يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Wahai Nabi, berjihadlah terhadap orang-orang kufar dan orang-orang munafik, dan bersikaplah keras terhadap mereka. Dan tempat kembali mereka adalah Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْyaa ayyuhaa n-nabiyyu jaahidi l-kuffaara wa-l-munaafiqiina wa-ghluzh 'alayhimwahai Nabi, berjihadlah terhadap orang-orang kufar dan orang-orang munafik, dan bersikaplah keras terhadap mereka
- وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُwa-ma'waahum jahannamudan tempat kembali mereka adalah Jahanam
- وَبِئْسَ الْمَصِيرُwa-bi'sa l-mashiirudan itulah seburuk-buruk tempat kembali
Terjemahan per kata (12 kata)
- يَاyaawahai
- أَيُّهَاayyuhaasekalian
- النَّبِيُّn-nabiyyuNabi
- جَاهِدِjaahidiberjihadlah
- الْكُفَّارَl-kuffaaraorang-orang kufar
- وَالْمُنَافِقِينَwa-l-munaafiqiinadan orang-orang munafik
- وَاغْلُظْwa-ghluzhdan bersikap keraslah
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- وَمَأْوَاهُمْwa-ma'waahumdan tempat tinggal mereka
- جَهَنَّمُjahannamuJahanam
- وَبِئْسَwa-bi'sadan seburuk-buruk
- الْمَصِيرُl-mashiirutempat kembali
Inti bacaan
Instruksi ketegasan terhadap oposisi ganda: 'berjihadlah (melawan) orang-orang kufar dan orang-orang munafik, dan bersikaplah keras terhadap mereka', pengakuan bahwa menghadapi penentangan terbuka dan tersembunyi (munafik) sama-sama memerlukan ketegasan, tidak ada ruang bagi kompromi terhadap keduanya.
Penjelasan pilihan kata
Seluruh kalimat ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:73 dan 66:9, sama persis huruf demi huruf. Tidak ada satu huruf pun yang berbeda di antara keduanya, termasuk tanda berhentinya. Jadi surah ini memuat satu ayat penuh yang sudah ada utuh di surah lain.
Ini ayat utuh yang berpasangan begitu di wilayah yang sedang digarap ini, sesudah 68:45 berpasangan dengan 7:183, 68:46 dan 68:47 dengan 52:40 dan 52:41, dan 67:24 dengan 23:79. Jadi pengulangan ayat penuh bukan kejadian tunggal, melainkan cara yang dipakai berulang, dan tiap pengulangan menaruh bahan yang sama di lingkungan yang berbeda.
Yang berbeda di antara dua tempat itu lingkungannya. Di surah 9 ayat tersebut berada di tengah pembicaraan panjang tentang mereka yang berpura-pura. Di surah 66 ia berada sesudah tiga sapaan berturut-turut, yaitu kepada yang percaya, kepada yang kufur, dan kepada yang percaya lagi. Jadi di sini ia menutup rangkaian sapaan, sedangkan di sana ia melanjutkan uraian.
Dua pihak disebut berdampingan, yaitu yang menolak terang-terangan dan yang berpura-pura. Keduanya diperlakukan dengan satu perintah yang sama. Susunan tersebut menutup bacaan bahwa yang menyembunyikan sikapnya menempati kedudukan yang berbeda dari yang menyatakannya. Terjemahan menahan penyebutan berdampingan itu tanpa memisahkan keduanya.
Perintahnya dua, yaitu (جَاهِدِ, jaahidi) untuk bersungguh-sungguh menghadapi mereka dan (وَاغْلُظْ, wagh-luzh) untuk bersikap keras. Kata kedua itu seakar dengan kata yang dipakai di 66:6 untuk menyifati yang menjaga api. Jadi satu surah memakai akar yang sama untuk dua hal yang berbeda: sifat yang menjaga di 66:6 dan sikap yang diperintahkan di ayat ini.
Penutupnya memakai rangkaian yang juga menutup 67:6, yaitu sebutan tentang seburuk-buruk tempat kembali. Jadi dua surah yang berurutan sama-sama memakai rangkaian penutup tersebut, dan di dua tempat itu ia sama-sama berdiri sebagai kalimat penghabisan sesudah penyebutan tempat.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut caranya bersungguh-sungguh, tidak disebut batas kerasnya, dan tidak disebut sampai kapan. Yang disebut cuma dua perintah dan satu tempat kembali. Menahan caranya membuat perintah ini tidak berhenti pada satu bentuk tindakan yang bisa disalin, dan menahan batasnya menuntut penimbangan pada setiap keadaan.
Letaknya menutup rangkaian empat sapaan. Tiga ayat sebelumnya menyapa dengan panggilan yang menyebut sifat pendengarnya, yaitu yang percaya, yang kufur, lalu yang percaya lagi. Ayat ini menyapa dengan panggilan yang menyebut kedudukan, bukan sifat. Jadi pergantian sasarannya berhenti pada satu orang, dan sesudah ayat ini surah berpindah ke perumpamaan tanpa satu sapaan pun lagi.
Tafsiran
Ayat ini memerintahkan Nabi bersikap tegas terhadap orang-orang kufar dan munafik.
