menghapus satu langkah yang justru menerangkan sifat hukumannya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut negeri mana saja, tidak disebut berapa banyak, dan tidak disebut kapan. Yang disebut cuma bahwa jumlahnya banyak dan bahwa urutannya begitu. Menahan sisanya membuat peringatan ini tidak berubah menjadi catatan sejarah yang bisa dianggap sudah lewat, dan tetap berlaku atas siapa pun yang membacanya.

Tafsiran

Ayat ini memperingatkan lewat kisah negeri-negeri yang durhaka kepada perintah Allah dan rasul-rasul-Nya, lalu dihisab dan diazab dengan keras.

Letaknya memutar arah surah. Tujuh ayat sebelumnya membicarakan talak, idah, tempat tinggal, dan nafkah; di sini yang dibicarakan negeri yang binasa. Sambungan antara keduanya sudah dipasang di 65:1, ketika aturan tadi dinamai batas-batas Allah dan pelanggarnya disebut menzalimi dirinya sendiri.

Pembukanya dipakai juga di 22:48 dan 47:13, dan di ketiga tempat itu ia menyebut banyaknya tanpa bilangan. Lanjutannya yang berbeda: 22:48 menekankan tenggang waktu yang diberikan sebelum negeri itu direnggut, 47:13 menekankan kekuatan yang ternyata tak menolong, dan di sini yang ditekankan urutan perlakuannya.

Yang didurhakai disebut dua, yaitu perintah Tuhannya dan rasul-rasul-Nya, sehingga menolak yang membawa terhitung sama dengan menolak yang mengutus.

Akibatnya diurutkan: dihisab lebih dulu, baru diazab. Kata yang dipakai untuk azabnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 18:74, 18:87, dan 65:8, dan di 18:87 kata itu diucapkan seorang manusia tentang orang yang berbuat zalim, sedangkan di sini tentang perbuatan Allah sendiri.

Tidak disebut negeri mana saja, tidak disebut berapa banyak, dan tidak disebut kapan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut negeri yang mendurhakai perintah Tuhannya. Bukan orang per orang. Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 65:8. Pembangkangan bisa menjadi keadaan bersama, dan perhitungannya pun bersama. Yang disebut bukan seorang penguasa yang salah, melainkan sebuah tempat yang seluruh isinya ikut menanggung, sehingga yang diperingatkan bukan cuma yang memutuskan melainkan juga yang membiarkan. Kata kerja itu pun berbentuk tunggal perempuan, mengikuti kata negerinya, sehingga seluruh isi tempat itu terbaca sebagai satu pelaku.
  • Allah menyebut Dia menghisab mereka dengan perhitungan yang keras, lalu mengazab dengan azab yang mengerikan. Dihitung lebih dahulu. Yang datang bukan hukuman tanpa pemeriksaan. Urutan itu ditahan terjemahan dan tidak digabungkan, sebab menggabungkannya akan menghapus satu langkah yang justru menerangkan sifat hukumannya: bahwa yang menghukum lebih dulu menunjukkan perhitungannya, dan tidak ada yang dijatuhi tanpa tahu atas apa. Rangkaian untuk perhitungan yang keras itu tidak dipakai di tempat lain mana pun, hanya di 65:8, sehingga langkah pertama ini tidak diperlakukan sebagai formalitas melainkan diberi kata-katanya sendiri.
  • Allah membuka dengan betapa banyak, tanpa menyebut jumlahnya. Bilangannya dibiarkan. Rangkaian pembuka itu muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:48, 47:13, dan 65:8, dan di ketiga tempat ia dipakai dengan cara yang sama. Yang hendak ditinggalkan bukan catatan sejarah, melainkan kesadaran bahwa ini pernah terjadi berkali-kali. Angka yang pasti akan mengubahnya jadi daftar yang bisa ditutup; ketiadaan angka membuatnya tetap terbuka. Lanjutan di tiga tempat itu pun berbeda-beda: 22:48 menyebut tenggang waktu yang diberikan lebih dulu, 47:13 menyebut kekuatan yang tak menolong, dan di sini urutan pemeriksaan sebelum hukuman.
  • Yang didurhakai disebut dua sekaligus: perintah Tuhannya dan rasul-rasul-Nya. Keduanya dalam satu susunan, bukan dua kalimat. Susunan begitu menutup jarak yang sering dipakai orang untuk memilih salah satu, yaitu menerima yang mengutus sambil menolak yang membawa. Rasulnya pun disebut jamak, sehingga yang dimaksud bukan satu peristiwa melainkan pola yang berulang di banyak negeri dan banyak zaman. Rangkaian yang menyebut Allah bersama rasul-rasul-Nya muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:285, 4:136, 4:150, 57:19, dan 65:8, dan di kebanyakan tempat ia dipakai untuk menyebut apa yang diimani sebagai satu kesatuan. Yang di sini dipakai untuk menyebut apa yang ditolak sebagai satu kesatuan pula.
  • Kata yang dipakai untuk azab di ayat ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 18:74, 18:87, dan 65:8. Di 18:87 kata itu ada di mulut seorang manusia yang mengancam orang zalim. Di sini ia menerangkan perbuatan Allah sendiri. Kata yang sama dipakai untuk ancaman manusia dan untuk ketetapan Allah, dan bedanya cuma satu: yang satu belum tentu terjadi, yang lain sudah.
  • Apa hubungan talak dan idah dengan negeri yang dibinasakan? Sambungannya sudah dipasang di 65:1, ketika aturan tadi dinamai batas-batas Allah dan pelanggarnya disebut menzalimi dirinya sendiri. Di sini pelanggaran yang sama diperlihatkan pada ukuran yang jauh lebih besar. Allah menaruh perkara paling pribadi dan kehancuran seluruh negeri di dalam satu surah dan satu logika. Yang membedakan cuma skalanya, dan yang sama sifat perbuatannya, yaitu melewati garis yang sudah dinamai pemiliknya.