اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi yang serupa dengannya. Perintah-Nya turun di antaranya, agar kalian mengetahui bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu dan bahwa Allah sungguh meliputi segala sesuatu dengan ilmu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّallaahu lladzii khalaqa sab'a samaawaatin wa-mina l-ardhi mitslahunnaAllahlah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi yang serupa dengannya
  2. يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّyatanazzalu l-amru baynahunnaperintah-Nya turun di antaranya
  3. لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًاli-ta'lamuu anna llaaha 'alaa kulli syay'in qadiirun wa-anna llaaha qad ahaatha bi-kulli syay'in 'ilmanagar kalian mengetahui bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu dan bahwa Allah sungguh meliputi segala sesuatu dengan ilmu

Terjemahan per kata (25 kata)

  1. اللَّهُallaahuAllah
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. خَلَقَkhalaqamenciptakan
  4. سَبْعَsab'atujuh
  5. سَمَاوَاتٍsamaawaatinlangit
  6. وَمِنَwa-minadan dari
  7. الْأَرْضِl-ardhibumi
  8. مِثْلَهُنَّmitslahunnaseperti mereka
  9. يَتَنَزَّلُyatanazzaluturun
  10. الْأَمْرُl-amruurusan
  11. بَيْنَهُنَّbaynahunnadi antara mereka
  12. لِتَعْلَمُواli-ta'lamuuagar kalian mengetahui
  13. أَنَّannabahwa
  14. اللَّهَllaahaAllah
  15. عَلَىٰ'alaaatas
  16. كُلِّkullisegala
  17. شَيْءٍsyay'insesuatu
  18. قَدِيرٌqadiirunberkuasa
  19. وَأَنَّwa-annadan bahwa
  20. اللَّهَllaahaAllah
  21. قَدْqadsungguh
  22. أَحَاطَahaathameliputi
  23. بِكُلِّbi-kullipada segala
  24. شَيْءٍsyay'insesuatu
  25. عِلْمًا'ilmanpengetahuan

Inti bacaan

Skala penciptaan sebagai bukti kekuasaan: 'Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi seperti itu. agar kalian mengetahui bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu', penutup At-Talaq yang mengalihkan dari detail hukum keluarga menuju gambaran kosmik yang luas, pengingat bahwa aturan-aturan kecil dalam kehidupan personal tetap berada dalam kerangka kekuasaan yang jauh lebih besar.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (سَبْعَ سَمَاوَاتٍ, sab'a samaawaatin) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:29, 41:12, 65:12, 67:3, dan 71:15. Di empat tempat lainnya yang disebut cuma langitnya. Cuma di 65:12 disebutkan bahwa dari bumi pun ada yang serupa dengannya, dan kata (مِثْلَهُنَّ, mitslahunna) yang menyatakan hal itu tidak dipakai di tempat lain mana pun. Jadi keterangan tentang bumi yang menyamai langit dalam bilangan berdiri sendirian di seluruh Al-Qur'an.

Kata (يَتَنَزَّلُ, yatanazzalu) juga tidak dipakai di tempat lain mana pun. Bentuknya menyatakan turun yang berlangsung, bukan turun yang sekali selesai. Yang turun disebut 'perintah', dan tempat turunnya 'di antaranya', yaitu di antara lapisan-lapisan yang barusan disebut. Terjemahan menahan bentuk berlangsung itu dan tidak mengubahnya menjadi peristiwa tunggal.

Maksudnya dinyatakan terang-terangan dengan kata sambung yang berarti 'agar kalian mengetahui'. Yang dituju pengetahuan, bukan perasaan. Dua hal yang disebut sesudahnya pun berupa dua pernyataan yang bisa diketahui, bukan dua perasaan yang harus dirasakan: bahwa Dia berkuasa atas segala sesuatu, dan bahwa ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Kata (أَحَاطَ, ahaatha) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 17:60, 18:29, 48:21, dan 65:12. Di 17:60 yang meliputi adalah Tuhanmu atas manusia, di 18:29 yang meliputi api atas penghuninya, dan di 48:21 Allah atas sesuatu yang belum dikuasai manusia. Cuma di 65:12 disebutkan dengan cara apa liputan itu terjadi, yaitu dengan ilmu. Tiga tempat menyebut liputannya; satu tempat menyebut alatnya.

Ayat ini menutup surah dengan berpindah sejauh mungkin dari tempat ia dimulai. Yang dibicarakan 65:1 sampai 65:7 adalah masa tunggu, rumah yang tak boleh dikosongkan, saksi, upah menyusui, dan takaran nafkah. Yang dibicarakan di sini tujuh langit dan bumi yang serupa. Perpindahan itu tidak diberi kalimat penghubung apa pun; keduanya cuma ditaruh berurutan di dalam satu surah.

Dua sifat penutupnya disebut berpasangan, yaitu kuasa dan ilmu. Yang pertama menyangkut apa yang bisa dilakukan, yang kedua menyangkut apa yang diketahui. Keduanya dipakai bersama-sama untuk menerangkan sesuatu yang sama, yaitu 'segala sesuatu', dan kata itu diulang di kedua pernyataan tersebut.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa isi ketujuh lapisan itu, tidak disebut perintah apa yang turun, dan tidak disebut bagaimana turunnya. Yang disebut cuma bahwa ia turun terus-menerus dan untuk apa semuanya diberitahukan. Menahan sisanya menjaga ayat ini tetap berupa alasan untuk mengetahui, bukan berupa gambaran untuk dibayangkan.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini menegaskan penciptaan tujuh langit dan bumi yang serupa sebagai bukti kekuasaan dan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu.

