فَذَاقَتْ وَبَالَ أَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًا
Maka dia merasakan akibat buruk urusannya, dan akibat urusannya adalah kerugian.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَذَاقَتْ وَبَالَ أَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًاfa-dzaaqat wabaala amrihaa wa-kaana 'aaqibatu amrihaa khusranmaka dia merasakan akibat buruk urusannya, dan akibat urusannya adalah kerugian
Terjemahan per kata (7 kata)
- فَذَاقَتْfa-dzaaqatmaka ia merasakan
- وَبَالَwabaalaakibat buruk
- أَمْرِهَاamrihaaurusannya
- وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
- عَاقِبَةُ'aaqibatukesudahan
- أَمْرِهَاamrihaaurusannya
- خُسْرًاkhusrankerugian
Inti bacaan
Kepastian hasil akhir dari jalan yang salah: 'ia merasakan akibat buruk urusannya, dan akibat urusannya adalah kerugian', kesimpulan sederhana namun tegas bahwa penyimpangan berujung pada kerugian, prinsip yang berlaku konsisten terlepas dari seberapa lama proses menuju konsekuensi itu berlangsung.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَبَالَ, wabaala) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:95, 59:15, 64:5, dan 65:9. Di keempat tempat itu kata tersebut selalu diikuti kata 'urusan' berikut kata ganti pemiliknya, sehingga yang dirasakan selalu akibat dari urusan orang itu sendiri, bukan akibat dari urusan orang lain. Yang berbeda cuma kata gantinya: 5:95 memakai bentuk lelaki tunggal, 59:15 dan 64:5 memakai bentuk jamak, dan 65:9 memakai bentuk perempuan tunggal karena mengikuti kata 'negeri'.
Tiga dari empat tempat itu berdekatan letaknya, yaitu 59:15, 64:5, dan 65:9. Ketiganya menyebut orang atau negeri terdahulu yang sudah merasakan akibat perbuatannya, dan ketiganya memakai bentuk yang sama. Jadi satu cara bicara dipakai berulang di surah-surah yang berdampingan, seperti sebuah pengingat yang sengaja diulang dalam jarak dekat.
Rangkaian (عَاقِبَةُ أَمْرِهَا, 'aaqibatu amrihaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 65:9, sedangkan kata pertamanya saja dipakai 29 kali di seluruh Al-Qur'an dan tersebar di delapan belas surah, antara lain di 3:137, 6:11, 7:84, 10:39, dan 12:109. Jadi yang jarang bukan gagasan tentang kesudahan, melainkan penyandingannya dengan urusan milik yang tertimpa.
Kata (خُسْرًا, khusran) dengan ujung seperti di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 65:9. Kata benda yang sama dengan ujung berbeda dipakai sekali lagi, yaitu (خُسْرٍ, khusrin) di 103:2. Dua tempat, dua kedudukan yang berlainan: di 103:2 kerugian disebut sebagai keadaan yang sedang dijalani manusia, dan di 65:9 ia disebut sebagai kesudahan yang sudah tiba. Yang satu masih berlangsung, yang lain sudah tertutup. Perbedaan itu ada pada ujung katanya, dan melucuti harakat akan menyatukan keduanya menjadi satu , padahal justru di situ letak bedanya.
Kata 'urusannya' disebut dua kali di dalam satu kalimat yang pendek ini. Pertama sebagai yang akibat buruknya dirasakan, kedua sebagai yang kesudahannya kerugian. Pengulangan itu tidak diperhalus terjemahan, sebab yang diulang justru pemiliknya: bukan urusan siapa-siapa, melainkan urusannya sendiri. Menggantinya dengan kata ganti pada kemunculan kedua akan menghapus penegasan itu.
Ayat ini pendek, dan pendeknya bekerja. Ia merangkum nasib banyak negeri yang disebut 65:8 ke dalam satu kalimat berisi dua bagian. Yang panjang di ayat sebelumnya, yaitu pembangkangan, hisab, dan azab, di sini menjadi dua kata benda saja: akibat buruk, lalu kerugian.
Kata 'kerugian' dipakai sebagai kesudahan, bukan sebagai kejadian. Bahasanya bahasa perhitungan, bukan bahasa bencana. Pilihan itu menyambungkan penutup ini kembali ke 65:8 yang menyebut perhitungan yang keras, sehingga seluruh kisahnya terbaca sebagai sebuah neraca yang ditutup, bukan sebagai malapetaka yang datang tiba-tiba.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa bentuk kerugiannya, tidak disebut siapa yang menghitungnya, dan tidak disebut apakah masih ada sisa. Yang disebut cuma bahwa kesudahannya kerugian. Menahan sisanya membuat kalimat ini berlaku atas semua negeri yang dimaksud 65:8 sekaligus, tanpa perlu merinci satu per satu.
Tafsiran
Ayat ini menyimpulkan singkat nasib negeri-negeri durhaka yang disebut di ayat sebelumnya.
Letaknya menutup apa yang dibuka 65:8. Di sana disebut banyaknya negeri, pembangkangannya, hisabnya, dan azabnya; di sini semuanya dipadatkan menjadi satu kalimat berisi dua bagian.