Ayat ini sudah ada utuh di surah lain, dan yang berbeda cuma lingkungan tempatnya berdiri.
Seluruh kalimat ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:73 dan 66:9, sama persis huruf demi huruf. Di surah 9 ia berada di tengah pembicaraan panjang tentang mereka yang berpura-pura, sedangkan di sini ia menutup rangkaian empat sapaan berturut-turut.
Dua pihak disebut berdampingan, yaitu yang menolak terang-terangan dan yang berpura-pura, dan keduanya diperlakukan dengan satu perintah yang sama.
Kata kedua pada perintahnya seakar dengan kata yang dipakai di 66:6 untuk menyifati yang menjaga api, sehingga satu surah memakai akar yang sama untuk sifat dan untuk sikap yang diperintahkan. Penutupnya memakai rangkaian yang juga menutup 67:6. Tidak disebut caranya bersungguh-sungguh dan sampai kapan.
Perintahnya dua, yaitu bersungguh-sungguh menghadapi mereka dan bersikap keras, dan kata kedua itu seakar dengan kata yang dipakai di 66:6 untuk menyifati yang menjaga api. Jadi satu surah memakai akar yang sama untuk sifat yang melekat dan untuk sikap yang diperintahkan.
Pengulangan ayat penuh seperti ini bukan kejadian tunggal di wilayah yang sedang digarap, sebab 68:45 berpasangan dengan 7:183, 68:46 dan 68:47 dengan 52:40 dan 52:41, dan 67:24 dengan 23:79. Perintahnya pun dua, dan yang kedua seakar dengan kata yang dipakai di 66:6.
Renungan dan Hikmah
- Dua lawan disebut Allah sekaligus. Yang menolak terang-terangan. Dan yang menolak diam-diam. Dua pihak disebut berdampingan, yaitu yang menolak terang-terangan dan yang berpura-pura, dan keduanya diperlakukan dengan satu perintah yang sama. Susunan tersebut menutup bacaan bahwa yang menyembunyikan sikapnya menempati kedudukan yang berbeda dari yang menyatakannya. Terjemahan menahan penyebutan berdampingan itu tanpa memisahkan keduanya menjadi dua kalimat. Yang menyembunyikan sikapnya tidak diberi kedudukan yang berbeda.
- Yang munafik disebut sejajar dengan yang kafir. Bukan lebih ringan. Sama-sama disebut. Seluruh kalimat ayat ini sama persis huruf demi huruf dengan 9:73, termasuk tanda berhentinya. Yang berbeda cuma lingkungannya: di surah 9 ia berada di tengah uraian panjang, dan di sini ia menutup rangkaian empat sapaan. Jadi bahan yang sama dipasang di dua tempat dengan dua pekerjaan yang berbeda, dan letaknya yang menentukan pekerjaan itu. Bahan yang sama dipasang di dua tempat dengan dua pekerjaan yang berbeda.
- Tempat kembali mereka disebut Allah satu. Bukan dibedakan. Jahanam, untuk keduanya. Penutupnya memakai rangkaian yang juga menutup 67:6, yaitu sebutan tentang seburuk-buruk tempat kembali. Jadi dua surah yang berurutan sama-sama memakai rangkaian penutup tersebut, dan di dua tempat itu ia sama-sama berdiri sebagai kalimat penghabisan sesudah penyebutan tempat, bukan sebagai keterangan di tengah kalimat. Pembaca yang mengenalinya sudah bisa mengukur bahwa kalimatnya sedang ditutup. Rangkaian penutup itu selalu berdiri sesudah penyebutan tempat.
- Ayat ini sama persis huruf demi huruf dengan 9:73. Pengulangan ayat penuh seperti itu bukan kejadian tunggal di wilayah ini, sebab 68:45 berpasangan dengan 7:183, 68:46 dan 68:47 dengan 52:40 dan 52:41, dan 67:24 dengan 23:79. Allah memakai cara yang sama berulang, dan tiap pengulangan menaruh bahan yang sama di lingkungan yang berbeda. Tiap pengulangan menaruh bahan yang sama di lingkungan yang berbeda.
- Kata kedua pada perintahnya seakar dengan kata yang dipakai di 66:6 untuk menyifati yang menjaga api. Jadi satu surah memakai akar yang sama untuk dua hal yang berbeda kedudukannya: sifat yang melekat pada yang menjaga, dan sikap yang diperintahkan kepada manusia. Allah tidak menerangkan hubungan keduanya, dan jarak enam ayat memisahkan dua pemakaian itu tanpa satu penunjuk pun yang menyambungkannya. Jarak enam ayat memisahkan dua pemakaian akar yang sama itu.
- Bagaimana caranya bersungguh-sungguh? Sampai di mana batas kerasnya? Sampai kapan? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma dua perintah dan satu tempat kembali. Allah menahan batasnya, dan penahanan itu menuntut penimbangan pada setiap keadaan. Perintah yang batasnya tertulis bisa dijalankan tanpa menimbang; yang tidak tertulis tidak bisa. Perintah yang batasnya tertulis bisa dijalankan tanpa menimbang.