Letaknya memindahkan pembicaraan sejauh mungkin dari tempat surah ini dimulai. Tujuh ayat pertamanya berisi masa tunggu, rumah, saksi, upah menyusui, dan takaran nafkah; ayat terakhirnya berisi lapisan langit dan bumi. Perpindahan itu tidak diberi kalimat penghubung apa pun.

Penyebutan tujuh lapisan dipakai juga di 2:29, 41:12, 67:3, dan 71:15. Yang membedakan ayat ini keterangan bahwa dari bumi pun ada yang serupa dalam bilangan, dan keterangan itu berdiri sendirian di seluruh Al-Qur'an.

Kata kerja yang menyebut turunnya perintah pun tidak dipakai di tempat lain mana pun, dan bentuknya menyatakan turun yang berlangsung, bukan yang sekali selesai.

Kata untuk meliputi dipakai juga di 17:60, 18:29, dan 48:21. Di ketiga tempat itu yang disebut cuma liputannya; cuma di sini disebutkan dengan cara apa liputan itu terjadi, yaitu dengan ilmu.

Maksudnya dinyatakan terang-terangan, yaitu agar kalian mengetahui, dan dua hal yang disebut sesudahnya berupa dua pernyataan yang bisa diketahui.

Tidak disebut apa isi ketujuh lapisan itu, dan tidak disebut perintah apa yang turun.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menutup surah tentang perpisahan rumah tangga dengan lapisan langit dan bumi. Berpindah sejauh mungkin. Tujuh ayat pertamanya mengurus masa tunggu, atap, saksi, dan takaran biaya; ayat terakhirnya mengurus susunan alam. Perpindahan itu tidak diberi kalimat penghubung apa pun, dan justru ketiadaan penghubung itu yang berbicara: keduanya tidak perlu disambungkan karena memang bernaung pada satu penguasa yang sama. Yang mengurus keduanya satu, jadi pemisahan antara perkara agung dan perkara sepele dibuat manusia, bukan diberikan.
  • Allah menyatakan maksudnya terang-terangan, yaitu agar kalian mengetahui. Bukan agar kagum. Yang dituju bertambahnya pengetahuan, bukan bertambahnya rasa kecil. Dua hal yang disebut sesudahnya pun berupa pernyataan yang bisa diketahui, bukan perasaan yang harus dihadirkan. Pemandangan seluas itu mudah dipakai untuk membuat orang merasa tak berarti; di sini ia dipakai untuk membuat orang tahu sesuatu. Perbedaan itu menentukan: rasa kecil melumpuhkan, sedangkan pengetahuan menjadi dasar untuk bertindak.
  • Dua hal yang harus diketahui: Allah berkuasa atas segala sesuatu, dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sepasang. Kuasa dan tahu disebut bersama, dan keduanya dikenakan pada perkara yang sama persis, sebab kalimat 'segala sesuatu' diulang di dua pernyataan itu. Kuasa tanpa ilmu akan menakutkan; ilmu tanpa kuasa akan sia-sia. Yang menutup surah tentang aturan rumah tangga justru keduanya sekaligus, sehingga orang yang menjalankan aturan tadi tahu ia berhadapan dengan pihak yang sanggup dan sekaligus tahu.
  • Kata kerja yang dipakai untuk turunnya perintah tidak ada di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an, hanya di 65:12. Bentuknya menyatakan sesuatu yang berlangsung, bukan yang sekali selesai. Jadi yang digambarkan bukan satu peristiwa penurunan di masa lalu, melainkan sesuatu yang sedang berjalan di antara lapisan-lapisan itu sekarang juga, dan yang menurunkannya Allah. Aturan yang dibaca di ayat-ayat sebelumnya berasal dari sana, dan sumbernya tidak pernah berhenti mengalir.
  • Empat tempat lain menyebut tujuh lapisan langit tanpa menyebut apa pun tentang bumi. Cuma di sini disebutkan bahwa dari bumi ada yang serupa dengannya, dan kata yang menyatakan hal itu tidak dipakai di tempat lain mana pun. Bumi tidak diletakkan Allah sebagai titik kecil di bawah sesuatu yang jauh lebih besar, melainkan sebagai sesuatu yang setara bilangannya. Tempat manusia berdiri diberi kedudukan yang sama, bukan kedudukan sisa.
  • Kenapa gambaran terluas ditaruh di ujung, bukan di pangkal? Kalau ia dibuka lebih dulu, ketentuan tentang menghitung bulan dan tidak mengosongkan rumah akan terbaca sebagai hal sepele yang menyusul sesudahnya. Ditaruh di ujung, urutannya terbalik: yang sepele sudah dikerjakan lebih dulu dengan sungguh-sungguh, baru diperlihatkan di dalam susunan apa ia bertempat. Yang mengurus tujuh lapisan itu juga yang mengatur siapa menanggung upah menyusui.