Cara bicaranya dipakai juga di 5:95, 59:15, dan 64:5, dan di keempat tempat termasuk ayat ini yang dirasakan selalu akibat dari urusan orang itu sendiri. Tiga di antaranya berdekatan letaknya, yaitu 59:15, 64:5, dan 65:9, sehingga pengingat yang sama diulang di surah-surah yang berdampingan.
Yang membedakan ayat ini kata gantinya. Di 59:15 dan 64:5 bentuknya jamak, menunjuk orang-orang; di sini bentuknya tunggal perempuan, mengikuti kata negeri yang disebut 65:8.
Kata terakhirnya memakai bahasa perhitungan, bukan bahasa bencana, dan itu menyambung kembali ke perhitungan yang keras di 65:8. Seluruh kisahnya terbaca sebagai neraca yang ditutup.
Ada satu tempat lagi yang memakai kata benda ini, yaitu 103:2, dan surah itu seluruhnya dibangun di atasnya. Di sana kerugian dinyatakan sebagai keadaan yang sedang dijalani manusia pada umumnya, dan pengecualiannya baru disebut sesudahnya. Di sini kerugian bukan keadaan melainkan hasil akhir dari sesuatu yang sudah berjalan sampai habis.
Karena itu dua ayat tersebut berbicara kepada pembaca dengan cara yang berbeda. Yang satu menempatkannya di tengah keadaan yang masih bisa diubah; yang lain memperlihatkan kepadanya sebuah perkara yang sudah tidak bisa diubah lagi oleh siapa pun.
Tidak disebut apa bentuk kerugiannya, tidak disebut siapa yang menghitungnya, dan tidak disebut apakah masih ada sisa.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut akibatnya dua kali dalam satu kalimat yang pendek. Merasakan akibat buruk urusannya, lalu kesudahan urusannya adalah kerugian. Yang diulang bukan kata akibatnya melainkan pemiliknya, yaitu urusannya sendiri. Rangkaian penutupnya tidak dipakai di tempat lain mana pun, hanya di 65:9. Pengulangan sependek itu di kalimat sependek itu bukan kelebihan kata; ia menutup satu-satunya celah yang tersisa, yaitu anggapan bahwa yang menimpa datang dari luar. Kata untuk kesudahan itu sendiri dipakai 29 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 3:137, 6:11, dan 10:39; yang jarang penyandingannya dengan urusan milik yang tertimpa.
- Yang dirasakan disebut akibat urusannya sendiri. Bukan nasib. Kata yang dipakai muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:95, 59:15, 64:5, dan 65:9, dan di keempat tempat ia selalu diikuti kata urusan berikut pemiliknya. Tidak sekali pun ia dipakai untuk sesuatu yang menimpa tanpa sebab dari yang tertimpa. Buah kelakuannya, dan bahasa yang dipakai Allah tidak menyediakan jalan untuk membacanya sebagai kesialan.
- Kalimatnya meringkas nasib banyak negeri. Allah memadatkannya. Apa yang di 65:8 memakan empat bagian, yaitu banyaknya negeri, pembangkangannya, hisabnya, dan azabnya, di sini menjadi dua kata benda saja. Yang panjang menjadi satu baris. Peringatan yang dirinci mudah dibaca sebagai cerita tentang orang lain; peringatan yang dipadatkan sampai sependek ini lebih sulit ditaruh di kejauhan, sebab tak ada lagi keterangan yang bisa dipakai untuk membedakan diri dari mereka.
- Kata terakhirnya kata perhitungan, bukan kata bencana, dan kata itu tidak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an, hanya di 65:9. Yang dipilih Allah untuk menutup bukan kata yang menggambarkan kehancuran, melainkan kata yang menggambarkan neraca yang berakhir minus. Pilihan itu menyambung ke 65:8 yang menyebut perhitungan yang keras. Jadi yang terjadi bukan sesuatu yang menimpa dari langit, melainkan sebuah pembukuan yang ditutup. Kata benda yang sama dipakai sekali lagi di 103:2 dengan ujung berbeda, dan di sana ia menyebut keadaan yang sedang dijalani manusia. Di sini ia menyebut keadaan yang sudah selesai.
- Tiga dari empat tempat yang memakai kalimat ini berdekatan letaknya, yaitu 59:15, 64:5, dan 65:9. Ketiganya menyebut orang atau negeri terdahulu yang sudah merasakan akibat perbuatannya. Allah mengulang satu cara bicara dalam jarak yang dekat, dan pengulangan dalam jarak dekat bekerja berbeda dari pengulangan yang tersebar: ia terbaca sebagai pengingat yang sedang ditekankan, bukan sebagai gagasan yang kebetulan muncul lagi. Yang keempat, 5:95, letaknya jauh dan isinya pun lain, yaitu denda perburuan , bukti bahwa cara bicara ini tidak terikat pada satu jenis perkara.
- Siapa sebenarnya yang merasakan di ayat ini? Kata gantinya tunggal perempuan, mengikuti kata negeri di 65:8, bukan jamak seperti di 59:15 dan 64:5 yang menunjuk orang-orang. Yang merasakan negerinya. Cara menyebut begitu menaruh akibatnya pada sesuatu yang tak bisa menunjuk siapa pun untuk disalahkan, sebab sebuah negeri tidak punya bagian dalam dirinya yang bisa berkata bahwa ia tidak ikut. Yang ditutup pintu untuk memisahkan diri dari yang bersama-sama membangun keadaan itu.